Pagi-pagi, kampung di hebohkan dengan beredarnya kabar tentang kepulangan Yati.
Yati, yang saat ini baru berumur dua puluh tahun itu, dulunya kabur dari kampung, begitu lulus sekolah menengah pertama, karena mbok Minah tidak bisa lagi membiayai sekolah selanjutnya. Akhirnya, Yati pergi ke kota tanpa seorangpun yang membimbing. Entah apa yang dia kerjakan di kota. Kata Yati, dulu, dia kerja di restoran.
Kepulangan Yati yang pertama, biasa saja. Tidak ada perubahan yang mencolok.
Begitu juga dengan kepulangannya yang ke kedua dan ketiga. Semua tidak ada yang begitu berbeda dari kepulangan-kepulangan Yati sebelumnya. Itu karena Yati pulang dalam jangka waktu setahun sekali. Dia beralasan, tidak bisa pulang ke kampung dengan bebas, karena aturan-aturan kerja di restoran, sangat ketat. Sama seperti aturan kerja di sebuah kantor.
Dan setelah dua tahun tidak pernah pulang, kali ini, kepulangan Yati ke kampung, mendapatkan sorotan dari tetangga-tetangganya.
Apalagi saat ini, Yati pulang dengan segala perubahan yang dia miliki. Baik secara fisik dan penampilan serta apa yang dia bawa saat pulang ke kampung, yaitu sebuah mobil dengan model keluaran terbaru, meskipun itu tidak bisa dibilang yang termahal.
"Neng kono kie Yati kerja opo?"
"Mosok gek kerja jadi pelayan restoran kok iso tumbas mobil, jan gak normal dan gak wajar."
"Opo Yati dagang?"
"Dagang apa?"
"Dagang awake lah, opo meneh?"
"Tapi, mau kie dia bagi-bagi uang lho. Aku yo entok kok!"
"Mosok? piro-piro nek bagi?
"Satus ewu!"
"Wihhh, akeh tenan. Kok Aku ora kebagian?"
"Lah iku mau seng do nututi, pengen weruh tamu sopo seng teko neng omahe mbok Minah isuk-isuk. Lah, malah jebul Yati muleh. Pas di tekok-tekok, malah di bagi uang. Lumayan banget, iki rejeki pagi-pagi. Bisa buat belanja enak nanti."
"Aku yo tak melu inguk-inguk ah, siapa tahu, masih dapat oleh-oleh dari Yati. hehehe..."
Berbagai macam gosip dan omongan, tidak bisa dihindari oleh Yati. Karena kali ini, dia memang tidak seperti biasanya.
Badannya berkembang dengan sangat baik. tinggi semampai, dengan kulitnya yang bersih. Meskipun tidak putih seperti kebanyakan artis yang ada di tivi-tivi, tapi dia bisa merawatnya dengan baik.
Rambut Yati, tidak lurus dan agak ikal di bagian bawah, bisa dia atur sedemikian rupa, sehingga tidak berantakan. Ini membuatnya tampil elegan, meskipun tanpa riasan yang berlebihan.
Pakaian yang dikenakan Yati, juga tidak sama seperti gadis-gadis kampung saat ini. Dia pasti sudah update model pakaian terbaru.
Apalagi, dia datang dengan membawa sebuah mobil, dan menyetir mobil itu sendiri. Hal yang sangat istimewa, dan itu menjadi sebuah pertanyaan besar untuk semua tetangga-tetangga Yati, yang sangat tahu, bagaimana latar belakang keluarga dan pendidikannya selama ini.
Akhirnya, rumah mbok Minah ramai dengan kedatangan para tetangga yang mau melihat keadaan Yati, juga bertanya-tanya tentang kabar, serta hal-hal lain yang ingin mereka ketahui.
Yati, hanya bisa tersenyum, jika tidak bisa menjawab pertanyaan dari para tetangganya. Dia juga tidak mengusir mereka, jika ada pertanyaan dan komentar mereka yang kurang enak di telinga.
Mbok Minah juga tidak menyalahkan mereka, para tetangga yang datang. Dia merasa memang ada yang tidak beres dengan cucu perempuannya itu.
Meskipun mbok Minah sudah tua dan tidak tahu apa-apa, tapi perasaan hati yang dia rasakan pada Yati, tidak bisa dibohongi, jika apa yang dikatakan dan perasaan curiga para tetangga itu ada benarnya.
Mbok Minah, hanya bisa menghela nafas panjang, sambil menyuguhkan minuman dan singkong rebus, untuk tetangga yang datang ke rumahnya.
Di warung-warung kopi, bapak-bapak yang sedang berbincang-bincang sambil menikmati kopi mereka, juga membicarakan tentang Yati.
