"Tuan Zen! Tolong ijinkan kita saja yang menghadapi mereka. Tuan Kai pasti akan sangat marah, jika mengetahui Tuan Zen berkelahi di kampus ..." seorang pengawal berkata kepada Zen saat mereka melenggang bersama menuju halaman belakang kampus.
"Itu semua benar, Zen! Aku khawatir kau akan terluka." sahut Bai Xi sedikit khawatir. "Dan tentu saja aku mengkhawatirkan karirmu. Aku takut mereka akan melakukan sesuatu yang buruk untuk mencelakaimu!" imbuh Bai Xi.
"Kalau aku tidak menghadapinya sendiri, maka mereka tidak akan pernah berubah! Mereka akan terus-terusan berbuat seperti ini lagi dan lagi di masa mendatang. Maka aku harus melakukan sesuatu." ucap Zen dengan tegas.
"Tapi Tuan ..." ucap salah satu pengawal belum menyelesaikan ucapannya karena Zen segera memotongnya.
"Tenang saja, Vann. Aku akan baik-baik saja! Dan kak Kai tidak akan mengetahuinya." ucap Zen memotong ucapan Vann, salah satu pengawalnya yang berambut gondrong keemasan dan dikucir.
Kedua pengawal itu saling bertatapan dengan ekspresi putus asa, karena bingung melihat tingkah Tuan-nya yang begitu sembrono kali ini.
Langkah demi langkah mereka kini membawa mereka hingga kini sampai pada halaman belakang kampus yang sudah sedikit sepi. Ternyata disana sudah ada keempat mahasiswa itu dengan gaya songong mereka. Ada yang menikmati rokok mereka, ada yang hanya berbaris berdiri tegap menanti kedatangan Zen.
"Berhati-hatilah, Tuan ..." ucap Vann salah satu pengawal Zen.
"Iya, Zen! Berhati-hatilah!" imbuh Bai Qi menepuk bahu kiri Zen.
"Hhm ... Aku akan baik-baik saja kok!" Zen menyauti dengan santai, sementara sepasang mata Okavango blue diamondnya masih menatap tajam keempat mahasiswa yang sudah menantinya.
"Wah ... Kau datang juga rupanya." ucap Zhang Wei, yang merupakan pemimpin dari mereka. "Aku kira kau akan lari terbirit-birit karena ketakutan ..." imbuhnya dengan nada mengejek. Seketika ketiga mahasiswa lainnya kini tertawa terbahak-bahak.
"Untuk apa aku takut kepada kalian?! Itu adalah sebuah penghinaan untukku!" Zen menyauti dengan begitu tajam.
"Wah! Masih berusaha untuk terlihat keren ya!" kini mahasiswa yang bernama Lin Fang tersenyum sinis menatap Zen. "Kalau begitu langsung kita mulai saja!" kini pria itu berlari ke arah Zen dan mengepalkan kedua tangannya.
Berulang kali Lin Fang melayangnya tinjunya namun Zen selalu saja menghindarinya dengan baik. Bahkan gayanya terlihat begitu santai, dengan kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana sembari menghindari serangan demi serangan.
Hingga akhirnya Lin Fang sudah mulai kelelahan dan malah ambruk karena sudah cukup banyak kehilangan tenaganya.
BRRUUGGHH ...
Terlihat begitu lucu ... Yang menyerang malah ambruk begitu saja! Konyol!
"Dasar sampah!" kini salah satu mahasiswa yang bernama Sang Yuan Yi mulai bersiap untuk menyerang Zen. Dia melakukan tendangan putar dan Zen menunduk untuk menghindari serangan itu. Selanjutnya mahasiswa itu mau melakukan tendangan dengan kaki kanannya, namun Zen menjegal kaki pria itu dan dia ambruk saat melayangkan kaki kanannya.
BBRRUUKK ...
Kini Zen melangkahkan kakinya mendekati Zhang Wei dan satu temannya lagi yang bernama Lee.
"Bagaimana? Apa masih mau lanjut?" tanya Zen sambil tersenyum sinis menatap mereka berdua.
Aku bahkan belum mengeluarkan kemampuanku sama sekali. Dari tadi aku hanya menghindari serangan mereka berdua! Andai aku tak terikat sebagai mahasiswa disini, atau menjaga nama baik bocah ini ... Aku akan benar-benar membuat mereka cedera seumur hidup! Bocah-bocah seperti mereka ini harusnya diberi sedikit pelajaran!
Batin Zen memicingkan sepasang matanya menatap kedua pria yang sedang berdiri di hadapannya itu.
