Yati ada di kampung selama tiga hari. Dia tidak mau lama-lama berada di rumah, karena ada beberapa hal yang harus dia lakukan di kota.
Selain panggilan dari Mr Akihiko, yang berhubungan dengan tawaran untuk kerja kontraknya, Yati juga ingin menemui laki-laki yang dia cintai.
"Kok tumben Nduk, cuma sebentar saja di rumah? Biasane kan seminggu apa seminggu lebih ngono," tanya mbok Minah, dengan keputusan yang diambil oleh cucunya itu.
Mbok Minah tentu merasa sedikit heran, karena tidak biasanya Yati, merasa tidak betah ada di kampung. Dia melihat, sejak kedatangannya, Yati sudah tampak gelisah dan tidak menikmati hari-harinya dengan baik di rumah, bersama dengan dirinya.
Tapi, karena mbok Minah berpikir jika Yati hanya kecapekan, dia akhirnya hanya diam dan tidak bertanya-tanya.
Dan malam ini, saat Yati mengatakan jika akan kembali ke kota besok pagi, mbok Minah baru memberanikan diri untuk bertanya.
"Mboten nopo-nopo Mbok. Yati, ada banyak pekerjaan. Jadi gak bisa libur lama juga," jawab Yati membuat alasan.
Mbok Minah hanya mengangguk saja, dan tidak lagi bertanya-tanya. Dia tidak ingin, membuat cucunya itu menjadi kesulitan untuk menjawab pertanyaan darinya.
"Yo wes, dipersiapkan apa-apa yang besok mau di bawa. Untung wae, kerupuk beras-nya, sudah mbok buat dari saat Kamu memberikan kabar, jika akan pulang. Kalau baru buat, yo gak dadi, wong kudune jemur juga kok," kata mbok Minah lega.
Beberapa hari kemarin, Yati memang sudah memberi kabar kepada kang Yoga, jika dia akan pulang ke kampung. Yati meminta pada kang Yoga, untuk memberitahu mbok Minah.
"Ngeh Mbok. Suwun Njeh kerupuknya. Yati pasti jadi makan banyak sekali karena ada lalapan kerupuk kesukaan Yati."
Sebenarnya, Yati merasa bersalah, karena telah merepotkan orang tua, mbok Minah, yang ada di dekatnya kali ini.
Mbok Minah, sudah merawatnya sedari kecil dan masih saja dia repotkan hanya karena kerupuk beras saja.
"Yo maem seng okeh to Nduk, Yati. Meskipun gak ada kerupuk, Kamu itu perlu makan. Eman awakmu, wes gering iki lho," kata mbok Minah, yang mengkritik penampilan tubuh Yati.
"Mosok gering Mbok?" tanya Yati, sambil memperhatikan bagaimana keadaan dirinya sendiri.
"Delok dewe coba, mosok gawanane mobil, duwet okeh, kok gak kelar mangan. Jo di eman-eman. Gak usah kirim duwet okeh ke simbok, sak kadare wae, simbok gak arep-arep Nduk. Penting, awakmu sehat, iso mangan, Mbok wes seneng."
Yati memeluk mbok Minah dengan mata berkaca-kaca. Dia tahu, jika mbok Minah itu jujur dan ikhlas membesarkan dirinya. Mbok Minah tidak pernah berharap apapun, yang penting, Yati bisa memberikan kabar jika dalam keadaan sehat, itu sudah melegakan hatinya.
Yati, menangis sesenggukan sambil memeluk mbok Minah. Satu-satunya orang yang ada di dalam hidupnya, yang tidak pernah meminta dan berharap lebih dari yang dia miliki. Orang tua, yang Yati sendiri tidak pernah tahu, siapa dan bagaimana mbok Minah. Dia merawatnya, memberikan pendidikan dan kasih sayang yang tulus, yang tidak pernah dia rasakan dan dapat dari kedua orang tuanya. Karena Yati memang tidak pernah tahu, dimana keberadaan kedua orang tuanya selama ini.
Mbok Minah juga tidak pernah mengatakan apa-apa, tentang masa lalunya. Entah itu asal-usul, dari mana dan siapa sebenarnya Yati yang sudah dia anggap sebagai cucunya sendiri.
"Kang Yoga wingi piye, pas Kamu kasih sepatu?" tanya mbok Minah, setelah pelukan mereka berdua terlepas.
Mbok Minah ingin tahu, bagaimana reaksi dari kang Yoga, guru SMP, yang berstatus duda itu, saat diberi hadiah sepatu oleh Yati.
"Ya gak bagaimana-bagaimana to Mbok. Eh, bilang terima kasih ding. Cuma itu, meskipun awalnya dia sungkan pas Yati kasih," jawab Yati, saat ingat kejadian itu.
