Beberapa hari kemudian, mereka berdua sudah mempersiapkan semua keperluan yang akan mereka bawa ke Bali.
Satu koper ukuran besar dan satu tas jinjing sudah penuh. Semua itu perlengkapan dan apa-apa yang mereka butuhkan nanti, selama ada di Bali.
Mr Johan, tidak suka memakai peralatan yang disediakan oleh pihak hotel. Itulah sebabnya, dia meminta pada istrinya, Yati, untuk membawa apa saja yang diperlukan mereka berdua, untuk kegiatan mereka secara pribadi. Seperti sabun, shampoo dan pasta gigi, serta peralatan yang lain.
"Jangan lupa bawakan peralatan cukur Boo ya Bee," kata Mr Johan, mengingatkan pada istrinya, Yati.
"Iya Boo. Ini handuknya bawa sendiri juga gak?" tanya Yati, memastikan jika memang harus membawa handuk sendiri dari rumah.
"Bawa dua saja yang kecil Bee. Kita tidak memerlukan banyak handuk di sana. Kita akan saling mengeringkan nanti, dengan..."
Mr Johan, menjeda kalimatnya, dengan maksud untuk mendapatkan perhatian dari istrinya itu.
Dan memang benar. Yati akhirnya menoleh, karena tidak mendengar kelanjutan dari kalimat yang sedang dikatakan oleh suaminya, Mr Johan.
"Dengan?" tanya Yati, ingin tahu kelanjutan dari kalimat tersebut.
"Hahaha..."
Mr Johan, tidak menjawab pertanyaan dari Yati. Dia justru tertawa terbahak-bahak melihat Yati yang sedang penasaran dengan kalimatnya yang tadi.
"Apa sih Boo?" tanya Yati ingin tahu.
Dia merengek-rengek manja, minta pada Mr Johan, untuk menjelaskan maksud dari kalimatnya yang terputus tadi, dengan mengeledot di lengannya Mr Johan.
"Gak apa-apa. Nanti juga tahu kok," jawab Mr Johan, merahasiakan apa yang tadi tidak jadi dia ucapkan.
Mr Johan, justru menggoda Yati, dengan menaik turunkan alisnya saat menjawab pertanyaan-pertanyaan dari istrinya itu.
"Ihsss... Boo pelit ah," kata Yati, sambil mengerucutkan bibirnya manja.
"Hahaha... yang penting, tidak pelit ini, ini, dan ini kan?"
Mr Johan, menunjuk pada bibir, buah dada dan bawah perut Yati, yang saat ini sedang memakai pakaian seksi, pemberian Mr Johan tadi sore.
"Ihhh, kan tambah genit ya!" ucap Yati, dengan mencubit lengan suaminya itu.
"Hahaha..."
"Hihihi..."
Keduanya, saling berguling di tempat tidur, membiarkan barang-barang yang tadi mereka atur menjadi berantakan, karena ulah mereka berdua.
Beberapa saat kemudian, mereka berdua tampak kelelahan, namun ada rona bahagia pada wajah-wajah mereka berdua, yang berpeluh, meskipun pendingin ruangan menyala seperti biasanya, dan tidak dalam keadaan rusak.
"Mancing mulu ya Boo," kata Yati, sambil menindih tubuh Mr Johan, seperti orang yang dalam keadaan kalah saat bertarung.
"Kamu itu fit benar ya Bee. Tidak pernah merasa capek, dan selalu bisa bikin Boo puas. Apa Kamu juga selalu seperti ini, pada laki-laki sebelum Boo?" tanya Mr Johan, tanpa merasa sungkan, membicarakan laki-laki, yang pernah bersama dengan istrinya itu, sebelum dirinya.
Begitulah orang luar, yang tidak ada sungkan-sungkannya membicarakan hal yang terdengar tabu, untuk telinga orang-orang Indonesia, yang memiliki nilai-nilai moral dan etika tinggi. Meskipun pada kenyataannya, semua itu tinggal istilah dan juga ketenaran pada masa lalu.
Mungkin, saat ini masih ada, tapi sepertinya tidak akan sama seperti dulu. Orang-orang Indonesia saat ini, juga sudah berpikir lebih bebas, dan juga tidak lagi tertutup, untuk membicarakan tentang hal-hal yang dianggap privasi dan tabu.
Mereka beralasan, jika itu adalah hal biasa yang harus di pelajari, dan bukan hanya sekedar moral yang tertutup, meskipun sebenarnya tidak tertutup juga.
Yati hanya tersenyum canggung, mendengar pertanyaan dari suaminya sendiri, Mr Johan. Dia merasa tidak perlu menjelaskan tentang privasinya, yang dulu, sebelum mengenal suaminya ini, Mr Johan.
