Sakit perut apa sakit hati?

"Walaikumsalam!" Suara mami Jesi membuat Kara yang baru saja melangkah melewati ruang makan jadi berhenti. Dia berjalan menghampiri sang mami yang entah sedang memasak apa di dapur dengan neneknya.

"Kara kira mami nggak di rumah, abis sepi." Ucapnya seraya menyalami mami dan neneknya bergantian.

"Kebiasaan kamu tuh kalo masuk rumah main slonong-slonong aja!" Ucap Jesi.

Kara duduk di meja makan dengan lesu, hari ini ia bahkan kehilangan mood untuk bicara. Perutnya kembali terasa sakit. Jadilah dia hanya duduk pasrah menerima ocehan mami Jesi.

"Iya, mi. Besok-besok aku salam deh. Biasanya aku juga salam kok kalo ke rumah calon besan mami tapinya." Ucap Kara.

"Dasar pencitraan kami tuh!"

"Sudah-sudah, kalian itu ibu sama anak ribut terus. Kara kan baru pulang, biarin dia istirahat dulu sayang." Lerai mama Yeni.

"Nenek emang paling the best, paling ngertiin Kara." Kara langsung berdiri dan memeluk neneknya.

Jesi hanya menghela nafas panjang dan meneruskan masakannya.

"Ganti baju sana, biar mami siapin makan siang buat kamu."

"Kara nggak laper, mi. Kara pengen tiduran aja. Perut Kara sakit nih." Ucapnya seraya memegangi perut.

"Lagi dapet?" Tanya Jesi.

"Belum, mi. Tapi kayanya mau dapet nih. Dari di sekolah udah kayak gini, tadi aja aku nggak ikut upacara."

Jesi sudah paham betul kebiasaan putrinya sebelum datang bulan, anak gadisnya itu kerap mengeluh sakit perut.

"Makanya kamu tuh kalo jajan jangan yang pedes-pedes. Jadi kayak gitu kan tiap mau datang bulan pasti sakit perut."

"Kalo nggak pedes nggak enak, mi." Ucap Kara.

"Aku ke kamar dulu yah." Pamitnya kemudian.

"Iya, sana. Ganti baju terus balik kesini lagi, makan. Jangan langsung tidur siang." Ucap Jesi.

"Kara! Denger nggak mami ngomong!" Teriaknya karena Kara yang tak memberikan jawaban.

Ck! Jesi berdecak melihat sikap putrinya.

"Susah banget dibilangin. Pasti langsung tidur itu anak."

"Udah biarin aja, sayang. Kara kan emang gitu biasanya juga kalo mau datang bulan pasti sensi kayak maminya." Ledek Mama Yeni.

"Aku mana gitu, ma. Aku mah kan dulu selalu nurut. Ini pasti gara-gara dulu pas hamil aku ngidam pengen nonton konser BTS nggak diturutin sama Karam ma, makanya Kara jadi ngeselin kayak gitu." Kilah Jesi.

"Liat Ridwan tuh, ma. Beda banget sama Kara, dia anak bungsu tapi dewasa. Kara yang jadi kakak malah manjanya minta ampun. Soalnya waktu hamil Ridwan kan ngidamnya aku keturutan semua." Lanjutnya.

Mama Yeni hanya tersenyum mendengar ucapan Jesi. Jelas-jelas Kara adalah jelmaan dirinya sedang Ridwan mirip dengan papinya, eh menantunya itu malah mempermasalahkan ngidam.

"Ya kan, ma?" Ulang Jesi karena belum mendapat jawaban.

"Iya, sayang." Balas mama Yeni dari pada permasalahan jadi makin panjang.

Keduanya kembali fokus dengan masakan mereka. Cukup lama hingga semua menu makan siang sudah tersaji namun Kara belum juga turun.

"Ma, aku mau lihat Kara dulu yah." Pamit Jesi sambil membawa nampan berisi jamu dan makan siang untuk Kara. Setiap bulan dia memang rutin membuatkan jamu dari rempah pilihan untuk meredakan sakit perut Kara setiap menjelang haid.

Jesi langsung masuk ke kamar putrinya yang memang tak pernah di tutup pintunya kecuali jika ia tengah tidur. Kebiasaan dari kecil karena Dirga yang juga sering bermain di kamar putrinya sehingga Rama melarang kamar itu tertutup saat ada Dirga. Meskipun setelah beranjak dewasa Dirga jarang masuk ke kamar Kara, karena gadis itu yang malah sering main ke rumah Dirga. tapi kebiasaan itu masih tetap berlanjut sampai sekarang, Kara tak pernah menutup pintu kamarnya.

"Sayang, mami masuk yah." Jesi menggelengkan kepala melihat putrinya yang tertidur masih dengan seragam putih abu lengkap berserta tas yang masih ada di punggungnya. Begitu pun dengan sepatu yang masih melekat di kakinya.

Jesi meletakan nampan yang ia bawa di meja belajar Kara. Kemudian dengan telaten melepas sepatu putrinya.

