"Kak Kai! Aku butuh senjata api!" ucap Zen tiba-tiba yang sedikit mengejutkan.
"Kakak tidak punya benda semacam itu, Zen!" sahut kak Kai yang kini juga terlihat begitu kebingungan.
Sial! Aku akan mencoba menggunakan kekuatanku saja! Semoga saja aku bisa melakukannya dengan tubuh ini!
Batin Zen lalu menepuk bahu pria yang sedang membawa batu itu, sehingga pria itu menghentikkan aktifitasnya dan menatap Zen.
"Biarkan aku yang melakukannya!" ucap Zen dengan sangat tajam. Ekspresi wajahnya juga terlihat begitu serius. Sepasang mata bak okavango blue diamond itu menyorot dengan tajam namun begitu menawan.
Pria itu segera mundur dan memberi Zen kesempatan.
"Apa yang mau kau lakukan, Zen?" kini kak Kai mencoba menghentikkan Zen dengan menahan tangannya. "Tunggu sampai bantuan datang dulu! Kau tidak akan bisa memecahkan kaca anti peluru ini!" imbuhnya dengan tegas.
"Kalau menunggu bantuan datang, gadis itu akan benar-benar bisa mati!" sahut Zen lalu membuang tangan kak Kai yang tadi meraih lengannya.
Kini Zen bersiap untuk melakukan sesuatu. Kedua tangannya mengepal dan keningnya berkerut menatap kaca di hadapannya itu.
Kalau memakai tubuh asliku, masih ada kemungkinan untuk memecahkan kaca ini. Tapi kali ini sedikit berbeda ... Tubuh bocah ini ... Apakah bisa? Ahh ... Kalau tidak pernah dicoba, maka tidak akan pernah tau. Jadi aku akan mencobanya dulu.
Batin Zen lalu bersiap menempelkan kedua telapak tangannya pada kaca yang titik-titiknya sudah berusaha untuk dipecahkan oleh pria tadi.
Sepasang matanya mulai memejam. Kini dia sedang berusaha untuk mengalirkan seluruh kekuatannya pada titik-titik telapak tangannya.
Beberapa saat sepasang mata kebiruan itu mulai terbuka kembali. Perlahan dia mulai memperkuat dorongan kedua telapak tangannya. Hingga sesuatu yang sangat ajaib kini telah terjadi.
KRRAAKK ...
Kaca itu terdorong dan retak menjadi serpihan-serpihan kecil.
Fantastis! Aku masih bisa mengendalikan kekuatanku meskipun dengan raga ini. Syukurlah berhasil ...
Batin Zen dengan senyum lebar sambil menatap kedua telapak tangannya dan dibolak-balikkannya.
Beberapa orang kini mulai membuka pintu mobil itu dan segera membawa dan menyelamatkan gadis itu.
"Zen ..." kini kak Kai kembali mendekati Zen. Kak Kai menunjukkan ekspresi yang begitu bingung dan sedikit curiga. "Apa kau baik-baik saja?"
Zen yang masih tersenyum bahagia kini melengos menatap kak Kai. "Ya. Aku baik-baik saja tentunya ..." ucapnya begitu sumringah.
"Ayo ikut kakak!" kak Kai segera menarik Zen dan menggiringnya untuk memasuki sebuah Ferrary merah menyala.
"Sekarang jujurlah pada kakak!" ucap kak Kai saat di dalam Ferrary mewah itu. "Sebenarnya apa yang telah menimpa dirimu?!"
"Aku juga tidak tau! Setelah terbangun dari koma, aku tiba-tiba saja sudah begini!" sahut Zen dengan wajah yang begitu bahagia.
"Hhm. Ini sungguh aneh! Kau menjadi sangat kuat sekarang. Apa kau bukan Li Zeyan yang selama ini aku kenal?" kak Kai memicingkan mata menatap Zen penuh dengan rasa curiga. "Katakan padaku! Sebenarnya siapa kau?!"
Zen mulai menatap kak Kai dengan serius dan dia kebingungan harus mengatakan apa kepada pria berkacamata itu.
"Katakan padaku sebenarnya siapa kau?! Karena Zen yang selama ini aku kenal tidak bisa bertarung. Dan dia juga lebih ramah dengan semua orang." kak Kai terus mengeluarkan semua hal yang selama ini mengganjal di hatinya, namun selama ini dia hanya diam dan mengawasinya saja.
