Siang itu, kakek Joseph terlihat tidak pergi ke mana pun. Dia tengah berjalan ke arah kandang kuda, di mana Liana tengah membersihkan bagian bawah kandang tersebut.
“Banyak orang yang merasa jijik dengan kotoran hewan. Namun, tumbuhan sangat membutuhkannya sebagai nutrisi yang sangat bermanfaat. Jadi, tak ada yang dianggap sia-sia di sini. Bahkan hal menjijikkan sekali pun,” Ucap Joseph tiba-tiba dan mengangetkan Liana.
Gadis itu menoleh dan melihat jika kakek tua itu tengah mengelus surai kuda yang terlihat begitu terawat.
Morgan adalah salah satu pengurus kuda dan merawat hewan kuat itu setiap harinya. Serta mengatur makanan yang harus diberikan kepada kuda-kuda itu.
Meski begitu, untuk tugas membersihkan kandang serta memberi pakan kepada kuda, tak jarang dibebankan kepada pelayan rumah tersebut, terlebih jika Morgan sedang ada tugas lain.
“Apa Anda sedang memberi alasan soal sikap pelit Anda, Kek?” sindir Liana.
“Apakah aku pelit? Pelayan dan pekerja bilang kalau aku adalah orang yang dermawan,” sahut Joseph percaya diri.
“Mereka hanya memuji di depan Anda saja. Yang jelas, menurutku Anda itu terlalu perhitungan. Contohnya saja relief hiasan dinding di sana. Bukankah akan lebih bagus hasilnya jika dikerjakan oleh profesional? Kenapa malah meminta para pekerja, yang bahkan tak tau apa-apa soal membuat sesuatu yang cukup rumit seperti itu?”cecar Liana tanpa memandang ke arah Joseph.
Gadis itu terus mengeruk sisa jerami dan kotoran kuda yang bercecer di bawah lantai, dan memasukkannya ke dalam sebuah wadah berbentuk ember yang terbuat dari seng.
“Hahahaha ... Bukankah, mereka bisa membuatnya dengan cukup bagus? Aku puas dengan hasil kerja Morgan dan rekan-rekannya,” sahut Joseph.
Pria tua itu sengaja memancing, apakah Liana akan mengatakan sendiri jika dia ikut andil dalam pembuatan hiasan tersebut atau tidak.
Kita lihat. Apakah kamu masih bisa angkuh seperti ini dan menungguku untuk memuji mu terlebih dulu, batin Joseph.
“Yah, tentu saja hasilnya bagus. Namun, tetap saja kurang maksimal,” ucap Liana.
Joseph tak menyahut. Hanya terdengar helaan nafas panjang dari pria tua itu. Dia sudah tau jika Liana tak akan mudah untuk menyerah, meskipun sekedar dalam perang kata-kata saja.
Dia pun melangkah ke kandang kuda sebelahnya, yang sudah terlebih dulu dibersihkan oleh Liana.
“Kau tau, ini adalah temanku sejak lama. Dia adalah kuda pertama yang ku beli dan ku bawa kemari,” ucap Joseph sambil mengusap-usap leher kuda berwarna coklat gelap tersebut.
“Lalu rusa-rusa itu?” tanya Liana, sambil menunjuk kandang rusa di seberang kandang kuda.
Joseph menoleh dan ikut memandangi rusa-rusa yang berkeliaran bebas di dalam kandang yang cukup besar.
“Mereka juga temanku. Semua hewan ini adalah penghuni rumahku, sekaligus teman bagiku,” ucap Joseph memandangi koleksi satwanya yang ada di belakang rumah.
“Wah, kalau begitu saya tak mau jadi teman Kakek,” sahut Liana.
Joseph menoleh dan menatap lurus ke arah gadis yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
“Kenapa? Apa berteman denganku merugikan mu? Apa aku menipumu?" tanya Kakek Joseph bingung.
Liana menegakkan badannya dan meletakkan sekop di sudut kandang, setelah memasukkan semua kotoran ke dalam ember.
“Coba Anda ingat baik-baik. Bukankah dari tadi semua teman yang Kakek sebutkan itu hewan? Binatang? Aku ini manusia, jadi aku tak mau jadi teman Kakek,” jawab Liana.
Kakek Joseph pun terpingkal dibuatnya. Dia tak habis pikir dengan jawaban Liana, yang tak mau disamakan dengan kuda dan rusanya yang bernilai tinggi.
