Dalam perjalanan menuju ke kota, Yati tidak terlalu memikirkan banyak hal. Karena kali ini, ada pekerjaan yang sudah menunggunya dan itu menghasilkan banyak uang, tanpa dia harus pergi ke luar negeri seperti dua tahun kemarin-kemarin.
Sebenarnya, Yati ke luar negeri untuk belajar. Dia tidak hanya bekerja saja di sana, tapi belajar bagaimana bahasa, kebiasaan dan juga adat istiadat mereka di negeri matahari terbit, Jepang.
Dia pergi ke luar negeri dan memilih negara itu karena, dia berkecimpung dengan banyak orang-orang warga negara Jepang di Indonesia. Dan ini karena ada kaitannya dengan pekerjaan yang dia lakukan selama ini, di restoran Jepang.
Untuk menunjang berbagai macam hal, Yati harus bisa memahami apa dan bagaimana mereka. Yati sampai mengoleksi buku-buku komik dari sana dan dengan bahasa Jepang juga, tidak dalam bentuk terjemahan. Ini dimaksudkan agar Yati, bisa belajar sendiri dan tidak merasa bosan, karena ada gambar-gambar yang bisa menarik dan mempermudah dirinya menterjemahkan bahasa yang dia baca. Itu akan sangat mendukung proses belajar Yati yang otodidak, tanpa pendamping dan guru yang bisa menjelaskan kepadanya dengan baik. Jika ada kesulitan dan dia belum paham juga, kadang-kadang, Yati bertanya dengan pengawas restoran, yang sudah fasih jika berbincang-bincang dengan tamunya yang berkunjung.
Itulah sebabnya, saat pemilik restoran menawari Yati untuk ikut beberapa orang pegawainya, yang akan pergi ke Jepang sana, dia segera mengiyakan. Pemilik restoran, memang memberikan kesempatan kepada pegawai yang ingin dan mau belajar di sana, karena di Jepang, dia juga memiliki sebuah restoran.
Jadi, sama saja pekerjaan yang dilakukan para pegawainya yang dari Indonesia. Yang berbeda hanya keadaan dan situasi yang mereka hadapi.
Yati ingin maju, dengan buda ikut training di Jepang, meskipun dia juga sadar jika kemajuan yang dimaksud itu tidak ada artinya jika dia masih saja mengeluti dunianya yang sekarang ini.
Tapi Yati pasrah. Dia tidak ada pilihan lain, selain ikut arus kehidupannya yang sekarang. Dia juga sadar diri, karena tidak punya basic formalitas pendidikan tinggi. Jadi, perubahan dalam kehidupannya, hanya dirinya sendiri yang bisa merubahnya juga.
*****
Hampir seharian penuh, perjalanan Yati untuk bisa kembali ke kota. Dia sempat berhenti dan beristirahat sebentar di rumah makan dan pom bensin juga, supaya tubuhnya tidak terlalu capek dan mengantuk juga.
"Akhirnya, Aku bisa beristirahat dengan nyaman di kamar," kata Yati, begitu masuk ke dalam kamar kost miliknya.
Kost-kostan yang di tempati Yati, adalah sebuah kost yang mirip dengan rumah susun, meskipun bangunan tidak banyak, tapi ini sangat nyaman.
Ada tempat parkir mobil yang luas dan kamar tidur yang privasi karena semua aktivitas seseorang, semua bisa di kerjakan di dalam kamar tersebut.
Kamar dengan ukuran yang luas itu, selain ada kamar mandi yang di dalam, sudut kamar yang lain bisa digunakan untuk dapur bersih yang praktis, dengan kompor dan barang-barang dapur yang tidak berlalu banyak. Cukup untuk digunakan oleh satu orang saja, seperti Yati.
Ini dimaksudkan, jika sedang bosan dengan makanan luar dan beli setiap hari, dia bisa memasak sendiri yang mudah atau sekedar menghangatkan makanan.
Itulah sebabnya juga, Yati selalu membawa kerupuk beras jika pulang dari kampung, karena dia bisa menggorengnya sendiri juga di dalam kamar.
Yati langsung masuk ke dalam kamar mandi, untuk membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum dia tidur mengistirahatkan tubuh. Apalagi, ini sudah malam juga. Dia ingin benar-benar bisa beristirahat, sebelum besok memulai pekerjaan baru, yang sudah dia tanda tangani dua minggu yang lalu.
Tut tut tut!
