Sebuah sirine ambulan meraung memecah keheningan kota, melewati hiruk pikuk lalu lintas Metropolis yang tak pernah lengang.
Mobil van dominan putih dengan simbol palang merah, bergerak cepat menuju ke sebuah rumah sakit besar yang terlengkap di kota itu.
Sesampainya di sana, nampak sepasukan medis menghampiri mobil tersebut dan mengangkat tubuh seorang gadis ke atas brangkar dorong, dan membawanya menuju ke ruang operasi.
Di belakang ambulan, nampak sebuah mayback keluaran terbaru mengikuti hingga ke rumah sakit. Dari dalam mobil mewah tersebut, keluar seorang pria berpenampilan formal dari kursi depan sebelah kanan, dan berjalan menghampiri kursi penumpang belakang.
Dia nampak tengah berbicara dengan seseorang yang duduk di dalam sana lewat kaca mobil yang terbuka separuh.
Seusai berbicara, pria itu membungkuk seiring dengan melajunya mobil tersebut meninggalkan rumah sakit.
Pria tadi pun kemudian berjalan masuk menuju ke ruang operasi, di mana gadis yang terluka itu tengah berada.
Saat sedang menunggu, seorang perawat keluar dan menghampiri pria tadi.
“Maaf, apa anda wali pasien?” tanya perawat tersebut.
“Benar. Nama saya Jimmy Chung. Bagaimana kondisi gadis itu?” tanya pria bernama Jimmy itu.
“Pasien mengalami luka serius di bagian kepala, akibat benturan keras yang terjadi saat kecelakaan. Kaki sebelah kanannya mengalami dislokasi dan beberapa bagian tubuh lain pun mengalami cedera cukup berat. Kita perlu melakukan beberapa operasi, salah satunya untuk menghentikan pendarahan otak dan kasus dislokasi tulang pada kakinya,” jelas perawat tadi.
“Lakukan saja yang terbaik untuk gadis itu,” seru Jimmy.
“Baik. Mari silakan ikut saya untuk menandatangi dokumen persetujuannya,” ucap perawat itu.
Jimmy kini berada di luar ruang administrasi, menunggu perawat tadi menyiapkan lembar persetujuan yang harus ditandatangani sebelum perasi di lanjutkan.
Sementara dia menunggu, Jimmy memutuskan untuk melakukan panggilan ke sebuah nomor yang diberinya nama 'Tuan besar'.
“Halo! Ada apa, Jim?” sapa orang di seberang.
“Maaf, Tuan. Gadis itu mengalami luka yang cukup parah akibat tabrakan tadi. Perawat mengatakan ada pendarahan otak, dislokasi tulang kaki kanan dan beberapa cedera di bagian tubuh lain yang cukup berat. Gadis itu perlu menjalani operasi beberapa kali agar cederanya bisa sembuh,” lapor Jimmy.
“Lakukan saja apa yang mereka mau. Pastikan gadis itu tidak apa-apa. Aku tidak mau sampai punya masalah saat pertama kali datang ke kota ini,” ucap orang di seberang.
“Baik, Tuan,” sahut Jimmy.
Setelah itu, perawat kembali menghampiri Jimmy yang menunggu di luar ruang adminstrasi, dan meminta pria itu untuk membaca kembali lembar persetujuan tersebut.
Setelah membacanya, Jimmy pun membubuhkan tanda tangan di atas kertas tersebut dan berlaku sebagai wali si gadis.
Dia pun berpesan agar kasus kecelakaan ini jangan sampai terendus pihak berwajib, karena ini berkaitan dengan nama besar majikannya.
“Baik, Tuan. Sekarang, silakan Anda ikut saya ke bagian kasir untuk mengurus biaya operasinya,” seru si perawat.
Jimmy segera berjalan mengikuti perawat tadi, dan mengurus semua masalah biaya yang diperlukan, untuk serangkaian operasi yang akan didapatkan oleh gadis itu.
