“Turun!” pinta Farel dengan marah.
Alisa masih terlihat shock, wajahnya menegang dan mata besar itu menatap dengan tatapan kosong, ia keluar tanpa berkata apa-apa.
‘Dia mandul, lalu apa benar Mbak Ratna selingkuh, lalu … si kembar anak siapa?
Ya, Allah ini sangat memalukan’ Alisa memegang dadanya, ia terduduk di pinggir jalan dengan tangisan yang tidak terbendung lagi.
Setelah duduk beberapa menit, ia berjalan gontai, pengakuan Farel melukai hatinya, ada perasaan kecewa, marah, benci, pada sanga kakak setelah pengakuan Farel, dugaan perselingkuhan sang kakak semakin terbukti.
Ia merasa sangat terpukul, air matanya terus mengalir bagai anak sungai.
Ia menangis bukan karena kata-kata kasar yang diucapkan Farel padanya, atau karena ia diturunkan dipinggir jalan, semua itu memang menyakitkan.
Tetapi yang membuatnya sedih adalah kedua anak kembar yang ia jaga dan sudah ia anggap seperti anak sendiri. Ia menangis karena kecewa pada Ratna.
‘Kenapa mbak, kenapa harus seperti ini, kalau Farel tidak bisa memberimu anak, kamu bisa mengadopsi dari pantai asuhan, kamu bisa mencoba bayi tabung, tetapi apa semua ini.
Mau ditaruh di mana mukaku, aku tidak berani melihat keluarga Farel’ Alisa menangis sesenggukan.
Saat berjalan, ia melihat sebuah Mesjid, ia berhenti dan sholat, ia menumpahkan semua kesedihannya barulah ia merasa tenang, duduk sebentar dan memikirkan ia harus pulang ke mana.
Farel sudah mengusirnya, bukannya ia tidak punya uang untuk mencari hotel, tetapi yang ia pikirkan kedua anak kembar, ia takut saat ia tidak ada ibu mertuanya berbuat sesuatu pada mereka karena bukan cucunya. Ia tidak ingin pulang ke rumah orang tuanya, tidak ingin orang tuanya khawatir dan tidak mau jadi bahan gosip para tetangga saat ia pulang.
‘Baiklah, aku pulang dulu, nanti aku akan memikirkan jalan yang terbaik’ Alisa menahan rasa malu dan menelan semua hinaan dan tuduhan yang dilakukan Farel padanya.
Apapun yang terjadi demi kedua anak kembar ia memutuskan pulang ke rumah Farel.
Tepat jam tujuh malam, ia tiba di rumah, segala doa sudah ia lantunkan dari mulutnya, berharap ibu mertua dan suaminya tidak memarahi atau menghina dirinya saat ia tiba di rumah.
Benar sekali, Alisa merasa lengah saat ia tiba, tidak biasanya rumah sepi ibu mertuanya dan kakak iparnya tidak ada di rumah dan Farel juga tidak ada di rumah.
Saat ia tiba di rumah, keadaan rumah sepi hanya ada asisten rumah tangga yang sedang berbenah rumah.
“Assalamualaikum.”
“Wullaikumsalam Bu.”
“Ibu tidak ada Mbak?”tanya Alisa.
“Tidak ada Bu, dari siang pergi dengan Non Dinar.”
“Oh, baiklah saya naik dulu Mbak.”
“Ibu sudah makan, mau saya masakin apa Bu? mumpung nyonya besar tidak ada.”
Alisa hanya tersenyum kecil, tubuhnya terasa sangat lelah, ia tidak merasa lapar.
“Saya tidak lapar Mbak, nanti kalau sudah kepingin makan , tak ambil sendiri,” ujar Alisa.
Padahal, ia sudah hampir sebulan tidak pernah menyentuh makanan di rumah mertuanya. Karena setiap kali ia duduk makan, ibu mertuanya selalu membuat hati sakit dengan kata-kata merendahkan dan menghina , ia tidak tahan, apalagi Farel hanya diam tidak membela Alisa dan tidak membela ibunya juga. Farel hanya akan duduk diam bagai batu sejak saat itu Alisa jarang makan bersama.
“Baik Bu, bagaimana kalau saya buatkan teh madu hangat , wajah ibu sangat lelah,” ucap Lasri, semua pekerja di rumah itu sangat baik dengan Alisa, hanya dua orang yang tidak menyukainya di rumah itu. Ibu mertuanya dan Dinar kakak iparnya dan ketiga Farel.
“Tidak usah Mbak saya mau langsung tidur saja, kepalaku sakit.”
“Baik Bu.”
Alisa sampai di kamar sudah di sambut bau harum dan tawa bahagia dari kedua baby yang mengemaskan. Keduanya sudah pakai piyama tidur yang sama hanya warna yang berbeda.
