Gambar tato di tubuh anggota Yakuza yang paling banyak adalah tato naga, tato ikan, hingga tato perempuan. Tato mereka tidaklah dibuat dengan cara yang modern, tapi dibuat dengan cara tradisional atau disebut dengan irezumi, proses ini tentunya lebih terasa sakit daripada menggunakan cara modern.
Tato tersebut biasanya menutupi seluruh bagian tubuh tanpa garis tengah di tengah dada mereka. Memiliki tato dalam Yakuza berarti simbol kekayaan, dan itu juga dapat membuktikan ketangguhan manusia karena prosesnya yang tradisional itu sangat menyakitkan dan memakan waktu yang sangat lama.
Bagi Yakuza, tato bukanlah penanda geng tersebut, seperti geng di luar Jepang. Bagi Yakuza tato merupakan gambaran yang bersifat sangat pribadi dan memperlihatkan kehidupan seorang anggota Yakuza secara simbolis yang amat bermakna.
"Argghhh ..." Zen yang terduduk di pinggiran brankar membanting ponselnya ke sofa di hadapannya setelah membaca beberapa artikel.
Mungkin rasanya dia masih sangat kesal dengan apa yang telah dialaminya saat ini.
"Aku tidak bisa berdiam diri seperti ini? Aku tidak mau selamanya menjadi idol! Tapi bagaimana? Apa yang harus aku lakukan?" guman Zen lalu menautkan kedua jemarinya. Pandangannya mengarah pada cermin besar di samping brankarnya.
"Hei, Bocah!" Zen berbicara dengan dirinya sendiri melalui cermin itu. "Apa yang membuatmu bunuh diri? Apa karena komentar pedas dari fans yang mendadak menjadi haters-mu?! Bodoh!" cercanya menakutkan.
"Apa kau ingin aku membalas semua perbuatan mereka? Tenang saja! Selagi Kagami Jiro menempati ragamu, mereka tak akan bisa melukaimu! Tapi aku juga akan meminjam raga ini untuk mencari orang yang telah melenyapkanku! Aku akan membalas semua perbuatan mereka tanpa ampun!" geramnya menakutkan.
"Tunggu dulu!" gumamnya tiba-tiba. "Aku belum mengetahui kekuatanku yang sekarang! Aku harus mengujinya terlebih dahulu! Apakah kekuatanku menurun setelah berganti raga? Ataukah masih murni seperti saat aku memakai ragaku sendiri? Hhm ..." Zen bangkit dan kini membuka jendela kamarnya.
Dia melihat sebuah kericuhan di luar. Beberapa orang sedang berlari mengejar seorang pria.
"Tangkap dia! Dia sudah mencopet!" teriakan yang samar-samar itu di dengar oleh Zen seperti lambaian yang sangat membuatnya tak tahan untuk mulai beraksi kembali.
Sudut-sudut bibirnya menarik dan membuat sebuah seringai manis bak setan.
"Kebetulan sekali! Aku ingin memeriksa kekuatanku saat ini ..." gumam Zen lalu melompat keluar melalui jendela. Dia berjalan di pinggiran atap, lalu mulai bergerak memerosotkan tubuhnya hingga mencapai ujung atap. Lalu perlahan dia mulai melompat ke dasar bangunan dengan gesit.
SRRUUTT ...
HAAPP ...
Zen mulai berlari ke arah yang yang lainnya untuk menghadang pencopet itu. Tak beberapa lama menunggu, pria pencopet itu sudah berlari ke arahnya.
Seringai manis menyembul dari wajah tampan Zen saat ini. Sepasang mata bak Okavango Blue Diamond itu menyorot dengan sangat tajam namun begitu menawan.
"Minggir kau, Bocah!" teriak pria pencopet itu.
Zen semakin tersenyum lebar dan menjegal kaki pencopet itu saat pencopet itu berlari di sebelahnya.
BRRUUGGHH ...
Pria pencopet itu terjatuh dengan posisi tengkurap. Sedangkan Zen masih berdiri dengan gagahnya. Wajahnya menatap lurus ke depan, sementara sepasang mata birunya melirik ke arah pria pencopet. Sehingga akan menimbulkan angle yang cukup menakutkan, dingin dan angkuh jika pria pencopet itu menatap Zen saat ini.
"Sialan kau, Bocah tengik!" pria pencopet itu berusaha untuk bangun dan berdiri. Namun dengan cepat Zen menggagalkannya.
Zen meletakkan kedua tangannya pada saku celananya, dengan santainya dia mendorong pria itu dengan tendangannya. Dan berakhir memijak dada pria itu.
