Dianggap apa?

“Kena lo berdua!” Kara merangkul kedua sahabatnya dan menggelitik perut mereka.

“Ampun… ampun, Ra.” Dila memohon dengan suara yang tak jelas karena menahan tawa.

“Iya… iya.. gue juga mohon ampun, Ra.” Timpal Selvia yang tak kalah ngakak, dia bahkan sampai memegangi perutnya.

Gurauan mereka terhenti saat suara Deva dan teman-temannya yang baru saja lewat melontarkan kata-kata yang tak enak di dengar.

“kekanak-kanakan banget yah mereka!”

Kara hanya tersenyum sengit, Deva dan teman-temannya memang meresahkan plus menyebalkan, so segalanya.

“Nggak apa-apa lah, kita kan emang anak-anak. Ya kali kalian, emak-emak haha…”

“Kalo aja lo nggak deket sama Dirga, Ra. Udah gue bejek-bejek lo sama temen-temen lo yang ngeselin itu.” Sungut Deva.

“Dasar lengko ayam!” ejeknya lagi.

“Eh gila yah lo! nama Lengkara bagus-bagus lo ganti jadi lengko ayam!”

“Dasar sabun dove, sabun batangan!” Kara sudah hampir menjambak rambut panjang Deva jika saja Dirga yang entah sejak kapan ada di sana tak menahan tangannya.

“Lengkara!” ucap Dirga meninggikan suaranya.

“Tuh, Ga. Yang udah lo anggap kayak sodara sendiri ternyata ngeselin. Nggak sopan!” adu Deva.

“Dia yang mulai, bukan gue!” Kara menarik paksa tangannya hingga terlepas dari genggaman Dirga.

“Tapi kan lo sekarang udah kelas 12, Ra. Harusnya lo makin dewasa dong, jangan ngadepin apa-apa pake otot. Lo tuh cewek! Masa dikit-dikit berantem.” Kara melengos kesal, dia menarik kedua sahabatnya masuk ke dalam kelas.

Sebenernya Kara tau jika Dirga selalu melakukan hal yang sama pada siapa pun yang hampir berantem. Tapi digertak di depan Deva ia merasa harga dirinya runtuh. Merasa Dirga lebih membela Deva dari pada dirinya.

“Ra, gue belum selesai ngomong.” Dirga hendak menyusul Kara ke kelas namun bunyi bel peringatan untuk segera melaksanakan upacara mengurungkan niatnya.

Dirga berlari ke lapangan begitu pun dengan seluruh siswa yang mulai berhamburan menuju lapangan. Dirga berdiri di tengah lapangan upacara sebagai pemimpin. Selama upacara berlangsung ia mengedarkan pandangannya mencari sosok Kara, tapi gadis itu tak terlihat. Namun tak lama kemudian Dirga berdecak kesal melihat Kara yang di gendong laki-laki lain menuju UKS.

“Dasar santen sachetan! Udah gue bilangin jangan pura-pura pingsan dulu, eh tetep aja ngeyel.” Batin Dirga. Andai dia tak sedang menjadi pemimpin, sudah pasti dirinya akan mengambil alih mengurus Kara.

Sampai selesai upacara Dirga tak henti memikirkan tetangganya itu, tapi untuk menengoknya di UKS malas sekali toh dia tak bisa diatur. Sudah dibilangin jangan pura-pura sakit masih ngeyel.

Sementara itu di UKS Kara masih terbaring lemah sambil memegangi perutnya. Butiran-butiran sebesar biji jagung membasahi kening wajah berponi itu hingga rambutnya lepek. Wajahnya terlihat pucat dengan tangan yang terasa dingin.

“langganan deh Lengkara.” Ucap guru yang berjaga di UKS, beliau sampai hapal pada Kara karena gadis itu sering keluar masuk UKS. Apalagi hari senin, udah kayak agenda wajib untuk Kara masuk UKS.

“Udah selesai tuh upacaranya, sana balik ke kelas.” Ucap Bu Dini, guru Bahasa Indonesia yang merangkap sebagai Pembina ekstra kurikuler PMR.

“Lengkara…” panggilnya lirih karena tak seperti biasanya Kara masih terus memejamkan matanya lama. Biasanya dia hanya gulang guling di kasur dan segera kembali ke kelas begitu upacara selesai.

