“Halo, Tuan besar,” sapa Liana.
Tak ada sahutan dari ujung panggilan. Namun, Liana tak lantas gusar. Dia kembali menyapa si penelepon itu.
“Saya tau Anda lah orang yang meminta paman itu untuk terus mengawasi saya. Kenapa diam? Apa Anda takut pada saya? Apa saya seperti ini karena Anda? Saya tidak akan menyalahkan atau meminta apapun kepada Anda, karena saya juga tidak tau siapa Anda,” ucap Liana.
Terdengar kekehan dari seberang sambungan.
“Jadi, apa kamu ingin tau siapa aku?” tanya Tuang besar.
“Tentu saja jika Anda bersedia. Tapi jangan salah sangka saya yang meminta, karena saya tak pernah bertanya,” sahut Liana.
“Hahahaha ... Dasar gadis licik. Baiklah. Perkenalkan, namaku Joseph. Siapa namamu? Apa kau sudah mengingatnya?” tanya Tuan besar bernama Joseph itu.
“Sayangnya, amnesia ku belum mau sembuh. Jadi Tuan, kenapa Anda meminta paman itu untuk mengawasi ku terus setiap waktu? Apa Anda tidak kasihan kepadanya, yang tidak bisa pulang dan istirahat dengan nyaman di kasur empuk nya? Juga tidak bisa bertemu dengan keluarganya, karena harus memantau kondisi ku terus?” cecar Liana.
Joseph kembali tergelak mendengar omelan dari gadis belia, yang begitu berani berdebat dengannya.
“Apa aku se keterlaluan itu?” tanya Joseph.
“Tentu saja. Kalau Anda takut saya akan kabur atau berbuat macam-macam, sebaiknya Anda kemari dan lihat sendiri kondisi saya, biar Anda tenang membiarkan paman itu pulang." ucap Liana.
Dia berhenti sejenak untuk mengambil nafas, dan kemudian kembali melanjutkan kata-katanya.
"Dan saya juga sangat yakin, kalau Anda tak hanya memiliki satu bawahan, yang bisa dimintai untuk mengawasi saya, tapi kenapa Anda hanya meminta paman itu saja yang melakukannya? Maaf, tapi saya rasa Anda sangat aneh, Tuan,” ejeknya.
“Hahahaha … jadi sekarang, kamu sedang menggurui ku dan ingin agar aku datang serta menemuimu? Gadis licik. Aku semakin penasaran dengan mu,” sahut Joseph.
“Kalau memang penasaran, datanglah kemari. Aku akan menunggu Anda di taman yang indah ini,” seru Liana.
Obrolan itu harus terhenti, saat matanya menangkap kehadiran Jimmy, yang sudah kembali dan berjalan menghampirinya.
Liana buru-buru menutup telepon tersebut, dan mengembalikannya lagi ke dalam saku sweater Jimmy yang ia kenalan.
“Ini minumnya! Jangan meminta macam-macam lagi, atau aku tak akan mau lagi membawamu berjalan-jalan keluar,” ucap Jimmy ketus.
Liana tak menyahut. Dia hanya mengedikkan bahunya, dan kemudian meminum air mineral yang diberikan oleh pria itu.
...👑👑👑👑👑...
Beberapa hari kemudian, entah kenapa Jimmy tidak ada saat Liana bangun di pagi hari. Gadis itu mulai terbiasa dengan keberadaan Jimmy disekitarnya, yang selalu membantunya setiap saat. .
“Ke mana paman itu? Tumben dia nggak ada?” gumamnya pada diri sendiri.
Liana bangun dan duduk, kemudian menata bantal yang mana digunakannya sebagai sandaran.
Dia berusaha meraih gelas berisi air minum yang berada di atas nakas. Dengan susah payah, Liana mengulurkan tangan, hingga tubuhnya nyaris jatuh ke samping.
“Hah, sampai kapan aku jadi orang cacat seperti ini?” gerutunya.
Gadis itu kembali mencoba meraih gelas tersebut, kali ini dengan menggeser sedikit posisi duduknya. Akhirnya, dia pun bisa mendapatkan apa yang dia mau meski dengan bersusah payah.
Setelah selesai minum, Liana kembali duduk bersandar, namun tiba-tiba sesuatu yang tak bisa ditahan menghampirinya.
“Aduh! Pengin pipis lagi. Gimana nih? Biasanya minta paman itu buat bawa aku ke kamar mandi. Sekarang nggak ada dia, aku harus gimana dong? Masa pipis di sini? Yang bener aja!” gumamnya.
Liana menoleh ke kanan dan kiri. Di sudut ruangan, ada sebuah tongkat kruk yang biasa digunakan untuk membantu pasien patah kaki berjalan.
