Dari kejauhan, tepatnya di samping kolam ikan yang baru saja dibuat beberapa minggu yang lalu, seorang wanita dengan kacamata, nampak memperhatikan interaksi antara pria tua dan gadis yang tengah menunggang kuda itu.
Senyum tipis terlukis di wajah wanita yang terlihat senang memandangi keduanya.
“Sedang apa tuan di sana?” tanya seorang pria yang tiba-tiba saja datang, dan berdiri di samping wanita berkaca mata.
“Apa kamu tidak lihat, Jim? Sudah sangat lama kita tak melihat tuan sesenang ini,” sahut wanita yang tak lain adalah Debora, kepala pelayan wanita di rumah besar dream hill.
“Yah, sudah sangat lama. Sudah dua puluh tahun sejak saat itu,” Sahut Jimmy.
“Apa kamu tak mencoba melakukan tes pada anak itu? Aku merasa kalau dia sangat mirip dengan Nona,” ucap Debora.
“Aku sudah langsung bertanya pada tuan, bahkan sejak tuan melihat wajah baru dari gadis itu. Tapi, tuan menolak dengan alasan wajahnya hasil dari operasi. Jika memang dia adalah putri Nona Lilian, sudah pasti dia akan memilki sesuatu yang hanya dimiliki oleh nona muda,” tutur Jimmy.
“Lalu, bagaimana kalau seandainya dia benar-benar cucu tuan besar? Mungkin sebaiknya kamu melakukan tes diam-diam,” seru Debora.
“Apa kau mau aku bernasib sama seperti Victor, yang mencoba mencari keuntungan dengan memalsukan tes dari seorang gadis dua tahun yang lalu,” tanya Jimmy.
“Aku tidak memintamu untuk memalsukan hasil tes. Kalau memang bukan, ya sudah lupakan saja. Tapi bagaimana kalau benar dia orang yang dicari tuan selama ini?” timpal Debora.
“Sudahlah. Kita tunggu saja perintah dari tuan. Aku tak mau gegabah. Lagi pula, ada kabar penting yang harus tuan tau,” sahut Jimmy.
Debora menoleh dan memandang wajah pria yang terlihat begitu serius di sampingnya.
“Apa itu?” tanya Debora.
“Ini mengenai pelayan wanita itu,” sahut Jimmy dengan wajah yang terlihat kecewa.
Debora pun paham, jika berita yang akan disampaikan itu bukanlah berita bagus. Dia kembali menoleh dan memperhatikan kedua orang di sana yang masih asik bermain kuda.
“Sebaiknya, tunggu hingga tuan besar dan anak itu selesai bermain. Aku tak tega jika kamu merusak kebahagian sesaat nya itu,” seru Debora.
“Baiklah. Aku akan menunggunya di sini,” ucap Jimmy.
Keduanya pun memilih untuk menunggu, sambil memperhatikan interaksi kedua orang beda generasi di sana.
Sekitar setengah jam berlalu, Kakek Joseph yang merasa kelelahan pun akhirnya menyudahi kegiatannya tersebut.
“Lain kali, kita berkuda mengitari danau ini sama-sama. Apa kau mau?” ajak Kakek Joseph.
“Baiklah. Lagi pula, sepertinya saya sudah mulai terbiasa naik hewan ini,” sahut Liana.
Kakek Joseph mengulurkan tangannya, dan membantu Liana untuk turun dari kuda kesayangannya itu.
Merek kemudian berjalan sambil bersama-sama menuntun kuda, untuk kembali ke kandang. Dari kejauhan, Morgan terlihat tengah menggantikan air minum kuda yang lain di dalam kandang.
“Morgan, bawa kuda ini!” seru Kakek Joseph.
Morgan pun segera mengambil alih kuda dan menuntunnya kembali.
“Kalau begitu, saya pamit ke dalam dulu, Kek. Masih ada pekerjaan yang tertunda karena menemani seseorang bermain tadi,” ujar Liana.
Joseph memukul kecil lengan Liana, dengan cambuk kuda yang masih di pegangnya.
“Dasar anak nakal! Sudah bagus ku ajak kau jalan-jalan, masih saja tidak berterimakasih,” gerutu Kakek Joseph.
“Aaww! Sakit, Kek! Ini namanya KDRT!” seru Liana
“Apanya yang KDRT? Membekas saja tidak,” elak Kakek Joseph.
“Ah, dasar orang tua. Saya permisi, Tuan. Terimakasih sudah membuatku terlambat menyelesaikan tugas,” ucap Liana, yang segera berlari meninggalkan Joseph, yang terlihat mengangkat kembali cambuknya.
“Dasar anak nakal!” teriak Joseph kesal, namun kemudian dia justru terkekeh melihat tingkah Liana yang selalu berani melawannya.
Saat gadis itu berjalan masuk, dia melewati Jimmy yang hendak menghampiri Kakek Joseph.
“Hai, paman. Apa. Kabar?” sapa Liana.
“Baik,” sahut Jimmy datar seperti biasa, dan melewati Liana begitu saja.
