"Tenang saja, Kak Kai! Aku akan baik-baik saja!" Zen menyauti dengan seringai manis lalu bangkit dari duduknya. "Ayo langsung kita mulai saja, Sutradara A Meng!" imbuh Zen tak sabar.
"Kau serius, Li Zeyan?" sutradara A Meng bertanya lagi karena masih sangat terkejut.
"Hhm? Apa wajahku mengatakan aku sedang berbohong?" Zen menyauti dengan santai dan sedikit meregangkan ototnya dengan gerakan-gerakan ringan.
"Baik. Baik." sahut sutradara A Meng akhirnya. "Semuanya bersiap untuk scene berikutnya!" imbuhnya dengan memakai toaknya lagi.
Aku tak sabar ingin menghajar seseorang. Rasanya tanganku sudah sangat gatal!
Batin Zen dengan seringai manis menatap 10 orang preman itu yang kini sudah mengelilinginya dengan memasang kuda-kuda.
"Hati-hati! Jangan sampai kalian melukai Zen sedikitpun!" sutradara berteriak dengan toaknya memperingatkan para preman itu.
"Tenang saja Sutradara A Meng! Aku akan mengatasi semuanya dengan baik. Jangan khawatirkan aku!" Zen berteriak menyauti. Tapi khawatirkan saja mereka! imbuhnya dalam hati.
"Baiklah! Action!" sutradara A Meng mulai memberi aba-aba dan seketika mereka mulai melakukan adegan itu.
Zen menatap preman-preman yang sedang mengepungnya dengan mata yang selalu mengekori setiap gerakan mereka. Wajahnya menyeringai manis bersiap untuk menghadapi mereka.
Jujur saja semua orang yang sedang berada di lokasi shooting saat ini sangat merasa begitu was-was dan khawatir terhadap Zen.
Seorang preman mulai melayangkan tinjunya ke arah Zen. Namun gerakan Zen ternyata lebih cepat, dia mengayunkan kaki kirinya dan menendang bagian dada pria itu yang mengakibatkan preman itu terhempas ke belakang dengan cukup keras hingga menimpa seorang preman lainnya.
BBRRUUKK ...
Kedua pria itu kini terjatuh saling bertumpuk. Seorang preman mulai maju untuk menyerang Zen kembali. Dia membawa sebuah pisau lipat dan mengayunkan ke arah Zen. Lagi-lagi Zen segera menangkap tangan preman itu dan menendang dada pria itu dengan lututnya.
BBUAAKK ...
Preman itu kini terjatuh juga sampai mengeluarkan darah dari mulutnya.
Kini dua orang preman mulai menyerang bersamaan. Tinju mereka begitu cepat untuk mencapai sasaran, namun tinju-tinju itu tak mampu mencapai tubuh Zen. Dia bisa menghindari serangan itu dengan sangat cepat dan gesit. Gerakannya seperti ahli ninja, selain cepat juga sangat kuat.
Zen meraih dan menjambak rambut kedua preman itu lalu saling menabrakkannya dengan cukup keras
BBUUAKK ...
BRRUUGGHH ...
Seketika kedua preman itu saling ambruk tak sadarkan diri.
Selanjutnya seorang preman datang lagi dengan melayangkan kaki kananya ke udara bersiap mau memberikan tendangannya untuk Zen. Zen masih terlihat begitu santai, dia bersiap menangkap kaki preman itu lalu menghempaskannya ke arah tembok lalu terjatuh pada kayu-kayu.
BUUAAGGHH ...
BRRAAKK ...
Seorang preman datang lagi dengan membawa sebuah katana. Dia mengayunkan katana itu ke arah Zen. Lagi-lagi Zen menggagalkan serangan itu dengan mudah. Dia menahan tangan pria itu ketika katana sudah berada hanya beberapa inchi dari wajahnya. Zen mengkap dengan tangan kirinya, sementara tangan kanan terbuka dan memukul tangan pria itu hingga katana itu terjatuh. Pada kesempatan ini Zen segera melayangkan tinjunya dan mengenai perut pria itu. Tubuh preman itu terhentak sedikit lalu ambruk setelah menerima tinju dari Zen.
BBRRUUGGHH ...
Zen mulai mengambil katana preman yang tadi terjatuh. Dia segera memasangkan sarung katana itu agar katana itu tidak melukai hingga menyebabkan kematin.
Dua orang mulai mendekati Zen kembali. Zen mengayunkan katana yang sudah bersarung itu dengan begitu indah. Mengalir dengan lancar seperti arus air. Zen menggunakan katana bersarung itu untuk mematuk dada dari kedua preman itu, hingga mereka seketika pingsan bersamaan.
