Setelah menghabiskan waktu sekitar sepekan, akhirnya pembuatan relief hiasan dinding dan kolam ikan telah selesai.
Kakek Joseph tampak puas dengan hasilnya, dan menyanjung Morgan serta rekannya yang lain. Dia sengaja tak menyinggung keterlibatan Liana di dalam pembuatan relief dinding tersebut, agar gadis belia itu tak lantas besar kepala.
Malam harinya, setelah semua tugas telah dikerjakan, Liana membersihkan diri dan bersiap naik ke tempat tidur.
Dia tinggal sekamar dengan pelayan bernama Ella, yang yang dulu menyambutnya di depan pintu ketika pertama kali datang.
Kamar yang ditempatinya kali ini, sungguh jauh berbeda dari kamar di tempat bibinya dulu. Meski terbilang kecil, namun penempatan furniturnya cukup rapi, sehingga memaksimalkan pemakaian ruang yang terbilang kecil itu.
Kini, dia sedang berbaring menatap langit-langit kamarnya. Saat itu, Ella yang baru saja selesai mandi, tengah mengeringkan rambut dengan handuk kecil.
“Belum tidur?” tanya Ella.
“Masih mencobanya,” sahut Liana.
“Aku dengar, tuan besar tidak menyinggung mu sama sekali saat melihat relief itu ya?” tanya Ella.
“Aku tidak peduli,” sahut Liana.
“Sabar yah. Itu karena tugas membuat hiasan dinding bukanlah punya mu. Jadi, mau sebesar apa pun andilmu di dalamnya, tuan tetap tak akan menganggapnya,” tutur Ella.
“Sudah ku bilang kan, kalau aku tak peduli. Yang buat ku tak habis pikir, kenapa orang kaya seperti dia begitu pelit? Padahal cukup memanggil jasa profesional saja, sudah pasti akan mendapatkan hasil yang lebih bagus lagi kan. Kenapa malah memaksa mereka yang membuatnya? Para pekerja itu bahkan tidak tau caranya,” ujar Liana.
“Kamu tau? Semua yang ada di rumah ini, harus sesuai dengan keinginan dari tuan besar. Perintahnya adalah mutlak. Bahkan urusan menyiram tanaman saja, harus sesuai permintaannya,” ucap Ella.
“Ehm, lalu bagaimana kalau tuan besar itu mengatakan hal yang salah? Apa kita juga harus tetap mengikutinya?” tanya Liana.
“Begitulah. Jika tuan besar memintamu menyiram kaktus dua kali sehari sampai potnya penuh dengan air, meskipun itu salah besar, kamu harus tetap melakukannya,” ucap Ella.
“Wah ... Ternyata aku sudah bertemu kakek-kakek yang aneh,” gumam Liana.
“Hush! Hati-hati kalau bicara! Meski pun tuan terlihat diktator dan selalu seenaknya, namun beliau sangat baik. Dia sama sekali tak segan memberikan kami fasilitas dan gaji besar. Banyak yang mau bekerja di sini, tapi tuan selalu sangat pilih-pilih,” ungkap Ella.
“Benarkah? Padahal apa bagusnya tempat ini? Di sini sangat sepi dan jauh dari keramaian. Dikelilingi hutan lebat dan banyak binatang liarnya juga. Ditambah, seorang tuan yang memiliki kegemaran yang aneh,” ucap Liana.
“Semua orang punya kesenangan mereka masing-masing bukan,” sahut Ella.
“Memang benar. Tapi, aku sedikit penasaran. Di rumah sebesar ini, apa hanya ada Kakek Joseph dan para pelayan?” tanya Liana.
Ella hanya mengangguk.
“Apa kamu yakin, Kak?” tanya Liana.
Ella mengangguk cepat.
“Selama hampir dua tahun aku bekerja di dini, tak pernah ada yang datang kemari, kecuali Tuan Jimmy dan pelayanan baru yang dibawanya,” jawab Ella.
“Maksudmu, aku?” tanya Liana memastikan.
“Siapa lagi?” sahut Ella.
Liana tiba-tiba bangun dan duduk di tepi ranjang mininya. Dia bersila dengan sebelah siku tertekuk dan bertumpu pada paha, sehingga kepalan tangannya mampu menopang dagu.
“Ini aneh!” gumamnya.
Ella memiringkan tubuhnya menghadap ke arah Liana.
“Apanya yang aneh?” tanya Ella.
“Oke, kalau istri bisa saja sudah meninggal. Bagaimana dengan anak? Apa iya dia tak memiliki anak? Ditambah, tidak ada satu pun potret penghuni rumah ini yang terpajang di dinding. Hanya ada lukisan kakek tua itu saja yang terpajang di ruang kerjanya. Selebihnya, hanya lukisan biasa saja,” ujar Liana.
