Beberapa hari berlalu, Liana kembali ditugaskan untuk membersihkan ruang kerja Kakek Joseph.
Kali ini, dia mempunyai tujuan lain yaitu untuk melihat kembali cetak biru, yang selama beberapa waktu ini mengusik pikirannya.
Sejak melihat figura itu, dia sering bermimpi hal yang sama, tentang ibunya yang membawa dirinya ke sebuah makam, dengan nama seseorang yang juga tertulis di bawah cetak biru tersebut.
Liana terlebih dulu mengerjakan tugasnya membersihkan seisi ruangan. Hingga menjelang petang, dia baru selesai membersihkan ruang kerja tersebut.
Setelah merapikan kembali peralatan bersih-bersihnya, Liana berjalan mendekati lemari buku yang ada di belakang meja kerja Kakek Joseph, sambil membawa cairan pembersih dan juga sebuah kain lap.
Dia mengambil dengan hati-hati figuran yang ada di sana. Diletakkannya benda tersebut di atas lantai, dan sambil berjongkok, dia mengusap debu yang masih melekat di atasnya.
Dengan cairan dan lap yang dibawanya, Liana mencoba membersihkan kaca bingkai yang sangat kotor. Hingga akhirnya, cetak biru itu terlihat dengan jelas.
Liana yang seorang mahasiswa jurusan arsitektur, bisa mengerti gambar yang ada di depannya. Bahkan, hanya dengan cetak biru itu, dia seolah bisa memproyeksikan bentuk rumah yang akan dibuat.
Tangannya terulur dan meraba senti demi senti gambar tersebut, seolah tengah menjelajah isi rumah yang belum dibangun. Hingga tiba saat jemarinya sampai di sudut kanan bawah, dia melihat kedua nama itu.
Dadanya kembali sesak dan matanya pun seketika berair. Liana sampai harus memegangi dadanya karena terasa begitu sakit.
Aku kenapa? Siapa mereka? Kenapa aku seperti ini? Seperti sangat merindukan kedua nama itu, batin Liana.
Sebelumnya, Liana segera pergi saat menyadari air matanya menetes di atas kaca figura. Namun kali ini, dia mencoba bertahan meskipun hatinya sangat sakit.
Cukup lama dia berdiam sambil menahan isak di ruangan itu, Liana akhirnya keluar dengan perasaan hati yang kelabu.
Tugasnya hari ini hanya membersihkan ruang kerja Kakek Joseph, sehingga setelah selesai, dia bisa langsung beristirahat.
Namun, Liana memilih untuk pergi ke taman samping, di mana ada sebuah bangunan yang biasa digunakan untuk bersantai.
Gadis itu duduk di sana, dan menyandarkan punggungnya di kursi. Pandangannya terus menerawang ke depan, dengan pikiran yang masih saja memikirkan cetak biru dalam figura yang tersembunyi itu.
Dia meletakkan sebelah tangannya di depan dada, dan menghela nafas berat.
“Ada apa dengan ku? Aku bahkan tak tau siapa mereka. Tapi, kenapa hatiku sakit saat melihat kedua nama itu?” gumam Liana.
Hari sudah semakin gelap. Lampu-lampu taman pun sudah dinyalakan, hingga membuat suasana menjadi sangat indah namun sunyi.
Liana masih betah duduk di sana berlama-lama, hingga dia teringat akan Notebook yang selalu dibawa oleh setiap pelayan saat bekerja.
Dia mengambil benda tersebut dari dalam saku seragamnya serta bolpoin. Dia mencoba mengingat cetak biru yang sempat di lihatnya tadi.
Dia merasa jika cetak biru itu masih kurang sesuatu. Dia pun berusaha mengingat lagi dan menuangkannya di atas notebook miliknya, dengan skala yang lebih kecil tentunya.
Karena begitu menikmatinya, Liana hingga lupa jika hari sudah sangat malam. Bahkan, Ella yang khawatir pun sampai mencari keluar rumah, dan menemukannya sedang sibuk sendiri.
“Hei, bocah! Ternyata kami di sini!” teriak Ella.
Liana mengangkat wajahnya dan mengedarkan pandangan melihat ke sekitar. Dia menangkap kehadiran teman sekamarnya sedang berjalan menuju tempatnya berada.
Gadis itu pun dengan segera merapikan notebook miliknya, dan memasukkan kembali ke dalam saku.
“Kak, kamu mencari ku?” tanya Liana.
