"Ra, kok malah naik angkot sih? Katanya tadi mau pulang bareng si ganteng?" Protes Dila namun tetap mengikuti sahabatnya menaiki salah satu angkutan umum itu.
"Si ganteng?"
"Itu Tama maksudnya." Jelas Selvia.
"Segitu doang lo bilang ganteng, Dil?" Tanya Kara.
"Buat gue sih ganteng. Tapi buat lo kayaknya nggak yah? Secara buat lo yang ganteng cuma Dirga aja." Ucap Dila.
"Nah itu lo paham. Seratus dah buat lo." Kara menepuk bahu Dila yang hanya ditanggapi dengan gelengan kepala.
"Udah bisa senyum lo yah? Udah nggak sakit itu perut?" Tanya Selvia.
"Masih sakit dikit, tapi udah nggak kayak tadi. Tadi sakit banget gila, ini perut berasa kayak baju yang diperes sebelum dijemur." Jawab Kara.
"Kayak tau aja caranya meres baju, sampe bilang kek gitu. Gue jamin lo nyuci juga nggak pernah dah." Cibir Dila.
"Emang nggak pernah sih." Kara menjawabnya sambil tersenyum dan menggaruk kepalanya yang tak gatal sama sekali.
"Kan gue anak sultan, ngapain nyuci. Kasihan si bibi ntar gajinya di potong sama mami gara-gara gue nyuci sendiri. So, gue nggak pernah nyuci bukannya nggak bisa tapi karena memikirkan kesejahteraan orang lain." Imbuhnya.
"Bisa aja ngelesnya dasar." Dila menoyor kepala Kara hingga gadis itu mengaduh penuh dramatisir.
"Kekerasan anak dibawah umur nih!"
Ck!! Selvia menggelengkan kepala melihat tingkah kedua sahabatnya.
"Nggak usah so jadi anak dibawah umur deh, Ra. Bentar lagi juga lo 17 tahun."
"Iya duh 17 tahun gue bentar lagi yah. Udah mau punya KTP, berarti gue udah bisa daftar nikah."
"Otak lo, Ra! Nikah mulu isinya! Udah kebelet nikah lo? Calon suami aja nggak nganggep!" Ucap Selvia yang seketika membuat senyum Kara menghilang.
Dila dan Selvia saling pandang melihat raut wajah Kara yang mendadak murung.
"So sorry, Ra!"
"Kenapa? Ngerasa bersalah? Nggak apa-apa kok, i am ok. " Ucap Kara.
"Sekarang emang dia belum ngakuin gue, tapi liat aja nanti gue jamin Dirga yang bakal ngemis-ngemis nikah sama gue." Lanjutnya dengan kembali tersenyum.
"Yuk Kara yuk! Lo pasti bisa." lanjutnya menyemangati diri sendiri.
"Gitu mulu dari kelas 10, Ra. Tapi sampe sekarang belum bisa juga. Mending lo sama Tama aja deh, gue dukung seratus persen Ra." Ucap Selvia.
"Iya gue juga dukung, Ra." Sambung Dila.
"Apaan sih kayak partai politik pake dukungan segala. Pokoknya gue maunya Dirga. My Dirgantara, my future husband." Ucap Kara.
"Lagian nih yah kalo Tama gue belum kenal itu anak kayak gimana. Kalo Dirga kan gue udah kenal luar dalemnya dari kecil. Dari jaman dia nemenin gue main boneka-bonekaan. Gue bukan tipe cewek yang madang fisik doang yah."
"Udah lah Dil, susah emang kalo ngomong sama orang yang bucin tingkat dewa." Sela Selvia.
"Ini angkot lama amat sih nggak jalan-jalan, panas banget dah." Selvia mulai mengibas-ngibaskan telapak tangannya.
"Naik mobil gue aja yuk, Ra? Gue anterin deh, dijamin selamat sampe tujuan tanpa lecet sedikit pun." Bujuk Selvia.
"Nggak mau ah." Tolak Kara.
"SIM lo dapat nembak. Keselamatan nggak terjamin, ya nggak Dil?" Lanjutnya.
"Iya bener, Ra. Kemaren pas hari libur terakhir Selvi nambrak kang pecel pinggir jalan, abis uang kita buat ganti rugi." Ucap Dila.
"Yaelah kemarin nggak sengaja, tukang pecelnya aja yang jualannya terlalu deket sama jalan." Kilah Selvia.
"Udah yuk naik mobil gue aja!" Ajaknya lagi dan Kara hanya menggelengkan kepala.
Sst! Dila meletakan jarinya di depan bibir.
"Tama tuh!" Ucapnya sambil menunjuk pada lelaki yang baru saja keluar dari brio hitam.
"Tuh kan nyariin kita, turun yuk!"
"Biarin aja. Jalan mang!" Ucap Kara pada supir angkot.
