Yati ada di kampungnya untuk beberapa hari. Dia sudah bilang sama mbok Minah, jika dia harus kembali ke kota lagi, untuk melanjutkan pekerjaannya di sana.
Yati sudah menjenguk kang Yoga, yang ternyata, kata orang sakit jeroan itu adalah, usus buntu. Untungnya, kang Yoga juga sudah memeriksakan kondisi kesehatannya itu ke rumah sakit, dan akan menjalani operasi tiga hari kemudian.
Bersama dengan mbok Minah, Yati datang ke rumah Yoga, untuk kedua kalinya. Selain menjenguk kang Yoga, Yati juga mau sekalian pamitan, sebab, besok siangnya, dia akan kembali lagi ke kota.
"Oh ngoten ngeh Kang? ngapunten lho Kang, Yati sering merepotkan. Dan terima kasih karena sudah sering Yati mintai tolong, untuk ikut menjaga mbok Minah," kata Yati, diakhir waktu kunjungan ke rumah kang Yoga.
"Yo ndak apa-apa Yati. Kamu kerja di kota hati-hati ya! Aku cuma bisa mendoakan, agar Kamu tetap sehat dan bisa kerja dengan baik. Bisa menjaga mbok mu ini suatu hari nanti. Kasihan mbok Minah, kalau Kamu pergi-pergi terus. Coba Kamu menikah dengan orang-orang dekat sini, kan bisa berumah tangga, jadi selain dekat dengan rumah, Kamu juga bisa jaga mbok mu ini juga."
Yati, hanya tersenyum mendengar perkataan dan nasehat dari kang Yoga. Dia berpikir, jika itu tidak mungkin bisa terjadi. "Bagaimana Aku bisa menikah dengan orang-orang dekat sini? mereka semua sudah menilai Aku negatif dan tidak mungkin ada yang mau juga dengan orang seperti Aku," kata Yati, dalam hati.
Setelah berbincang-bincang sebentar, akhirnya Yati undur diri bersama dengan mbok Minah.
"Kami pamit pulang dulu ya Kang. Yati mau beristirahat malam ini. Mau bersiap-siap juga, soalnya besok Yati harus kembali ke kota lagi."
"Ya-ya, ati-ati yo Yat. Matur suwun, Kamu sudah datang menjenguk Aku lagi. Suwun ngeh Mbok!Aku doakan, perjalanan kamu lancar dan selamat sampai tujuan Yat. Pokoknya ati-ati Yen nyuper!" kata kang Yoga, memberikan pesan dan juga nasehat, di saat Yati dan mbok Minah berpamitan.
"Terima kasih Kang. Semoga lekas sembuh."
"Mbok balik dulu ya Yoga, cepet sehat lagi."
Setelah itu, Yati bersalaman dan memberikan sebuah amplop pada kang Yoga, berisi beberapa lembar uang merah.
"Kamu ini kalau datang suka-nya kok repot-repot to Yat," kata kang Yoga, yang merasa sungkan, karena Yati sering memberinya uang.
Saat pertama kali menjenguk, Yati juga memberikan sejumlah uang. Dan sekarang, dia datang lagi dengan memberinya uang juga. Padahal, setiap dua bulan sekali, di saat Yati mengirimkan uang untuk simbokmya itu, dia juga memberinya bagian uang, sebagai tanda rasa terima kasih, atas semua bantuan dan pertolongan yang diberikan kang Yoga.
"Gak apa-apa Kang. Yati sudah banyak merepotkan kang Yoga. Salam buat budhe dan pakde Yo kang. Yati juga nitip simbok, tulung kadang-kadang di jenguk. Siapa tahu, simbok sedang tidak sehat atau butuh bantuan."
Kang Yoga hanya mengangguk saja, mendengar perkataan Yati. Karena selama ini, kang Yoga memang melakukan apa-apa yang dipesankan Yati tadi.
Sebenarnya, kang Yoga itu bukan asli dari kampung Yati. Dia dari tetangga desa, dan setelah menikah, membuat rumah, yang tidak jauh dari rumah mbok Minah.
Ibunya kang Yoga, masih ada pertalian darah dengan mbok Minah. Itulah sebabnya, mereka jadi lebih dekat.
Yati tahu bagaimana keadaan kang Yoga yabg sebenarnya. Meskipun kang Yoga berprofesi sebagai seorang guru SMP, tapi status masih belum pegawai negeri, jadi pendapatan tentu belum banyak. Padahal, bapaknya, sudah lama sakit dan tidak bisa bekerja. Dan kang Yoga, adalah anak laki-laki, satu-satunya di keluarganya.
Dia juga yang membantu pengobatan bapaknya. Itulah sebabnya, Yati juga membantu dirinya, kang Yoga, meskipun tidak bisa banyak dan terlalu sering juga. Hanya dia titipkan lewat mbok Minah, agar diberikan pada kang Yoga.
