"Pangeran Reinhart! Mari kita buktikan siapa yang lebih baik pada latihan praktik sihir hari ini!"
Keesokan harinya, Reinhart yang baru masuk ke ruang kelas langsung disambut dengan suara penuh tekad dan semangat.
Ekspresi pemuda itu langsung stagnan. Dia merasa masih sangat mengantuk karena mempersiapkan banyak hal, dan tidak menyangka kalau tiba-tiba akan disambut dengan meriah di pagi hari.
Tidak seperti ruang kelas sekolah-sekolah pada kehidupan Reinhart sebelumnya, ruang kelasnya sekarang lebih mirip dengan ruang kela beberapa universitas terkenal seperti Oxford, dan lainnya.
Tempat duduk diatur lebih tinggi dan semakin tinggi di belakang seperti anak tangga. Meski agak rumit, sebenarnya itu memungkinkan para siswa yang ada di belakang untuk tetap bisa memperhatikan penjelasan dari guru di depan kelas.
Reinhart melirik ke arah Aiden yang duduk di bagian paling depan dan menatap dirinya dengan penuh semangat.
Melihat sosok Aiden, Reinhart tidak bisa tidak mengeluh.
'Apakah aku mengenal tokoh yang salah? Pemuda itu benar-benar berbeda dengan Pangeran Aiden yang aku tahu!'
Reinhart mengutuk dalam hati.
Menurutnya, Pangeran Aiden bukanlah tokoh yang banyak bicara. Sama seperti Reinhart, Aiden juga tipe lelaki tenang. Bedanya, jika Reinhart bertindak dingin seperti es di musim dingin ... Aiden selalu memasang senyum cerah dan hangat seperti bunga di musim semi.
Akan tetapi, sekarang Reinhart merasa kalau dibandingkan bunga di musim semi ...
Aiden malah begitu bersemangat seperti terik matahari di musim panas!
Benar-benar tipe yang harus dia jauhi!
Berpura-pura tidak mendengar ucapan Aiden, Reinhart memilih untuk duduk di barisan belakang. Dia bahkan memilih untuk duduk di sudut dekat jendela.
Setelah duduk di kursinya, pemuda itu menopang dagu sembari menatap ke arah pemandangan di luar jendela. Benar-benar melupakan orang-orang, bahkan menganggap mereka tidak ada.
"Lihatlah Pangeran Reinhart."
"Wow! Dia tampak keren."
"Melihat sikap dinginnya, aku merasa tubuhku panas dan bersemangat."
"Dasar gadis tidak tahu malu!"
"..."
Banyak siswi yang membicarakan Reinhart, tetapi pemuda itu benar-benar tak acuh. Hanya menganggap apa yang dia dengar seperti suara kicauan burung, nyamuk lewat, atau bahkan embusan angin semata.
Pada saat itu, para siswa tiba-tiba mengalihkan pandangan mereka. Aiden yang tampaknya begitu bersemangat tiba-tiba menjadi tenang.
Merasakan suasana yang tiba-tiba menjadi sunyi, Reinhart yang melamun menyempatkan diri untuk melirik ke pintu masuk kelas.
Di sana, tampak sosok gadis cantik. Dia memiliki kulit putih layaknya salju. Rambutnya pirang panjang dan bergelombang. Bulu mata panjang dan mata indah dengan iris mata biru bak safir.
Tubuhnya yang dibalut dengan seragam Akademi Bintang Harapan masih tampak begitu menonjol ke depan dan belakang. Sosoknya benar-benar tidak kalah dengan tubuh model kelas dunia, yang tidak begitu cocok dengan usianya.
Seragam sekolah mereka mirip dengan seragam sekolah dalam serial 'Mahouka Koukou no Rettousei' yang pernah Reinhart tonton di kehidupan sebelumnya. Tetapi bedanya, warna hijau di sana digantikan dengan warna biru laut.
Sosok gadis cantik itu berjalan dengan tenang menghampiri Aiden. Sampai di dekat pemuda itu, dia menyapa dengan sopan.
"Selamat pagi, Pangeran Aiden."
Mendengar ucapan gadis cantik itu, Aiden yang awalnya tampak ceria langsung muram.
"Apa yang kamu lakukan di sini, Helena? Seperti yang aku bilang sebelumnya, jangan mendekat ketika kami berada di akademi."
Gadis bernama Helena yang mendengar balasan dingin Aiden mengerutkan keningnya.
"Dengan segala hormat, Pangeran Aiden ... bukankah kita bertunangan? Bukankah seharusnya saya—"
"Cukup! Aku sama sekali tidak pernah menjanjikan hal semacam itu! Aku juga sama sekali tidak tertarik dengan hal tersebut!"