"Bee. Jika ada sesuatu yang Boo lakukan, dan itu tidak sesuai dengan apa yang Kamu inginkan, bilang ya Bee. Meskipun pernikahan ini hanya di atas kertas kontrak, tapi Boo ingin, kita sama-sama bisa menikmati dan merasakan kebahagiaan satu sama lainnya. Aku tidak ingin, Bee merasa tertekan, karena itu bisa menurunkan kadar percintaan yang kita lakukan. Boo ingin, Bee juga merasa puas dan menikmati kebersamaan kita ini."
Yati memeluk suaminya dengan penuh perasaan. Dia merasa menemukan sesuatu yang telah lama hilang dari kehidupannya saat ini.
Mr Johan, lama-lama sama seperti Mr Andre. Laki-laki pertama yang membuatnya luluh dan jatuh cinta, meskipun tidak mungkin bisa dia raih dalam kenyataan hidupnya selama ini.
Yati, tanpa sadar, menitikkan air mata. Dia teringat dengan Mr Andre. Entah dimana keberadaan Mr Andre sekarang.
Dulu, dia hanya pamit pergi Dinas dan tidak lagi ada di kota ini. Entah sampai kapan, Yati juga tidak tahu, karena Mr Andre, tidak pernah mengatakan lebih saat berpamitan.
Setelah itu, Yati juga pergi ke Jepang, untuk melupakan kesedihannya itu. Dia tidak lagi tahu, bagaimana kabar dari Mr Andre.
"Kenapa Bee? apa ada perkataan Boo yang menyakiti perasaan hatimu?" tanya Mr Johan, hati-hati.
Dia menghapus air mata Yati, yang mengalir dan menetes di dadanya. Ini karena Yati, sedang memeluknya dalam keadaan posisi Yati ada di atas tubuhnya Mr Johan.
Yati mengeleng perlahan-lahan. Dia tidak bisa menjawab pertanyaan dari suaminya itu. Dia belum bisa bercerita tentang Mr Andre pada Mr Johan, yang saat ini adalah suaminya. Ini sangat tidak etis, meskipun status mereka berdua sebagai suami istri hanya sebuah ikatan kontrak belaka.
Tapi, Yati tetap berusaha untuk menjaga perasaan dari suaminya itu. Dia tidak mau, Mr Johan jadi terbebani dengan ceritanya tentang Mr Andre.
Yati ingin, Mr Johan adalah Mr Johan. Dan Mr Andre, adalah kenangan, yang akan selalu ada di dalam hatinya sendiri.
Mr Johan mengelus-elus punggung Yati, yang masih dalam keadaan polos. Dia tidak mau menganggu istrinya itu, yang mungkin ingin menumpahkan perasaan hatinya.
Tapi ternyata apa yang dipikirkan oleh Mr Johan tidak terjadi. Yati justru bangkit dan tersenyum kearahnya.
"Bee merasa terharu Boo. Selama ini, Boo sangat perhatian dan selalu memanjakan Bee. Tidak hanya sekedar urusan ranjang, tapi segala sesuatu yang Bee butuh, tanpa bicara Boo memenuhinya. Uang, itu tidak diragukan lagi. Bee merasa beruntung Boo, meskipun Boo hanya bersama Bee untuk dua tahun. Tapi Bee merasa bahagia dengan adanya Boo. Bee tidak berharap lebih dari ini. Tapi Bee hanya ingin, kita tetap akan baik-baik saja, meskipun nanti Boo pergi dan sudah tidak lagi ada di Indonesia."
Yati, mengungkapkan perasaannya pada Mr Johan. Dia memang tidak tahu, apakah pernikahan mereka ini, akan berakhir pada waktu yang sudah mereka berdua tentukan, atau akan berakhir dengan sebuah perselisihan yang kadang terjadi pada teman Yati yang lain.
Entah mempermasalahkan soal perasaan, materi, atau sesuatu yang tidak bisa diketahui oleh orang lain.
Karena, kadang pernikahan seperti ini menghasilkan anak, yang sebenarnya tidak boleh terjadi. Karena itu bisa menimbulkan masalah baru bagi mereka berdua.
Itulah sebabnya, diawal perjanjian, sudah ditentukan, jika tidak akan ada anak untuk pernikahan mereka, Yati dengan Mr Johan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 250 Episodes
Comments
Titik pujiningdyah
keren bet
2022-02-18
0
Embun Kesiangan
yati ternyata pribadi yang sederhana dan suka berfikir lurus2 saja dlm hidupnya y thor👍🙏😘
2022-02-08
4
Irma Kirana
💪💪💪💪☺️
2022-02-07
1