Hari berganti. Sudah hampir satu bulan Liana dirawat di rumah sakit akibat cideranya pasca kecelakaan waktu itu. Dia masih juga bersikeras untuk tetap berpura-pura hilang ingatan, agar dirinya tak harus kembali ke rumah bibi Caroline yang kejam.
Dia khawatir jika nanti dia kembali ke sana, yang ada dirinya akan kembali berakhir di peternakan si tua Paulo, dengan menyandang status istri terbuang yang ke sekian.
Selama itu pula, Jimmy terus berada di dekat Liana, pagi hingga malam, membuat gadis itu merasa seperti sedang diawasi. Namun, bukan Liana jika dia tak bisa membuat pria paruh baya itu menghela nafas kesal dengan sikapnya.
Selain menjalankan perintah tuannya, Jimmy juga merasa ada yang aneh dengan gadis ini. Selama dia menemaninya di rumah sakit, sikap Liana seolah tak pernah segan meminta sesuatu kepadanya, meskipun Jimmy selalu bersikap dingin dan acuh.
Dia hanya khawatir jika ternyata gadis yang sudah ditabraknya, memiliki tujuan tersembunyi kepada tuan besarnya. Terlebih perihal lupa ingatan Liana yang masih mengganggu pikiran Jimmy selama beberapa waktu ini.
Apalagi melihat sikap Liana yang selalu seenaknya saja, dan berkata sesuai apa yang ada dipikirannya.
Suatu pagi, Liana meminta Jimmy untuk membawanya keluar dari kamar rawat. Kondisinya yang masih tak bisa bergerak bebas, membuatnya mau tak mau selalu saja berada di dalam kamar rawatnya.
Meskipun memiliki fasilitas VIP, namun tetap saja, tak ada burung yang merasa senang meskipun sangkarnya terbuat dari emas berlian. Begitupun yang dirasakan Liana saat ini.
“Paman, bisa tolong bawa aku pergi jalan-jalan? Rasanya pengap sekali di kamar setiap hari,” pinta Liana.
Jimmy yang sedari tadi duduk di sofa sambil membaca koran, seolah-olah tak peduli dengan rengekan dari gadis belia itu.
“Hei, Paman! Kau bisa dengar tidak? Aku sedang bicara padamu!” seru Liana lagi dengan lebih keras.
Jimmy pun akhirnya menutup koran yang dipegangnya, dan meletakkan benda tersebut di atas meja. Dia berjalan menghampiri Liana yang memang belum bisa bergerak dengan bebas, akibat dislokasi tulang kakinya yang belum pulih benar.
“Kenapa kau cerewet sekali? Sebaiknya kamu tetap di kamar, biar lukamu cepat sembuh. Berjalan-jalan hanya akan membuatmu lelah,” seru Jimmy ketus.
“Oh ayo lah. Paman, apa paman tidak bosan juga? Tiap hari selalu diam di sini bersama ku. Kenapa paman mau saja sih disuruh untuk terus mengawasiku?” ucap Liana.
Jimmy yang mendengarnya dengan jelas pun terbelalak dengan perkataan Liana tadi.
Bagaimana dia bisa tau kalau aku disuruh? Dasar gadis cilik, pasti hanya asal tebak! Atau jangan-jangan, dia memang tau tentang siapa tuan besar makanya dia melompat ke depan mobil waktu itu? , batin Jimmy semakin curiga.
“Paman tidak usah takut aku kabur apa lagi berbuat macam-macam dengan bos mu. Aku tidak mungkin bisa melarikan diri dan melakukan hal lain lagi. Lihat saja kondisi ku? Jalan sendiri saja tak bisa,” gerutu Liana.
Jimmy diam. Dia tak mau apa yang akan dia katakan, justru membuat tuan besarnya menjadi terancam.
Liana yang memang cerdas pun tau, jika diamnya si pria paruh baya di sampingnya adalah karena demi menjaga privasi tuan besar itu yang belum dia ketahui.
“Hei, paman. Kau tidak usah khawatir. Aku janji tidak akan meminta apapun dari bosmu. Aku hanya memintamu untuk mengajakku jalan-jalan keluar saja. Apa itu sulit? Aku sangat bosan di dalam sini,” keluh Liana lagi.
