Dream hills, sebuah tanah milik pribadi dari seorang pengusaha konstruksi yang terkenal seantero negeri.
Tanah yang begitu luas, hingga mencakup beberapa bukit yang ada di daerah hutan pinus timur, negara bagian A.
Terdapat sebuah danau besar di salah satu lembah perbukitan, tepat di belakang sebuah mansion mewah milik pengusaha itu.
Banyak satwa liar yang terlihat berkejaran di hamparan padang rumput di sekitar danau, yang juga dimiliki oleh mansion tersebut.
Kini, mobil yang ditumpangi Liana berhenti di depan sebuah gerbang besar dan tinggi menjulang. Pintu besi yang hitam itu terlihat begitu kokoh melindungi sebuah bangunan, yang lebih mirip istana ketimbang rumah, yang ada di dalam sana.
“Apa ini rumah baruku?” gumam Liana yang begitu terpukau, dengan besarnya bangunan di depan sana.
Tak berselang lama, pintu gerbang itu terbuka dengan sendirinya, dan Jimmy kembali melajukan mobilnya menuju ke bangunan besar nan megah yang berdiri di ujung jalan.
Mata Liana membola, dengan mulut yang tak henti-hentinya berdecak kagum dengan apa yang dilihatnya.
Halaman yang begitu luas, dengan sebuah kolam air mancur ditengah halamannya, serta deretan mobil mewah yang terpajang di sepanjang sisi kanan jalan, yang menuju pintu depan mansion mewah tersebut.
Mobil berhenti tepat di depan tangga besar, yang diapit dua pilar yang menjulang tinggi hingga ke lantai atas.
Jimmy keluar dan membukakan pintu untuk Liana, dan memintanya untuk segera turun dari sana.
Gadis itu diam, dengan mata yang berbinar melihat semua kemewahan yang ada di depannya. Dia melihat ke sekeliling halaman luas itu, hingga tak sadar jika Jimmy sudah meninggalkannya sendirian.
“Hei! Ayo cepat jalan!” seru Jimmy yang sudah sampai di depan pintu.
Liana yang tersadar pun segera berlari menyusul pria paruh baya, yang sedari awal selalu bersikap dingin padanya.
Jimmy mengetuk pintu dan seorang pelayanan seketika muncul dari dalam.
“Tuan Jimmy, silakan masuk. Tuan besar sudah menunggu Anda di ruang kerjanya,” seru pelayanan itu.
“Terimakasih, Ella,” sahut Jimmy.
Dia kemudian hendak melangkah masuk. Namun, saat dirinya menengok ke belakang dan melihat Liana, dia kembali menghentikan langkahnya.
“Sedang apa kamu? Cepat masuk!” seru Jimmy ketus.
Liana yang sedari tadi terus mendongak melihat langit-langit teras pun, seketika menoleh ke arah pria paruh baya itu, dan kemudian mengikuti ke mana Jimmy pergi.
Baru selangkah masuk, Liana kembali dibuat terperangah dengan suasana yang ada di ruang tamu mansion tersebut.
Ruangan yang begitu luas, dengan kursi model modern klasik, dengan nuansa serba putih, serta lampu kristal gantung yang menambah kesan mewah di ruangan tersebut, membuat gadis miskin seperti Liana seolah memasuki istana kerajaan.
Lebih kedalam lagi, terdapat sebuah tangga utama yang berbentuk spiral melingkar, menghubungkan lantai dasar dengan lantai di atasnya.
Jimmy berjalan menaiki anak tangga. Namun ketika sampai di tengah, langkahnya kembali terhenti karena melihat Liana yang terdiam, dengan pandangan terus menyapu seisi ruangan tersebut.
“Mau sampai kapan kamu di situ? Cepat kemari!” bentak Jimmy.
Liana pun kembali terkejut dan segera berlari menyusul pria dingin itu.
Kini, mereka telah tiba di sebuah ruangan, yang berada di sayap kanan bangunan tersebut. Terdapat sebuah ruangan dengan pintu kayu coklat tua, di mana dikiri dan kanannya terdapat sepasang guci besar berwarna biru safir sebagai hiasan.
Jimmy mengetuk pintu itu sebanyak tiga kali, dan menyebutkan namanya.
“Tuan, ini saya, Jimmy,” ucapnya, dengan nada yang begitu berbeda dengan ketika dia berbicara pada Liana.
“Masuklah!” seru suara dari dalam.
Pria paruh baya itu pun membuka pintu dengan sangat hati-hati. Dia berdiri di depan sana, seolah mempersilakan Liana untuk masuk lebih dulu ke dalam.
Gadis itu pun paham dan menurut.
Di dalam sana, suasana terasa begitu maskulin dengan warna dominan coklat tua. Beberapa rak buku menghiasi setiap sudut ruangan.
Banyak gulungan kertas besar yang tertata rapi di dalam sebuah wadah mirip keranjang, yang berada di belakang meja kerja Kakek Joseph.
