Dirga membuang nafasnya kasar melihat Kara yang sama sekali tak menghiraukan panggilannya, gadis itu justru terus berjalan lurus sambil melambaikan tangan tanpa berbalik. Dan kehadiran lelaki yang berlari dengan cepat menyusul Kara setelah mengobrol dengan bu Irma semakin membuat Dirga kesal. Baru dua hari di tahun ajaran baru tapi sebanyak itu pula dirinya dibuat kesal oleh Lengkara.
“Heran dah susah banget dibilangin!” gerutu Dirga. Dia kembali menghampiri bu Irma dan membantunya memeriksa kelengkapan atribut hingga menghukum siswa siswi yang datang terlambat.
Berdiri di samping gerbang dan menyaksikan siswa yang mendapat teguran dari bu Irma tak lagi menyenangkan tanpa adanya Lengkara. Tetangga depan rumahnya itu termasuk salah satu siswa yang tak mau kalah dan tak mau disalahkan, bagi Dirga melihat Kara yang selalu berusaha mengelak saat hendak dihukum sangat menyenangkan. Gadis itu terlihat menggemaskan setiap kali memohon dan melakukan negosiasi dengan bu Irma, meskipun akhirnya dia tetap kena hukuman.
Tapi pagi ini, gadis imut berambut panjang itu tak ada di sekitarnya,membuat Dirga merasa bosan meski ada Deva di sisinya yang selalu mencari perhatian. Bukan tanpa alasan selama ini meninggalkan Kara, tujuannya tentu supaya gadis itu terlambat dan bisa berlama-lama melihatnya menyapu daun mangga sambil menggerutu. Sungguh menggemaskan, namun sialnya hari ini pemandangan itu tak ada lagi.
“Dirga, hari ini kamu nggak usah ngehukum siswa.” Ucap Bu Irma.
“Ke ruang guru saja temui bu Dini. Hari ini jadwal MPLS tentang organisasi sekolah, selaku ketua OSIS kamu juga harus mengenalkan kegiatan-kegiatan OSIS supaya menarik siswa baru untuk ikut berorganisasi.” Jelasnya.
“Baik, bu.” Jawab Dirga.
“Gimana kalo saya temenin Dirga juga bu?” usul Deva.
“Ya sudah sana.” Balas bu Irma memberi ijin.
“Dirga, tungguin!” Deva sedikit berlari mengejar Dirga yang sudah pergi lebih dulu.
“Cepet banget sih jalannya.” Deva memegang lengan kiri Dirga yang langsung membuat pemiliknya berhenti dan menatap ke arah tangannya.
“Sorry.” Deva melepas pegangannya begitu melihat tatapan Dirga yang tak suka disentuh olehnya.
Dirga tak menanggapi ucapan Deva, dia kembali melanjutkan jalannya. Sementara Deva terus berjalan di sampingnya.
“Ke ruang guru lewat sini aja, Ga. Lebih deket.” Ucapnya saat Dirga malah berjalan lurus saat seharusnya mereka berbelok ke ruang guru.
“Lo aja yang ke ruang guru temuin bu Dini. Gue langsung ke kelas aja.” Jawab Dirga.
“Tapi kan kelasnya di sebelah sana, Ga!” Deva menunjuk deretan kelas 10 yang berada tak jauh dari ruang guru.
“Gue ada perlu bentar sama anak-anak di kelas. udah lo ke ruang guru aja, ntar gue abis dari sana langsung ke kelas 10.” Balas Dirga yang pergi begitu saja tanpa menunggu jawaban Deva.
Dirga berjalan cepat melewati beberapa siswa yang masih santai di depan kelas meskipun bel masuk sudah berbunyi. Bukan hal aneh, minggu pertama di tahun ajaran baru memang kegiatan belajar mengajar belum dimulai dengan efektif. Sebagian besar guru masih sibuk mengisi kegiatan pengenalan lingkungan sekolah pada siswa baru sehingga siswa kelas 11 dan 12 memiliki waktu yang cukup bebas. Kegiatan belajar mengajar biasanya baru akan benar-benar-benar efektif dimulai pada minggu kedua.
Bukan kelasnya yang menjadi tujuan saat ini melainkan kelas adik kesayangannya. Setidaknya sebelum kembali mengisi kegiatan masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) Dirga harus memastikan keadaan Kara baik-baik saja, mengingat gadis itu kemarin sakit.
Meski masih kesal karena Kara berangkat dengan lelaki yang belum ia kenal tapi Dirga cukup lega melihat Kara duduk di depan kelas sambil bersenda gurau dengan kedua sahabatnya.
“Jangan sakit yah, hari ini gue sibuk sampe siang.” Batinnya yang kemudian memutar langkah menuju kelas 10.
“Kirain mau kesini eh malah puter balik.” Ucap Selvi yang tak sengaja melihat Dirga menatap mereka dari kejauhan.
“Siapa, Sel? Si ganteng kah?” timpal Dila.
“Dirga.” Jawab Selvi.
“Mana-mana?” tanya Kara.
“Tuh balik anaknya.” Kata Selvi.
“Gue kira dia mau nyamperin lo, soalnya lumayan lama ngeliatin kesini.” Sambungnya.
“Tau lah kesel gue sama Dirga!”
