Zen melengang dengan gayanya yang begitu keren. Berjalan dengan gagahnya dengan kedua tangan dimasukkan ke dalam saku blazernya.
"Wah. Setelah terbangun dari koma dia terlihat lebih keren dan berkharisma saja!" terdengar crue Tv itu saling berbisik.
"Benar sekali! Aku sampai tidak percaya kalau yang terekam di dalam video itu adalah Li Zeyan yang sekarang. Mereka sangat berbeda!" bisik yang lainnya lagi.
"Asal punya banyak uang bukankah sudah beres? Dia memang sudah kaya dari sananya!" celutuk crue Tv yang lainnya lagi.
Zen yang sedang berjalan tepat di depan mereka tiba-tiba menghentikkan langkah kakinya, lalu menatap mereka bertiga dengan sorot mata yang begitu tajam.
"Apa mulut kalian mau aku bereskan juga dengan uang?" ucap Zen begitu sinis.
Skak Mat. Seketika ketiga crue pria itu hanya menunduk tak bisa berkata-kata lagi. Mungkin mereka bertiga sedikit kebingungan dengan perubahan sikap Zen.
Zen kembali melenggang meninggalkan mereka bertiga lalu pergi ke ruang make up bersama kak Kai.
Para make up artis mulai merias Zen dan juga aktor dan aktris lainnya di dalam ruangan itu. Ternyata ada Jia Li yang sedang di dandani juga di ruangan itu.
"Hai, Zen!" Jia Li menyapa Zen sambil melambaikan tangannya kepada Zen dengan senyum lebar. Sedangkan Zen hanya menanggapinya dengan senyum tipis saja dan kembali membaca sebuah majalah.
"Bacalah lagi dulu naskahmu! Aku khawatir kau juga sudah melupakannya." ucap kak Kai sambil menyodorkan naskah kepada Zen.
Zen meletakkan majalah tadi lalu mulai membaca naskah yang diberikan oleh kak Kai. Tiba-tiba dis mengkerutkan keningnya dan sedikit tersenyum gemas.
"Hanya begini? Akting hari ini adalah menyelamatkan seorang gadis dari para perampok?" ucap Zen tersenyum meremehkan.
"Ya. Hari ini hanya itu. Namun ada sedikit masalah ..." ucap kak Kai yang terlihat sedikit kebingungan.
"Hhm? Masalah apa?"
"Stunt man hari ini sedang berhalangan karena terjadi kecelakaan saat dalam perjalanan ke lokasi shooting. Kita harus mencari stunt man pengganti secepatnya!" ucap kak Kai sedikit gelisah. "Pelajari saja naskahmu dan tak perlu kau pikirkan yang lainnya! Aku akan menemui sutradara dulu!"
"Hhm ..." Zen menyauti dengan malas dan mulai membaca kembali naskah itu.
Kagami Jiro ... selain sangat kuat, dia adalah pria yang sangat cerdas dan cerdik. Dia juga memiliki IQ di atas rata-rata. Dan sebenarnya dia adalah seorang peretas yang cukup hebat!
"Hhpp ... hanya begini saja 5 menit pun aku sudah hafal dan menguasai semuanya dengan baik!" ucapnya dengan tersenyum meremehkan lalu melempar naskah itu di meja rias.
"Hattchhhuu ..." Zen kini bersin ketika brush-brush itu mulai menyapu wajah tampannya yang begitu lembut, bersih dan tentunya tak pernah luput dari perawatan. "Bisa tidak kau melakukannya dengan baik tanpa membuatku bersin?!" ucap Zen sedikit berteriak kepada make up artis yang kini sedang meriasnya.
"Uhm, Maafkan saya ..." gadis perias itu menyauti dengan sedikit ketakutan dan menunduk.
Tidak seperti biasanya. Biasanya dia sangat ramah.
Batin gadis itu sedikit kebingungan lalu melanjutkan kembali merias Zen dengan lebih berhati-hati.
.
.
.
.
.
Di dalam drama itu, Zen berperan sebagai seorang pelajar yang bertemu kembali dengan teman masa kecilnya yang sudah lama terpisah. Pertemuan kembali mereka adalah secara tidak sengaja ketika dia tak sengaja menolong gadis itu dari jeratan beberapa preman jalanan.
Saat itu di harus bertarung mengalahkan para preman itu, dan tentu saja pada adegan ini GD Entertaiment juga mempersiapkan seorang stunt man untuk menggantikan peran Zen saat berkelahi melawan mereka.
Yeap, seperti biasanya. Pada adegan perkelahian seperti ini, biasanya memang Zen selalu digantikan oleh seorang stunt man.
Zen bisa berakting dengan baik sampai saat ini, dari adegan saat di sekolahan sampai akhirnya cut karena waktunya scene perkelahian bersama para preman itu.