"Nunggu penuh neng."
"Udah jalan aja, aku bayar full deh." Jawab Kara hingga akhirnya supir melajukan angkotnya yang belum penuh.
Angkot perlahan menjauh dari lingkungan sekolah, tak lama setelah itu Kara melihat Dirga yang baru saja melewati angkot yang ia tumpangi.
"Gila calon suami gue dari belakang aja keliatan cakep yah."
"Terserah lo lah, Ra. Susah emang kalo udah cinta mati." ucap Selvia.
Saat angkot kian mendekati jalan tempat tinggalnya, Selvia dan Dila yang memang berdomisili di perumahaan yang sama mulai bersiap-siap untuk turun.
"Beneran nggak perlu kita temenin sampe rumah, Ra?" tanya Dila.
"Nggak usah, kalian pulang aja. Gue sendiri nggak apa-apa kok. Perut gue juga udah nggak sakit-sakit amat."
"Beneran yah? pokoknya kalo lo butuh apa-apa telpon aja. Kita pasti langsung otw." ucap Selvia.
"Sip oke." balas Kara sambil mengacungkan jempolnya pada Dila dan Selvia.
"Jalan mang. Nanti mampir dulu ke apotik depan sana yah." ucapnya lirih.
Sementara itu di tempat lain, Dirga sudah sampai di rumahnya. Dia melirik ke rumah Kara sebelum masuk, masih sepi.
"Assalamu'alaikum, mom aku pulang." ucapnya begitu turun dari motor. Tangan kanannya membawa kantong kresek putih dan langsung menyalami mommy Miya yang sedang mengobrol dengan adiknya di teras.
"Walaikumsalam. Pulang bareng Kara kan?" tanya Miya.
"Tadi maminya ngomel, katanya Kara kamu tinggalin?" lanjutnya karena tak mendapat jawaban sang putra.
"Iya tadi aku tinggalin, mom. Abis dia berisik ngomel terus nggak selesai-selesai." balas Dirga.
"Besok jangan diulangi lagi. Tapi barusan kalian pulang bareng kan?"
"Kayaknya nggak pulang bareng deh, mom. Tuh Kaleng baru sampe." Sasa, adik Dirga menunjuk Kara yang hendak masuk ke rumahnya.
Sebelum masuk ke dalam rumah Kara menyempatkan diri melihat ke rumah tetangganya. Kara hanya tersenyum ramah dan melambaikan tangan pada Sasa dan mommy Miya.
"Dirga!!" teriak mommy Miya.
"Kamu ninggalin Kara lagi?"
"Bukan aku yang ninggalin, dia yang ninggalin aku mom." balas Dirga kemudian berlalu masuk.
"Paling kakak yang ninggalin lah. Ngaku aja!" teriak Sasa yang berjalan membuntutinya.
"Iya kan kakak ninggalin Kaleng?"
"Kakak tuh jangan so cuek sama Kaleng, Sasa tau kok kakak sayang sama Kaleng. Jangan sampe Kaleng pindah ke lain hati, kak!"
"Iya gue sayang sama dia, kaya gue sayang sama lo, Sa!" balas Dirga yang sedang menaiki anak tangga tanpa menoleh pada adiknya.
"Pokoknya Sasa maunya Kaleng yang jadi kakak ipar Sasa. Kak Lengkara seorang titik no debat!"
"Kaleng yang paling the best, paling ngertiin Sasa." cerocos gadis kelas 10 yang masih terus mengikuti Dirga hingga ke kamar.
"Udah ngocehnya? gue mau ganti baju, lo nggak usah ikut masuk!" usir Dirga yang berdiri di depan pintu menghalangi adiknya supaya tak masuk.
"Balik ke kamar lo sana. Ganti baju, makan terus belajar nggak usah ikut campur urusan orang lain." ucapnya kemudian menutup pintu dan menguncinya.
Dirga mengabaikan Sasa yang masih terus menggedor pintu kamarnya, dia melemparkan tas dan kantong kresek berisi minuman obat untuk Kara ke ranjang. Kemudian melepas dasi yang ia kenakan dalam satu tarikan dan membuangnya asal. Entahlah mengingat Kara menolak ajakan yang ia tawarkan dan memilih pulang dengan orang lain membuatnya kesal.
"Dasar Lengkara, adik nggak tau diri, nggak bisa dibilangin, nggak bisa diatur. Ngeselin! Pasti dia sengaja biar gue dimarahin mommy!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Qaisaa Nazarudin
Kayaknya Kara terobsesi banget sama Dirga..
2023-05-25
0
Joveni
nyingkat namanya enak bget ya🤣🤣🤣🤣🤣
2022-09-14
0
Dewi Adiba
si reret retha anak pertama miya dan ardi kmanee thorr
2022-08-26
0