Bu Dini memegang kening Kara yang basah ditambah dengan keringat tangan gadis itu yang begitu dingin.

“Kara, ya ampun kamu beneran sakit.”

“Bilang sama ibu apanya yang sakit?”

“Nggak apa-apa, bu. Nanti juga baikan, kayaknya tamu bulanan mau datang nih.” Jawab Kara lemah.

“Ya udah kamu istirahat dulu aja di sini, nggak usah ke kelas. Lagi pula hari ini hanya pembagian jadwal piket dan penyusunan struktur organisasi baru.” Jelas bu Dini dan Kara mengangguk lemah.

“Ibu ambilin air anget dulu bentar.” Lanjutnya.

“Makasih, bu.”

Tak lama bu Dini kembali dengan membawa secangkir air hangat, “minum dulu gih biar enakan.”

Kara beranjak duduk perlahan dan menerima cangkir dari bu Dini kemudian meneguknya sedikit.

“makasih, bu.” Kara kembali merebahkan dirinya.

“Kara, ibu tinggal nggak apa-apa yah? Ibu harus masuk kelas. Di depan ada temen kamu kok, nanti ibu suruh masuk yah?”

“Iya, bu. Makasih.”

“Sama-sama, nak.” Bu Dini keluar dan meminta Tama yang tadi membawa Kara ke UKS untuk menemaninya.

“Masuk aja, dia sudah sadar. Tapi pintunya nggak usah di tutup.”

“Siap, bu. Makasih.” Balas Tama penuh hormat kemudian masuk ke dalam dan sesuai intruksi dia membiarkan pintu ruang UKS terbuka.

“Ga, beliin yang biasanya. Yang dingin yah.” Ucap Kara saat mendengar suara langkah kaki mendekat.

“Beliin apa, Ra?” mendengar suara itu bukan milik Dirga membuat Kara berbalik dan benar saja dia Tama. Murid baru yang ia temui pagi tadi.

“Loh?” huh Kara benar-benar menggerutu dalam hati, bisa-bisanya ia berharap Dirga yang datang sedang ia tau betul jika tadi laki-laki itu jadi pemimpin upacara.

“Mau dibeliin apa, Ra? Biar gue yang beli.” Ucap Tama penuh perhatian.

“Nggak jadi. Lo bisa balik ke kelas lo aja.”

“Tapi lo nggak ada yang nemenin.”

“Gue nggak apa-apa, bentar lagi juga gue balik ke kelas. Mending lo ke kelas deh, lo kan murid baru.” Kara benar-benar tak nyaman hanya berdua di ruang UKS.

“Nggak apa-apa lah, gue nemenin lo disini aja.”

“Terserah lah.” Kara kembali meringkuk ke arah lain dan menarik selimut belang-belang itu hingga leher. Diabaikan Kara tak membuat Tama mundur, dia tetap duduk di samping ranjang dan menatap Kara yang meringkuk membelakanginya.

Saat jam istirahat pertama berbunyi satu persatu siswa mulai keluar kelas, mereka menggendong tas di punggung masing-masing untuk segera pulang. Hari pertama masuk sekolah memang belum belajar efektif.

Dirga sudah berdiri di depan kelas Kara menunggu gadis itu keluar tapi yang muncul justru hanya Dila seorang diri.

“Kara mana, Dil?” Tanya Dirga, dia semakin khawatir karena tak lama Selvia juga muncul dari kelas sebelah dan menanyakan hal yang sama.

“Gue kira dia sama lo di UKS.” Jawab Dila.

“Lah gue juga ngiranya Kara di UKS sama lo berdua. Makanya dari tadi nggak gue susulin.” Balas Dirga.

“Itu bocah bener-bener deh!” geram Dirga yang mengira Kara sudah mulai keterlaluan bisa berpura-pura sakit sampai waktu pulang.

Tap… tap… tap…

Derap langkah Dirga begitu cepat disusul oleh Selvia dan Dila di belakangnya.

“Ra, lo tuh yah-“ Dirga tak mampu meneruskan ucapannya melihat Kara yang terbaring lemah di ranjang.