Tut tut tut!
Yati keluar dari kamar mandi, dan melihat handphone miliknya yang sudah tidak lagi berdering.
Dia melihat ke layarnya dan melihat notifikasi yang masuk. Ternyata, Mr Akihiko, pemilik restoran tempat Yati bekerja, yang menelponnya saat ada di kampung dan bersiap untuk kembali ke kota tadi pagi.
Yati berusaha untuk menelpon Mr Akihiko. Tapi sepertinya dia sedang sibuk dan tidak bisa menerima panggilan telpon dari Yati.
Akhirnya, Yati hanya memberikan pesan singkat, memberitahukan bahwa dirinya sudah sampai di kota dan sedang beristirahat di dalam kamar kostnya.
Tidak lama, handphone Yati berdering lagi.
Tut tut tut!
Yati segera mengambil handphone yang baru saja dia letakkan di atas meja.
..."Ya halo!"...
..."Yati!"...
Ternyata, itu dari temannya, Marisa, yang bekerja di tempat yang sama seperti Yati juga. Tapi Marisa sudah lama terjun di dunia itu, dan 'masuk' lebih dalam lagi dari pada Yati yang termasuk 'baru' di dunia mereka.
..."Kamu sudah kembali?"...
..."Iya Kak. Yati baru sampai di kost."...
..."Huh. Aku pikir masih di kampung atau di jalan. Soalnya, tadi Mr Akihiko telpon dan tidak Kamu angkat."...
Ternyata, Marisa menghubungi Yati karena mendapat cerita dari Mr Akihiko, jika Yati tidak mengangkat panggilan telpon darinya.
..."Hehehe... Yati ada di dalam kamar mandi tadi Kak."...
..."Oh ya sudah. Kamu istirahat saja kalau begitu. Pasti capek ya nyetir mobil sendiri, perjalanan jauh lagi!"...
..."Pastinya Kak!"...
..."Ya sudah. Selamat beristirahat ya!"...
..."Ok kak Marisa. Terima kasih ya."...
Klik!
Sambungan telpon terputus. Yati menghela nafas panjang kemudian membuangnya perlahan-lahan. Dia ingat dengan temannya itu. Marisa. Nama aslinya Mariyah, tapi di kita dan di restoran tempat mereka bekerja, Mariyah lebih dikenal dengan nama Marisa.
Dulu dia primadona di restoran tersebut. Sebelum ada banyak saingan, kemudian dia ke Jepang, jauh sebelum Yati datang dan bekerja. Jadi, Marisa ini seniornya Yati, dan dia sekarang bekerja sebagai pelatih para pekerja yang baru datang. Dia juga menjadi pengawas di bagian panti pijat, yang ada di restoran di bagian paling atas.
Marisa bekerja, mengawasi para tamu ahar tidak menyalahi aturan dan ketentuan yang ada di panti pijat tersebut. Ini untuk menjaga nama baik restoran dan panti pijat itu sendiri. Meskipun sebenarnya, mereka tidak 'bersih' juga, tapi sebisa mungkin tidak melakukan di tempat usaha Mr Akihiko.
Sebuah pengalihan asumsi dan cara pandang pada masyarakat pada umumnya dan pengawasan aparat serta dinas terkait, karena usaha ini terdaftar resmi dan bersih.
Itulah sebabnya, para pejabat negara juga banyak yang mampir ke sini, karena merasa tidak terjadi sesuatu, meskipun mereka bisa memesan 'menu' lainnya di tempat yang lain juga.
Itu sudah jadi rahasia umum dan tidak ada yang bisa membicarakan tentang hal ini juga, karena mereka semua, tahu sama tahu, bagaimana seharusnya merahasiakan semua ini dari beberapa hal yang seharusnya.
Rahasia tapi bukan rahasia bagi sebagian orang yang sudah tahu, dan pernah menjadi bagian dari rahasia terbesar dari rahasia tersebut juga.
Itulah yang sebenarnya terjadi di sebagian masyarakat kita. Hal lumrah dan dilumrahkan mereka sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
Kar Genjreng
pokoe Tante melu..wei nyimak mergo ga reti gon ngonoan...😄😄😄🤭🤭
2022-09-18
1
Beast Writer
Yati waiter doank apa ikutan pijat juga..?😶
2022-04-08
0
Spyro
Banyak bgt emng tmpat kamuflase spt ini.. Luarnyaa gni eh dalemnya gitu...
2022-04-02
1