Melihat keduanya, Reinhart tampak tak acuh.
Helena, salah satu gadis yang nyaris sempurna. Kecuali dibenci karena dirinya adalah tunangan Aiden (Aiden tidak menyetujui perjodohannya) atau karena gadis itu agak bangga ... sebenarnya Reinhart tidak melihat kekurangan lain.
Helena, gadis itu jelas saingan dari Heroine untuk mendapatkan cinta Pangeran Aiden. Namun, Reinhart sama sekali tidak peduli hal tersebut.
Reinhart mengalihkan pandangannya ke pintu masuk kelas. Matanya menyempit ketika melihat sosok yang baru saja memasuki kelas.
"Akhirnya datang ..."
Pemuda itu bergumam pelan, tampaknya telah menunggu kedatangan sosok tersebut sejak lama.
Rambut panjang berwarna biru es bergelombang bagai digulung ombak. Wajah putih bersih, alis panjang yang tampak mempesona. Iris mata biru tua, tampak seperti danau tenang.
Tubuhnya begitu indah, dibalut oleh pakaian penyihir berwarna hitam dengan garis dan hiasan emas, lengkap dengan topi penyihir. Wanita itu memakai sabuk kulit hitam dengan sebuah buku di sisi kiri pinggang, dan tas kecil di sisi kanan pinggangnya. Dia juga mengenakan kacamata bulat, sembari membawa tongkat kayu besar dengan sebuah orb biru di atasnya.
Cantik, elegan, lembut, juga misterius.
Kata-kata tersebut adalah apa yang para siswa pikirkan ketika melihat ke arah sosok wanita tersebut.
Belum lagi pakaian penyihir agak ketat yang menonjolkan bagian depan dan belakang wanita tersebut. Benar-benar membuat para lelaki berfantasi liar tentang dirinya!
'Professor Elin ... atau lebih tepatnya, Selena Novafrost yang menyamar sebagai pengajar biasa.'
Pikir Reinhart ketika melihat sosok wanita cantik tersebut.
Meski terpesona, pemuda itu tidak akan menjadi begitu bodoh seperti para siswa tanpa otak yang akan menjilat dan mengejar sambil mengibaskan ekor mereka!
'Penyihir Level 6 paling muda.'
'Master potion paling muda.'
'Ice Magus from The North.'
'Satu dari 12 penyihir bintang.'
Judul-judul itu akan membuat orang-orang, baik rakyat biasa, bahkan bangsawan menghormati dirinya. Hal itu juga yang membuat Reinhart tidak berani bersikap bodoh.
Tidak berani menyinggung!
Bukan hanya kalah dalam kekuatan, Reinhart juga memerlukan bantuannya. Jadi, dia sama sekali tidak berani bertindak ceroboh apalagi menyinggung wanita tersebut.
"Segera duduk di tempat duduk kalian."
Suara lembut dan magnetis terdengar di ruang kelas. Para siswa-siswi yang awalnya belum duduk, sibuk mengobrol, atau bahkan tidur langsung sadar lalu duduk dengan punggung tegak di kursi mereka.
Melihat para siswa-siswi yang akhirnya tenang dan fokus, wanita itu mengangguk ringan. Tatapannya menyapu seluruh kelas sekilas. Meski demikian, dia jelas langsung mengingat wajah-wajah muridnya. Namun, tatapannya berhenti saat melihat sosok yang duduk paling belakang dekat jendela.
'Pangeran dari Kerajaan Rembulan Perak duduk di belakang? Benar-benar membuang kesombongannya?'
Melihat ke arah Reinhart, Professor Elin mengangkat sudut bibirnya.
'Menarik ...'
Merasakan tatapan Professor Elin, Reinhart tiba-tiba merinding. Meski sebentar, dia yakin wanita itu menatapnya. Sama sekali bukan tatapan untuk menghafalkan wajah, tetapi tatapan dengan maksud lain.
Mengingat bagaimana dirinya berniat untuk berkonsultasi kepada Professor Elin, Reinhart merasa agak ragu dan bertanya-tanya dalam hatinya.
'Berkonsultasi dengan wanita itu ... pilihan yang benar, kan?'
>> Bersambung.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
IG: _anipri
profesor elin kayaknya bakal jadi karakter penting sih ini pasti.
2022-12-22
0
🌬𝙆𝙖𝙪𝙢 𝙍𝙚𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣
lagi
kwkwkwkkw
2022-08-20
1
Nomor XY
kwkwkwkwkwk mirip banget sana ciel dan teman berisiknya
2022-07-31
2