"Zen! Kau bikin masalah apa lagi?!" semprot kak Kai setelah berada di samping brankar Zen.
"Siapa juga yang bikin masalah! Bocah-bocah itu saja yang sembarangan memegang-megang tubuhku!" Zen mendengus kesal dan masih dalam posisi yang sama.
"Mereka hanya mengkhawatirkanmu! Jangan berlebihan!" kata kak Kai lalu meletakkan sebuah keranjang yang berisi penuh dengan buah-buahan di atas meja samping brankar.
"Boleh aku meminta sesuatu?"
"Katakan!"
"Batalkan semua perjanjian kerja yang pernah aku setujui!" ucap Zen dengan suara menggelegar.
"Apa kau sudah gila? Kalau membatalkan begitu saja kita akan kena pinalty! Dan itu sungguh besar nilainya! Jadi jangan pernah bermain-main! Semua orang yang bekerja sama denganmu adalah orang-orang besar!"
Zen terdiam dan tidak menyauti kak Kai. Wajahnya terlihat sedang malas dan kesal.
"Kalau begitu, jika ada tawaran yang seperti itu lagi langsung tolak saja! Dan terima saja yang genre aksi! Mulai sekarang aku hanya akan menandatangani genre aksi!"
"Kau yakin?"
"Perkataanku ini lebih berharga dari sebuah kontrak tertulis!" ucap Zen yang terlihat begitu kesal.
"Baiklah. Maaf agak lama datang. Soalnya tadi ada kericuhan di luar. Ada seorang pencopet yang babak belur secara ajaib!"
"Secara ajaib?"
"Seseorang telah menghajarnya secara misterius! Hebat sekali dia! Dia melakukannya dengan cepat sehingga orang-orang tak melihatnya." ucap kak Kai yang terlihat begitu penasaran.
Zen hanya menyunggingkan senyuman samar dan kembali menuruni brankar. Kini dia berjalan ke arah jendela untuk melihat pemandangan di luar.
"Kakek Li Feng akan segera tiba malam ini."
Li Feng? Siapa lagi itu? Batin Zen sedikit tak peduli.
"Kak. Bolehkah aku berjalan-jalan di sekitar? Aku bosan!"
"Jangan pernah pergi tanpa seijinku! Kau ini Idol besar! Semua orang akan mengenalimu!"
"Benarkah? Tapi aku tak mengenali bocah ini tuh!" celutuk Zen tanpa sadar. Tentu saja. Si Raja Yakuza mana tau menahu tentang dunia idol? Bahkan dia sampai tak mengenali sosok bintang besar seperti Li Zeyan. Si bintang tampan bermata biru itu.
"Mulai lagi deh!" celutuk kak Kai sedikit kesal. "Besok pagi kamu sudah diperbolehkan untuk pulang."
"Akhirnya aku pulang ..." Zen menyeringai manis. Tapi yang dia ingat saat ini adalah pulang ke Yohohama, Jepang.
...⚜⚜⚜...
Malam itu seorang pria yang memiliki rambut tipis yang sudah dipenuhi oleh uban tiba-tiba memasuki kamar rawat Zen. Pria itu mengenakan setelan kemeja mewah dan sebuah kacamata minus tebal bertengger di atas tulang hidungnya.
Sebuah jam tangan mewah juga masih melingkar dengan manis pada pergelangan tangan kirinya.
Betapa terkejutnya pria tua itu melihat Zen sedang melakukan sit up dengan bertelanjang dada di dalam ruangan rawatnya.
"Zen. Apa apa yang sedang kamu lakukan? Mengapa berolahraga malam hari? Dan lagi kamu kan masih sakit." ucap pria tua itu sedikit terkejut.
Zen yang menyadari kehadiran pria tua itu tak banyak memberi tanggapan. Dia hanya melirik dan tersenyum samar. Selebihnya dia masih melakukan sit up dengan teratur. Gerakan begitu teratur namun cepat.
"Aku hanya sedang membuat sedikit otot untuk badan yang terlalu mulus ini, Paman!" celutuk Zen dengan nada tak sopan.
"Paman? Kau memanggilku Paman?!" pertanyaan itu terlontar begitu saja dari pria tua itu. Ekspresi wajahnya terlihat begitu terkejut dan sedikit kesal.
"Lalu aku harus memanggilmu apa? Si tua?" Zen menyauti dengan asal lagi.
"Bocah ini! Aku ini kakekmu!"
"Tapi kakekku Gumi sudah meninggal 10 tahun yang lalu!" sahut Zen lagi dengan malas.