Setelah selesai, Jimmy kembali menunggu di depan pintu ruang operasi. Sangat lama waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan operasi gabungan pada gadis tersebut, mengingat luka yang didapatnya cukup serius.
Sekitar dua belas jam, akhirnya lampu merah yang ada di atas pintu ruang operasi padam, pertanda jika sang gadis telah selesai menjalankan serangkaian tindakan medis.
Sekelompok dokter keluar dari sana, dan salah satunya menghampiri Jimmy yang nampak kelelahan menunggu hingga operasi selesai.
“Maaf, apa Anda wali pasien?” tanya dokter tadi.
“Yah, saya walinya. Bagaimana kondisinya?” tanya Jimmy.
“Kami sudah melakukan tindakan yang diperlukan, untuk menangani semua cidera yang dialami oleh pasien. Hanya saja, untuk cidera di otak, kita masih perlu pemantauan yang intens, agar jika ada efek lain yang muncul, bisa segera kami tangani,” jelas dokter itu.
“Baiklah. Lalu, apa saya sudah bisa melihat dia?” tanya Jimmy.
“Pasien sedang dibersihkan dan nanti akan dipindahkan ke ruang perawatan yang sudah Anda pilihkan. Tunggulah beberapa saat lagi hingga perawat membawanya keluar," jawab sang dokter.
"Baiklah, Dok. Terimakasih banyak," ucap Jimmy.
"Sama-sama. Kalau begitu, saya permisi dulu, ” jawab dokter itu.
Dokter itu pun pergi meninggalkan Jimmy, yang masih menunggu gadis malang itu keluar dari ruang operasi.
Setelah sekitar tiga puluh menit, ada tiga perawat yang keluar sambil mendorong ranjang pasien, dengan gadis penuh dengan balutan perban ditubuhnya.
Selang infus dan transfusi datang pun turut menggantung di atas tempat tidur pasien itu. Jimmy mengikuti ketiga perawat tersebut menuju ke lantai empat, di mana kamar VIP yang dipesan oleh Jimmy untuk si gadis berada.
Setelah semua perawat keluar, Jimmy mulai mendekat dan melihat dengan jelas, wajah gadis yang telah ditabrak oleh mobil yang membawa Tuan besarnya. Lebih tepatnya, yang ditabrak olehnya.
Dia terkejut saat menyadari jika wajah gadis itu ternyata cacat di beberapa bagian. Dia mengulurkan tangannya, dan menyentuh bekas luka yang ada di wajah gadis yang masih terbaring lemah itu.
Kasian gadis ini. Dengan wajah seperti ini, pasti hidupnya sangat berat, batin Jimmy.
Sudah menjadi hal umum, di mana paras menentukan nasib hidup seseorang. Sebagai orang dewasa yang sudah cukup berpengalaman, Jimmy tau betul akan hal itu.
Hukum sosial tak tertulis memang begitu menyeramkan, di mana si lemah akan ditindas, dan si jelek akan selalu diinjak-injak. Tak ada kesempatan bagi mereka jika tak ada perubahan yang mereka buat sendiri.
Jimmy kembali menghubungi Tuan besarnya. Dia memberitahukan jika operasinya telah selesai.
“Laporkan perkembangan gadis itu. Jika dia sudah sadar, tanyakan di mana alamatnya dan suruh keluarga datang. Semua biaya akan kita tanggung, selama mereka tidak menuntut macam-macam,” seru tuan besar itu.
“Baik, tuan,” sahut Jimmy.
...👑👑👑👑👑...
Keesokan harinya, gadis malang itu akhirnya bersuara untuk pertama kalinya, setelah sekitar hampir dua puluh empat jam tak sadarkan diri.
Dia mengerang karena rasa sakit yang mulai menyergapnya, hingga mengusik tidur panjangnya.
