Farel membawa Alisa pulang ke rumah karena ia menolak ajakan Farel untuk jalan-jalan malam itu.
Farel hanya ingin memperbaiki rumah tangga, ia ingin berbaikan dengan Alisa.
Farel berpikir akan mencoba memulai hidup yang baru dengan Alisa, ingin menerima anak kembar itu sebagai anaknya. Tetap Alisa tidak tahu kalau Farel sulit mengendalikan emosinya dan muda tersinggung jika membahas bagian pribadinya. Bagian yang membuat jadi tampak lemah.
“Alisa apa yang kamu pikirkan kenapa kamu hanya diam?”
“Mas, mari kita bicara sebentar,” ujar Alisa menghela napas panjang.
Farel menghentikan mobil di pinggir jalan.
“Ada apa?”
“ Saat ini aku sudah menjadi istri Mas Farel, katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi, maksudku tentang kesehatan mas Farel.”
Farel tertawa menyeringai, ia tertawa miring seolah-olah menertawakan Alisa.
“Apa kamu ingin bertanya, apa aku tidak bisa memberimu nafkah batin?”
“Aku tidak mengartikan kearah sana Mas.”
“Tujuannya sama, aku mau katakan, aku tidak bisa memberimu hal itu, sayang sekali Alisa, aku tidak bisa memuaskan mu di ranjang, pergilah dariku kalau kamu hanya menginginkan itu dariku,” ujarnya sinis.
“Aku tahu mas, aku hanya ingin tahu sejauh mana Mas Farel melakukan pengobatan?”
Wajah Farel langsung berubah, ia seakan-akan tidak ingin di singgung soal penyakitnya.
“Jangan mengungkit itu lagi, aku bisa hidup tanpa melakukan itu, maka itu aku katakan padamu, jangan menjadi istriku karena aku tidak akan bisa memuaskan mu di tempat tidur, sana pulanglah pada kekasihmu yang tentara itu, dia badannya besar dan berotot,” ujar Farel terlihat sangat kesal.
“Mas, aku hanya bilang, ayo kita ke dokter.”
“Kamu sama saja dengan Ratna, menikah hanya ingin mendapatkan kepuasan di ranjang, karena dia tidak mendapatkannya, makanya ia selingkuh, kamu juga boleh melakukannya karena aku tidak akan bisa memberi apa yang kalian inginkan.”
Alisa memilih diam, menyinggung hal seperti itu, sangat sensitif.
Menikah memang bukanlah hanya semata-mata hanya ingin mendapatkan kepuasaan batin, itu hanyalah pelengkap di dalam pernikahan, tetapi apa bisa sepasang suami istri tidak melakukan hal itu? Apakah ada jaminan mereka bahagia tanpa melakukan itu?
Alisa akhirnya paham kenapa selama ini Farel selalu menolaknya menjadi Istri, karena ia sadar, kalau ia tidak akan memberi nafkah batin untuknya.
“Sekarang terserah kamu, kamu mau bertahan denganku dengan keadaanku seperti ini, atau kamu akan kembali pada Dimas, karena ia lelaki yang bisa memenuhi kebutuhanmu.”
Alisa diam, ia tidak tahu apakah ia bisa atau tidak, karena ia masih wanita normal’ yang membutuhkan kehangatan dari suaminya.
“Aku tidak ingin memikirkan hal yang lain, aku hanya ingin Mas Farel berobat, berusaha menyembuhkan itu akan lebih baik dari pada tidak melakukan apa-apa.”
Farel sangat emosi saat Alisa memintanya untuk melakukan pengobatan, Farel tersinggung, ia berpikir kalau Alisa sama dengan Ratna yang memaksanya melakukan pengobatan, tetapi saat ia berusaha berobat, ia menuduh Ratna selingkuh dengan dokter yang mengobatinya . Farel merasa kalau Alisa menuntunnya hal yang sama juga.
“Keluar!”
“Mas, jangan seperti itu, ini sudah malam, kamu menurunkan istrimu di pinggir jalan sama saja kamu ingin mencelakai ku,” ujar Alisa, kali ini ia menolak diturunkan dari mobil karena sudah malam, di pinggir jalan tol lagi.
“Turun aku bilang! Aku tidak butuh wanita yang hanya menginginkan hal itu dariku,” ucapnya marah.
“Baiklah, aku salah Mas, lupakan saja atas permintaanku,”
ujar Alisa memohon agar ia tidak diturunkan di tempat gelap seperti itu.
