Lelaki Dari Masa lalu Mbak Ratna
Setelah pertengkaran Alisa dengan Farel pagi itu, Alisa berangkat kerja lebih awal.
Pertengkarannya dengan Farel pagi itu
membuat suasana hati Alisa tidak baik,
ia tidak ingin memulai pekerjaan dengan suasana yang buruk, apalagi profesinya sebagai bidan.
Ia meminta teman seprofesinya untuk menggantikan ia pagi itu,
Alisa ingin mencari udara segar untuk menenangkan pikirannya.
Alisa menghentikan taxi membawanya ke pemakaman Ratna,
ia ingin mencurahkan semua kesedihan hatinya di gundukan tanah yang sudah mulai di tumbuhi rumput itu, tanah tempat sang kakak di makamkan.
Taxi membawanya ke pemakaman umum di daerah Pondok Ranggon Jakarta timur, sebuah pemakaman umum yang sangat luas. Setelah membeli bunga dan air mawar,
Alisa berjalan menyusuri deretan makam-makam yang berbaris rapih.
Melihat banyak tanah kuburan yang ia lewati mengingatkannya pada diri sendiri ‘
semua manusia akan mati pada akhirnya, dunia yang fana ini, hanya tempat sementara’
ucap Alisa menatap sebuah makam yang masih menampakkan tanah yang masih merah, dan penghuninya umurnya belum genap berusia 17 tahun, terlihat dari tanggal yang tertulis di batu nisannya.
Di samping kuburan Ratna , Alisa mengeluarkan alquran kecil dari dalam tasnya yang selalu ia bawa ke manapun ia pergi, dan sering sekali saat ia merasa suasana hati yang tidak baik, ia akan membacanya di setiap kesempatan.
Setelah menaburkan bunga dan menuangkan air di makam Ratna,
ia mulai membaca beberapa ayat alquran, setelah itu ia mulai curhat.
“Mbak, hari ini aku bertengkar dengan Mas Farel, ia sangat egois dan keras kepala,
belum lagi ibunya yang sangat cerewet dan kakaknya jahat, mbak,
kadang aku berpikir tidak kuat menahan tekanan dari mereka semua,
tetapi demi si kembar aku akan berusaha bertahan.
Doakan aku iya mbak,’
ucap Alisa curhat panjang lebar.
Tetapi curhatan itu tiba-tiba terhenti karena ada seseorang lelaki yang datang bertamu di makam mbaknya.
Awalnya ia berpikir lelaki bertubuh tinggi itu akan ziarah ke kuburan di sebelah Ratna, tetapi ia berjalan mengitari kuburan Ratna dan berdiri di depan Alisa.
“Mas siapa?”
“Mbak siapanya?”
Lelaki tampan itu balik bertanya.
“Saya adiknya Ratna.”
“Oh, adik iya,
pantas sedikit mirip.
Saya Faisal.”
‘Faisal,
Faisal pernah dengar nama itu siapa iya? dan di mana aku pernah melihatnya?'
otak Alisa berputar-putar bagai baling-baling kipas.
“Mas sendiri siapnya Mbak saya?”
“Saya temannya.”
Mendengar kata teman, Alisa berpikir tentang gosip perselingkuhan Ratna.
‘Apa ini orangnya, apakah gosip itu benar?’
“Teman yang seperti apa?”
“Teman tidak harus perempuan kan? lelaki juga bisa.”
“Kalau sudah menikah alangkah baiknya teman lelaki itu dibatasi, untuk menjauhkan kita dari tuduhan fitnah.”
“Oh, apa kamu yang bekerja sebagai bidan itu?”
“Sepertinya hubungan Mas dengan mbakku dekat sampai pekerjaanku juga mas tahu.”
“Iya, kami sudah berteman sejak dari kuliah, Ratna bidan dan saya dokter.”
Alisa terdiam, ia teringat dengan ucapan Farel yang menyingung teman lama yang jadi selingkuhan Ratna.
‘Apa benar seperti itu, apa orang ini yang jadi selingkuhan Mbak Ratna,
apa dia yang ayah si kembar?’
“Saya izin pamit pulang duluan karena hari ini saya ada jadwal operasi.”
“Baiklah, silahkan, saya juga harus pergi, karena hari ini saya juga ada janji.”
“Apa perlu saya antar Mbak Alisa?’
tanya lelaki berwajah tampan itu,
lelaki yang bernama Faisal ini sangat berbeda dengan Farel dan Dimas.
Farel yang bertampang tegas egois, kaku kayak kanebo, dan Dimas bertampang tegas juga tetapi bisa bersikap baik.
Kedua lelaki itu sama-sama bertampang tegas, karena bekerja sebagai abdi negara.
