Zen berjalan dengan santai meninggalkan rumah sakit itu. Karena sedikit gelap, dia hanya mengenakan sebuah topi saja untuk berjaga-jaga.
Zen mendatangi sebuah minimarket untuk membeli rokok dan juga Baijiu. Tentu baginya dua benda itu sangat dibutuhkan oleh seorang pria dewasa seperti dirinya.
Baijiu adalah minuman keras yang berasal dari China dengan aroma yang menyengat. Merupakan minuman keras yang paling banyak dikonsumsi di dunia berkat popularitasnya di China. Minuman ini juga banyak di ekspor ke negara-negara lain.
Sebenarnya Kagami Jiro pernah meminumnya ketika di Jepang, dan ini adalah pertama kalinya dia menikmaatinya di Beijing.
Ternyata hanya tinggal satu botol Baijiu di minimarket ini. Zen hendak mengambil sebotol minuman itu, namun bersamaan dengan saat itu, sebuah tangan yang begitu indah dan lentik juga hendak meraih botol yang sama. Reflek mereka berdua berhenti dan saling bertatapan karena merasa sedikit terkejut.
Zen melihat seorang gadis belia yang cukup manis berdiri si sebelahnya. Sepasang matanya kecoklatan bersinar dan terlihat cukup polos.
Zen dengan cepat meraih sebotol Baijiu itu lalu memasukkan ke dalam keranjangnya.
"Aku yang lebih dulu melihatnya! Jadi ini adalah milikku!" tandas Zen dengan tegas dan cuek.
"Li-Li Zey ..." ucap gadis itu yang menatap Zen tanpa berkedip. Dengan cepat Zen segera membungkam mulut gadis itu agar tidak meneruskan ucapaannya. Kalau tidak, semua orang akan mengetahui seorang Idol besar sedang berada di sini.
"Sstttt ..." tangan kiri Zen masih membungkam gadis itu, sementara tangan kanannya mengisyaratkan agar gadis itu tetap diam.
Gadis itu hanya mengangguk pelan, menandakan dia setuju dan akan tetap diam seperti yang Zen inginkan. Barulah kini Zen melepaskan gadis itu dan menyeringai.
"Kau beneran Li Ze ..."
"Sssttt ... Jangan keras-keras atau semua orang akan mengetahui keberadaanku!" ucap Zen memelankan suaranya.
"Hhm ..." gadis itu mengangguk dan tersenyum lebar. "Bolehkah aku meminta tanda tanganmu?" imbuh gadis itu lalu mengeluarkan sebuah buku dan pena dari dalam ranselnya.
"Hhm. Tentu saja! Asal kau tidak berisik!" jemari Zen mulai menari indah beberapa saat di atas buku itu membentuk sebuah coretan, hingga meninggalkan sebuah tanda tangan disana. Eh? Tapi tentu saja itu bukan tanda tangan asli Zen. Melainkan tanda tangan Kagami Jiro.
"Wah! Aslinya sungguh tampan sekali! Dan juga tinggi! Kulitmu juga sangat bersih dan bercahaya." gumam gadis itu takjub dan terus menatap Zen tanpa berkedip.
Zen yang mendapat pujian seperti itu tersenyum lebar dan sedikit senang. Selama ini tidak ada yang pernah mengatakannya hal seperti itu kecuali istrinya. Bagaimana tidak? Kagami Jiro adalah seorang pria yang sangat menyeramkan dengan tubuh besar dan berotot dan dipenuhi oleh banyak tato. Dia juga sangat sadis dan kejam. Yang ada semua orang akan takut saat melihat parasnya.
"Kalau begitu aku harus segera pergi!" ucap Zen lalu segera melenggang menuju kasir untuk membayar barang-barangnya.
Setelah itu, Zen bergegas meninggalkan tempat itu dan berhenti di suatu tempat. Dia duduk di sebuah bangku di dekat gang kecil yang cukup sepi.
Dengan semangat dia membuka botol Baijiu itu lalu meminumnya tanpa sisa.
GLLUUKK ... GLLUUKK ... GLLUUKK ...
"Ah! Segar sekali! Sudah lama sekali aku tidak menikmati minuman seperti ini! Hahaha ... Padahal baru satu minggu saja deh!" Zen tertawa kecil sambil memainkan botol kosong itu dengan tangannya kanannya.
Setelah itu dia mulai menyesap rokoknya dengan pelan-pelan dan terlihat begitu menikmatinya. Kepulan-kepulan asap itu sesekali dia keluarkan melalui hidung dan mulutnya.
Senyum lebarnya menghiasi wajah tampannya saat ini yang hanya terlihat sekilas oleh sinar rembulan.