"Siapa Gumi? Kau adalah Li Zeyan, cucu satu-satunya dari Li Feng!" suara pria tua ini kini terdengar sedikit menggelegar seisi ruangan ini.
Zen mulai menghentikkan aktifitasnya lalu bangkit dan berjalan mendekati pria tua itu. Sudut-sudut bibirnya mulai ditariknya dan membuat sebuah senyuman manis.
Sial! Padahal kan Kai sudah memberitahuku sebelumnya kalau kakek dari Zen akan datang malam ini. Mengapa aku bisa lupa begitu saja? Sial!
Batin Zen sedikit meringis.
"Baiklah kakek Feng. Aku akan mengingatnya mulai sekarang!" ucap Zen yang kini meringis lebar.
"Sebenarnya siapa, Kau?" tandas kakek Feng mengernyitkan keningnya yang membuat garis-garis keriput pada wajahnya semakin terlihat dengan jelas.
"Aku?" Zen membulatkan matanya dan menunjuk dirinya sendiri. "Tentu saja aku hanya seorang pria dewasa yang tegas dan kejam!"
Tiba-tiba saja Kakek Feng reflek menarik telinga kiri Zen dan menjewernya.
"Pria dewasa, tegas dan kejam apanya?!" ucap kakek Feng dengan sedikit galak. "Jika memang dewasa kau tak akan mencoba mengakhiri hidupmu!" imbuhnya dengan tegas. Sorot matanya menatap Zen dengan tajam.
"Hehehe ... Karena kau seorang pria tua. Maka aku tidak akan melawanmu deh." celutuk Zen cengengesan.
"Bocah satu ini! Mulai tidak sopan setelah mengalami koma?! Kau mau aku mencoret namamu dari daftar keluarga?!" kini kakek Feng semakin kuat menarik telinga Zen.
"Coret saja dan aku akan kembali ke Yokohama!" Zen menyauti tanpa berpikir panjang dengan senyum lebar.
"Yokohama terus! Kai bilang setelah terbangun dari koma kau sangat ingin pergi ke Yokohama! Apa yang mau kau lakukan di Yokohama, Bocah?!"
"Tentu saja untuk menemui belahan jiwaku!"
Kakek Feng kini dibuat melongo oleh ucapan Zen dan kini dia melepas jewerannya, "Belahan jiwa? Kau punya kekasih di Jepang?"
"Tentu saja aku punya! Dia sangat cantik!" kini Zen berbalik memunggungi kakek Feng dan senyumnya merekah membayangkan istrinya.
Ah, Istriku ... Aku merindukanmu! Batinnya yang melupakan keberadaan kakek Feng.
PPLUUKK ...
Sebuah tangan melayang ke arah Zen dan mengenai kepala Zen begitu saja.
"Apa yang kau lakukan, Pria tua?!" ucap Zen menggeram dan berbalik menatap kakek Feng dengan tajam.
"Setelah mengalami kecelakaan itu sepertinya otakmu sudah sangat kacau!" pangkas kakek Feng dengan tajam. "Sekarang pakai pakaianmu kembali dan istirahatlah! Kalau besok masih seperti ini, sebaiknya kau dirawat dulu di rumah sakit!" imbuhnya dengan sangat tegas.
Setelah mengatakan itu kakek Feng segera meninggalkan Zen.
Haissshhh ... Aku sudah bosan berada disini! Dan satu lagi! Otakku tidak sedang kacau! Mereka baik-baik saja ! Terpaksa deh aku harus menjadi anak yang baik dan penurut di depan pria tua itu, kalau tidak dia akan memenjarakanku disini selamanya!
Batin Zen lalu memakai kembali pakaiannya. Dia kembali berjalan ke arah jendela lalu membuka jendela itu.
"Jalan-jalan sebentar ah ... Seharusnya tidak akan bermasalah bukan kalau hanya pergi sebentar." gumamnya lalu memanjat jendela itu kembali.
Perlahan di mulai berjalan di atap dan menuruni atap demi atap dengan gesit, hingga akhirnya dia sampai di dasar. Gerakannya begitu lihai dan gesit, tak seorangpun bisa menangkap sosoknya karena gerakannya juga begitu cepat.
"Hehehe ... Tubuh ini sangat ringan seperti angin! Aku bisa leluasa untuk bergerak lebih cepat lagi." gumamnya dengan seringai manis.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
mau pergi kemana lagi kau bang? Saat ini jadilah kucing manis dan penurut biar aman
2024-07-27
1
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
sampe sakit perut dibuat ketawa
2024-07-27
1
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
ngakaks kakeknya dipanggil paman😂
2024-07-27
1