"Maaf setelah kamu sadar aku belum ada waktu untuk mengunjungimu! Tapi aku selalu datang kok saat kamu koma." ucap pemuda berambut jabrik itu yang kini mulai merangkul pundak Zen yang tinggi dan lebar.
Zen menatap tangan pemuda yang melingkar itu pada bahunya dengan sedikit aneh.
"Apa sebelumnya kita begitu dekat?" tanya Zen tiba-tiba.
"Hhm? Apa kau benar-benar amnesia dan melupakanku, Zen?" pemuda berambut jabrik yang hanya mempunya tinggi sebatas telinga Zen kini tertawa renyah.
"Bisa dibilang seperti itu sih ... Aku adalah Bai Xi, sahabatmu saat di Beijing Wan Chai University. Aku yang sering membantu para pengawalmu untuk melindungimu! Dan sering membantumu untuk mengerjakan tugas kuliah! Apa kau lupa itu, Zen?" pemuda yang bernama Bai Xi itu kini melirik Zen sedikit bingung.
"Yeap. Kata dokter aku mengalami sedikit amnesia. Ada beberapa potongan memoryku yang telah terhapus." sahut Zen yang masih memandang lurus ke depan. "Dan Bai Xi! Mulai sekarang kau tak usah berusaha untuk melindungiku lagi bahkan tidak usah membantuku untuk mengerjakan tugasku lagi!"
"Tapi kenapa?" Bai Xi menatap Zen dengan sangat kebingungan saat ini.
"Karena mulai sekarang aku akan melakukannya sendiri! Terima kasih selama ini dan maaf jika merepotkanmu selama ini." Zen mulai melenggang meninggalkan pemuda yang dibuat melongo olehnya itu. Kedua pengawalnya juga segera mengikuti Zen.
"Oi, Zen!" Bai Xi kini berlari dan menyusul Zen lagi.
...⚜⚜⚜...
"Tampan sih! Tapi sayang dia seorang penipu dan seorang plastik!" terdengar mahasiswa saling berbisik ketika kelas kosong dan sedang dalam pergantian mata kuliah.
"Benar! Aku sudah melihat video itu! Sungguh berbeda sekali!" guman mahasiswa lainnya lagi.
"Aku jadi ingin oprasi juga agar tampan seperti bintang!" mahasiswa lainnya kini menyauti lagi.
"Benar! Oprasi plastik saja biar hidupmu berubah seperti pecundang itu. Gyahahaha ..." sahut seorang mahasiswa lagi lalu mereka tertawa terbahak-bahak bersama.
Zen yang dari tadi mencoba mengerjakan kalkulus, kini merasa sedikit terganggu oleh kericuhan yang disebabkan keempat mahasiswa itu. Dia segera menghentikkan tarian tangannya di atas lembaran-lembaran itu dan kini menatap tajam ke arah mahasiswa-mahasiswa itu yang kira-kira hanya berjarak 3 meter darinya.
"Tenangkan dirimu, Zen! Jangan terlalu kau pikirkan ucapan mereka!" Bai Xi yang duduk di sebelah Zen kini berusaha menenangkan Zen.
"Tidak bisa! Mereka akan terus seperti itu jika tidak diberi pelajaran!" Zen menyauti dengan sangat tajam. Netranya masih menangkap lurus ke depan dengan tajam.
"Lalu apa yang akan kau lakukan sekarang?"
"Lihat saja!" Zen menatap tajam lagi ke arah 4 mahasiswa itu lagi.
"Sekali pecundang tetap pecundang. Gyahahaha ..."
"Bilang saja kau iri, Zhang Wei!" seorang mahasiswa menggoda mahasiswa lainnya dan tertawa renyah kembali.
"Kenapa harus iri dengan babi? Gyahahah ..." sahut mahasiswa menyebalkan itu lagi.
"Hei bocah!" Zen berteriak dengan lantang dan begitu menggelegar seisi ruangan, keempat mahasiswa itu segera melengos ke arah Zen. "Bisakah kalian tenang sedikit! Aku sangat merasa terganggu jika kalian berisik!" imbuhnya dengan tajam.
"Kau merasa terganggu? Bukankah kau selalu diganggu di masa lalu? Gyahahaha ..." salah satu mahasiswa itu menyauti Zen lalu tertawa terbahak-bahak kembali.
"Itu semua adalah urusanku! Lalu kenapa kalian yang pusing dan repot sendiri?" sahut Zen dengan wajahnya yang sangat serius.
"Wah ... wah ... wah ... Seorang Li Zeyan ternyata bisa sedikit kasar ya! Padahal mereka semua melihatmu sebagai sosok yang begitu ramah dan lembut! Ternyata semua juga bohong ya! Hanya pencitraan kah? Wah ... wah ... wah ... selain berbohong tentang paras, ternyata kau juga menipu di depan kemera ya?! Memang benar-benar sampah!" celutuk seorang mahasiswa lagi.