Gadis itu pun hanya mencebik kesal dan kembali melanjutkan langkahnya. Dia pun menyapa Debora yang masih berdiri di dekat kolam ikan, dan berjalan masuk ke dalam rumah meninggalkan wanita itu di tempatnya.
“Selamat siang, Tuan,” sapa Jimmy.
“Ada apa, Jim? Apa ada masalah di perusahaan?” tanya Joseph kepada asisten pribadinya.
“Ini mengenai pelayanan wanita itu, Tuan?” ucap Jimmy.
Joseph pun menoleh dan terkejut dengan yang disampaikan oleh asistennya itu. Dia mengelap tangan yang tadi sempat dicucinya, dan berjalan ke arah rumah utama.
“Kita bicara di ruang kerjaku saja,” seru Joseph.
“Baik, Tuan,” sahut Jimmy.
Mereka berdua pun berjalan ke arah rumah utama, dan segera naik ke lantai dua di mana ruang kerja kakek tua itu berada.
Kakek Joseph duduk di kursi kerjanya, sedangkan Jimmy berdiri tepat di depan meja kerja atasannya.
“Katakan, apa yang kamu temukan kali ini?” tanya Joseph.
Jimmy menyerahkan sebuah amplop coklat terang, yang berisi dokumen serta beberapa helai foto.
Joseph mengambilnya dan membuka benda tersebut. Nampak pria tua itu melihat satu persatu benda yang ada di dalamnya.
“Bisa kamu jelaskan apa semua ini, Jim?” seru Kakek Joseph.
Jimmy mengambil kembali benda-benda tersebut dan menjejerkannya di atas meja.
“Ini adalah foto rumah dari pelayanan itu, yang ditinggalinya terakhir kali,” ucap Jimmy sambil menunjuk ke sebuah foto, yang menampilkan rumah kecil yang berada di lingkungan padat penduduk pinggiran kota.
“Sedangkan ini, ini adalah surat kematian dari pelayanan bernama Vivian itu sepuluh tahun yang lalu,” lanjut Jimmy.
“Lalu maksud dari foto ini?” tanya Joseph menunjuk sebuah foto, di mana pelayan bernama Vivian sedang menggendong seorang anak perempuan kecil, yang tersenyum begitu ceria.
“Menurut warga sekitar, ini adalah anak yang dibawa Vivian pulang sembilan belas tahun yang lalu. Tapi sampai sekarang, tak ada yang tahu siapa suaminya,” jawab Jimmy.
Joseph terperanjat mendengar hal tersebut. Dia bahkan menegakkan duduknya dan condong ke depan. Batinnya menebak, jika gadis kecil itu adalah cucunya.
“Lalu, di mana sekarang anak ini?” tanya Joseph antusias.
“Beberapa bulan yang lalu, anak ini tiba-tiba menghilang. Rumah ini pun sekarang sudah dijual dan penghuninya sudah pergi dari sana,” jawab Jimmy.
“Menghilang? Kenapa bisa? Lalu, selama ini dia tinggal dengan siapa?” cecar Joseph khawatir.
“Menurut informasi, dia tinggal bersama bibinya, adik kandung dari Vivian. Dan alasan dia menghilang adalah, karena saat itu dia hendak dibawa pergi oleh seorang tuan tanah, dan akan menjadikannya istri muda,” sahut Jimmy.
“Apa?! Cepat kamu cari dimana adik Vivian, dan temukan gadis kecil itu!” seru Joseph dengan tangan mengepal kuat.
“Ini akan sedikit sulit, Tuan. Karena menurut informasi, adik Vivian dibawa ke tanah peternakan pria bernama Paulo, si tuan tanah itu, di sisi utara kota metropolis. Dia dibawa ke sana karena hanya mampu membayar bunga hutangnya saja. Namun, beberapa hari yang lalu, dia pun kembali menghilang bersama seorang gadis yang seusia dengan anak yang ada di foto tersebut, setelah mencuri uang dari teman-teman mereka,” ungkap Jimmy.
“Apa?! Cepat temukan mereka. Jangan sampai kehilangan jejak mereka lagi. Aku yakin saat ini mereka pasti bersembunyi tak jauh dari tempat itu,” seru Joseph.
“Baik, Tuan,” sahut Jimmy.
Pria itu pun segera pergi dan melakukan tugasnya. Joseph terlihat menghela nafas panjang sembari menyandarkan punggungnya di kursi.
“Kemana lagi kamu pergi, Nak? Vivian telah meninggal, apa mungkin kamu pun sudah tak ada di dunia ini?” gumam Joseph.
Dia memejamkan mata tuanya yang dipenuhi keriput. Tanpa terasa, lelehan bening ke luar dari sudut matanya, kala membayangkan nasib sang putri tercinta.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
Sevira
aku kesel sama si jimmy, bego dan ga nyari info dengan detail, kurang bisa kaya nya kerja sebagai asisten 😤
2023-01-14
1
Erliza Bkn
klo smp jesica pura2 jdi cucu nya...mls baca nya
2022-12-07
2
paty
jgn kek sinetron ikan terbang ya
2022-10-24
1