"Selamat siang, Pangeran Reinhart ... Pangeran Aiden."
Meski pertama kali menyapa Reinhart yang lebih dekat, jelas tatapan Helena langsung beralih ke arah Aiden yang duduk di bawah pohon.
"Selamat siang kembali, Nona Helena."
"..."
Reinhart membalas singkat sementara Aiden hanya diam.
"Apakah ada keperluan?"
"Itu—"
"Jika ada keperluan dengan Pangeran Aiden, tentu saya akan dengan senang hati pergi. Lagipula, ini adalah urusan pribadi."
Reinhart tersenyum lembut. Ekspresinya tampak begitu bahagia, sama sekali tidak dibuat-buat. Dua gadis di belakang Helena langsung terkejut, tidak menyangka kalau Pangeran yang biasanya tak acuh akan terlihat begitu menawan ketika tersenyum. Bahkan Helena juga sempat terdiam sejenak.
Sementara itu, Aiden yang memandang Reinhart dengan tatapan penuh terima kasih langsung tercengang.
'Operasi macam apa ini? Benar-benar langsung menusuk rekannya sendiri dari belakang? Eh ... langsung dari depan?
Bukannya menolong, aku malah seperti daging yang dilempar ke mulut harimau! Terlalu sengaja!'
Ketika Helena sadar, gadis itu sedikit menunduk. Benar-benar tidak berani menatap mata Reinhart. Namun, dia masih menjawab.
"Tidak perlu, Pangeran Reinhart. Kami di sini juga ingin berbicara dengan anda. Ini masalah kelompok."
"Oh ..."
Reinhart yang awalnya senang karena bisa segera 'menyingkirkan' Aiden langsung mengubah ekspresinya. Wajahnya tampak begitu datar. Ekspresinya menjadi tumpul, bahkan hanya menjawab dengan nada monoton.
"Jadi—"
Belum sempat berbicara, Helena tiba-tiba disela oleh Reinhart.
"Maaf, kami akan menolak."
"Eh?"
"Tentu saja kami akan memberi jawaban jelas."
Melihat ke arah Helena dan dua gadis cantik di belakangnya terkejut, pemuda itu menjelaskan dengan nada monoton.
"Pertama, sebagai ketua tim, aku tidak memikirkan untuk memasukkan para gadis dalam kelompok. Bukannya aku tidak suka gadis atau tidak normal, tapi ... aku rasa gadis itu agak susah diatur.
Kedua, misi terlalu acak. Tentu akan baik-baik saja kalau misi hanya mengantar barang ke kota lain atau memetik ramuan. Namun jika misi adalah pemberantasan bandit atau pelacakan, aku tidak merasa para gadis tidak cocok.
Ketiga, meski terbilang memiliki bakat baik, Aku atau Aiden tidak bisa menjamin 100% keselamatan. Biasanya para gadis akan berpikir kalau lelaki wajib melindungi mereka atau hal-hal semacam itu.
Aku katakan ... Aku adalah pendukung kesetaraan gender. Laki-laki atau perempuan, ketika bertempur, tidak ada bedanya!
Keempat, dibandingkan dengan bangsawan kelas atas, aku lebih memilih untuk membentuk tim dengan bangsawan kelas bawah atau bahkan anak pengusaha. Itu karena mereka bekerja lebih keras, dan mudah diatur.
Aku tidak suka mendengar keluhan.
Terakhir, kalian pasti paham, meski aku dan Aiden tidak peduli, kami masih pangeran. Kami membawa nama Kerajaan di belakang kami. Kami harus lebih fokus ke nilai dan mencoba mendapatkan yang terbaik.
Jadi ... Kami berniat menyingkirkan hal-hal yang tidak begitu penting seperti sebelumnya. Aku harap kalian bisa paham."
"..."
Bukan hanya Helena dan dua gadis yang datang bersamanya, Aiden bahkan lebih terkejut dibandingkan dengan mereka bertiga.
'Jadi, sejak awal kamu memikirkan ide itu, Sahabatku! Maafkan aku karena telah memfitnah dirimu!'
Aiden merasa terharu. Jika Reinhart mengetahui apa yang pemuda itu pikirkan, dia pasti akan menjawab.
'Kamu terlalu banyak berpikir. Jika keuntungannya cocok, aku tidak ragu untuk menjualmu.'
Reinhart menatap ke arah ketiga gadis. Setelah mereka berbincang sejenak, akhirnya mereka bertiga kembali ke kelas. Namun ...
Tampaknya semua tidak berjalan sesuai dengan rencana.
Sepulang sekolah, Reinhart dan Aiden dipanggil ke ruang Professor Elin. Di sana, mereka berdua kembali bertemu dengan Helena dan dua gadis lain.
"Selamat sore, Professor."
Reinhart dan Aiden berkata serempak sembari memberi hormat.
"Kalian berdua belum membentuk kelompok, kan?"
Mendengar pertanyaan Professor Elin, keduanya saling memandang. Reinhart kemudian menjawab.
