Kara yang sudah terlanjur melempar sepatunya bersikap masa bodoh dan memilih kembali ke rumah dari pada mengambil sepatu yang sudah terlempar jauh. Dengan sedikit berjinjit ia masuk ke dalam rumah, wajahnya cemberut kesal.
“Loh kok masih di sini? Bukannya udah berangkat dari tadi?” Tanya Rama yang baru saja keluar dengan diikuti Jesi yang menenteng tas kerjanya.
“Ditinggalin sama Dirga, Pi. Ngeselin ah calon mantu papi!” jawabnya dengan bibir yang masih mengerucut.
“Tungguin, Pi! Aku berangkat sekolah bareng papi aja. Anterin yah?”
“Ya udah ayo berangkat, nanti keburu macet.” Ucap Rama.
“Bentar, Pi. Aku ganti sepatu dulu.” Kara menunjukan kaki kirinya yang tanpa sepatu.
“Lah sepatu sebelahnya kamu kemanain?” kali ini suara Jesi yang bertanya.
“Aku lemparin ke Dirga, tapi nggak kena.” Kara berlalu masuk ke dalam rumah.
Jesi memijit keningnya yang mendadak terasa pusing.
“Nih Pi tas kamu. Mami mau nyari sepatu Kara. Itu anak kebiasaan kalo ngambek suka ngelempar alas kaki. Bisa-bisa ntar sepatu pada ilang semua yang kiri.” Jesi memberikan tas Rama dan buru-buru keluar mencari sebelah sepatu anaknya sambil ngedumel.
Rama hanya tertawa sambil menggelengkan kepala melihat Jesi yang ngedumel keluar.
“Dasar Mami Jas Jus, nggak nyadar diri aja itu si Kara kayak gitu ngikutin siapa!”
“Papi kenapa ketawa?” Tanya Kara yang sudah kembali dengan sepatunya yang lain.
“Nggak apa-apa, sayang. Ayo berangkat!”
“Mami mana?” Kara celingak celinguk mencari maminya.
“Mami lagi nyari sepatu kamu, yuk berangkat.”
“Oh…” Kara mengangguk paham.
Baru beberapa meter mobilnya melaju, Rama menghentikannya tepat di dekat Jesi yang baru saja mengambil sepatu putrinya.
“Mi, papi berangkatnya.” Rama menurunkan kaca mobilnya hingga Jesi bisa menyalaminya.
“Mi, Kara nggak salim lagi yah. Tadi kan udah.” Ucapnya dari samping sang papi.
“Mi… mami ngapain ngambil sepatu aku ih? Kan di rumah masih banyak. Ntar mami dikira pemulung lagi.” Ledek Kara.
“Euh kalo bukan anak mami udah mami sumpel deh mulut kamu pake sepatu, Ra!” lama-lama Jesi jadi gemas sendiri.
“Kamu tuh kalo ngambek jangan kebiasaan lempar-lempar sepatu deh. Nggak nyadar apa sepatu kamu banyak yang sisa kanan doang!” mode emak-emak cerewet pun mulai on.
“Ya biarin aja, Mi. Kan di rumah masih banyak. Kalo sepatu aku abis tinggal beli lagi, kan papi aku sultan. Ya kan Pi?” Kara melirik Rama seraya menaikan alis meminta dukungan.
“Kara!!!” Jesi nyaris melempar sepatu di tangan kanannya pada dede bayi gemoy kesayangannya yang selalu tak mau kalah. Persis seperti arti namanya Ayudia, tak terkalahkan. Jesi tak pernah menyangka jika dede bayi gemoy kesayangannya tumbuh dewasa menjadi seperti ini, sering nyebelin tapi selalu bikin rame.
“Tuh kan pantes aja aku suka lempar-lempar sepatu, ternyata kebiasaan yang nurun dari Mami nih.” Celoteh Kara membuat Mami Jesi seketika menahan sepatu yang hampir ia lemparkan.
“Pi, buruan berangkat lah. Mami bisa naik darah nih lama-lama ngadepin Kara.”
Rama tersenyum kilas kemudian kembali melajukan mobilnya, “Papi berangkat yah.” Ucapnya sebelum pergi.
Setelah mobil melaju sedikit, Kara membuka kaca di sebelahnya dan menyembulkan kepala melihat ke arah Jesi.
“Mami, love you!” teriaknya sambil melambaikan tangan dan tertawa.
Jesi hanya tersenyum dan menggelengkan kepala, “huh! Dasar Kara!”
Rama memberhentikan mobil yang dikendarainya tepat di depan gerbang sekolah Kara. Suasana sudah cukup sepi karena mereka sedikit terlambat.
“Papi aku sekolah dulu.” Setelah mencium kilas punggung tangan papinya Kara langsung berlari menuju gerbang yang hampir tertutup.