Mereka semua, merasa heran dengan perubahan yang terjadi pada seorang Yati, yang selama ini mereka kenal, sedari kecil, sudah menjadi seorang gadis dengan segala sesuatu yang tidak biasa.
"Bedo adoh ya saiki si Yati itu?"
"Iya, jare muleh gowo mobil, di supiri dewe juga."
"Mau yo jare bagi-bagi uang sama ibu-ibu yang datang melihatnya."
"Kerjo opo ya si Yati? anakku ben melu."
"Ati-ati Kang. Neng kota anakmu malah melu-melu dadi gak bener!"
"Gak bener piye sih? sukses ngono lho ya?"
"Iku seng ketok, awake dewe gak weruh asline koyok piye. Jal delok to kadang-kadang neng tivi iku, ada banyak cerita dan berita kang, dengan adanya para pedagang wanita, germo, dan pelacuran yang sedang ramai."
"Wah, Yo gak jadi lah. Gak mau aku, nek anakku dadi koyok ngono!"
"Eh, mosok Yati kerjone ngono?"
"Jal bayangke dewe, nek gak kerjo ngono, opo seng iso dikerjakan Yati dengan mendapatkan hasil besar, uang yang banyak? wong Yati yo mung lulusan SMP."
Akhirnya, mereka semua memiliki pemikiran seperti itu, untuk seorang Yati, yang memang sudah menjadi sebuah misteri, untuk kehadirannya di rumah mbok Minah, dua puluh tahun yang lalu.
*****
Mbok Minah, dari dulu dikenal sebagai seorang janda, karena suaminya pergi dan tidak kembali. Kabar tentang suaminya itu pun tidak pernah ada. Apakah masih hidup atau sudah tiada.
Dia tidak memiliki anak, karena memang suaminya pergi juga dengan alasan yang sama, yaitu mbok Minah tidak memiliki anak-anak. Sedangkan waktu itu, pernikahan mereka sudah sepuluh tahun lebih.
Mbok Minah, juga tidak ada niatan untuk menikah lagi dengan para laki-laki yang datang meminangnya.
Namun, pada suatu hari, saat dia pulang dari sawah, karena saat itu musim tanam, mbok Minah pulang dengan membawa seorang anak kecil, yang belum bisa berjalan.
Pada saat ada yang bertanya, mbok Minah menjawab jika itu anak saudara jauhnya, yang menitipkan anak itu, karena orang tuanya mau ikut transmigrasi. Dan anaknya, takut tidak betah di daerah baru yang belum mereka ketahui juga seperti apa, jadi dititipkan pada mbok Minah.
Meskipun banyak tetangga yang tidak percaya, tapi karena tidak ada orang yang merasa kehilangan anak, dan tidak ada berita juga dari pihak-pihak terkait, jadi mereka akhirnya percaya juga.
Tapi, kecurigaan mereka kembali muncul, saat Yati tumbuh dengan cepat dan tidak sama seperti kebanyakan anak-anak di kampung.
Badannya tumbuh tinggi, lebih tinggi dari ukuran anak-anak seusianya. Kulitnya yang bersih, tidak bisa dikatakan sebagai anak kampung pada umumnya. Tapi, para tetangga tidak lagi membicarakannya, sama seperti saat pertama kemunculan Yati waktu kecil dulu.
Dan ternyata, misteri tentang siapa dan bagaimana Yati, tetap tidak pernah terjawab dan terpecahkan hingga saat ini. Bahkan, Yati juga sama, memiliki pertanyaan ini, "siapa dan dari mana Aku?"
Namun, Yati tidak pernah bertanya dan mencari jawabannya juga. Dia tetap merasa bersyukur, karena mbok Minah dengan kasih sayang yang tulus membesarkan dirinya, menjaganya, dan menganggapnya sebagai cucunya sendiri.
Yati pun akhirnya tidak lagi mempunyai pikiran untuk mencari informasi tentang jati dirinya yang sebenarnya.
"Aku cucunya mbok Minah. Sekarang dan sampai kapanpun!"
Begitulah keyakinan Yati sekarang. Dia akan berjuang untuk membahagiakan orang tua itu, mbok Minah, apapun dan bagaimanapun caranya. Meskipun, orang-orang akan menggunjing dan mengolok-olok dirinya. Itu sudah tidak asing lagi bagi Yati, karena sedari kecil, dia selalu dijadikan bahan olok-olok teman sepermainan, bahkan orang tua mereka juga.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
@Kristin
Pasti si Yati anak orang bule ya Thor...
2023-02-22
0
Mom La - La
sallut deh sama MC ceweknya, yg tetap berbakti meskipun ia tahu bukan ibu kandungnya
2023-02-10
0
Mom La - La
owh... kirain anaknya Mbok Minah
2023-02-09
0