*****
Esok harinya, Yati benar-benar bersiap untuk berangkat ke kota lagi. Dia sudah menghidupkan mesin mobilnya, dan membereskan semua barang-barang yang akan dia bawa. Termasuk kerupuk beras kesukaannya.
Kemarin-kemarin, mbok Minah, khusus membuatkan Yati kerupuk beras. Karena dia tahu, Yati sangat menyukai kerupuk itu. Bahkan, sewaktu masih kecil dulu, dia tidak mau makan jika tidak ada kerupuk beras.
Mbok Minah selalu membuat kerupuk itu, untuk oleh-oleh yang bisa di bawa Yati ke kota, jika pulang dari kampung.
"Kerupuk beras-nya ojo lali ya Nduk," kata mbok Minah mengingatkan.
"Ngeh Mbok, sampun di taruh di mobil kok," jawab Yati sambil menunjuk ke arah mobil, yang sedang dia bersihkan kacanya.
"Neng dalan ati-ati ya. Ojo turu, mengko malah kecelakaan koyok berita neng tipi-tipi iku," sambung mbok Minah lagi, mengingatkan cucunya itu.
"Njeh Mbok," jawab Yati pendek.
Yati sudah selesai membereskan semuanya, kemudian dia menyalami mbok Minah dan memeluknya juga.
Tut tut tut!
Handphone milik Yati berdering. Ada panggilan masuk untuk segera dia angkat.
Yati melepas pelukannya pada mbok Minah, kemudian mengambil handphone yang ada di dalam tasnya.
..."Halo Mr."...
..."Yeti, where are you?"...
..."Yati, in the village of Mr. Ada apa?"...
..."Kamu tidak lupa kan, jika Kamu sudah tanda tangan kontrak kerja dengan Mr Johan?"...
..."Tidak Mr. Tapi, kontraknya kan baru akan di mulai dua hari lagi."...
..."Itulah sebabnya, Aku mengingatkan Kamu Yeti."...
..."Oh begitu ya Mr. Hehehe... thanks you Mr. Yati ingat. Dan sekarang, Yati sedang bersiap-siap untuk balik ke kota."...
..."Hah, baiklah. Kamu hati-hati ya di jalan. jangan sampai mengantuk saat menyetir mobil!"...
..."Siap Mr!"...
Klik!
sambungan telpon terputus. Yati, kembali berpamitan dan masuk ke dalam mobil.
Tapi, sebelum Yati menutup jendela mobil, ada tetangga rumah yang datang dengan tergesa-gesa.
"Yati tunggu!" teriak orang tersebut.
Dengan memakai daster batik yang sudah pudar warnanya, orang tersebut mengehentikan mobil Yati yang hampir saja berjalan.
"Ada apa Bulek?" tanya Yati pada orang tersebut.
"Yati, Aku mbok ya diajak kerja ke kota. Aku bosen di kampung terus dan tidak bisa merubah nasib seperti Kamu. Ajak Aku Yo Yat!"
Tentu saja Yati bingung dengan permintaan tetangganya itu. Dia juga tidak tahu, mau ditaruh kerja di mana 'Bulek' ini, jika memaksa ikut dengannya saat ini juga.
"Jangan sekarang ya Bulek. Yati belum ada pandangan mau kerja apa Bulek di kota nanti."
Yati mengatakan kebingungan, dengan permintaan tetangganya itu. Dia juga tidak mau, jika tetangganya itu tahu, apa yang sebenarnya dia kerjakan di kota.
"Tapi Yat, paklek mu itu gak kerja. Bisanya minta uang terus buat ngopi-ngopi, beli rokok. Bulek kerja jadi pengupas kulit bawang di pak lurah tidak seberapa gajinya Yati," kata tetangganya lagi, dengan wajah memelas.
"Begini saja Bulek. Sekarang Bulek pulang, kerja seperti biasanya. Nanti, kalau Yati ada pekerjaan yang bagus, Yati kabari atau Yati jemput Bulek. Bagaimana?" kata Yati memberikan beberapa pilihan pada tetangganya itu.
"Tapi Yat, jangan lama-lama ya," jawab Bulek dengan wajah sendu.
Yati hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar jawaban tetangganya itu. Dia sebenarnya juga tidak tega, karena dia tahu betul bagaimana keadaan Bulek tersebut dan juga kelakuan suaminya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
Kar Genjreng
sajanne yo serba salah di jak mengko ngumbar woro
yen ga di jak..ketok le mesakne...dilema wis budal ae luru pangan...ga usah ngrungoke wong ngomong..👍👍
2022-09-18
1
Ana Yulia
double like dari Khanza Gracio, semangat 🔥💪
2022-02-06
0
Neyna 🎭🖌️
menarik kak ela 👍💪💕💕
2022-02-06
2