BRRUUGGHH ...
Terakhir, Zen berlari dengan sangat cepat dan memanjat sebuah dinding. Lalu dia terbang ke udara dengan melayangkan tangannya untuk super punch untuk preman terakhir.
Aku hanya mengeluarkan saja sedikit kekuatanku! Semoga mereka tak ada yang mati atau cedera! Ahaha ... Rasanya lega sekali bisa melakukan semua ini! Ini sungguh menyenangkan sekali!
Batin Zen menyeringai manis bak setan.
Sungguh mereka semua yang ada disini dibuat melongo oleh aksi Zen yang tiba-tiba menjadi sangat hebat dalam bertarung. Dan dia juga berubah menjadi begitu kuat. Hanya dalam hitungan detik saja semua sudah dibereskan dengan mudahnya.
Sebuah pertunjukan yang sangat mengejutkan untuk sutradara A Meng dan crue lainnya di sepanjang sejarah hidupnya.
Sedangkan kak Kai terlihat sangat tercengang menyaksikan semua itu. Dia terlihat tidak percaya dengan apa yang baru saja dia saksikan.
Siapa dia sebenarnya?
Batin dari orang-orang yang sedang berada di lokasi shooting. Mereka sungguh dibuat melongo oleh pertunjukan yang baru pertama kali terjadi ini.
Sebenarnya siapa dia? Dia bukan Zen yang biasa aku kenal!
Batin kak Kai mengerutkan keningnya dan terlihat sedang berfikir dengan keras. Sepasang matanya yang berada di balik kaca mata beningnya menatap tajam Zen dari kejauhan.
"Cut!!" teriak sutradara A Meng menghentikan scene itu.
Kini Zen melengos ke arah sutradara A Meng dan kak Kai dan dia tersenyum lebar. Kemudian Zen mulai melenggang untuk bergabung bersama yang lainnya.
Zen mulai duduk di kursinya kembali, lalu kak Kai segera memberikan minuman dingin untuknya. Seorang asistan juga terlihat mulai menyeka keringat Zen.
"Zen apa kau baik-baik saja? Tidak ada yang terluka?" tanya kak Kai yang terlihat begitu khawatir.
"Aku baik-baik saja, Kak Kai! Bagaimana aksiku barusan?" celutuk Zen tertawa lepas dan terlihat begitu bahagia.
"Kau sungguh keren! Tapi darimana kau belajar semua bela diri itu! Kau terlihat sangat mahir dan begitu menguasainya!" ucap kak Kai sedikit penasaran. "Padahal sebelum kau kecelakaan, kau belum seperti ini." imbuhnya yang terlihat begitu bingung.
Zen tersenyum lebar mendengar ucapan kak Kai, "Aku sudah belajar ilmu bela diri sejak kecil! Kakekku sendiri yang mengajariku!"
"Kakek Feng?"
"Tentu saja bukan! Kakekku adalah orang nomor satu pada periodenya! Begitu juga ayahku ... Dan juga aku ..." ucap Zen tanpa sadar.
"Kau mulai lagi bicara omong kosong!" kak Kai kini mendengus sedikit kesal.
Zen hanya sedikit meliriknya dan tersenyum malas. Yeap, malas untuk melanjutkan ceritanya. Karena siapapun yang akan mendengar mungkin akan menganggapnya gila dan orang aneh.
"Pak Sutradara!" kata Zen setengah berteriak.
"Ya ... Ada apa, Zen?" sutradara A Meng menyauti dengan sangat bersemangat. Bagaimana tidak? Aktor kesayangannya baru saja memberikan sebuah kejutan yang begitu fantastis dan sangat tak terduga.
"Boleh aku meminta sesuatu, Sutradara A Meng?" ucap Zen dengan senyum lebar. Deretan giginya yang rapi dan putih terlihat berkilauan di tengah terik siang ini.
"Katakan saja ..." sutradara A Meng menyauti dengan sangat ramah dan tersenyum lebar.
"Mulai sekarang stunt man akan menggantikanku saat scene romantis saja! Saat scene pertarungan, biarkan aku saja yang turun tangan sendiri!" ucap Zen seenak jidatnya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
Weh malah minta digantikan pas scene uhukk
2024-08-15
4
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
weh kau jangan main2 dg katana senjata pedang khas jepun ini amat berbahaya
2024-08-15
2
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
hajar mereka Zen, jangan kasih ampun!
2024-08-15
2