"A-Aku tentu saja adalah Li Zeyan! Hanya ada satu Li Zeyan yang kau kenal bukan?" Zen menjawab dengan konyol dan tersenyum lebar. "Sudah yuk pulang. Aku sungguh lelah sekali!" imbuh Zen mengalihkan pembicaraan.
Kak Kai masih menatap Zen dengan penuh curiga, namun akhirnya dia mulai menyalakan Ferrary itu. Perlahan Ferrary itu mulai melaju meninggalkan Andrew Fashions.
...⚜⚜⚜...
"Hallo ... Moshi-moshi (Hallo)" sapa seorang gadis yang terdengar dari seberang telepon.
Zen hanya terdiam dan hanya bisa mendengarkan suara gadis yang sangat dirindukannya itu. Ekspresi wajahnya kini terlihat sedikit murung namun ada sedikit tersembul sebuah senyuman tipis. Terlihat sedikit ada rasa lega di dalam wajahnya.
Yeap. Sebuah kerinduan yang sedikit menyiksa untuk Kagami Jiro. Tentu saja dia begitu merindukan istri dan kedua anaknya. Sementara keluarganya pasti mengira Kagami Jiro sudah meninggal satu bulan yang lalu.
Lalu bagaimana aku akan mengungkapkan kerinduan ini? Kini jiwaku sedang berada dalam tubuh anak ini.
Batin Zen masih dengan ekspresi yang begitu sedih dan sedikit putus asa.
"Hallo. Anybody there?" tanya gadis itu lagi dari seberang.
"Siapa, Yuna?" tiba-tiba terdengar suara seorang pria dewasa yang sedikit serak dari sana. Dan tentu saja Zen sangat hafal dengan suara itu. Itu adalah suara dari ayahnya.
Ayah ... Batin Zen semakin terlihat bersedih.
"Entahlah, Ayah. Tapi ini bukan nomor Jepang. Tapi China ..." gadis itu menyauti pertanyaan ayahnya Kiyota Jiro.
"Mungkin salah sambung. Aku akan mematikannya." ucap gadis itu kembali. Lalu ...
Tut ... Tut ... Tut ... Tut ...
Panggilan itu kini telah berakhir. Zen masih terlihat begitu murung. Kini dia berdiri menatap langit malam melalui balkon.
"Besok aku akan ke Jepang! Aku akan memanfaatkan waktu selama 3 hari itu dengan baik. Semoga aku bisa menemukan sedikit petunjuk tentang orang yang menyerangku saat itu. Aku harus membalasnya! Tak akan aku biarkan dia kabur begitu saja!" gumamnya begitu pelan. Sepasang mata kebiruannya masih menatap langit malam yang bertabur dengan sedikit bintang.
"Aku harus segera tidur agar besok tidak bangun kesiangan. Namun aku akan membeli Baijiu dulu! Aku bahkan kehabisan baijiu dan tidak menyadarinya!" gumamnya lagi.
Tak sengaja Zen melihat sebuah Ferrary merah miliknya yang baru saja melaju meninggalkan appartement.
"Sepertinya kak Kai akan pulang ke rumahnya malam ini. Kesempatan bagus! Aku akan keluar sebentar untuk membeli minum. Hehe ..." Zen menyeringai lalu kembali ke dalam kamarnya untuk mengambil hodie hitamnya dan juga topi hitam.
Setelah itu Zen kembali melenggang menuju balkon. Dia mendekati pagar pembatas yang memiliki tinggi kira-kira 1 meter saja. Dengan gesit dan lincah Zen memegang besi pagar itu untuk tumpuan lalu melompat.
HUUPP ...
Dia berjalan melalui pinggiran tembok bangunan appartman dengan pelan dan hati-hati. Lalu dia menuruni lantai demi lantai. Dari lantai 5 perlahan dia menuju dasar bangunan.
Padahal kalau saja lewat melalui jalan biasa dan normal, semua akan baik-baik saja dan tidak ada yang sedang mengawasinya saat ini. Namun ternyara Kagami Jiro memang sangat unik dan berbeda. Dan tentunya dia lebih menyukai tantangan.
Dia mulai mencari sebuah minimarket terdekat untuk membeli beberapa botol Baijiu dan rokok untuk menemaninya malam ini.
...⚜⚜⚜...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
nah kekuatan mu kembali bang Kagami walau berada di tubuh Zen
2024-09-22
0
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
woyy Zen kamu yakin?
2024-09-22
0
Chie📴
Kai mau aku bisikin nggak klo Zeyan kerasukan roh ganteng🤣
2022-06-08
2