"Punya anak gadis kayak gini amat." Gumamnya lirih.

"Kara sayang bangun... Makan dulu yah. Mami udah bawain makanannya." Jesi menepuk pelan bahu Kara.

"Kara nggak tidur, mi. Nggak usah dibangunin." Balas Kara lirih.

"Mami kira kamu tidur. Lain kali ganti baju dulu, ntar jadi kebiasaan!"

"Tadi juga mau ganti baju dulu tapi perut Kara sakit banget, mi." Gadis berambut panjang itu kian meringkuk dan memegangi perutnya.

"Bangun sini minum dulu jamunya, udah mami bikinin nih mumpung masih anget." Jesi beranjak mengambil jamu yang sudah ia buat lalu memberikannya pada Kara.

Kara justru menutup mulutnya dan menepis gelas itu jauh-jauh.

"Nggak mau ah, mi. Nggak enak."

"Enak, ini udah mami kasih madu. Manis. Ayo buka mulutnya minum dikit aja." Bujuk Jesi.

"Nggak mau, mami. Nggak mau." Dede bayi gemoy kesayangannya yang sudah beranjak dewasa itu justru kembali ke dalam mode bayi dan menangis penuh dramatisir.

"Hadeuh ampun dah. Punya anak gadis udah mau 17 tahun kelakuan kayak anak TK kalo disuruh minum jamu." Batin Jesi.

"Ya udah kamu maunya apa hm?" Tanya Jesi.

"Apa mau mami panggilin Dirga biar dia yang bantu kamu minum jamu hm? Kamu kalo di kasih jamu sama Dirga diminum mulu nggak pake protes, giliran sama mami nangis kejer." Lanjutnya.

"Eh eh kenapa malah makin jadi sih nangisnya?" Jesi jadi panik dan meletakan gelas jamu di nakas samping ranjang kemudian beralih memeluk putrinya.

"Sebenernya anak mami ini kenapa hm? Kamu ini sakit perut apa sakit hati hm? Bilang sama mami." Ucapnya Jesi bukannya menenangkan malah membuat Kara semakin terisak.

"Kenapa? Bilang sama mami kamu kenapa? Pulangnya ditinggal Dirga?" Tebaknya.

"Kan biasanya juga sering ditinggal." Imbuhnya.

"Mami ih!!! Malah ngeledek! Sebel." Kara langsung melepas pelukannya dan meringkuk di bawah selimut.

"Kenapa? Bilang sama mami!" Jesi membuka selimut yang menutup seluruh tubuh putrinya, tapi Kara kembali menariknya hingga kepala.

"Kalo Dirga nakal bilang sama mami. Biar mami hukum!"

"Mami tinggal yah, takut adik kamu pulang. Katanya mau sama temen-temennya kesini, ada kerja kelompok. Mami mau bikin camilan." Ucap Jesi.

"Jangan lupa jamunya di minum!" Lanjutnya.

"Hm." Balas Kara dari balik selimut.

"Makanannya juga diabisin!"

"Hm."

"Hm hm aja terus kamu tuh, punya anak dua kali lagi pada kumat cuma hm hm aja. Kayak papinya." Gumam Jesi kemudian berlalu meninggalkan kamar putrinya.

Sementara itu di sebuah kamar lain seorang pemuda yang masih menggenakan seragam putih abu menatap lurus ke arah kamar Kara di seberang rumahnya. Dia berulang kali melihat ponsel di tangannya. Mengamati kontak seseorang yang terlihat online namun tak mengirim pesan padanya.

Ck!!

Dirga berdecak kemudian melempar ponselnya asal.

"Lo online sama siapa sih, Ra!"

.

.

.

Biasakan tampol like, komen sama favoritkan!!!

karena like dan komen itu gratis, jangan pelit-pelit.

yang mau ngasih bunga, kopi apa lagi vote boleh banget silahkan dengan senang hati menerima sepenuh hati😘😘

Terpopuler

Comments

aisya_

aisya_

baca yg ke 3x nya....ttp suka..setelah baca cerita ririd jdi kangen sama si santen sama dirga

