Di kota besar, Yati bekerja di rumah makan Jepang. Tapi restoran itu lebih mirip dengan bar atau club malam.
Dengan desain dan ornamen khas negara 'Matahari Terbit' ada banyak sekali yang bisa dinikmati di restoran tersebut.
Selain sushi, shasimi, origini, shabu-shabu, takoyaki, ramen dan makanan lain khas Jepang, ada minum-minuman yang didatangkan langsung dari negara Jepang juga. Selain teh hijau dan minuman non alkohol, ada juga yg beralkohol, seperti sake, shochu dan amazake.
Pengunjung tidak kaum laki-laki lajang, banyak juga satu anggota keluarga, yang ada wanita dan anak-anak. Mereka datang karena ingin menikmati makanan khas Jepang.
Yang datang tidak hanya warga negara Jepang saja, atau warga asing. Ada juga banyak orang-orang Indonesia yang datang.
Para pengunjung restoran, selain ingin menikmati makanan, mereka kadang-kadang juga ingin menikmati pijatan tangan, yang memang disediakan juga untuk para tamu, dan ini termasuk juga dalam manajemen restoran. Dia lantai pangling atas, ada panti pijatnya.
Jadi, yang tampak dari luar, restoran tersebut hanya sebuah restoran biasa, tapi di dalamnya, ada beberapa tempat, yang berbeda dengan restoran itu.
Meskipun pemilik dan pengelola jadi satu, itulah kelebihan dari restoran Jepang tersebut. Ada banyak sekali pilihan paket, yang bisa dinikmati oleh para pengunjung yang datang ke restoran, yang kebanyakan pelayanannya juga masih muda, dan tentunya mereka semua juga cantik-cantik. Karena mereka bisa di ajak untuk melakukan hal yang 'berbeda' di tengah yang berbeda juga.
Pihak management mempersilahkan, tapi tidak memperbolehkan menempati area usahanya. Jadi, mereka harus melakukan kencan di tempat lain. Kalau hanya sekedar menemani makan dan minum, tidak apa di restoran tersebut, tapi jika ingin 'lebih' dipersilahkan untuk mencari tempat yang lebih cocok.
Jadi restoran tersebut, murni untuk sebuah restoran dan panti pijat saja.
Begitu juga dengan Yati. Awal bekerja, dia hanya menjadi pelayan biasa. Kemudian diminta untuk menemani tamu yang ingin minum-minum, kemudian lama-lama berlanjut dengan 'kencan' yang lain.
"Kamu mau tidak kencan dengan Saya? Pasti akan Saya kasih uang banyak. Kamu tidak perlu capek-capek jadi pelayan, jika ingin dapat uang banyak untuk kehidupan Kamu. Nanti, setiap Saya datang, Kamu pasti Saya ajak untuk kencan. Jadi Kamu hanya khusus berkencan dengan Saya saja. Bagaimana?"
Begitulah awalnya, Yati ditawari untuk berkencan oleh seorang tamu restoran tersebut. Tapi karena Yati masih takut dan juga belum terbiasa, Yati merasa jika dirinya masih kecil. Dia takut dan juga merasa jijik. Itulah sebabnya, Yati selalu menolak setiap tawaran yang datang padanya.
"Maaf Mr. Saya belum bisa." Yati menjawab dengan tersenyum dan mengangguk ala orang Jepang, yang biasa dia lihat, dan dia pelajari saat baru masuk kerja.
Itu di awal-awal dia bekerja, dan Yati selalu mendapatkan tawaran yang sama seperti itu terus menerus. Mereka, para tamu restoran, tidak tahu, jika umur Yati masih terbilang remaja, karena baru berusia tujuh belas tahun.
Mungkin karena postur tubuhnya yang tinggi dan terbentuk dengan bagus, dia jadi terlihat lebih dewasa dari usianya.
Tapi, keyakinan Yati untuk menolak semua ajakan para tamu, membuat mereka semakin penasaran. Untungnya, pihak restoran ada pengawasan dan keamanan yang sangat bagus. Mereka sangat teliti, sehingga para tamu tidak bisa memaksa para pekerja restoran, yang tidak mau diajak mereka berkencan. Karena itu hanya diperbolehkan, jika pelayan resto menyetujui keinginan mereka saja, jika tidak, pihak restoran tetap menghargai dan menjaga keamanan mereka semua dari hal-hal yang tidak diinginkan.
Namun ternyata, Yati hanya bisa bertahan sekitar satu tahunan, untuk menolak semua ajakan kencan para pria yang menggodanya. Karena pada tahun kedua dua Yati bekerja, godaan itu justru datang dari warga negara Indonesia sendiri, yang masih gagah dan tampan, meskipun tidak lagi muda, tapi usianya juga belum terlalu tua. Usia laki-laki yang mengajaknya kencan, baru empat puluh tahunan.
