Liana duduk di tepi danau. Dia menendang-nendang air yang tenang hingga beriak. Pandangannya lurus menerawang ke depan. Pikirannya masih tertuju pada figura usang, yang tergeletak penuh debu di balik lemari buku.
Itu seperti sebuah cetak biru rumah kecil yang cantik. Tapi, kenapa aku merasa ada yang salah? Dan nama itu, kenapa dadaku tiba-tiba sesak saat melihatnya? batin Liana.
Dia terus mengingat nama yang tertulis di atas cetak biru yang terbingkai rapi di dalam figura. Dia ingat jelas, jika dadanya tiba-tiba sesak dan tanpa sadar setetes bening meluncur dan jatuh di atas figura tersebut.
Setelah beberapa saat dia larut dalam lamuannnya, Liana kini kembali beranjak dari tempatnya dan melanjutkan pekerjaan yang masih harus diselesaikan.
...👑👑👑👑👑...
Di tempat lain, tepatnya di gedung perusahaan Wang Construction milik kakek Joseph. Di sebuah ruangan yang luas di mana presdir berada, tampak seorang pria tua duduk di balik meja kerjanya, dengan seorang pria paruh baya yang tengah berdiri di sampingnya.
Dia terlihat sedang menandatangani beberapa dokumen yang ditunjukkan oleh pria paruh baya itu.
“Bagaimana pencarian orang-orang kita, Jim?” tanya Kakek Joseph kepada asisten pribadinya, Jimmy.
Jimmy membereskan berkas-berkas yang telah ditandanagi dan menumpuknya menjadi satu di atas meja.
“Maaf, Tuan. Sepertinya masih belum ada perkembangan,” jawab Jimmy.
“Lalu pelayan itu? Apa dia juga tidak ada jejaknya sama sekali? Ini sudah sangat lama sekali. Mana mungkin orang biasa bisa sembunyi dari kita selama ini,” tanya Kakek Joseph.
“Pelayan bernama Vivian yang melayani nona muda, terakhir terdengar berada di kota Metropolis sebelas tahun lalu. Tapi, setelah menyisir kota itu, tak satu pun petunjuk yang bisa ditemukan. Apalagi, pencarian kita terakhir kali ke kota itu terhambat, akibat kecelakaan dengan gadis amnesia itu,” jawab Jimmy.
Kakek Joseph nampak menyandarkan punggungnya di kursi. Terlihat jelas lelah di wajah tuanya.
Sudah bertahun-tahun aku mencari mu. Apa kamu baik-baik saja? Apa kamu masih hidup? Meskipun sudah tiada, setidaknya biarkan aku melihat makammu, Nak, ratap Joseph dalam hati.
Selama bertahun-tahun, pria tua malang itu terus mencari anak perempuan satu-satunya, yang telah hilang entah kemana.
“Ini hukuman untuk ku, karena kesalahanku di masa lalu. Tapi, ini sudah dua puluh tahun berlalu. Sudah cukup lama aku hidup dalam kesepian,” gumam Joseph.
Jimmy paham akan kegundagan hati atasannya itu. Dia pun sudah ikut mencari nona mudanya sejak awal, namun tak sedikitpun petunjuk yang bisa di temukan.
“Info terakhir, apa itu benar?” tanya Joseph.
“Benar tuan. Kami sudah mengkonfirmasikan kepada dokter yang saat itu membantu persalinannya. Nona muda sudah memiliki seorang putri. Namun setelah itu, nona dan pelayan bernama Vivian kembali menghilang bersama dengan bayi yang masih merah, tanpa ada seorang pun yang tau,” ungkap Jimmy.
Kakek Joseph tampak mengepalkan tangannya dengan kuat. Dia seolah tengah menahan amarahnya akan sesuatu.
“Ini semua karena kep*rat tak tau malu itu. Beraninya dia menipu ku dan membuat putriku ikut terseret hingga harus hidup menjadi rakyat jelata. Anak malang itu tak mau mendengar ku dan justru ikut lari dengan pria muda yang dicintainya. Tapi kenapa pemuda itu membiarkan Lilian melahirkan seorang diri. Apa yang sudah terjadi padamu, Nak?" ucap Kakek Joseph.
Dia kembali teringat akan masa lalu, dimana dia sudah membuat putrinya memilih jalan yang sulit, karena harus memilih antara ayah dan orang yang dicintainya.