Zen meraih kerah baju pria itu dengan tangan kirinya lalu mulai mengeluarkan tangan kanannya dan mengepalkannya. Zen meniupnya dan menyeringai manis.
"Rasakan super punch-ku!" geramnya lalu melayangkan super punchnya ke arah pria itu.
BUUGGHH ...
Bogem itu melayang dengan cepat di udara dan mendarat sempurna pada wajah pria pencopet itu. Seketika pria itu terkapar tak sadarkan diri. Bahkan hidungnya sampai mengeluarkan darah.
"Fantastis! Kekuatanku hanya berkurang sedikit karena tubuh yang sedang aku pakai saat ini sedikit lebih ringan sehingga damage-nya sedikit berkurang. Jika aku memakai tubuh asliku, maka super punch akan benar-benar bisa membunuhnya!" gumam Zen menyimpulkan. "Aku hanya perlu terus melatih tubuh ini agar kekuatanku meningkat kembali!" imbuhnya lagi yang masih dalam posisi satu kaki memijak dada pria pencopet itu dan badan sedikit condong menatap pria itu.
Beberapa saat orang-orang mulai berdatangan. Dengan cepat Zen segera melarikan diri dan segera kembali ke kamarnya melalui atap demi atap untuk mencapai kamarnya di lantai 3. Yeap, dia di rawat di lantai 3.
Sempat seorang anak kecil yang sedang dirawat di lantai 2 melihatnya dengan takjub, namun Zen hanya menyapanya dengan senyum lebar dan melambaikan tangannya lalu segera melompat hingga dia sampai di kamarnya kembali.
"Fiuh ..." Zen menghembuskan nafas kasar ke udara setelah kembali ke dalam kamarnya. "Tidak terlalu buruk! Tubuh ini sedikit lebih ringan. Dan tentu memudahkan aku untuk bergerak lebih leluasa! Ringan seperti angin ..." Zen melompat ke brankarnya dan kembali berbaring dengan kaki kiri di tekuk sebagai tumpuan dan kaki kanan terangkat di atasnya. Kedua tangannya dilipat untuk bantalan kepalanya.
Zen tersenyum menatap langit-langit.
"Aku akan menjadikan tubuh ini lebih kuat dengan beberapa latihan!" gumannya tersenyum lebar.
Tak beberapa lama terdengar suara ketukan teratur dari pintu.
Tok ... Tok ... Tok ...
"Ya ... Masuklah ..." ucap Zen mempersilahkan tamu itu agar masuk.
Beberapa saat Kak Kai masuk ke dalam ruangan diikuti oleh dua orang gadis muda di belakangnya.
"Zen ada tamu! Aku akan pergi sebentar ke ruang administrasi. Kalian berbincanglah dulu." ucap Kak Kai lalu meninggalkan mereka bertiga.
Kedua gadis cantik itu melai berjalan mendekati brankar Zen.
Hentakan dari hight heels mereka terdengar seperti sebuah irama yang begitu teratur dan elegan. Pakaian yang dikenakan kedua gadis itu sangat stylish dan modis. Wajah mereka juga sangat bersinar dan cantik.
"Hai, Zen! Apa kabar?" ucap salah satu gadis cantik yang berambut cola pendek dengan ramah.
"Aku baik-baik saja!" sahut Zen seadanya.
Sebenarnya siapa lagi mereka ini? Kai sialan itu juga tidak memberitahuku sebelumnya! Huft ... Merepotkan saja!
Batin Zen sedikit kesal.
"Syukurlah. Kita sangat khawatir setelah mendengar kau mengalami kecelakaan itu! Bahkan kau sempat mati suri ... lalu koma! Apakah masih ada yang sakit?" gadis yang berambut hitam panjang kini meraba-raba tubuh Zen untuk melihat dan memastikan luka pada tubuh Zen.
Zen berusaha untuk menghindarinya karena merasa risih. Jelas saja! Gadis-gadis ini lebih terlihat sebagai keponakannya! Mungkin mereka berusia antara 18-20 tahun.
"Dek, Jangan sembarangan menyentuh badan seorang pria dewasa ..." ucapan Zen yang berusaha untuk bersikap ramah kepada kedua gadis itu malah terdengar begitu konyol untuk kedua gadis itu. Sehingga kedua gadis itu kini tertawa lepas.
"Dek?" gadis berambut hitam panjang itu kini menatap Zen dengan mata yang membulat sempurna namun wajahnya masih menahan tawa.
"Tentu saja. Aku jauh lebih tua darimu!" ucap Zen keceplosan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
seru to the max
2024-07-26
1
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
saatnya beraksi Kagami
2024-07-26
1
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
wkwkwk dia mencela diri sendiri
2024-07-26
1