“Dasar kamu ini. Memangnya kamu pikir temanku hanya yang berkaki empat dan berjalan merangkak? Aku pun punya teman sebangsa manusia juga,” sahut Joseph.
“Oh ya? Tapi saya tak pernah lihat ada teman Kakek main ke sini. Bahkan di rumah yang besar ini pun, Kakek Cuma hidup sendirian. Pelayan dan pekerja tidak termasuk ya, Kek,” ucap Liana.
Gadis itu berjalan keluar sambil membawa sekop dan ember penuh kotoran. Dia tak melihat bagaimana raut wajah kakek tua itu saat ini.
Liana menuang semua isi ember ke dalam sebuah tong besar, tempat di mana semua bahan pembuatan kompos dikumpulkan.
Setelah itu, Liana menuju ke gudang tempat menyimpan kembali peralatan kerjanya. Dia membersihkan terlebih dulu sekop dan juga ember bekas kotoran dengan air mengalir, dari kran yang ada di samping gudang, lalu kemudian menyimpannya di sana.
Saat Liana hendak kembali masuk ke dalam rumah, terdengar Kakek Joseph memanggilnya. Gadis itu pun menoleh dan melihat jika kakek tua itu sedang menuntun seekor kuda coklat gelap miliknya, dan melambai meminta Liana untuk mendekat.
“Ya, Kek. Ada apa?” tanya Liana.
“Sudah pernah menunggang kuda?” tanya Joseph balik.
“Saya rasa, saya tidak sekaya itu sampai bisa belajar berkuda,” jawab Liana.
“Hahahaha ... Dasar nakal. Apa bicara mu tak bisa halus sedikit? Jangan-jangan,dulu kamu anak yang nakal dan pembangkang,” sindir Kakek Joseph.
“Mungkin saja. Toh, tak ada yang tau siapa aku, bahkan aku sendiri pun tak tau,” sahut Liana.
“Jadi, mau coba naik kuda?” tawar Joseph.
“Kesempatan langka. Mumpung pemiliknya sendiri yang menawarkan, jadi aku Terima. Tapi, Kakek tidak bermaksud menjahiliku kan?” sangka Liana.
“Apa untungnya buatku. Ingat, aku ini seorang pebisnis, yang tak pernah melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan,” ujar Joseph.
“Lalu, untungnya mengajariku berkuda apa?” tanya Liana.
“Tidak ada. Hanya sekalian mengajak kuda ini jalan-jalan, agar tak setres saja,” jawab Joseph.
“Baiklah kalau begitu,” sahut Liana.
Gadis itu pun mencoba naik ke atas kuda dengan dibantu oleh Kakek Joseph. Meskipun ini baru pertama kalinya, namun Liana bisa dengan mudah naik ke atas pelana di punggung hewan berotot itu.
Dengan takut-takut, Liana berpegangan pada pelana kuda, namun tangannya di Tuntung untuk memegang tali kekang.
“Ternyata, gadis pemberani sepertimu, ada juga hal yang ditakuti,” ejek Joseph.
Liana hanya menggerakkan bibirnya, seraya mencibir omelan kakek tua itu tanpa bersuara.
Tiba-tiba, kuda itu berjalan karena dituntun oleh Kakek Joseph. Liana yang terkejut pun seketika membungkuk dan memeluk leher hewan kekar tersebut. Hal itu membuat Kakek Joseph tertawa melihat wajah ketakutan dari gadis, yang selalu saja berani menimpali kata-katanya.
Liana pun kesal karena untuk pertama kali, dia harus kalah dari Kakek Joseph. Dia pun akhirnya mencoba menegakkan badannya, meski berulang kali gerakan kuda membuatnya kembali membungkuk dan memeluk hewan itu.
Mereka berjalan mengitari lapangan berkuda yang sangat luas, dan berbatasan langsung dengan tepi danau.
Kakek Joseph dengan sabarnya menuntun kuda, dengan Liana yang mulai terbiasa menunggangi hewan berotot itu.
Sesekali tawa keduanya terdengar, disela perbincangan santai yang mereka lakukan, ditambah sifat Liana yang selalu saja menimpali perkataan pria tua itu dengan seenaknya, membuat Kakek Joseph terbahak-bahak.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
Indra Saputra
ikatan batin
2022-03-21
2
Anin 💝💋
untung ya kagak.ada pelayan yg cemburu dng sikap kakek.terhdp liana
2022-03-19
4
Sri Astuti
naluri mereka saling terhubung
2022-03-16
3