Beberapa hari yang lalu, di peternakan si tua Paulo. Para istri muda si tua itu, tengah mengadakan sebuah acara syukuran, atas kelahiran anak dari salah satu istri-istri terlantarnya.
Semua nampak sibuk, kecuali Caroline dan Jessica yang ditugaskan untuk mengurus semua hewan ternak yang ada di sana.
Mereka sengaja melakukan hal itu, sekaligus untuk mengerjai pasangan ibu dan anak tersebut.
Sejak awal, tak ada yang suka dengan keduanya. Hal itu dikarenakan rasa iri dari para wanita-wanita itu, lantaran Jessica yang tidak dijadikan istri muda oleh si tua Paulo seperti mereka, ditambah sikap gadis itu yang selalu menyebalkan dan manja.
Hanya Caroline yang mau tak mau menjadi tameng sang putri, dan mengambil alih setengah dari tugas Jessica, agar gadis itu tak terus menerus merengek padanya.
Namun, sifat Jessica yang manja yang memang sejak dulu selalu dimanja, akhirnya membuat dia justru menjadi beban dari sang bunda.
Hari ini, Caroline sengaja bangun pagi dan memulai semuanya lebih awal. Dia mengambil air di sumur belakang, dan mulai membersihkan kandang sapi terlebih dulu.
Dia sengaja memilih kandang tersebut, karena hanya tempat itu yang berbatasan langsung dengan jalan di luar pagar.
Sejak lama, dia menyiapkan rute melarikan diri dari kandang sapi, yang memang memiliki tembok agak rapuh dari yang lainnya.
Dia terus mengikis sedikit demi sedikit tembok di sana, dan menutupi dengan kain berwarna kelabu yang samar dengan warna catnya.
Pagi itu, bahkan penjaga pun ikut bersenang-senang dengan acara tersebut. Mereka disuguhi minuman dari sejak semalam, sebagai imbalan agar pagi harinya para wanita itu diperbolehkan memetik beberapa sayur yang ada di kebun serta beberapa ekor ayam untuk dimasak bersama.
Caroline menggunakan kesempatan ini untuk menuntaskan rencana kaburnya bersama sang putri. Kali ini, dia membawa palu untuk membobol tembok agar lebih cepat, agar lubang sakin lebar dan bisa digunakan hari itu juga, karena biasanya dia hanya menggunakan sekop kecil.
Sedangkan di dalam, Jessica yang sudah di beritahu oleh ibunya tentang rencana ini, berusaha mencari uang untuk modal mereka hidup di luar setelah lari dari tempat kumuh tersebut.
Dia melihat jika sebagian besar wanita-wanita itu mulai pergi ke kebun untuk memetik sayuran, sedangkan yang lainnya tengah sibuk menyiapkan peralatan serta bumbu masak.
Ada pula yang tengah membersihkan ayam di sumur belakang.
Jessica melihat situasi di kamar yang berada di sampingnya. Tak ada seorang pun di sana. Gadis itu pun kemudian masuk ke kamar wanita yang tak memiliki anak, karena dia dengan leluasa bisa menggeledah tanpa ada yang mengetahui.
Satu per satu kamar ia masukin tanpa ada seorang pun yang menyadarinya. Sekitar lima kamar telah ia satroni, hingga bisa mendapatkan uang yang cukup banyak sekitar dua setengah juta.
Awalnya dia hendak kembali memasuki kamar yang lainnya, namun seorang wanita lebih dulu menegurnya dan membuat Jessica urung melanjutkan aksinya itu.
“Sedang apa kami di situ? Tugas kamu di kandang, bukan di sini!” seru wanita yang berusia hampir sebaya dengannya, dan merupakan salah satu istri Paulo.
Jessica mencoba memutar otak untuk menemukan alasan yang masuk akal. Dia menyadari jika kakinya masih memakai sandal jepit.
“Aku cuma ingin mencari ... Boot, iya, sepatu boots ku,” jawab Jessica terbata karena gugup.
Wanita itu menelisik dari ujung kaki hingga rambut gadis tersebut, dan memang benar bahwa Jessica tak memakai sepatu boots nya.
“Cari di tempat lain. Tidak mungkin ada di situ!” seru wanita tadi.
“Ya mungkin saja. Bukankah kalian sangat senang mengerjai ku,” gerutu Jessica.
Melihat wanita itu terus melotot ke arahnya, Jessica pun mau tak mau pergi dari sana. Dia segera berlari ke kamarnya dan memakai sepatu boots miliknya yang memang belum di pakai.