“Memang benar. Rumah ini seperti ada yang aneh. Apa kamu tahu, ada satu kamar di lantai dua, sisi kiri paling ujung yang selalu terkunci rapat. Tak ada yang pernah masuk ke sana kecuali tuan besar, Tuan Jimmy dan Nyonya Debora,” ungkap Ella.
“Benarkah? Ada kamar seperti itu? Kira-kira apa ya di dalamnya?” cecar Liana penasaran.
“Entahlah! Aku juga tak tahu. Pernah suatu kali ku tanya pada nyonya, tapi beliau bilang itu bukan urusanku, dan menyuruhku untuk tidak ikut campur urusan yang ada di rumah ini, karena di sini tugasku hanyalah pelayan,” tutur Ella.
“Wah ... Aku jadi semakin penasaran dengan kakek itu. Seaneh apa sih dia?” gumam Liana.
“Sudahlah! Kita di sini hanya untuk bekerja. Jangan terlibat terlalu dalam dengan sesuatu yang bukan urusan kita. Sebaiknya kita tidur, karena besok masih harus bekerja kembali,” seru Ella.
Pelayan itu pun berbalik dan memunggungi Liana, yang masih duduk di sisi ranjangnya.
...👑👑👑👑👑...
Hari berganti. Tak terasa sudah hampir sebulan Liana tinggal dan bekerja di rumah besar kakek Joseph. Berkat sikapnya yang rendah diri dan selalu cekatan dalam mengerjakan tugas, serta kepribadiannya yang ramah meski kadang berbicara seenaknya namun suka menolong, membuat semua pekerja dan pelayan di sana dekat dengannya.
Hari ini, Liana diberi tugas oleh Debora untuk membersihkan ruang kerja tuan besar di rumah tersebut.
“Tuan besar tidak suka jika benda-benda di dalam sana sampai bergeser sedikit pun. Jadi, pastikan setelah membersihkannya, kamu taruh kembali ditempat semula. Dan satu hal lagi, jangan berani-berani kamu mengambil sesuatu dari dalam sana. Apa kamu paham?” jelas Debora.
“Paham, Nyonya,” sahut Liana.
“Bagus. Sekarang, ambil perlengkapanmu di belakang dan kerjakan sekarang,” seru Debora.
Tanpa menyahut lagi, Liana segera pergi ke ruang penyimpanan alat, dan mengambil peralatan kebersihan yang ia butuhkan.
Dia membawanya ke lantai atas, di mana ruang kerja Kakek Joseph berada. Saat itu, si pemilik rumah sedang tak ada di tempat.
Saat hendak masuk, rupanya pintu terkunci. Liana pun membukanya dengan kunci cadangan yang telah diberikan oleh Debora sebelumnya.
Setelah berhasil masuk, tanpa berlama-lama, Liana segera melakukan tugasnya membersihkan setiap sudut ruang kerja yang cukup luas itu.
“Tidak boleh ada debu sedikitpun. Apa kakek itu punya penyakit OCPD ekstrem? Harus bersih dan tidak boleh menggeser benda dari tempatnya. Benar-benar maniak,” gerutu Liana yang harus berhati-hati melakukan tugasnya.
Dia membersihkan satu persatu benda yang ada di sana, dan berhati-hati mengatur letaknya agar tak bergeser sedikitpun.
Liana kesal, karena dengan acara bekerja yang seperti ini, bisa dipastikan dia akan terjebak di dalam ruangan tersebut selama seharian.
“Pantas saja tak ada yang mau melakukan tugas ini. Ternyata seribet ini. Hah,” keluh Liana.
Dia teringat obrolan malamnya bersama Ella, teman sekamarnya yang berusia lebih tua dua tahun darinya.
Ella pernah mengatakan padanya, jika bekerja di rumah ini tidak lah mudah.
Saat dirinya terus menggerutu dengan segala aturan saat membersihkan tempat tersebut, Tiba-tiba matanya menangkap sebuah figura, yang tersembunyi di balik lemari buku di belakang meja kerja.
“Apa ini? Kenapa ada di sini?” gumam Liana.
Dia pun mengambilnya, dan meletakkannya di lantai dan membersihkannya. Nampak kacanya sudah sangat berdebu, seperti tak pernah ada yang membersihkan sebelumnya.
Ketika debu sudah sedikit terkikis, nampak sebuah gambar yang membuat mata Liana membola.
“Apa ini?” gumamnya terkejut.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
🦋⃟💎⃞⃟𝘼𝙇𝚏𝚒𝐞𝐞𝐫𝐚.༄㉿ᶻ⋆ ❤
😯😯😯😯😯😯
2022-06-05
2
💎⃞⃟🦋🅰𝐋𝙛𝙖𝙧𝙞𝙯𝙚𝙖༄㉿ᶻ⋆
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
2022-03-26
3
Indra Saputra
wow
2022-03-21
3