Zhang Wei dengan cepat meraih sesuatu di dalam saku pakaiannya, dan ternyata itu adalah sebuah pisau lipat. Dengan cepat dia mengayunkan pisau lipat itu ke arah Zen.
Namun belum sempat Zen mematahkan serangan itu, sesuatu yang tak terduga tiba-tiba saja terjadi. Seorang gadis tiba-tiba sudah berdiri menghadap Zen dan menerima tusukan di bagian tubuh belakangnya. Yeap, gadis itu berusaha melindungi Zen.
Semua orang yang berada di tempat itu dibuat sangat terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Begitu pula Zen. Matanya membelalak menyaksikan seorang gadis yang tak dia kenal tiba-tiba saja berusaha untuk melindunginya.
Saat gadis itu mau ambruk, Zen segera meraihnya. Bai Xi dan kedua pengawal Zen kini juga mulai mendekati mereka.
"Lian!" teriak Zhang Wei histeris lalu meraih tubuh gadis yang sudah berlumuran darah bagian belakangnya. "Li Lian!" teriaknya lagi yang terlihat begitu khawatir.
Siapa lagi sebenarnya gadis bernama Li Lian ini? Apa dia juga dekat dengan Zen selama ini? Lalu kenapa Zhang Wei terlihat begitu khawatir? Apakah ini semacam cinta segitiga? Ah, anak muda selalu saja!
Batin Zen lalu memegang keningnya karena merasa sedikit pusing.
"Bocah! Jangan hanya bisa menangis!" hardik Zen dengan sedikit tegas. "Cepat bawa dia ke ruang medis di kampus ini!" imbuh Zen lagi.
Dengan cepat kini Zhang Wei segera membopong gadis bernama Li Lian untuk segera dibawa ke ruang medis.
"Siapa gadis bernama Li Lian itu?" tanya Zen sedikit ada rasa penasaran. Dia bahkan berusaha melindungi Zen.
"Selama ini Zhang Wei selalu mengejar-ngejar dan sangat menyukai Li Lian. Namun ... Li Lian tak pernah menerima Zhang Wei." sahut Bai Xi menjelaskan.
"Lalu mengapa dia berusaha melindungi Zen? Uhm ... Maksudku mengapa dia berusaha melindungiku?" ucap Zen sambil mengibaskan tangannya.
"Kalau menurut pengamatanku sih, Li Lian itu menyukaimu, Zen."
"Sudah kuduga!" gumam Zen pelan.
"Hhm, Apa kau bilang?" tanya Bai Qi lagi.
"Bukan apa-apa kok!" sahut Zen dengan senyum tipis dan menepuk bahu Bai Xi.
"Tuan, Tuan Kai sudah menunggu kita di luar." ucap Vann si pengawal menyela pembicaraan Zen dan Bai Xi.
"Baiklah. Kita pergi saja." sahut Zen lalu menggendong ranselnya kembali. "Bai Qi, kau mau pulang bersama?"
"Tidak, Zen. Aku harus pergi ke suatu tempat setelah ini." sahut Bai Xi dengan ramah.
"Hhm. Baiklah. Kalau begitu aku duluan ya."
"Okey!" Bai Xi tersenyum lebar menatap Zen.
Zen dan kedua pengawalnya segera melenggang meninggalkan Bai Xi. Mereka bertiga berjalan menyusuri jalan utama Beijing Wan Chai University menuju gerbang utama. Mereka seakan sedang melewati sebuah karpet merah saja. Semua pandangan dan perhatian tak pernah terlepas memperhatikan Zen.
Mereka hanya menatap dari kejauhan dan saling bersorak, "Wow ... Li Zeyan memang sungguh sempurna! Tampan luar biasa dan tinggi sekali!"
"Aku sungguh merasa beruntung sekali bisa satu kampus bersama Pangeran Zen! Paling tidak aku bisa melihatnya secara langsung hampir setiap hari!" gumam mahasiswi yang lainnya lagi dengan takjub.
"Setiap hari aku akan sangat bersemangat untuk pergi ke kampus! Karena ada vitamin di kampus! Ahaha ..." celutuk seorang mahasiswi lainnya.
Dan tentu saja masih banyak lagi komentar-komentar dari mereka. Selain banyak yang iri dan membencinya, namun Zen juga masih dicintai banyak orang.
...⚜⚜⚜...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
walau banyak haters, masih lebih banyak idolfans yg menyukai dan mendukung mu li Yezan!
2024-09-15
1
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
hha salah ngomong kan
2024-09-15
1
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
woyy jgan pke senjata lah, curang! selain itu bahaya lah
2024-09-15
0