Tetapi lelaki yang saat ini bersama Alisa, wajahnya lembut, kulitnya putih dan terlihat penyabar.
Apa karena sikap kasar Farel pada mbak Ratna membuatnya selingkuh dengan Dr. Faisal?
Astagfirullah’
Alisa menyebut dan mengetuk-ngetuk tangannya di tanah tanda amit-amit.
“Tidak perlu Mas, terimakasih.”
Alisa menolak diantar.
“Baiklah, kalau kamu tidak mau, tapi bagaimana kabar si kembar?’
Mendengar pertanyaan itu tiba-tiba mata Alisa menatap tidak suka pada lelaki berkulit putih tersebut.
‘Bahkan sama si kembar juga ia kenal, sejauh mana hubunganmu sama mbakku?
ah … ini membuatku marah’
“Apa ada masalah?
Tanya lelaki itu saat melihat Alisa diam.
“Tidak, aku hanya penasaran, hubungan apa yang kamu miliki dengan mbakku, sampai-sampai kamu mengetahuinya segalanya tentang mbakku.”
Dr. Faisal menghela napas panjang, lalu ia menoleh benda yang melingkar di pergelangan tangannya lalu ia menoleh ke Alisa dan berkata;
“Saya masih punya sedikit waktu, apa kamu mau meluangkan waktu sebentar untuk kita bicara?”
Alisa juga melakukan hal yang sama, ia mengusap layar ponselnya, dan melihat jam di layar ponselnya, lalu ia menjawab
“Baiklah, saya akan membatalkan janji saya hari ini,
mari kita bicara, karena sesungguhnya banyak hal yang ingin aku ketahui tentang hubunganmu dengan mbakku.”
“Ok, baiklah.”
Berjalan bersama dari pemakaman menuju mobil, tetapi saat itu teman Farel sedang berada di sana melihat berjalan bersama Faisal, membuat lelaki itu menghela nafas mengambil gambar dan mengirim pada Farel.
[Apa istrimu yang sekarang bertemu dengan lelaki yang di temui almarhum istrimu?]
Melihat pesan yang masuk ke ponselnya,
Farel merasa sangat marah, ini kemarahan yang sama yang pernah terjadi pada almarhumah Ratna.
Pada saat itu posisinya Farel sedang di kantor menangani kasus besar,
tetapi konsentrasi nya sangat terganggu melihat pesan yang dikirim rekan kerjanya.
Ia meninggalkan kantor dan pulang ke rumah.
Disisi lain Faisal dan Alisa tidak jadi mengobrol karena Faisal ada urusan yang sangat mendadak.
“Begini saja, mari kita bicara suatu hari nanti, ini kartu namaku, hubungi saya jika kamu punya waktu, kita akan bicara.”
“Baiklah.”
Alisa pulang naik taxi, dan Faisal pulang mengendarai mobil honda berwarna merah.
Dalam taxi, Alisa tiba-tiba merasa tidak enak badan, setelah banyak pikiran-pikiran buruk yang menghantui-nya, ia memutuskan tidak masuk kerja hari itu.
“Hari ini benar-benar hari yang buruk,
bertengkar dengan Farel pagi-pagi, dan bertemu dengan lelaki itu lagi,
semua membuat kepalaku sakit,”
ujar Alisa memijit keningnya.
Saat ia menutup mata, sebuah pesan masuk ke ponselnya dari pengasuh si kembar.
[Bu, bapak Farel pulang, ia berada di kamar si kembar, aku takut]
[Apa yang dia lakukan?]
[Bapak menyuruh kami keluar dan ia di dalam kamar]
[Apaaa …?
Jangan keluar, masuklah kembali dan temani mereka]
[Aku takut Bu]
“Iya Allah, apa yang ingin dia lakukan?
cepat pak, lebih cepat lagi, anak saya dalam bahaya!” teriak Alisa panik.
“Baik Bu.”
Supir bertubuh gemuk itu langsung tancap gas, dan mengebut, untungnya Jakarta tidak macet saat itu, karena jam kantor sudah masuk.
Hanya butuh lima belas menit dalam perjalanan, dan mobil berwarna biru itu akhirnya tiba di rumah bercat putih, berlantai dua.
Alisa berlari setelah keluar dari Taxi, ia langsung menuju kamar si kembar.
Farel berdiri di sisi ranjang berpagar milik si kembar.
“Apa yang mas lakukan?”
Wajah Alisa panik.
Bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
SOO🍒
berarti teman Faisal ini si tukang fitnah, hobinya ngadu domba orang ternyata
2022-06-20
0
Rice Btamban
lanjut kan
2022-05-28
0
Santi Haryanti
tegang ihhh
2022-05-24
0