Di ruang kelas.
"Wow! Aku tidak menyangka kalau Pangeran Reinhart benar-benar begitu berani."
"Ya. Tampaknya dia juga memiliki pemikiran yang terbuka."
"Apanya yang pemikiran terbuka? Aku dengar Professor Elin baru berusia 20/21 tahun. Jaraknya hanya lima atau enam tahun! Aku pun juga mau!"
"Jadi ... Apakah kamu berani berbicara kepada Professor Elin seperti Pangeran Reinhart?"
"..."
"Jangan samakan orang satu sama lain!"
"Ya, ya ... terserah."
"..."
Sementara banyak siswa yang bergosip, ekspresi Aiden tampak serius. Dia sama sekali tidak menyangka kalau Reinhart benar-benar berani mengambil inisiatif terhadap Professor Elin.
'Sudah aku duga, dia benar-benar sulit diprediksi.'
Aiden mengangguk dengan ekspresi serius. Setelah beberapa saat, dia tiba-tiba tertegun.
'Bukankah Professor Elin adalah wali kelas kami? Ketua kelas sama sekali belum dipilih? Mungkinkah ... Professor Elin sengaja membuat ujian bagi kami?
Jadi ... Hanya Reinhart yang menyadarinya?'
Mata Aiden berbinar. Kedua tangannya mengepal erat. Dia tampak penuh dengan semangat juang dan tekad.
'Seperti yang diharapkan dari Rivalku! Benar-benar mengetahui apa yang tidak orang-orang dangkal itu ketahui!'
Sementara Reinhart hampir ditikam dengan tombak es, dia tidak tahu ...
Ada pemuda bersemangat yang ingin segera bertemu dan bersaing dengannya.
***
Dalam ruangan Professor Elin.
"Aku pikir kamu hanya mau pamer. Ya ... lagipula, tidak ada yang perlu untuk dipamerkan. Meski ramping dan halus, sama sekali tidak ada otot.
Hmmm ... kurus?"
Mendengar gumaman Professor Elin, ekspresi Reinhart benar-benar gelap seperti dasar pot obat.
"Ya ... meski begitu, setelah dilatih, tubuh ini pasti akan tampak lebih bagus. Sempurna!"
Melihat mata Professor yang berbinar, ekspresi Reinhart semakin suram.
"Tidak bisakah anda lebih fokus, Professor Elin?"
Mendengar ucapan Reinhart, Professor Elin mengangguk ringan. Dia benar-benar merasa telah fokus terhadap hal yang salah.
"Namun kamu harus bertanggung jawab, Pangeran Reinhart."
"Tanggung jawab?"
"Membuat wanita polos ini melihat tubuh pria dan membuat matanya tidak murni lagi. Bukankah kamu harus bertanggung jawab?"
"..."
Reinhart terdiam di tempat. Pemuda itu benar-benar ingin mengambil pakaiannya lalu pergi dari sana. Dia menyesal karena telah menemui wanita itu untuk konsultasi!
"Ya ... lupakan."
Professor Elin mengangkat bahu. Benar-benar berhenti menggoda Reinhart.
Wanita itu kemudian melihat ke arah tanda bulan hitam yang tampak seperti tato kecil. Memperhatikan baik-baik, dia tampak menjadi serius dan semakin serius. Sama sekali tidak terlihat seperti sebelumnya.
"Kamu sudah berada di level 4?"
Mendengar pertanyaan yang begitu tiba-tiba, Reinhart mengangguk sambil menjawab.
"Ya, Professor."
"Bakat yang bagus. Namun kamu patut bersyukur, karena kamu tidak terlambat untuk menemui aku. Jika kamu sampai menembus level 5 ...
Aku benar-benar sudah tidak memiliki cara karena energi itu akan berkembang dan mengakar terlalu dalam."
"Jadi ... apakah ada cara untuk menyelamatkan saya, Professor Elin?"
"Tentu saja ada."
Mendengar jawaban itu, Reinhart merasa sangat lega.
"Bagaimana caranya, Professor Elin?"
"Ada dua cara."
"En? Benar-benar ada dua cara?"
Mendengar jawaban Professor Elin, Reinhart terkejut. Dia tidak menyangka kalau ada lebih dari satu cara.
"Ya." Professor Elin mengangguk. "Ada cara nyaman dengan resiko rendah, dan ada cara kurang nyaman dengan resiko tinggi. Pilihan mana yang akan kamu pilih, Pangeran Reinhart?"
"Tentu saja yang pertama."
"Meski kamu harus menjadi rakyat biasa?"