"Zen! Apa kau sedang ada masalah? Kualitas actingmu hari ini sedikit berkurang! Kurang menjiwai!" kata Sutradara mengeluarkan uneg-unegnya.
"Maaf, Sutradara A Meng Sebenarnya setelah kecelakaan itu, Zen sedikit mengalami amnesia. Jadi mungkin gara-gara itu kemampuan acting Zen juga sedikit berkurang." kak Kai menjelaskan dengan sopan.
Sementara Zen terlihat begitu cuek, duduk bersandar pada sebuah kursi dengan satu kaki terangkat di atas kaki yang lainnya. Kedua tangannya disilangkannya di depan dadanya.
"Baiklah. Untung saja wajahmu tampan! Jadi tidak akan terlalu kentara." sutradara A Meng menyauti dengan santai "Tapi untuk selanjutnya aku harap kamu bisa lebih baik lagi!" imbuhnya lagi.
"Hhm ... Akan aku usahakan!" sahut Zen dengan cuek.
Ah, Untung saja semasa muda aku pernah ikut kelas teater. Aku masih bisa mengatasinya sedikit walaupun mungkin tak sebaik ackting Zen yang sebenarnya!
Batin Zen yang kini duduk bersantai di sebuah kursi untuk menyaksikan scene stunt man yang akan menggantikan dirinya untuk melawan preman-preman itu.
Namun beberapa saat masih tidak ada tanda-tanda kehadiran stunt man itu.
"Cepat keluarkan stunt man itu!" perintah sutradara A Meng dengan toaknya, dia terlihat sudah tidak sabar karena sudah cukup lama menunggu.
"Pak!" seorang crue Tv tiba-tiba mendatangi Sutradara A Meng dengan raut wajah sedikit gelisah. Dia ingin menyampaikan sesuatu namun terlihat sedikit ketakutan.
"Ada apa? Cepat katakan!" perintah sutradara A Meng dengan tegas. Meskipun sudah berumur 40 tahun, namun dia masih terlihat cukup tampan dan berwibawa.
"Begini ... Stunt man pengganti juga sedang tidak bisa hadir, Pak!" ucap crue itu memberanikan diri dan berbicara ketar-ketir.
"Apa?!" suara menggelegar terdengar ke udara begitu saja dari sutradara A Meng. "Kalian memang tidak becus ya menangani hal seperti ini saja! Aktor besar kita sudah disini? Tidak mungkin kita menghentikan pekerjaan hari ini begitu saja!" imbuhnya dengan raut wajah yang sudah memerah padam.
"Ma-Maafkan saya, Pak. Tapi saya sudah berusaha menghubungi semua stunt man. Dan entah kenapa mereka berhalangan hadir semua hari ini ..." crue itu berbicara dengan sedikit gemataran dan menunduk ketakutan.
"Aku tak peduli dengan semua alasanmu! Tapi satu hal yang aku tau, kamu itu tidak becus!" sutradara A Meng melempar crue Tv itu dengan naskah yang sedang dia pegang.
Ternyata Zen sudah mengamati dan mendengar semua itu. Senyum misteriusnya kini menyembul begitu saja ketika sudut-sudut bibirnya mulai ditariknya.
"Sutradara A Meng!" Zen mengucap dengan sedikit lantang dan melengking dengan senyum lebar.
Seketika sutradara A Meng menatap Zen yang hanya duduk kira-kira 3 meter darinya.
"Aku akan melakukannya sendiri!" ucap Zen dengan penuh percaya diri. "Tak masalah jika tidak memakai stuntman sekalipun! Lagipula jika memakai stuntman itu bukannya sama saja kita sudah menipu orang-orang?" ucap Zen dengan penuh percaya diri dan senyum meremehkan.
Semua orang yang berada di sana kini dibuat melongo dengan ucapan Zen yang baru saja dilontarkannya.
"Zen! Apa yang kau katakan?!" pangkas kak Kai sedikit terkejut. "Itu akan sangat berbahaya! Bagaimana jika kau terluka? Mereka adalah preman-preman nyata yang sedang disewa! Kau bisa terluka! Tidak boleh! Wajah dan semua tubuhmu adalah asetmu yang sangat berharga!" imbuh kak Kai yang menentang keras keputusan Zen.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 365 Episodes
Comments
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
uhukk Kagami lembut dikit lah sama seorang gadis
2024-08-08
0
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
itu mah makanan sehari2 Kagami, kalian pasti bakal tercengan melihat aksinya nanti!
2024-08-08
0
ℛᵉˣ𝓐𝔂⃝❥ 𝙹𝙸𝙽 ◌ᷟ⑅⃝ͩ●
Ada hikmahnya ya mengalami koma, selain bertambah good locking juga jiwanya lebih kuat krn berjiwa Kagami Jiro si Pemimpin Zakuya
2024-08-08
0