Yati mengiyakan ajakan laki-laki itu, karena Yati melihatnya beberapa kali berkunjung ke restoran tempatnya bekerja ini. Dia juga tampak sopan dan tidak merayu para pelayan yang melayaninya. Padahal, teman-temannya terlihat melakukan hal itu.
Hingga pada suatu hari, Yati yang berkesempatan untuk melayani meja tempat dia duduk, dan pada saat itu, laki-laki tersebut datang sendiri tanpa ada teman yang ikut datang.
Ada sesuatu yang menarik dari laki-laki tersebut. Entah apa, tapi Yati merasakan sesuatu yang berbeda di dalam hatinya.
"Maaf Mr. Mau pesan sekarang, atau masih menunggu seseorang yang mau datang dulu?" tanya Yati seperti biasa.
Ini dilakukan Yati, karena biasanya, para tamu yang datang sendiri, akan memesan makanan nanti, setelah teman atau kekasihnya datang. Mereka kadang ada janji temu di restoran tersebut.
"Sekarang saja Miss. Saya pesan shabu-shabu. Tapi nanti temani Saya makan ya? Soalnya Saya datang sendiri," kata tamu tersebut, kemudian dia melambaikan tangan kepada pengawas restoran, yang memang selalu berjalan-jalan, mengawasi para pekerja dan tamu yang datang, agar bisa membantu mereka jika ada sesuatu yang terjadi.
Pengawas tersebut datang mendekat, kemudian bertanya, "ada yang bisa Saya bantu Mr?". Dia bertanya demikian, karena melihat Yati yang masih berdiri di sebelah tamu tersebut, dan belum ada hidangan apapun yang tersedia di meja.
"Saya mau makan, tapi mau ditemani dengan Miss ini juga, apa bisa?" tanya tamu tersebut, sambil menunjuk ke arah Yati, yang ada di sebelahnya.
Di restoran tersebut, semua orang di panggil dengan sebutan Mr dan Miss.
"Bagaimana Miss Yeti? Apa Anda mau menerima tawarannya?" tanya pengawas restoran pada Yati. Pengawas tersebut, menyerahkan semua keputusan pada Yati, dan memang selalu begitu, tidak hanya pada Yati saja.
Tidak seperti biasanya, kali ini Yati menganggukkan kepalanya, menyetujui permintaan tamu tersebut.
Pengawas restoran juga sedikit heran dengan keputusan Yati barusan, karena selama ini, hanya Yati yang tidak mau menerima tawaran para tamu, yang memintanya. Tidak seperti teman-temannya yang lain. Padahal, setiap menerima tawaran tersebut, para pelayan akan mendapat tips dari para tamu yang mereka temani.
Itulah sebabnya, mereka akan dengan senang hati, menerima setiap tawaran untuk menemani makan atau minum. Bahkan, sampai berkencan di luar juga.
Dan begitulah pada akhirnya. Yati menemani tamu tersebut untuk menikmati makanan yang dia pesan. Yati juga melayaninya dengan baik di meja makan tersebut.
Kejadian ini berlangsung beberapa kali, hingga mereka berdua jadi semakin dekat. Dan Yati, yang kada mulanya hanya mau menemani makan atau minum di restoran, sekarang jadi berani menerima tawaran untuk ke luar juga. Meskipun Yati melakukan di luar jam kerja.
Yati merasa mendapat teman, atau orang yang bisa diajak berbicara layaknya orang dewasa pada umumnya.
Mereka saling berbincang tanpa ada yang ditutup-tutupi.
Yati menceritakan tentang keadaan dan kehidupannya, begitu juga dengan laki-laki itu. Mereka terbuka sebagai seorang teman, dan masih hanya sebatas itu saja. Belum sampai melakukan hal yang lebih jauh lagi.
Entah sampai kapan, Yati bisa bertahan dan mempertahankan keutuhan dirinya sendiri, dari lelaki yang kebanyakan 'berbisa' pada mulutnya.
Mungkin, hanya sang waktu yang tahu, apa dan bagaimana Yati bisa sampai di kenal orang dengan sebutan bukan PSK biasa.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
@Kristin
Wah enak juga jadi si Yati...
2023-02-22
0
Mom La - La
hmmm, jdi semakin penasaran
2023-02-09
0
𝐀⃝🥀Jinda🤎Team Ganjil❀∂я🧡
Semangat Yati semoga mendapat pelanggan yang baik ya. Kalau pelanggannya agak gimana jangan diterima ya.
2023-02-09
0