“Hah, untung aku pintar cari alasan,” bisik Jessica.
Dia melihat dua bungkusan kain yang berisi pakaian layak dan beberapa benda berharga yang masih tersisa dariny dan sang ibu. Mereka sudah benar-benar bersiap untuk kabur hari ini, tinggal menunggu Caroline selesai membuat jalan.
Gadis itu kembali keluar dan mengintip ke arah kandang sapi. Nampak ibunya belum terlihat. Dia pun berjalan mendekat sambil berpura-pura membawa sapu lidi untuk menyapu sekitar kandang.
“Bagaimana, Bu?” tanya Jessica berbisik di luar kandang sapi.
“Sudah hampir selesai. Ambilkan barang-barang kita kemari, dan pastikan tak ada yang tahu. Cepat!” seru Caroline.
Jessica pun segera kembali masuk ke dalam. Hari masih gelap, namun kesibukan sudah terasa di sana.
Dia mengendap-endap masuk ke kamarnya, dan mengambil dua bungkusan tadi, lalu berusaha membawanya keluar.
Para wanita itu masih sibuk dengan acara masak memasak hingga tak menyadari gelagat aneh dari Jessica, yang sedari tadi terus bertingkah mencurigakan.
Namun, pada dasarnya, mereka memang tidak peduli dengan apa yang dilakukan ibu dan anak tersebut. Bahkan tak jarang mereka membiarkan keduanya kelaparan karena tak membagi jatah makan.
Semua itu mereka lakukan karena rasa iri akan nasib baik Jessica, yang tak perlu menjadi seperti mereka.
Dengan hati-hati, gadis itu akhirnya bisa membawa bungkusan ke luar dan segera masuk ke kandang sapi. Di sana, sudah terlihat lubang yang cukup besar dan bisa dilewati oleh orang dewasa.
“Apa kamu sudah siap?” tanya Caroline.
“Aku sudah sangat siap, Bu. Aku sudah bosan hidup seperti ini di sini. Aku ingin segera keluar dari sini,” rengek Jessica.
“Baiklah. Kamu keluar dulu. Setelah di luar, kamu lari sampai ujung jalan sana dan sembunyilah di balik gudang itu. Tunggu ibu di sana,” seru Caroline kepada putrinya.
Dia menunjuk ke arah sebuah gudang milik peternakan tetangga, yang dekat dengan pepohonan sekitar sungai. Caroline telah lama mengetahui jika di seberang sungai tersebut, ada sebuah jalan yang bisa membawanya ke sebuah kota yang jauh dari Metropolis.
Dia berencana meminta Jessica menunggu di balik gudang tersebut, dan akan mengajak anaknya untuk pergi menyeberangi sungai, dan mencoba meminta bantuan di seberang sana.
Jessica menyembulkan kepalanya dan melihat kiri kanan, setelah merasa aman dan tak ada yang melihat, dia pun segera keluar dan berlari ke tempat yang ditunjuk oleh ibunya.
Caroline memperhatikan hingga putihnya benar-benar tersembunyi di balik gudang itu. Sebenarnya, yang mereka takutkan bukanlah para penjaga, melainkan dilihat oleh wanita-wanita yang ada di tempat tersebut. Karena dia tahu betul kalau penjaga-penjaga itu saat ini masih mabuk di depan pintu sana, akibat minuman yang diberikan oleh wanita-wanita itu sebagai bujukan.
Akan runyam jika sampai istri-istri terlantar Paulo yang melihat, karena sudah pasti mereka akan membuat Caroline dan Jessica tertangkap dan dihukum berat.
Entah karena psikopat atau rasa iri yang begitu kuat, yang jelas mereka akan sangat bahagia jika kedua ibu dan anak itu menderita bahkan sampai terluka karena hukuman.
Setelah beberapa saat, Caroline melihat jika sang putri sudah menghilang di balik gudang. Dia pun bersiap untuk pergi. Namun, saat dia hendak keluar, sebuah kegaduhan terdengat dari dalam rumah.
“Ada maling! Kamarku kemasukan maling!” teriak salah satu wanita di dalam rumah.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
🦋⃟💎⃞⃟𝘼𝙇𝚏𝚒𝐞𝐞𝐫𝐚.༄㉿ᶻ⋆ ❤
hati thor
2022-06-06
1
🦋⃟💎⃞⃟𝘼𝙇𝚏𝚒𝐞𝐞𝐫𝐚.༄㉿ᶻ⋆ ❤
🤔🤔🤔🤔...macam2
2022-06-06
1
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
💪💪💪💪
2022-03-26
2