Dia mencoba untuk menurunkan kakinya ke bawah, dan perlahan berdiri sambil berpegang pada bibir ranjang. Awalnya dia bisa melangkah, namun, langkah berikutnya, Liana jatuh ke lantai dan membuat kakinya semakin sakit.
Tepat saat itu, pintu terbuka dan seseorang segera menghampirinya.
“Kenapa kamu tiduran di lantai? Jangan bilang kau mau kabur,” seru orang yang ternyata adalah Jimmy.
Liana bernafas lega, akhirnya paman yang biasa membantunya kini sudah datang dan menolongnya. Meskipun Jimmy selalu saja ketus dan dingin padanya.
“Antar aku ke toilet sekarang, Paman. Aku mau pipis, bukan mau kabur,” sanggah Liana.
Pria itu pun menggendong Liana ke toilet dan meninggalkannya sendiri di sana. Setelah selesai, Liana kembali berteriak memanggil Jimmy, yang kemudian membawanya kembali ke ranjang.
“Hahahaha, ternyata di sini kamu malah jadi pesuruhnya, Jim. Gadis yang luar biasa. Hahahaha,” kelakar seseorang, yang ternyata juga telah berada di dalam ruang rawat Liana.
Gadis itu sampai terkejut dibuatnya, dan hampir melompat karena kaget.
“Kakek, Anda siapa?” tanya Liana langsung.
Seketika itu, Jimmy menoleh dan melotot kepada gadis itu. Namun, bukannya takut, Liana justru mengangkat dagunya tanda menantang.
“Hahahaha, bukankah kamu meminta ku untuk datang kemari melihat kondisimu?” tanya pria tua itu.
Liana membola. Dia membekap mulutnya dengan kedua tangan.
“Oh, my God! Jadi, Anda seorang kakek-kakek? Wah, saya kira Anda seorang tuan besar yang masih muda, yang akan jatuh cinta pada gadis polos sepertiku ini. Seperti di novel-novel itu,” ucap Liana dengan beraninya.
Jimmy semakin kesal dengan tinggah gadis itu. Namun, berbeda dengan orang yang dipanggil 'kakek' oleh Liana. Dia justru semakin tertawa terpingkal-pingkal.
“Hahahaha, gadis kurang ajar. Jadi, kalau aku masih muda, apa kau berpikir akan memanfaatkan ku, hah? Dan sekarang kamu merasa kecewa, karena aku ternyata seorang pria tua, begitu? Hahahaha, dasar tukang khayal! ” ejek Tuan besar.
“Hah, hilang sudah jackpot ku,” gumam Liana.
“Hei, tapi aku kaya lho,” seru kakek Joseph.
“Tapi tetap saja, Anda merusak imajinasi ku,” keluh Liana.
“Hahahaha,” kakek Joseph terus tertawa setiap kali mendengar perkataan dari mulut Liana.
Sedangkan gadis itu nampak cemberut. Begitu pun Jimmy yang kesal dengan sikap sembarangan gadis itu.
Liana semakin kesal karena Kakek Joseph yang sedari tadi terus menertawakannya dan juga Jimmy.
“Hei, kakek. Apa Anda tidak capek tertawa terus dari tadi?” gerutu Liana.
“Maaf, aku baru pernah melihat gadis aneh sepertimu. Ini sangat lucu buatku. Hahahaha, baiklah. Aku sekarang ada di sini. Jadi, apa yang mau kamu katakan padaku?” tanya Joseph.
“Wah, Anda pintar juga rupanya. Baiklah. Saya tidak akan basa basi lagi. Karena Anda adalah orang yang sangat kaya, dan sudah tidak keberatan mengeluarkan banyak uang untuk merawat lukaku selama ini, jadi saya ingin Anda untuk sekalian membantuku menghilangkan cacat di wajah ini,” ungkap Liana.
Jimmy semakin menatap tajam ke arah Liana. Dia tak mengira jika gadis itu begitu berani, meminta sesuatu kepada bosnya.
“Hanya menghilangkan? Tidak face off sekalian?” tanya Joseph.
“Tidak, terimakasih. Saya sudah cantik dari lahir. Hanya saja karena bekas luka ini, wajahku jadi jelek. Jadi kali ini, saya meminta mu untuk membantuku. Bagaimana, Kek?” tanya Liana.
“Apa imbalan untukku? Aku seorang pebisnis dan aku tidak pernah melakukan sesuatu yang tidak menguntungkan ku,” jawab Joseph dengan tatapan serius.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
kompiang sari
Duh. liana..liana
2025-02-14
0
epifania rendo
di kira tuan muda semoga ada cucunya
2022-11-17
1
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
💪💪💪💪terbaik
2022-03-25
2