Ada pula sebuah globe besar yang terbuat dari kayu, terpajang di sisi sebelah kiri meja kerja. Serta satu set kursi kayu, lengkap dengan bantal duduknya, berada di seberang meja kerja pria tua itu.
Liana berjalan dan berdiri tak jauh dari kursi kayu tersebut, diikuti oleh Jimmy.
“Tunggu di sini!” ucap Jimmy lirih.
Pria itu kemudian berjalan ke depan meja kerja Kakek Joseph, dan menyapa tuan besarnya itu.
“Tuan, saya sudah membawanya kemari,” ucap Jimmy.
Kakek Joseph yang sedari tadi tengah membaca sesuatu, kini menutup buku yang ada di depannya dan melepas kaca mata yang dikenakan.
Dia berjalan memutari meja, dan menghampiri kedua orang yang baru saja datang tadi.
“Duduklah!” seru Kakek Joseph.
Liana dan Jimmy pun kemudian duduk di kursi kayu, yang ada di dalam ruang kerja tersebut.
“Aku sudah memenuhi janjiku padamu. Jadi, mulai sekarang kamu akan tinggal di sini dan bekerja mengurus rumah dengan pelayanan yang lain,” seru Joseph.
“Terimakasih, Kek. Saya rasa, ini lebih baik dari pada hanya menjadi pajangan rumah. Tapi, ada satu masalah lagi,” sahut Liana.
Jimmy menoleh dan menatap tajam ke arah gadis itu. Sedangkan Liana, dia hanya mengedikkan kedua bahunya.
“Katakan, ada masalah apa lagi?” tanya Kakek Joseph tidak sabar.
“Siapa namaku?” tanya Liana.
Kakek Joseph memundurkan punggungnya dan bersandar di kursi. Dia mengetuk-ngetuk tangan kursi dengan jarinyan.
“Aku akan pikirkan,” sahut Joseph.
“Bagaimana jika nama yang Anda sebut saat di rumah sakit? Saya rasa itu bagus,” ucap Liana.
“Jangan pernah berani berpikir kamu bisa memakai nama itu!” sahut Joseph cepat.
Pria itu nampak geram dengan sikap Liana, yang selalu saja seenaknya. Terlebih Jimmy yang setiap hari harus selalu bersama gadis itu.
“Baiklah. Kalau begitu, saya akan cari nama ku sendiri,” ucap Liana.
Joseph berdiri dan berjalan ke arah jendela. Dia berdiri di sana dan memasukkan satu tangannya ke saku celana.
“Bawa dia keluar. Serahkan dia pada Debora,” seru Joseph.
“Baik, Tuan,” sahut Jimmy.
Dia kemudian pergi bersama Liana.
Mereka berjalan menuju ke bagian belakang rumah, di mana ada sebuah paviliun yang diperuntukan untuk tempat tinggal para pelayan.
Di sana, Jimmy memperkenalkan Liana kepada seorang wanita paruh baya yang mengenakan kacamata dan terlihat ramah.
“Deb, kenalkan ini Liana. Dia pelayan baru yang akan bekerja di sini sebagai bawahanmu,” ucap Jimmy.
Debora adalah kepala pelayan wanita di mansion Kakek Joseph, yang telah puluhan tahun bekerja mengurus rumah besar itu.
Bak mesin pemindai, Debora menelisik Liana dari ujung kaki hingga ujung rambutnya.
“Siska!” panggilnya pada seseorang.
Tak lama, seorang pelayan datang menghampirinya.
“Iya, Nyonya,” sahut pelayan bernama Siska.
“Bawa dia ke dalam. Tunjukkan di mana kamarnya,” seru Debora.
“Baik, Nyonya. Ayo ikut aku,” ucap Siska.
Liana pun pergi mengikuti pelayan tersebut, dan meninggalkan Jimmy dan juga Debora.
“Wajahnya sangat mirip dengan Nona,” ucap Debora saat Liana telah menjauh dari mereka.
“Tapi, tuan tak mau menyelidiki gadis itu,” jawab Jimmy.
“Kenapa?” tanya Debora bingung.
“Wajah aslinya rusak, dan itu adalah hasil operasi pemulihan. Tuan kira, itu hanya kebetulan saja. Sebelum bukti itu muncul, Tuan besar selalu berhati-hati, karena tak mau sampai ditipu seperti dulu lagi," ungkap Jimmy.
“Sayang sekali. Tadinya aku kira dia adalah ...,” ucap Debora.
“Sebaiknya kamu tidak usah menyinggung masalah ini, Deb. Aku takut tuan akan marah nantinya,” sela Jimmy.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
paty
test DNA sj, kok rumit ntar kakek lo nyesal sendiri
2022-10-24
1
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼mantap
2022-03-26
2
Indra Saputra
seru
2022-03-21
3