"Aku harus segera kembali! Kalau tidak Kai bisa kebingungan nyariin aku!" gumam Zen lalu beranjak untuk meninggalkan tempat itu.
"Tolong ..." samar-samar Zen mendengar suara seorang gadis yang sedang meminta tolong. Dia menghentikkan langkahnya dan berusaha mendengarkan suara itu kembali.
"Tidak ada orang disini! Kau akan aku makan habis disini!" suara samar-samar itu terdengar kembali oleh Zen, dan kini suara seorang pria.
Senyuman misterius itu kembali menghiasi wajah Zen dan dia segera mencari arah suara itu. Dalam waktu hanya beberapa detik, Zen bisa menemukan mereka di sebuah gang kecil yang buntu.
Terlihat seorang pria yang sedang berusaha melakukan tindakan tidak senonoh kepada seorang gadis.
"Jangan berani menyentuhku!" gadis itu mengancam dan mengayun-ayunkan sepatu hak tingginya untuk memukul pria itu.
"Memang kenapa jika aku menyentuhmu? Kau bisa berbuat apa? Aku akan mengajarimu cara bersenang-senang! Dan kau pasti akan ketagihan!" pria itu kini tertawa terbahak-bahak.
"Pria menjijikkan!" kini gadis itu melempar satu sepatu hak tingginya dan mengenai dada pria berambut punk itu.
Zen masih perlahan berjalan ke arah mereka. Dengan gagah namun perlahan dia semakin mendekati mereka hingga mereka berdua tidak menyadari kehadiran Zen.
"Bermainlah denganku, Cantik! Pahamu pasti sangatlah licin. Gyahahaha ..."
Dengan gaya santainya, kedua tangan dimasukkan di dalam saku celana Zen menendang punggung pria itu dari arah belakang. Sehingga pria itu terjatuh tersungkur di atas jalanan.
BBRRUUGGHH ...
"Brengsek!" teriak pria itu lalu berusaha untuk bangkit. "Siapa kau ikut campur urusanku?! Dasar tiang listrik!" umpatnya penuh amarah.
Zen menurunkan topinya sedikit untuk melindungi wajahnya agar tidak terlalu terlihat oleh mereka. Sementara pria itu semakin emosi karena merasa diacuhkan begitu saja.
"Rasakan seranganku! Kau akan menyesal karena mencampuri urusanku!" pria itu kini berlari dan bersiap melayangkan tinjunya ke arah Zen.
Dengan cepat Zen menghindari serangan itu lalu menyerang pria itu dengan sikunya.
BBUUAAKK ...
Pria itu kembali terjatuh di atas lantai lagi dan Zen mulai berjalan mendekatinya.
"Kepala, tangan atau kaki? Kau pilih yang mana?" ucap Zen sambil membalik tubuh pria yang sedang telungkup itu menjadi berbaring.
Dia membalik tubuh pria itu hanya menggunakan kaki kanannya. Terasa begitu ringan dan mudah seperti saat seorang cheft yang sedang membalik daging pada panggangannya.
"Brengsek kau, Bocah sialan!" pria itu kembali mengumpat dengan wajah yang mulai memerah.
"Baiklah. Kalau begitu biarkan aku yang memilihkannya untukmu." gumam Zen dengan begitu tenang.
Zen mulai menarik salah satu kaki pria itu dan sedikit memplintirnya.
KRRAAKK ...
"Akhh ..." teriakan begitu melengking keluar dari mulutnya.
"Aku hanya sedikit memberimu pelajaran!" gumam Zen dengan santai. "Tapi jika kau ingin mati sekarang, aku akan mengabulkan permintaanmu!" imbuhnya lagi dengan seringai manis.
"Tid-Tidak! Jangan lakukan itu! Ma-maafkan aku!" ucapnya yang berubah menjadi ketakutan.
"Kalau begitu enyahlah dari sini!" tandas Zen dengan tegas.
"Ba-Baiklah. Aku akan pergi!" ucap pria itu lalu berjalan tertatih meninggalkan gadis itu dan Zen.
Zen mulai kembali merapaikan pakaiannya yang sedikit kusut dan berantakan karena pertarungan barusan itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
wkwkwk mulai saat ini berhati2 lah para penjahat kelamiiin kalian tidak bisa beraksi malam2 lagi krn ada Zen yg menjelma menjadi pahlawan tanpa diundang
2024-07-30
1
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
wah pemalsuan publik wkwkwk
2024-07-30
1
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
wah lain banget lah skrg Zen yg dulu sama yg skrg udah kesambet jiwa Kagami Jiro, auto urakan krn sejatinya dia pemimpin Zakuya!
2024-07-30
2