Farel tidak perduli, ia memang tidak bisa kontrol diri kalau sudah marah, Farel keluar dari mobil, membuka pintu samping istrinya, lalu menarik paksa Alisa, menurunkannya di pinggir tol hal yang sangat berbahaya untuk wanita cantik seperti Alisa. Farel masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan Alisa.
Alisa sangat ketakutan, walau mobil berlalu lalang, tetapi tidak satupun yang bersedia berhenti untuk memberinya tumpangan.
Alisa menangis putus asa, ia ketakutan, ia bahkan, tidak punya orang terdekat yang ingin ia hubungi , dengan tubuh bergetar, Alisa mencari nomor Dimas, tetapi ia kembali berpikir, kalau ia menghubungi mantan kekasihnya yang ada nantinya masalah rumah tangganya akan terkuak dan tersebar ke keluarganya.
Dimas akan tahu kalau ia diperlakukan tidak baik oleh suaminya, ia takut Dimas akan membuat keributan lagi seperti yang terakhir ia lakukan pada Farel.
Hanya satu nama yang saat itu mengerti keadaan rumah tangganya, walau ia membenci lelaki itu, tetapi ia tidak punya pilihan, namanya Dr. Faisal.
“Ha-halo Dok,” suara Alisa tergagap tak kala lelaki berwajah tampan itu menjawab teleponnya.
“Iya Alisa, ada apa?”
“A-apa Dokter sibuk?”
“Tidak, kebetulan ini mau pulang ke rumah, ada apa?”
“Dokter … boleh aku minta tolong?”
“Iya katakan saja,” suara Alisa terisak-isak, ia tidak bisa menahan tangisan , saat sebuah mobil truk berhenti di dekatnya.
“Iya Sah, kamu kenapa?”
“Dokter tolongin saya.” Alisa berlari menjauh dari truk yang berhenti tadi.
“Apa apa Alisah?”
“Saya ditinggal di pinggir tol , saya takut, tolong saya.
“Katakan kamu di tol mana?’
“Saya di tol Jagorawi.”
“Baiklah, saya akan putar balik, kebetulan saya dekat, saya lagi PGC , tunggu lima menit, saya akan datang,” ujar Dr. Faisal memutar balik mobil miliknya.
Hari itu Dr. Faisal lagi bertemu temannya di rumah sakit UKI. Lelaki berkulit putih itu memutar balik kendaraanya , ia masuk Tol, benar saja seorang wanita berkerudung biru duduk di pinggir tol, kedua tangan memeluk lutut tubuhnya bergetar karena takut.
“Alisa!”
Faisal menghentikan mobilnya.
Alisa berdiri , ia sangat senang saat melihat Faisal berdiri di samping mobilnya, ia mendekat.
“Terimakasih Dok, saya ketakutan.”
“Masuklah Sa, ayo kita pulang.”
Di sisi lain, Farel menyesali apa yang di lakukan, ia buru-buru dan putar balik lagi, sayang jarak tempuh untuk putar balik kendaraannya panjang, saat ia berbalik di tempat di mana ia meninggalkan istrinya. Alisa tidak ada lagi.
Farel turun dari mobil, ia mencoba memanggil Alisa, ia berpikir kalau wanita itu bersembunyi.
“Alisa! Alisa!”
Memanggil beberapa kali tetapi tidak menemukan Alisa. Ia sangat menyesali dirinya, menyesali dirinya yang sulit mengontrol diri.
“Apa yang sudah aku lakukan.” Farel menyesal menurunkan Alisa di pinggir tol malam-malam, ia hanya terbawa emosi, tidak ada sedikitpun niat ingin menyakiti istrinya.
Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon . Tetapi saat melihat telepon dari Farel, Alisa mematikan teleponnya. Ia memberi lelaki itu pelajaran, tidak mengangkat teleponnya.
BERSAMBUNG...
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK
Baca juga.
- Pariban Jadi Rokkap( Baru)
-Aresya(Baru)
-Turun Ranjang(Baru)
-The Curet king( Baru)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rice Btamban
lanjut kan t
2022-05-29
0
Santi Haryanti
berusaha bersama2 apa salahnya sih mas
2022-05-26
0
Juniar Nainggolan
rasain lu farel...makan tuh donat bolong tengahnya..
hahahahah.
2022-04-06
0