Dalam ruang kelas.
"Karena sekarang adalah jam bimbingan, sebagai wali kelas kalian, aku akan bertanya."
Professor Elin yang berdiri di depan kelas menatap ke arah murid-muridnya.
"Apakah ada pertanyaan? Atau sesuatu yang tidak kalian pahami?"
Mendengar ucapan Professor Elin, semua murid saling memandang. Bagi mereka, peraturan itu sudah sangat jelas. Bahkan terlalu sederhana untuk diingat. Namun ketika mereka hendak menjawab tidak ada, satu tangan langsung terangkat tinggi.
Semua murid langsung memandang ke arah Reinhart yang mengangkat tangannya dengan ekspresi heran. Tidak menyangka kalau 'siswa teladan' itu benar-benar mengangkat tangannya.
"Apa yang ingin kamu tanyakan, Reinhart?"
"Untuk ujian terakhir, tidak bisakah murid tidak membuat kelompok, Professor?"
"En?" Professor Elin terkejut. "Kamu bilang, kamu ingin mencoba untuk menyelesaikan tugas sendiri? Bukankah kamu terlalu percaya diri, Anak Muda?"
"Bukan begitu, Professor. Jika boleh, bukankah tugas yang diberikan juga akan lebih mudah? Memetik ramuan misalnya?"
"..."
Melihat murid yang dia latih mencoba menemukan celah dan ingin bermalas-malasan, sudut bibir Professor Elin berkedut.
"Tidak ada hal semacam itu. Bentuk kelompok berisi lima orang. Tugas akan diberikan secara acak. Jadi ...
Sekarang kamu mengerti?"
"..."
Reinhart menatap ke arah Professor Elin lalu melirik ke arah Aiden yang menatapnya dengan ekspresi bersemangat. Pemuda pirang itu bahkan menunjukkan jempolnya. Tampak begitu bahagia.
"Saya mengerti, Professor."
Reinhart menghela napas panjang. Benar-benar tidak menyangka kalau dia akan terjebak dengan Aiden (lagi).
Meski menolak berkali-kali, Reinhart yakin pemuda keras kepala itu akan terus berputar di sekelilingnya seperti satelit yang memutari planet.
"Terserah ..."
Menyadari kalau dirinya tidak banyak berteman dan tidak memiliki calon kelompok yang diinginkan, Reinhart akhirnya menyerah.
***
Siang harinya.
Di taman Akademi Cahaya Bintang, Reinhart duduk di bawah pohon. Meski agak panas, vegetasi taman cukup padat, jadi lebih baik daripada berkerumun dalam kantin atau kelas.
Reinhart bahkan mengeluh karena tidak ada sihir pendingin ruangan. Atau lebih tepatnya, Akademi tidak mau boros untuk membeli peralatan semacam itu.
Terlalu kuno dan pelit!
"Jadi, bagaimana kita akan menentukan namanya, Reinhart?"
"Apanya?"
Melirik ke arah Aiden yang duduk di sampingnya, Reinhart menghela napas.
"Tentu saja nama tim kita!"
"Tidak perlu disebutkan namanya. Lagipula, ini hanya sebuah kelompok untuk melaksanakan tugas. Tidak kurang, tidak lebih."
"Ya ... kamu benar."
Aiden mengelus dagu dengan ekspresi serius. Melihat si pirang yang berpura-pura serius, Reinhart benar-benar ingin memukul wajahnya.
Aiden menatap ke arah Reinhart dengan ekspresi bingung.
"Omong-omong, selain kita berdua ... apakah kamu punya tiga kandidat lain, Reinhart?"
"..."
Reinhart berkedip. Menatap ke arah Aiden dengan ekspresi kosong.
"???"
Banyak tanda tanya langsung muncul di atas kepala Aiden.
"Jangan bilang kamu sama sekali tidak memikirkan hal itu?!"
Melihat ekspresi terkejut Aiden, Reinhart langsung membalas dengan suara monoton.
"Aku tidak memiliki banyak kenalan. Bukankah tugas itu seharusnya kamu yang melakukannya? Bukankah aku sudah berbaik hati untuk menerimamu dalam kelompok?"
"Haruskah aku berterima kasih atau menyesal karena itu?"
"Sudah terlambat untuk menyesal. Kita hanya dua bocah yang terjebak di perahu yang sama.
Jika perahu terbalik, kita akan sama-sama tenggelam."
"Tapi aku bisa berenang???"
Jawab Aiden tanpa sadar.
"Itu idiom, Bodoh. Haah ..."
Reinhart mengelus keningnya. Benar-benar merasa agak tertekan.
Pemuda itu pikir Aiden akan mendapatkan team yang kuat dan cocok dalam waktu singkat. Lagipula, pangeran pirang itu benar-benar lebih terkenal dan memiliki banyak teman dibandingkan dengan dirinya.
Pada saat itu, tampak tiga sosok yang berjalan menuju ke arah mereka berdua.
Melihat kalau ketiganya adalah gadis cantik yang dipimpin oleh Helena, tunangan Aiden, pangeran pirang itu tiba-tiba berkata dengan nada tak acuh.
"Reinhart ..."
Mendengar bisikan Aiden, Reinhart menatap ke arah tiga gadis tersebut dengan wajah datar.
Melirik ke arah Aiden yang tampak serius, pemuda itu akhirnya berkata.
"Kamu berhutang padaku karena ini."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 158 Episodes
Comments
IG: _anipri
dapet kelompok kan. walau tidak sesuai ekspektasi
2022-12-28
1
🌬𝙆𝙖𝙪𝙢 𝙍𝙚𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣
next
2022-11-05
0
🌬𝙆𝙖𝙪𝙢 𝙍𝙚𝙗𝙖𝙝𝙖𝙣
terbaik thor
2022-08-21
0