Mendengar semua ocehan Liana, Jimmy pun akhirnya menuruti permintaan gadis itu. Dia meminta sebuah kursi roda kepada salah seorang perawat, yang berjaga di lantai tersebut.
Dia kemudian mengangkat tubuh Liana yang terbilang kurus, akibat nasib buruknya selama ini yang jarang diberi makan oleh bibinya, dan kemudian mendudukkannya di atas kursi roda tadi.
“Apa kau butuh kaca mata hitam?” tanya Jimmy datar.
“Untuk apa? Aku tidak butuh. Kaca mata hitam hanya membuat gelap pandangan ku saja, Paman,” jawab Liana enteng.
“Tapi wajahmu...,” ucap Jimmy.
“Cacat? Biarkan saja. Toh sudah di tutup perban di beberapa tempat. Tidak begitu terlihat jelas,” potong Liana cepat.
Gadis yang aneh. Biasanya mereka akan merengek, jika penampilan buruk mereka sampai terlihat orang, batin Jimmy.
Pria itu pun tak lagi bertanya atau menawarkan apapun kepada Liana, karena gadis itu hanya akan menyelanya sebelum ia selesai bicara.
Jimmy mendorong kursi roda yang di naiki Liana menuju ke sebuah taman, yang berada di lantai tersebut. Sebuah taman mini yang hanya diperuntukkan untuk para penghuni bangsal VIP, yang memang berada di sepanjang lorong lantai itu.
Di sana, nampak beberapa orang tengah melihat pemandangan kota dari atas gedung rumah sakit. Berbagai macam tumbuhan rambat memenuhi dinding pagar di sisi kiri dan kanan.
Beberapa jenis bunga yang berada di dalam pot, tertata rapi bak pagar pembatas di sisi jalan setapak, yang dilewati oleh pengunjung. Beberapa bangku taman pun turut berjejer segaris dengan pot-pot tersebut.
Serta sebuah kolam air mancur mini yang berada di tengah taman, dan menjadi pusat tempat itu.
Meski tamannya tak sebesar yang berada di bawah sana, namun tempat ini cukup untuk mengusir penat yang melanda pasien rawat inap di tempat tersebut.
Saat sampai di tepi kolam air mancur, Liana meminta Jimmy untuk menghentikan kursi rodanya.
“Kita istirahat di sini saja, Paman,” ucap Liana.
Jimmy pun menurut. Angin berhembus cukup dingin di siang ini. Karena lupa tak membawa selimut, akhirnya Jimmy pun meminjamkan sweater nya untuk dipakai oleh Liana.
“Pakailah. Kamu bisa sakit kalau hanya memakai pakaian pasien yang tipis itu,” seru Jimmy.
Liana hanya tersenyum. Dia merasa, jika Jimmy adalah orang baik. Hanya saja, sikapnya yang selalu ditunjukan pada Liana adalah dingin dan datar.
Namun, ketika dia tengah memuji pria itu dalam hati, sesuatu mengusik lamunannya saat itu.
“Ehm ... Paman, boleh minta tolong sesuatu?” tanya Liana.
“Apa?” sahut Jimmy datar.
“Aku haus. Boleh minta ambilkan air minum?” punya Liana.
“Menyusahkan saja. Tunggu di sini sebentar!” seru Jimmy ketus.
Liana hanya tersenyum memandangi pria yang berjalan semakin menjauh darinya. Namun, saat pria itu sudah tak terlihat di ujung jalan sana, senyum Liana pun menghilang.
Dia meraih sesuatu yang ada di saku sweater Jimmy, yang sedari tadi bergetar dan mengganggu lamunannya.
Dilihatnya sebuah nama yang tertera di layar, dan seketika sebelah sudut bibirnya terangkat. Dengan berani, dia menggeser tombol hijau ke kanan, dan menepelkan benda pipih tersebut ke telinganya.
“Halo, Tuan besar,” sapa Liana.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
epifania rendo
liliana
2022-11-17
0
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
💪💪💪💪💪
2022-03-25
2
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
2022-03-25
2