“Apa mereka rewel Sus?”
“Tidak Bu, mereka berdua tidak pernah rewel deh Bu, saya salut sama mereka berdua, habis minum susu tidur, bangun kalau pup pipis, hanya itu tiap hari, mereka berdua seolah-olah tahu apa yangs edang terjadi.” Suster bercerita, saat mereka berjemur di dekat teras, nenek mereka mengusir.
“Iya, mereka berdua memang baik seperti malaikat,” ucap Alisa mendaratkan bibirnya ke pipi ke dua bocah yang memilki pipi tembem itu. Namun, air mata Alisa mengalir deras saat mengingat ucapan Farel kalau baby malang itu bukan benih darinya.
Mengingat hal itu Alisa merasa kepalanya ingin meledak karena terlalu pusing.
“Sus, aku mau tidur dulu, tolong tidurkan mereka, iya.”
“Iya Bu, istirahatlah, biar saya yang menidurkan mereka berdua.”
Alisa hanya membasuh wajahnya dan berganti pakaian, lalu ia langsung merebahkan tubuhnya dan mencoba menutup mata. Tetapi walau tubuhnya sangat lelah, matanya enggan diajak tidur pikirannya di penuhi banyak beban pikiran.
Bahkan hanya menyebut nama Mbaknya, ia tidak sanggup.
“Aku harus bagaimana?’ Ucap Alisa ia duduk, kedua anak kembar itu juga sudah tidur dan Desi sudah masuk ke kamarnya, kini Alisa duduk dalam keheningan, ia merasa hidupnya sangat menyedihkan.
Membayangkan kakaknya berselingkuh dengan mantan kekasihnya membuat hatinya perih, ia kehilangan muka di hadapan Farel, apa yang dikatakan tadi mematahkan kepercayaannya pada sang kakak.
Bahkan rasa lapar telah di kalahkan dengan pikiran-pikiran buruk . Kalau sudah pusing seperti itu, matanya tidak akan bakalan bisa tidur. Lebih baik ia membaca Alquran kalau sudah seperti itu barulah ia merasa tenang.
Tepat jam sebelas malam suara-suara ribut terdengar di lantai bawah, mendengar suara-suara ribut itu Alisa memilih mematikan lampu kamar dan ia mengecek ranjang kedua baby kembar itu. Walau suara ribut terdengar lebih jelas, mereke masih tertidur pulas.
“Tidurlah sayang, jangan hiraukan suara-suara ribut itu,” ucap Alisa mengecilkan suhu pendingin ruangan di kamar tersebut.
Lalu ia merebahkan tubuh di ranjang.
“Ibu yang menghancurkan hidupku!
“Teriak Farel dengan suara meninggi.
“Farel, hentikan, kamu mabuk lagi.”
Suara ibunya membujuknya untuk tidur. Hidup lelaki itu bukannya lebih baik, setelah menikahi Alisa malah bertambah parah , ia hampir tiap malam mabuk-mabukan dan membuat keributan. Sampai-sampai beberapa kali tetangga mencibir seperti ini;
“Moso polisi, seperti itu. Kasih contoh yang baik harusnya,” ucap mereka bergosip, tepat saat Alisa berangkat kerja hari itu. Tetapi Alisa hanya tersenyum ramah, walau apa yang mereka menggosip sangat jelas, ia dengar.
Alisa sudah beberapa kali mendengar cibiran seperti. Namun ia memilih tidak menanggapinya, malah ia membalas dengan bersikap ramah pada ibu- ibu yang ia temui di jalan. Memang semua yang di gosip kan, ibu-ibu benar adanya keluarga suaminya memang keluarga yang super aneh.
BERSAMBUNG...
KAKAK TERSAYANG JANGAN LUPA KASIH KOMENTAR DAN PENDAPAT KALIAN DI SETIAP BAB DAN JANGAN LUPA JUGA
LIKE, VOTE DAN KASIH HADIAH SEBANYAK-BANYAKNYA IYA
JANGAN LUPA MAMPIR KE KARYA BARU IYA KAKAK
Baca juga.
- Pariban Jadi Rokkap( Baru)
-Aresya(Baru)
-Turun Ranjang(Baru)
-The Curet king( Baru)
-Cinta untuk Sang Pelakor (Tamat)
-Menikah dengan Brondong (ongoing)
-Menjadi tawanan bos Mafia (ongoing)
-Bintang kecil untuk Faila (ongoing
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 97 Episodes
Comments
Rice Btamban
semangat thor
2022-05-29
0
Bunda satria
udah diusir kok gak malu bertahan ddirumah farel
2022-05-24
0
Anisnikmah
semangat update Thor
2022-03-21
0