Jimmy yang masih setia menunggunya di ruang rawat, segera berjalan menghampiri dan melihat jika gadis itu mulai mengerjapkan kelopak mata.
Pria itu pun segera menekan tombol merah yang ada di samping ranjang, dan tak lama kemudian tim medis berdatangan untuk memeriksa si gadis malang.
Dokter mulai memeriksa tanda-tanda organ vitalnya di monitor EKG, yang terhubung dengan kabel yang terpasang di tubuh gadis itu.
Dia kemudian memberikan rangsangan cahaya pada pupil mata pasien, dan mendapatkan reaksi yang bagus.
Gadis itu kembali mengerang dengan mata yang masih tertutup.
“Nona! Nona! Apa Anda bisa mendengar suara saya?” tanya sang dokter memberikan pancingan.
“Eeeehhmmm...,” erang si gadis.
Perlahan, matanya mulai terbuka sedikit demi sedikit. Cahaya mulai mengenai bola mata dan membuatnya silau. Dia pun kembali menutup mata, dan membukanya kembali sembari menyesuaikan pupil terhadap cahaya di sekitarnya.
Matanya mulai mengedar ke penjuru ruang rawat tersebut.
Asing. Itulah perasaan pertama yang dirasakan oleh gadis itu.
“Di-ma-na-a-ku?” ucapnya terbata dan begitu lirih.
Hingga dokter pun harus membungkuk dan mendekatkan telinganya ke bibir gadis itu.
“Anda di rumah sakit sekarang. Bisa beritahukan kepada saya, apa yang Anda rasakan sekarang?” tanya dokter itu.
Tangan gadis itu terulur menyentuh keningnya yang terasa sakit. Seketika, ingatannya sebelum ia tak sadarkan diri pun berkelebat, membuatnya tiba-tiba membola dan memaksa untuk bangun.
Namun, kondisi tubuhnya yang masih penuh luka, membuatnya kembali terjatuh ke tempat tidur dan mengerang kesakitan.
“Tolong Anda tenang, Nona! Kondisi Anda masih belum memungkinkan untuk bangun. Tenanglah. Coba katakan apa yang Anda rasakan?” tanya dokter itu lagi.
“Pusing. Kepala saya sangat pusing. Dan... Dan...,” ucap gadis itu terbatas.
“Apa sakit seluruh badan?” tanya dokter itu.
Si gadis hanya mengangguk. Meringis menahan sakit di seluruh tubhnya yang terbalut perban.
Dokter kemudian memerintahkan perawat untuk menyuntikkan obat pereda nyeri ke dalam cairan infus si gadis, agar bisa mengurangi rasa sakit yang teramat.
Setelah beberapa saat, obat pun mneyebar ke seluruh tubuh dan menekan syaraf sakitnya. Dokter pun kembali menanyai gadis itu.
“Apa sekarang sudah lebih baik?” tanya sang dokter.
“Iya, Dok. Lebih baik,” sahut si gadis.
“Sekarang, bisa saya tanya siapa namamu?” tanya dokter itu lagi.
Sang gadis nampak berpikir. Dia seolah kebingungan untuk menjawab pertanyaan yang begitu mudah dari dokter yang sudah merawatnya.
Melihat gadis itu hanya diam saja, dokter kembali bertanya.
“Ada apa? Apa kamu lupa namamu? Jika kamu ingat, katakanlah. Kami akan coba hubungin keluargamu agar mereka bisa segera datang ke mari,” ucap sang dokter.
Namun, gadis itu semakin terlihat bingung. Dia seolah tengah berpikir keras, hingga kemudian dia kembali memegangi kepalanya.
“Sa... Saya tidak tau. Siapa saya?” ucap gadis itu lirih.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
epifania rendo
baguslah kalau amnesia
2022-11-17
2
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
😘😘💪💪
2022-03-25
2
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
🙏🙏🙏...maaf ya dek
2022-03-25
3