“Huh huh…” dia bahkan sedikit ngos-ngosan hanya karena berlari sedikit.
“Hampir aja.” Ucapnya seraya membuang nafas lega, dia melirik ke jajaran beberapa siswa bersama guru BP yang siap menghukum siapapun yang terlambat.
"Eh mau kamana kamu Lengkara? sini!" Teriakan itu berhasil membuat Kara membuang nafasnya kasar dan berjalan menghampiri bu Irma, satu-satunya guru paling nggak best friend bagi Kara.
"Udah kelas 12 masih belum tobat kamu? kesiangan terus, nggak berubah dari kelas 10. Sebenernya kamu ngapain aja di rumah? kesiangan kok langganan!" Kara hanya komat kamit mengulang kata-kata bu Irma tanpa suara. Ia bahkan hapal betul kata-kata gurunya itu, 2 tahun lebih nggak berubah ceramahnya itu-itu aja terus.
"Nggak langganan juga bu, cuma kadang. Lagian kan barusan gerbangnya belum di tutup."
"Kara!" bu Irma meninggikan suaranya.
"Apa sih bu? ibu nggak cape apa baru awal masuk aja udah nyentak-nyentak aku? Sabar bu nggak sampe 1 tahun lagi aku lulus kok." ucap Kara dengan santainya.
"Lagian nih yah bu, ibu nggak bisa nyalahin aku sepenuhnya. Setiap kejadian itu ada sebab akibatnya, aku kesiangan kayak gini tuh bukan mau aku bu. cius deh bu..."
Kara memanyunkan bibirnya saat tak sengaja bertatapan dengan Dirga, menyebalkan begitu ia mengingat dirinya ditinggal tadi. Ditambah lagi melihat Deva, si centil yang paling so segalanya berdiri di samping Dirga. Huh lengkap sudah perusak moodnya pagi ini. Bukannya Kara tak mampu ikut organisasi kesiswaan dan ekstra kurikuler lainnya, otaknya sangat mampu bahkan beberapa senior sebelumnya berulang kali merekrutnya untuk bergabung tapi dirinya terlalu malas. Kara lebih senang menghabiskan waktu di rumah meski hanya sekedar nonton drama atau sekali jalan-jalan ke mall bersama teman-temannya.
"Ini semua tuh gara-gara Dirga, bu! calon suami nggak ada akhlak, ibu negara di tinggalin." gerutunya seraya melirik Dirga yang membalasnya dengan senyum mengejek.
"Awas aja ntar sampe rumah, Ga. Gue aduin ke mommy." ancamnya.
"Apa lo liat-liat? jangan deket-deket sama calon suami gue!" ucapnya pada Deva yang menatap kesal padanya. Siapa yang tak tau kalo Dirga calon suami Kara? seluruh siswa bahkan guru SMK Persada mengetahuinya karena sejak masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) 2 tahun silam gadis cerewet itu sudah mengklaim dirinya sebagai future wife Dirgantara Rahardian, namun tidak dengan Dirga yang tak pernah menanggapi hal itu dengan serius.
"Calon suami... calon suami.. datang sekolah aja masih terlambat udah bahas calon suami segala. Kasihan Dirga kalo punya istri kayak kamu, bisa-bisa tiap hari makan ati." sela bu Irma.
"Udah jangan kebanyakan ngomong, sapuin tuh bawah pohon mangga bareng yang lain." bu Irma memberikan sapu yang langsung diterima oleh Kara meski dengan wajah cemberut.
"Bu hukumannya yang lain kek jangan nyapuin daun mangga terus, bosen bu dari kelas 10." protesnya sembari menyapu asal.
"Kalo gitu lari 3 putaran!"
"Ya jangan lari juga bu, cape. Udah cukup aku lari-lari di hati Dirga aja bu jangan di lapangan. Mana mulai panas, ntar aku jadi nggak glowing kalo kepanasan." tawarnya lagi.
"Lengkara!!" Bu Irma jadi gemas sendiri, siswanya yang satu ini memang selalu punya banyak alasan untuk menghindar dari hukuman.
Kara merapatkan diri pada gurunya,
"bu jangan dihukum aja yah. Kita damai? ntar aku kirim set perlengkapan makan terbaru dari loveware." bisiknya bernegosiasi.
"Lengkara!!!" bu Irma malah menjewer Kara.
"Kecil-kecil udah belajar kolusi kamu yah! jangan banyak alasan, buruan nyapu!!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Hasnah Siti
🤣🤣🤣🤣
2023-01-27
0
Ati Pct
dari awal baca nyengir mulu dah akuuh udah kayak.bajing ajaaah.😜😁😁😁🤣🤣🤣🤣🤣
2022-12-22
0
ERna Khitiengkhan
Hhahahahah 🤣🤣🤣🤣
Bener bener duplikat Jessy
2022-12-08
0