"Tuan Zen. Biarkan saya memberinya pelajaran!" ucap seorang pengawal Zen yang berdiri tak jauh dari Zen. Namun Zen segera menahan dengan mengangkat tangan kanannya yang terbuka, sehingga pengawal itu hanya terdiam kembali.
"Kalau begitu biarkan aku yang mengurus mereka!" Bai Xi bangkit dan hendak melangkah namun dia menghentikkan niatnya ketika tangan Zen menahannya dan mendengar ucapan tajam Zen.
"Jangan!"
Keempat mahasiswa itu kini tertawa terbahak-bahak menyaksikan semua itu.
"Tak jauh berbeda dari masa lalunya! Ternyata dia begitu penakut dan masih saja bersembunyi di balik seseorang! Dasar pecundang sampah!" sahut salah satu mahasiswa itu lagi.
"Jangan bisanya hanya bersembunyi terus donk!" sahut mahasiswa lainnnya lagi.
"Tuan Zen! Mereka sudah sangat keterlaluan! Ijinkan saya untuk memberinya sedikit pelajaran!" seorang pengawal meminta ijin untuk memberi mahasiswa itu pelajaran.
Namun, lagi-lagi menghalangi niat pengawal itu, "Tidak usah selagi mereka tak membuat kesalahan yang fatal!"
"Tuan muda ... masih punya kepribadian setelah skandal itu rupanya ..." timpal mahasiswa itu lagi
"Pecundang ... memang tak punya malu ya?!"
"Hhm. Seharusnya mereka berterima kasih kepada orang yang sudah mengedarkan video itu. Agar mereka tidak tertipu selamanya!"
"Benar sekali!"
Zen mengangkat salah satu alisnya dan kali ini tersenyum misterius menatap keempat mahasiswa itu.
"Daripada banyak omong, sebaiknya kita buktikan saja siapa yang lemah dan pecundang!" ucap Zen yang kini mulai kesal.
"Wow! Apakah sekarang dia sedang menantang kita? Gayahahaha ..."
"Wow ... aku takut! Gyahahaha!"
"Aku sangat penasaran dengan tinjumu! Apakah begitu lembut?"
"Jangan banyak omong dan mari kita buktikan saja!" ucap Zen mulai kesal.
"Baik. Temui aku di halaman belakang kampus setelah kuliah hari ini berakhir!" sahut salah satu mahasiswa yang mungkin adalah penntolan dari mereka.
"Well! Okay! Aku harap kalian menepati janji kalian!"
Keempat mahasiswa itu malah terbahak-bahak mendengarkan ucapan Zen yang mereka fikir mirip dengan sebuah lelucon. Selama ini mereka tidak pernah melihat Zen berkelahi. Dan mereka berfikir Zen memang tidak bisa berkelahi.
Siapa sebenarnya keempat mahasiswa itu?! Apakah mereka yang menyebarkan video itu? Kenapa mereka terlihat sangat tidak menyukai bocah ini? Tenang saja, Zen! Aku akan melindungi tubuh ini dengan baik! Dan aku akan memberi pelajaran orang-orang yang sudah berbuat jahat kepadamu. Dan aku akan membuat mereka bertekuk lutut padamu! Karena aku adalah Kiyota Jiro, dan aku adalah orang nomor satu yang paling kuat dan kejam.
Batin Zen yang masih menatap keempat mahasiswa itu dengan kedua tangan yang mengepal.
Sebenarnya aku sudah sangat tidak sabar untuk memberi mereka pelajaran! Tapi ya sudahlah ... Toh jam kuliah akan berakhir dalam 3 jam lagi.
Batinnya lagi lalu kembali fokus menatap lembaran di mejanya. Zen mulai mengerjakan sesuatu kembali di atas lembaran itu. Sebuah pena mulai diraih dan dijepitnya kembali.
Yeap, tangan kanannya sibuk menjepit sebuah pena dan mencorat-coret sebuah kertas. Sementara tangan kirinya menahan kepalanya. Dari raut wajahnya, dia terlihat sedang sangat berkonsentrasi. Keningnya sedikit berkerut menatapi kertas di mejanya itu.
Hhm ... Sudah lama sekali aku tidak mengerjakan yang seperti ini. Jadi akan membutuhkan sedikit waktu untuk menyelesaikan tugas-tugas ini.
Batin Zen dengan ekspresi serius menatap lembaran-lembaran itu.
...⚜⚜⚜...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
semangat bang Kagami/Zen kuliahnya
2024-09-15
0
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
kiyota Jiro?
2024-09-15
0
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
mulutmu yang sampaaah tak berguna
2024-09-15
0