“Tentu saja. Aku khawatir karena sampai jam segini, kamu masih belum masuk ke kamar. Aku takut kamu tersesat di hutan dan jadi makanan hewan liar,” ucap Ella.
“Hehehehe ... Maaf, Kak Ella. Aku terlalu menikmati suasana di sini sampai lupa waktu. Ayo kembali ke kamar. Sudah malam, sebaiknya kita istirahat,” aja Liana.
“Ya sudah, ayo!” sahut Ella.
...👑👑👑👑👑...
Hari ini, Liana bertugas untuk menyiapkan sarapan untuk si pemilik rumah. Sejak bekerja di sana, Liana jarang sekali bahkan mungkin belum pernah bisa bertemu apalagi berbincang dengan Kakek Joseph.
Setiap hari, orang tua itu akan berada di ruang kerjanya saat pagi setelah sarapan, dan akan pergi keluar saat siang hingga malam hari.
Sedangkan Liana, selalu mendapatkan tugas mengurus rumah bagian belakang saat pagi hari, dan baru masuk ke rumah saat si pemilik sudah pergi keluar.
Kali ini, Liana yang bertugas menyiapkan sarapan, sehingga dia baru bisa bertemu kembali dengan kakek tua itu.
“Bagaimana kerja mu? Apa merasa berat? Mau menyerah?” ejek Joseph.
Liana yang saat itu tengah menuang air putih ke dalam gelas Kakek Joseph, tak terpengaruh dengan perkataan pria tua tersebut.
“Kenapa juga harus menyerah? Rumah ini sangat besar dan banyak tempat indah di sini. Tapi sayang, penghuni rumah tak bisa menikmatinya sama sekali. Jadi, saya akan mewakilinya untuk menikmati semua fasilitas di rumah ini,” jawab Liana enteng sambil meletakkan kembali teko ke atas meja.
Kakek Joseph terkekeh mendengar jawaban dari gadis cantik itu.
“Jadi maksudmu, kamu kasihan padaku?” tanya Kakek Joseph.
“Jika Anda mau, saya bisa mengasihani Anda, Kek. Karena sepertinya, Anda memang sangat kasihan,” sahut Liana seenaknya.
Joseph mengerutkan kening hingga kepalanya sedikit miring ke kiri, dan menatap lurus ke arah Liana.
“Kenapa aku harus dikasihani? Bukankah kau bilang rumah ku besar dan indah? Sudah pasti aku kaya raya dan punya kuasa kan. Lalu, apanya yang harus di kasihani?” tanya Kakek Joseph.
Liana menuangkan sup yang sudah disajikan di atas meja, ke dalam mangkuk yang ada di depan Kakek Joseph.
“Kakek, Anda baru saja mau makan. Kalau saya terus menjawab pertanyaan Anda, Bisa-bisa Anda tersedak bahkan mungkin kehilangan selera makan. Jadi, sebaiknya Anda lanjutkan saja sarapannya,” seru Liana.
Joseph kembali tertawa mendengar jawaban dari gadis yang pintar itu. Dia pun mulai menyendok supnya dan memasukkan ke dalam mulut.
“Rasanya sedikit berbeda dari yang biasa ku makan. Apa kamu yang masak?” tanya Kakek Joseph.
“Apa rasanya enak?” tanya Liana balik
“Apa kalau ku bilang tidak, kau tak akan mengaku?” tanya Kakek Joseph lagi.
“Tentu saja tidak. Karena saya yakin rasanya pasti enak, dan Anda menyukainya. Benarkan, Kek?” ucap Liana penuh percaya diri.
“Hahahahha ... Dasar gadis licik. Selalu saja bisa membalikkan kata-kataku,” ucap Kakek Joseph.
“Jika Anda suka, saya akan membuatkannya lagi besok,” sahut Liana.
“Baiklah. Besok, kamu kembali bertugas menyiapkan sarapan untuk ku. Dan untuk pertanyaan yang tadi, aku akan menagih jawabannya lain kali,” ucap Kakek Joseph.
“Baiklah. Terserah Anda saja, Kek,” sahut Liana.
.
.
.
.
Mohon dukungan untuk cerita ini😊🙏
Jangan lupa like dan komentar yah😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 427 Episodes
Comments
kompiang sari
ada unsur misterinya thor
2025-02-14
0
paty
liana cucu lo kakek
2022-10-24
1
🦋⃟💎⃞⃟𝘼𝙇𝚏𝚒𝐞𝐞𝐫𝐚.༄㉿ᶻ⋆ ❤
👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼👍🏼
2022-06-06
1