"Aku tidak mau menyesal sampai mati. Kerahkan semuanya. Aku harus tau di mana mereka dan apa yang telah menimpa putriku. Lalu, akan ku pastikan kep*rat itu akan memohon untuk mati, karena hidupnya akan lebih menderita dari Lilian,” ucap Joseph dengan menhan amarah yang sudah sangat memuncak.
...👑👑👑👑👑...
Di sebuah tempat yang terbuka, nampak seorang anak perempuan tengah bergandengan tangan dengan wanita paruh baya, yang selalu tersenyum ke arah si gadis kecil itu.
Mereka berjalan menyusuri padang rumput yang terhampar luas di depan, hingga sampailah mereka di sebuah taman dengan beberapa pohon besar yang berada di sekitarnya.
“Ibu, kita mau ke mana?” tanya si gadis kecil.
Wanita itu menoleh dan tersenyum ke arah anak yang digandengnya, namun tak menjawab sepatah kata pun.
Dia terus mengajak anak kecil itu berjalan semakin ke dalam rimbunnya pepohonan.
Kemudian, mereka berhenti di depan sebuah makam, dengan nisan yang terbuat dari papan kayu yang sudah lapuk, dan hanya ditulis menggunakan cat.
Gadis kecil itu kembali mendongak melihat wajah sangat ibu. Tetes bening mulai turun membasahi wajah teduh itu.
“Ibu, ini makam siapa?” tanya gadis kecil itu lagi.
Namun, Lagi-lagi wanita itu tak menyahut. Dia malah berjongkok di depan sangat gadis kecil dan memeluknya tiba-tiba.
Tubuhnya terasa berguncang. Isaknya semakin terdengar jelas. Gadis kecil yang sedari tadi penasaran pun, kemudian melirik ke arah pusara yang terlihat telah lama berada di sana.
Ketika matanya menangkap dengan jelas tulisan yang ada di papan lapuk itu, matanya membola. Dadanya seketika terasa sesak dan nyeri menyerang ulu hatinya.
“Tidak! Tidak! TIDAAAAKKK!” pekiknya.
“Hei, kamu kenapa?” tanya Ella yang terbangun karena mendengar teriakan dari teman sekamarnya.
Liana membuka mata dan menatap langit-langit kamar. Nafasnya tersengal, memburu cepat. Gadis cantik itu mencoba mengatur nafas sebelum menjawab pertanyaan dari Ella yang sudah pasti terganggu tidurnya.
Dia perlahan duduk, dan meraih air minum yang ada di atas rak, diikuti Ella yang juga bangun dan duduk di tepi ranjangnya.
“Mimpi buruk?” tanya Ella.
Liana mengangguk lemas. Debaran jantungnya masih sulit untuk dikendalikan.
Ella melihat jam yang ada di atas rak miliknya.
“Masih jam satu. Sebaiknya kamu tidur lagi,” seru Ella.
“Kamu duluan saja. Aku akan ke dapur sebentar mengambil minum,” sahut Liana.
Dia pun beranjak dari tempat tidurnya, meninggal Ella yang kembali berbaring ditempatnya.
Liana keluar dan berjalan menuju dapur di rumah utama. Suasana sangat sepi dan juga gelap, karena sebagian besar lampu telah dimatikan pada malam hari.
Saat dia melihat tangga besar di belakang ruang tamu, entah kenapa Liana berjalan menaikinya, dan berdiri di depan pintu ruang kerja Kakek Joseph.
Kenapa nama itu ada di dalam mimpiku? Dan kenapa aku menangis saat melihat kedua nama di figura itu? Apa mungkin ini hanya mimpi? Lalu, kenapa ibu ku juga ada di dalam mimpi tadi? Kenapa dia seolah ingin mengatakan sesuatu? batin Liana gundah.
Tak lama, dia kembali berjalan meninggalkan tempat tersebut. Saat hendak turun, dia tak sengaja melihat pintu di ujung kiri lantai dua, yang konon katanya tak pernah di buka, dan tak ada yang tahu apa isinya.
Entah dorongan dari mana, Liana melangkah hendak mendekati ruangan misterius itu. Namun, dia kemudian sadar jika tidak seharusnya dia ikut campur dengan urusan pemilik rumah ini.
Dia pun berbalik dan berjalan kembali ke kamarnya dengan ribuan tanda tanya.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
Dwi miemie
cepet diungkap siapa Liana sebenarnya thor , jangan terlalu lama
2025-03-25
1
🦋⃟💎⃞⃟𝘼𝙇𝚏𝚒𝐞𝐞𝐫𝐚.༄㉿ᶻ⋆ ❤
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
2022-06-05
1
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
💪💪💪
2022-03-26
2