"Lho, ngopo sungkan?" tanya mbok Minah dengan bingung.
"Jare kang Yoga, Yati gak usah repot-repot. Dia masih bisa kok beli sendiri sepatu. Mungkin kang Yoga gak enak hati Mbok, karena di kasih hadiah sama perempuan. Kan kalau di kampung kita ini, apa-apa jadi pembicaraan. Kang Yoga mungkin takut, jika akan ada omongan-omongan yang tidak baik karena Yati memberinya sepatu."
Mbok Minah menggangguk mendengar penjelasan dari Yati. Dia juga memaklumi bahwa guru SMP itu, merasa tidak nyaman karena statusnya yang duda dan Yati yang sering jadi pergunjingan orang.
Mungkin ada ketakutan pada kang Yoga, jika kedekatan dan pertemuan mereka itu, akan membawa berita yang tidak baik dan itu akan membuatnya semakin pusing.
"Tapi dia gak apa-apa kan, kalau kamu repotkan untuk kirim uang pada simbok?" tanya mbok Minah dengan khawatir.
Mbok Minah, bukan khawatir karena takut, jika Yati tidak akan mengirimi dirinya uang lagi. Dia hanya khawatir, karena tidak bisa menitipkan sebagai uang pemberian Yati, untuk tabungan Yati di masa tuanya nanti.
Mbok Minah yakin, jika orang seperti Yati, jarang memikirkan hari tua_nya sendiri, dan tidak menabung sebagian dari penghasilannya. Mereka, orang seperti Yati, hanya menghabiskan uangnya untuk hari ini dan beberapa hari kedepannya. Yang penting, kehidupan mereka terjamin dan terlihat berkecukupan dengan adanya uang yang banyak, yang mereka dapatkan saat ini.
Yati juga tidak tahu, jika uang yang dia berikan kepada mbok Minah, malah ditabungkan untuk dirinya. Ternyata, mbok Minah tidak pernah berhenti memikirkan nasibnya, meskipun pada kenyataannya, Yati bukan lagi anak kecil, yang membutuhkan perhatian lebih.
*****
Pagi ini, Yati bersiap untuk berangkat ke kota.
"Yati!"
Ada seseorang yang memangil Yati, dan itu suara laki-laki.
Saat Yati menoleh, ternyata itu adalah suara paklek, yang istrinya minta bantuan pada Yati, untuk pekerjaan di kota, saat dia pulang kampung, sebelum menjalani kerja kontrak dengan Mr Johan.
"Paklek, ada apa?" tanya Yati heran.
Kata Bulek, yang sekarang sudah bekerja di kota, dan jadi pembantu rumah tangga, sudah sering mengirim uang pada suaminya itu, untuk kebutuhan sehari-hari dan juga pendidikan anaknya.
"Kamu ini ngasi kerjaan pada Bulek mu apa? kok tiap kirim uang sedikit. Gak bisa kayak Kamu? Ajak saja dia kerja kayak Kamu, biar bisa kasih uang yang banyak!"
Yati mengerutkan keningnya, memikirkan apa yang dikatakan oleh suaminya bulek. "Ini laki-laki gak punya tanggung jawab dan terima kasih, malah minta lebih. Bagaimana bisa ada laki-laki seperti dia di dunia? tapi, pada kenyataannya, memang banyak yang seperti dia," kata Yati dalam hati.
"Eh, Warno. Harusnya, Kowe iku isin. Ora kerjo, malah bojomu seng kerjo. Wes dikirimi ora matur nuwun malah ngomong seng ora-ora. Jarke Yat. Wong lanang ora mikir blas!"
Mbok Minah justru yang marah-marah. Dia mengomel dan memarahi lek Wo, suaminya bulek, yang pengangguran dan hanya main kartu setiap hari, di gardu-gardu yang ada di kampung Yati ini.
Hal yang biasa dilakukan oleh para laki-laki, saat mereka tidak ada kerjaan dan kesibukan, karena selesai mengerjakan sawah dan kebun.
Sedangkan lek Wo, tidak punya sawah dan kebun. Dia hanya pekerja lepas, yang dipekerjakan oleh orang lain.
Dan semenjak istrinya kerja di kota, dia justru tidak mau menerima pekerjaan dari orang lain, yang meminta tenaganya seperti biasa. Dia hanya mengandalkan uang dari kiriman, transferan, dari istrinya itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
Kar Genjreng
iss wong lanang ngono kue di larung ae ra wiss bene di pangan ...naga segoro kidul hua hua 🤣🤣🤭🤭😭😭
2022-09-21
1
Beast Writer
🌹 thanks
2022-04-11
2
Cut Nyak Dien
ws wong lanang nek kyo kwi njalok dincalne nek kebon sawet og
2022-02-10
5