"Eh? Maksud anda???"
"Cara pertama adalah membakar semua akar masalah termasuk energi sihir dalam tubuhmu. Tentu saja resikonya kecil dan hasilnya bagus.
Namun kamu tidak akan lagi bisa menjadi penyihir. Kamu juga akan kesulitan untuk berlatih menjadi seorang ksatria."
"..."
Di dunia pedang dan sihir yang tidak aman? Kehilangan kekuatan?
Benar-benar bunuh diri!
Reinhart kemudian menatap ke arah Professor Elin dengan ekspresi pahit.
"Jalan lainnya?"
"Jalan Raja!"
"Hah?"
"Jalan Raja!"
"..."
Mendengar ucapan wanita yang tidak bisa dia mengerti, Reinhart menghela napas. Daripada belajar atau berolahraga, berbicara dengan wanita di depannya benar-benar lebih melelahkan!
"Tolong jelaskan kepada saya, Professor Elin."
"Jalan Raja. Kamu harus menjadi penyihir sekaligus ksatria. Jalan yang sulit ditempuh, tetapi jelas cara yang paling kuat."
"Hanya itu? Dengan kata lain ... saya harus berlatih keras untuk menjadi ksatria sekaligus penyihir yang kuat, kan?"
"Tentu saja tidak!"
"..."
"Tidak ada gunanya kamu hanya melakukan hal tersebut.
Apa yang perlu kamu lakukan adalah berlatih menjadi ksatria sekaligus penyihir elemen petir. Tidak hanya itu, kamu juga harus mulai berlatih mengendalikan energi iblis dalam tubuhmu. Kemudian ...
Berlatih menjadi ksatria kegelapan dan penyihir kegelapan!"
"..."
Mendengar itu, Reinhart tercengang. Dia menatap ke arah Professor Elin seolah telah mendengar omong kosong paling tidak berdasar di dunia.
Menurut apa yang Reinhart pernah baca, menaikkan level penyihir dan ksatria saja sudah memakan lebih banyak waktu. Selain melelahkan, sulit untuk mencapai prestasi tinggi daripada fokus ke satu hal.
Ibarat sama-sama memiliki satu jam. Satu murid menggunakan jam tersebut untuk mempelajari tiga mata pelajaran, sedangkan satu murid fokus ke satu mata pelajaran. Jelas, murid terakhir akan memiliki hasil lebih baik dalam satu mata pelajaran yang dikhususkan!
Karena itu ... ucapan Professor Elin benar-benar terdengar seperti omong kosong! Lelucon paling tidak lucu di dunia!
'Mengolah empat jalur? Hanya orang bodoh yang akan melakukannya! Benar-benar maniak yang mau melakukan pengejaran gila tanpa tahu apa yang bisa dicapai!'
Reinhart berseru dalam hati.
"Jadi, menjadi rakyat lemah atau jalan penuh penderitaan, Reinhart?"
"..."
Reinhart terdiam.
'Ya ... Aku salah satu orang bodoh dan gila yang akhirnya terpaksa memilih jalan tidak jelas ini!'
Setelah puas mengeluh, Reinhart akhirnya berkata.
"Karena dunia lebih berbahaya jika menjadi orang biasa, aku ... aku memilih jalan terakhir."
"Bagus!"
Professor Elin mengangguk puas. Dia tersenyum, kemudian ... menjilat bibirnya.
Melihat hal itu, Reinhart tertegun. Memang, itu cantik dan agak menggoda. Masalahnya adalah tatapan wanita tersebut, karena ...
Daripada menatap penuh nafsu, tatapan itu benar-benar seperti tatapan Professor gila yang melihat kelinci percobaan!
Melihat ke arah Professor Elin yang tersenyum kepada dirinya, Reinhart hanya bisa memaksakan senyum sambil berpikir.
'Entah kenapa ... aku merasa hari damai yang aku impikan semakin menjauh. Serius? Apakah aku mulai menjadi paranoid?'
Tidak tahu apa yang sedang menantinya, Reinhart hanya bisa terus memaksakan senyum.
Benar-benar mencoba untuk tegar menghadapi lelucon dunia yang tidak lucu dan kejam!
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
Crow.
reflek baca "jalan raya" wkwkkw/Hey/
2024-03-27
0
IG: _anipri
hadapi saja pangeran Reinhart
2022-12-25
1
🌬𝙆𝙖𝙪𝙢 𝙍𝙚𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣
apabila anda berisekai
inginkan hidup normal.
MUSTAHIL
2022-08-20
0