2023-07-28

1

Ita rahmawati

Ita rahmawati

makany gk ush belagu lu 😏😏

2023-03-16

0

PermataBenua

PermataBenua

dasar gengsian

2022-10-02

0

lihat semua
Episodes
1 Pipipip Calon Mantu
2 Telat
3 Murid baru
4 Dianggap apa?
5 Pulang
6 Sakit perut apa sakit hati?
7 Guardian Angel
8 Khawatir
9 Berkunjung
10 Halu
11 Auto Sembuh
12 Gagal uwuw
13 Calon Suami Cadangan
14 Tebengan gratis, why not?
15 AC rusak
16 Bucinnya kumat
17 Ter Arhan Arhan
18 Calon kakak ipar
19 Abang Adek
20 Jalan
21 Boneka
22 Halaman rumah
23 Seblak
24 Tama
25 Balas Jasa
26 Cek Laptop
27 Servas Service
28 Master chef
29 Enak banget
30 Kopi Susu
31 CCTV
32 Jemputan
33 Berangkat sekolah
34 Ide cerdas
35 Ketos telat
36 Sinting
37 Halalin
38 Ngambek
39 VC
40 Makan siang
41 1 jam 47 menit
42 Tanpa Ijin
43 Menolak sadar
44 Kenapa?
45 Galfok
46 Diluar harapan
47 Menyerah
48 Mode Singa
49 Dekat tapi jauh
50 Move On
51 Pengakuan
52 Mantan
53 Penawaran
54 Maling
55 Gas, halalin!
56 Solutif
57 Gagal
58 Ayang
59 From the past until now
60 Surat Panggilan
61 Estetik
62 Apes
63 831, yes or no?
64 Rapat wali murid
65 Pagi di sekolah
66 Prestasi
67 Teror mami
68 Black card
69 Undangan
70 TamaCard
71 Di belakang aja
72 Calon Mantu
73 Reuni
74 First kiss
75 Nikah atau pindah?
76 Pindah
77 Menerima
78 morning kiss
79 Gift
80 Jangan mati dulu!
81 Asik, besok nikah.
82 Latihan
83 Pengantin Pengganti
84 Helm
85 Kara Karak
86 Mohon Nikahkan
87 Yang penting sah!
88 Pisah
89 Mogok makan
90 Anytime Anywhere sayang
91 Pengen
92 PR
93 Micin galau
94 Tantangan
95 Insecure
96 Top Five
97 Seperti mau mu
98 Ujian
99 Ultra Mi Mi
100 Boleh yah?
101 Pelan-pelan
102 Reka Ulang
103 Yes, aman.
104 Suami Idaman
105 Jadwal Merah
106 Pingsan
107 Lupa
108 Gara-gara Tama
109 Surat panggilan
110 Terbongkar
111 Mabok
112 Taruhan
113 Hal aneh
114 Double bonus
115 Ngidam dong!
116 Semua buat Kara
117 Nengokin si dede
118 be go tapi sadar
119 Klaim
120 Anak hilang
121 Feeling
122 Razia
123 Kesayangan
124 Tuan Muda and Me
125 Be My Wife
126 Lovely Boss
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Pipipip Calon Mantu
2
Telat
3
Murid baru
4
Dianggap apa?
5
Pulang
6
Sakit perut apa sakit hati?
7
Guardian Angel
8
Khawatir
9
Berkunjung
10
Halu
11
Auto Sembuh
12
Gagal uwuw
13
Calon Suami Cadangan
14
Tebengan gratis, why not?
15
AC rusak
16
Bucinnya kumat
17
Ter Arhan Arhan
18
Calon kakak ipar
19
Abang Adek
20
Jalan
21
Boneka
22
Halaman rumah
23
Seblak
24
Tama
25
Balas Jasa
26
Cek Laptop
27
Servas Service
28
Master chef
29
Enak banget
30
Kopi Susu
31
CCTV
32
Jemputan
33
Berangkat sekolah
34
Ide cerdas
35
Ketos telat
36
Sinting
37
Halalin
38
Ngambek
39
VC
40
Makan siang
41
1 jam 47 menit
42
Tanpa Ijin
43
Menolak sadar
44
Kenapa?
45
Galfok
46
Diluar harapan
47
Menyerah
48
Mode Singa
49
Dekat tapi jauh
50
Move On
51
Pengakuan
52
Mantan
53
Penawaran
54
Maling
55
Gas, halalin!
56
Solutif
57
Gagal
58
Ayang
59
From the past until now
60
Surat Panggilan
61
Estetik
62
Apes
63
831, yes or no?
64
Rapat wali murid
65
Pagi di sekolah
66
Prestasi
67
Teror mami
68
Black card
69
Undangan
70
TamaCard
71
Di belakang aja
72
Calon Mantu
73
Reuni
74
First kiss
75
Nikah atau pindah?
76
Pindah
77
Menerima
78
morning kiss
79
Gift
80
Jangan mati dulu!
81
Asik, besok nikah.
82
Latihan
83
Pengantin Pengganti
84
Helm
85
Kara Karak
86
Mohon Nikahkan
87
Yang penting sah!
88
Pisah
89
Mogok makan
90
Anytime Anywhere sayang
91
Pengen
92
PR
93
Micin galau
94
Tantangan
95
Insecure
96
Top Five
97
Seperti mau mu
98
Ujian
99
Ultra Mi Mi
100
Boleh yah?
101
Pelan-pelan
102
Reka Ulang
103
Yes, aman.
104
Suami Idaman
105
Jadwal Merah
106
Pingsan
107
Lupa
108
Gara-gara Tama
109
Surat panggilan
110
Terbongkar
111
Mabok
112
Taruhan
113
Hal aneh
114
Double bonus
115
Ngidam dong!
116
Semua buat Kara
117
Nengokin si dede
118
be go tapi sadar
119
Klaim
120
Anak hilang
121
Feeling
122
Razia
123
Kesayangan
124
Tuan Muda and Me
125
Be My Wife
126
Lovely Boss

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!