"Belum, Professor. Bukankah masih ada beberapa hari untuk membentuk tim?"
"Ya. Seharusnya ada beberapa hari. Namun, karena antusias, rekan-rekan sekelas denganmu telah membuat kelompok.
Karena kalian berlima yang masih tersisa, jadi aku memanggil kalian. Kalian akan menjadi kelompok terakhir."
"..."
Ucapan Professor Elin benar-benar membuat Reinhart dan Aiden terpana. Keduanya melirik ke arah Helena, dan disambut dengan senyum menawan gadis itu.
"Mohon kerjasamanya, Pangeran Aiden ... Pangeran Reinhart."
"..."
Reinhart langsung menatap ke arah Helena dengan curiga. Jelas ... gadis itu pasti sengaja!
Memang, tanpa sepengetahuan Reinhart dan Aiden, Helena dan dua gadis telah minta tolong kepada rekan-rekan kelasnya. Dengan dalih telah membuat kelompok dengan Reinhart dan Aiden, serta alasan agar seluruh kelas memiliki persiapan khusus, ditambah beberapa keping koin perak dan emas ...
Murid di kelas langsung menjadi 'rajin', langsung membentuk kelompok mereka di hari pertama ujian!
Padahal masih banyak waktu!
'Cih! Aku terlalu ceroboh! Seharusnya aku juga paham kalau praktek suap-menyuap telah dilakukan sejak zaman monyet!'
Reinhart mengeluh dalam hati. Namun, dengan ekspresi datar di wajahnya, dia masih membalas dengan sopan.
"Kami juga, mohon kerjasamanya Nona Helena, dan ..."
Reinhart sedikit terdiam. Bukannya dia tidak ingin melanjutkan, hanya saja, pemuda itu tidak hafal dengan nama teman-teman sekelasnya sendiri!
"Anda bisa memanggil saya Caterina, Pangeran Reinhart."
Wanita dengan rambut cokelat panjang bergelombang membungkuk sopan. Iris matanya yang berwarna biru langit sempat melirik ke arah Reinhart. Tubuhnya bisa dibilang tinggi dan ramping.
"S-Saya Sophia, Pangeran Reinhart."
Sosok gadis yang satu kepala lebih pendek dibandingkan Helena membungkuk sopan. Rambut hitamnya dipotong sebahu dengan poni yang nyaris menutupi mata ungu yang tampak indah. Sedangkan tubuhnya tampak cukup mungil, tetapi dengan beban depan yang bahkan sedikit lebih besar daripada milik Helena.
Uhuk! Uhuk!
Melihat Aiden menatap pegunungan dengan tatapan tidak sopan, Reinhart langsung pura-pura batuk. Tentu saja, dia juga sebenarnya cukup penasaran. Karena, benda itu tampaknya agak terlalu besar untuk gadis mungil seperti Sophia.
"Jangan bilang, kamu benar-benar lupa nama teman sekelasmu sendiri, Reinhart."
Suara dingin Professor Elin menyadarkan Reinhart dari lamunannya. Tersenyum pahit, dia pura-pura tidak bersalah.
"Seperti yang anda ketahui, Professor. Saya benar-benar buruk dalam mengingat nama orang."
Dengan demikian, tim yang dipimpin oleh Reinhart akhirnya terbentuk.
***
Beberapa hari berlalu begitu saja.
Setelah menyelesaikan semua ujian, hanya tugas terakhir yang belum terselesaikan.
Di kelas, semua murid berkumpul. Professor Elin membawa kotak undian berisi beberapa gulungan kertas yang merupakan tugas mereka. Benar-benar begitu acak.
"Salah satu anggota kelompok bisa maju ke depan dan mengambil jatah kalian."
Professor Elin berkata dengan ekspresi tak acuh.
Reinhart langsung menatap anggota kelompoknya. Dia sendiri tidak terlalu yakin dengan keberuntungannya. Lagipula, pemuda itu merasa agak sial dan beruntung karena bertransmigrasi ke tubuh pangeran sekarat.
Sedangkan para siswa lain menatap ke arah kelompok Reinhart. Lagipula, mereka masih agak ragu untuk menyela dua pangeran.
"Biarkan saya maju duluan."
Aiden berkata dengan senyum lembut, tetapi penuh percaya diri.
Pemuda itu segera maju ke depan lalu mengambil salah satu gulungan. Dia kemudian berjalan ke arah Reinhart dan anggota tim lainnya.
Sampai di sana, dia langsung membuka gulungan.
[ Berantas bandit yang sering muncul di jalur utara Kota Roscars. ]
Melihat tugas tersebut, Reinhart langsung membuat kesimpulan.
'Lain kali, jangan biarkan Aiden memilih undian.'
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
◌⑅⃝AnglaWPutri♡◌
oh, aku seperti melihat Ark
2023-12-24
2
IG: _anipri
wkwkwkw. semangat pangeran Reinhart
2022-12-28
0
John Singgih
Aiden yang sial
2022-04-22
4