“Ra, lo sakit? Kenapa nggak bilang gue hm.” Dirga memegang kening Kara dan menyeka keringat yang membasahi wajah pucat itu. Kara menepis tangan Dirga, dia masih kesal.

“Ya ampun sorry, Ra. Gue lupa kalo sekarang udah jadwalnya yah? Tunggu bentar, gue beliin minuman bulanan rutin lo biar enakan.” Dirga mengelus sayang puncak kepala Kara sebelum pergi.

“Nggak usah, Ga. Gue mau pulang aja.” Kara beranjak dari tidurnya dengan susah payah, melihat itu Dirga hendak membantu tapi gadis yang sudah mendeklarasikan diri sebagai calon istri itu menolak dan justru meminta bantuan Dila dan Selvia.

“Makasih Dil, Sel. Biar Kara balik sama gue.” Dirga hendak merangkul Kara namun lagi-lagi gadis itu menolaknya.

Kara beralih melirik Tama yang masih berada di ruangan, “lo bawa mobil?” Tanya Kara dan Tama mengangguk.

“Anterin gue balik.”

“Dengan senang hati, Kara. Gue ke parkiran dulu kalo gitu, lo tunggu di depan yah.” Tama segera berlalu setelah Kara mengangguk mengiyakan.

"Kara!!!" Dirga mengepalkan kedua tangannya melihat Kara dan kedua temannya yang kian menjauh. Entahlah melihat Kara merespon kebaikan laki-laki lain membuatnya kesal.

Dila dan Selvia yang memapah Kara hanya saling melempar tanya dengan tatapan, keduanya benar-benar kaget melihat perubahan sikap Kara. Dila sesekali menengok ke belakang, melihat Dirga yang masih berdiri di depan UKS sambil menatap ke arah mereka.

“Ra, lo yakin nggak pulang sama Dirga? Dia masih ngeliatin kita tuh.” Akhirnya Dila memecah keheningan.

“Ntar mami Jesi marah loh kalo liat lo dianterin cowok lain.” Timpal Selvia.

“Biarin aja lah. Gue pengen tau sebenernya Dirga tuh nganggap gue apa!"

.

.

.

jangan pelit-pelit tampol like sama komentarnya.