“Bisa yah lo kesel sama Dirga, Ra?” ledek Dila, dia tau betul sahabatnya itu bucin nggak ada obat pada Dirga.
“Kesel lah gue ditinggalin mulu.” Kesal Kara.
“Bukannya biasanya juga ditinggalin?” cibir Dila.
“Dila Dilot!” Kara mencubit kedua pipi Dila hingga gadis itu memohon ampun.
“Nggak usah diperjelas gitu ngomongnya, kesannya kayak gue cinta mati gitu.” Lanjutnya.
“Lah emang iya kan? Dari kelas 10 loh Ra. Gue nggak abis pikir bisa-bisanya lo masih aja nguber Dirga yang jelas-jelas cuma nganggep lo adek.” Kali ini Selvi yang berbicara.
“Lo tuh cantik, banyak yang suka, pinter juga. Tapi kenapa sih lo nggak pake otak lo, Ra? Gue yang liat aja greget.”
Kara hanya meniup poninya berulang kali. Ia tau betul yang dilakukannya selama ini terkesan bodoh, masih terus berharap Dirga bisa menganggapnya sebagai perempuan, bukan adik.
“Ya mau gimana lagi sih kan cinta nggak pake otak, Sel. Pakenya hati. Dan hati gue udah mentok ke My Dirgantara.”
“Ya jangan dipentokin lah, Ra. Geser kanan kiri maju mundur apa gimana kek, kali aja bisa mentok sama yang lain.” Ucap Dila.
“Lo kira hati gue ini mobil yang lagi parkir apa? Bisa geser sana sini.” Balas Kara.
“Btw ini si ganteng kemana sih kok nggak kelihatan lagi yah? Tadi tuh anak cuma bilang mau beliin kita minuman kan, Ra?” Dila celingukan mencari Tama yang pergi beberapa saat lalu.
“Tama maksud lo?”
“Iya lah siapa lagi.” Timpal Selvia.
“Si Dila kayaknya udah kesemsem sama Tama, Ra.” Lanjutnya.
“Emang lo nggak, Sel?” tanya Kara.
“Sorry aja gue nggak suka yang seumuran.” Selvia mengibaskan tangannya.
“Dia sukanya Om Om, Ra.” Ledek Dila.
Selvia menepuk keras punggung Dila.
“lo, kalo ngomong suka bener deh.” Selvia menanggapinya dengan tawa renyah.
"Om Om lebih hot lebih perkasa. Apalagi kalo yang duda." lanjutnya yang seketika membuat Kara dan Dila melongo.
"Pada cengo kan lo pada." Selvia menoyor kepala Dila dan Kara bergantian.
"Pada mikir apa lo berdua hah? pasti otak lo pada kotor yah minta disapuin!"
"Lo beneran suka sama Om Om, Sel?" tanya Kara masih dengan ekspresi terkejutnya.
“Gila aja gue sama Om Om! Lo berdua belum tau yah? Gue udah punya cowok. Udah nggak jomblo!”
“Mahasiswa.” Lanjutnya dengan senyum bangga.
“Wih keren lah temen gue ini.” Dila menepuk bahu Selvi pelan.
“Gue juga mau cari cowok kalo gitu. Yuk, Ra! Kita keliling cuci mata.” Dila menarik tangan Kara supaya mengikutinya.
"Males ah gue." ucap Kara.
"Eh tapi anak pada rame banget ke lapang basket, Ra. Kesana yuk!" ajak Dila.
"Ayo lah!! Kayaknya si Tama juga ada di sana deh."
"Nah tuh kan bener. Liat nih cakep banget dia kalo pake stelan basket." Dila memamerkan unggahan foto yang ia lihat di grup kelas.
"Yuk buruan!" Dila berdiri lebih dulu kemudian menarik tangan Selvi dan Kara.
Pada akhirnya Kara dan Selvia pasrah menuruti Dila yang bahkan membeli air mineral dan membawanya ke lapangan basket. posisi lapang basket out door yang terletak di belakang bangunan kelas 10 membuat teriakan-teriakan histeris para penonton samar-samar terdengar. Dirga yang sedang berbicara di depan kelas bahkan ikut menengok melihat ke arah lapang basket. Alih-alih seperti siswa baru yang terlihat tertarik pada pertandingan yang sedang berlangsung, Dirga justru mengepalkan tangannya melihat Kara dan Tama terlihat mengobrol. Baginya ruang kelas ber AC itu mendadak terasa panas dan pengap saat Kara memberikan botol air mineral pada Tama.
"Dirga, lo kenapa?" tanya Deva, heran dengan raut wajah Dirga yang tiba-tiba berubah masam padahal sebelumnya dia begitu ramah memberikan pangarahan pada siswa baru.
"Nggak apa-apa. Gue minta tolong lo handle sisanya yah, Dev! Gue keluar dulu, disini panas banget. kayaknya AC nya rusak." ucap Dirga kemudian berlalu meninggalkan kelas.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Tika Rotika
sokooor loh Dirga 😂😂😂
2023-06-25
0
Qaisaa Nazarudin
Itu bukannya Cinta,Tapi Obsesi..
2023-05-25
0
Isnaya faniati
bukan AC nya yg rusak tapi hati Luh tuh yg rusak dir lagian Ning galin.kara Mulu
2022-11-21
0