karena like dan komen itu gratis😛😛

Terpopuler

Comments

linanda eneste

linanda eneste

cemburu bang

2024-10-05

0

sherly

sherly

bener tuh kara ... biar Dirga tau rasa

2023-07-08

0

Diyah Febriyanti

Diyah Febriyanti

udah ditampol nih like nya

2023-04-04

0

lihat semua
Episodes
1 Pipipip Calon Mantu
2 Telat
3 Murid baru
4 Dianggap apa?
5 Pulang
6 Sakit perut apa sakit hati?
7 Guardian Angel
8 Khawatir
9 Berkunjung
10 Halu
11 Auto Sembuh
12 Gagal uwuw
13 Calon Suami Cadangan
14 Tebengan gratis, why not?
15 AC rusak
16 Bucinnya kumat
17 Ter Arhan Arhan
18 Calon kakak ipar
19 Abang Adek
20 Jalan
21 Boneka
22 Halaman rumah
23 Seblak
24 Tama
25 Balas Jasa
26 Cek Laptop
27 Servas Service
28 Master chef
29 Enak banget
30 Kopi Susu
31 CCTV
32 Jemputan
33 Berangkat sekolah
34 Ide cerdas
35 Ketos telat
36 Sinting
37 Halalin
38 Ngambek
39 VC
40 Makan siang
41 1 jam 47 menit
42 Tanpa Ijin
43 Menolak sadar
44 Kenapa?
45 Galfok
46 Diluar harapan
47 Menyerah
48 Mode Singa
49 Dekat tapi jauh
50 Move On
51 Pengakuan
52 Mantan
53 Penawaran
54 Maling
55 Gas, halalin!
56 Solutif
57 Gagal
58 Ayang
59 From the past until now
60 Surat Panggilan
61 Estetik
62 Apes
63 831, yes or no?
64 Rapat wali murid
65 Pagi di sekolah
66 Prestasi
67 Teror mami
68 Black card
69 Undangan
70 TamaCard
71 Di belakang aja
72 Calon Mantu
73 Reuni
74 First kiss
75 Nikah atau pindah?
76 Pindah
77 Menerima
78 morning kiss
79 Gift
80 Jangan mati dulu!
81 Asik, besok nikah.
82 Latihan
83 Pengantin Pengganti
84 Helm
85 Kara Karak
86 Mohon Nikahkan
87 Yang penting sah!
88 Pisah
89 Mogok makan
90 Anytime Anywhere sayang
91 Pengen
92 PR
93 Micin galau
94 Tantangan
95 Insecure
96 Top Five
97 Seperti mau mu
98 Ujian
99 Ultra Mi Mi
100 Boleh yah?
101 Pelan-pelan
102 Reka Ulang
103 Yes, aman.
104 Suami Idaman
105 Jadwal Merah
106 Pingsan
107 Lupa
108 Gara-gara Tama
109 Surat panggilan
110 Terbongkar
111 Mabok
112 Taruhan
113 Hal aneh
114 Double bonus
115 Ngidam dong!
116 Semua buat Kara
117 Nengokin si dede
118 be go tapi sadar
119 Klaim
120 Anak hilang
121 Feeling
122 Razia
123 Kesayangan
124 Tuan Muda and Me
125 Be My Wife
126 Lovely Boss
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Pipipip Calon Mantu
2
Telat
3
Murid baru
4
Dianggap apa?
5
Pulang
6
Sakit perut apa sakit hati?
7
Guardian Angel
8
Khawatir
9
Berkunjung
10
Halu
11
Auto Sembuh
12
Gagal uwuw
13
Calon Suami Cadangan
14
Tebengan gratis, why not?
15
AC rusak
16
Bucinnya kumat
17
Ter Arhan Arhan
18
Calon kakak ipar
19
Abang Adek
20
Jalan
21
Boneka
22
Halaman rumah
23
Seblak
24
Tama
25
Balas Jasa
26
Cek Laptop
27
Servas Service
28
Master chef
29
Enak banget
30
Kopi Susu
31
CCTV
32
Jemputan
33
Berangkat sekolah
34
Ide cerdas
35
Ketos telat
36
Sinting
37
Halalin
38
Ngambek
39
VC
40
Makan siang
41
1 jam 47 menit
42
Tanpa Ijin
43
Menolak sadar
44
Kenapa?
45
Galfok
46
Diluar harapan
47
Menyerah
48
Mode Singa
49
Dekat tapi jauh
50
Move On
51
Pengakuan
52
Mantan
53
Penawaran
54
Maling
55
Gas, halalin!
56
Solutif
57
Gagal
58
Ayang
59
From the past until now
60
Surat Panggilan
61
Estetik
62
Apes
63
831, yes or no?
64
Rapat wali murid
65
Pagi di sekolah
66
Prestasi
67
Teror mami
68
Black card
69
Undangan
70
TamaCard
71
Di belakang aja
72
Calon Mantu
73
Reuni
74
First kiss
75
Nikah atau pindah?
76
Pindah
77
Menerima
78
morning kiss
79
Gift
80
Jangan mati dulu!
81
Asik, besok nikah.
82
Latihan
83
Pengantin Pengganti
84
Helm
85
Kara Karak
86
Mohon Nikahkan
87
Yang penting sah!
88
Pisah
89
Mogok makan
90
Anytime Anywhere sayang
91
Pengen
92
PR
93
Micin galau
94
Tantangan
95
Insecure
96
Top Five
97
Seperti mau mu
98
Ujian
99
Ultra Mi Mi
100
Boleh yah?
101
Pelan-pelan
102
Reka Ulang
103
Yes, aman.
104
Suami Idaman
105
Jadwal Merah
106
Pingsan
107
Lupa
108
Gara-gara Tama
109
Surat panggilan
110
Terbongkar
111
Mabok
112
Taruhan
113
Hal aneh
114
Double bonus
115
Ngidam dong!
116
Semua buat Kara
117
Nengokin si dede
118
be go tapi sadar
119
Klaim
120
Anak hilang
121
Feeling
122
Razia
123
Kesayangan
124
Tuan Muda and Me
125
Be My Wife
126
Lovely Boss

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!