Calon kakak ipar

Suara teriakan dari lapang basket di pagi menjelang siang itu benar-benar menganggu, Dirga sampai mengalihkan atensinya dari siswa siswi baru demi melihat ke samping kelas. Siapa sangka ternyata tetangga depan rumahnya juga ada di sana, gadis itu terlihat mengobrol kemudian memberikan air mineral pada lelaki yang ia ketahui datang ke sekolah bersamanya pagi tadi.

“Dirga, lo kenapa?” tanya Deva, heran dengan raut wajah Dirga yang tiba-tiba berubah masam padahal sebelumnya dia begitu ramah memberikan pengarahan pada siswa baru.

“Gue nggak apa-apa. Gue minta tolong lo handle sisanya yah, Dev! Gue keluar dulu, di sini panas banget kayaknya AC nya rusak.”

Dirga langsung keluar setelah mendapat anggukan dari Deva, tujuannya saat ini tentu saja lapang basket tempat dimana tetangga depan rumahnya berada.

“Baru tadi pagi dibilangin jangan berangkat sama cowok lain eh sekarang dia malah berani deket-deket sama tuh cowok. Astaga Lengkara, lo jadi adek ngerepotin banget dah!” gerutunya. Sudah bukan berjalan lagi, Dirga justru berlari dengan cepat menuju lapang basket.

Tak sampai dua menit Dirga sudah tiba di lapang basket. Tempat itu dipenuhi mayoritas siswa perempuan. Berjalan lewat pinggir lapang untuk menemui Kara tentu akan memakan waktu lama, Dirga memilih menerobos beberapa siswa.

“Sorry gue ikut lewat dikit.” Ucapnya.

“Apaan sih lo! Lewat jalan lain kan bisa.” kesal siswi yang merasa terganggu karena Dirga sedikit mendorong bahunya.

“Eh Kak Dirga.” Siswi kelas 11 itu tersenyum canggung kemudian bergeser dengan suka rela.

“Maaf Kak, aku kira bukan kakak.” Lanjutnya.

“Minggir-minggir kasi jalan ketos cakep kita mau lewat.” Siswi itu menepuk bahu teman di depannya supaya bergeser.

“Silahkan kak Dirga.”

“Makasih.” Jawab Dirga. Dia tersenyum ramah pada siswi-siswi yang memberinya jalan, namun tak sampai satu menit wajah kesalnya kembali muncul tak kala melihat lelaki yang berdiri di depan Kara mencubit pipi Kara.

“Breng sek!” umpatnya kemudian berjalan ke tengah lapang.

Belum sampai ke tempat Kara lagi-lagi dia dibuat mendidih mendengar obrolan unfaedah mereka.

“Sana gih! Apa mau dikeluarin dari pertandingan? Yang lain udah mau main tuh.” Usir Kara.

“Nggak apa-apa kalo dikeluarin dari pertandingan asal jangan dikeluarin dari hati kamu aja, Ra!” ucap Tama dengan kedipan matanya.

“Gombal!” balas Kara.

“Layaknya ring basket, harus melompat tinggi dan butuh fokus untuk memasukan bola, begitu pun juga kamu.”

“Ba cot banget!” Dirga mengambil bola yang sedang dimainkan salah satu siswa dan melemparkannya tepat mengenai punggung Tama.

“An jir siapa yang lempar bola?” Tama langsung menengok ke belakang saat bola basket dengan cukup keras menghantam punggungnya, padahal dia belum selesai dengan rayuannya pada Kara.

“Nggak usah banyak omong. Lawan gue!” ucap Dirga.

Kara ikut melihat ke sumber suara yang sangat ia kenali.

“Dirga?” ucapnya lirih.

Tama mengambil bola yang baru mengenainya dan menghampiri Dirga.

“Bentar yah, Ra. Gue beresin dulu tuh anak. Rese banget dah!” ucap Tama sebelum pergi.

“Tama, lo nggak usah lawan dia deh. Nggak bakalan menang.” Kara menarik tangan Tama yang hendak menjauh.

Melihat interaksi Tama dan Kara membuat Dirga makin kesal. Dia berjalan cepat menghampiri keduanya dan segera menepis tangan Kara dengan kasar.

“Susah banget sih lo dibilangin, Ra!” sentaknya.

“Woles... woles, bro. Jangan kasar sama cewek!” Tama berdiri di depan Kara.

“Gue bakal lawan lo!” ucapnya pada Dirga.

Tama menengok pada Kara sebelum beranjak.

“Kalo gue menang, lo harus setuju balik bareng gue, Ra!”

“Nggak usah banyak omong, gue pastiin lo nggak bakal bisa nganter Kara balik.” Ucap Dirga kemudian berlari lebih dulu ke lapang sambil mendribble bola di tangan kanannya.

“So, kita lihat aja nanti. Yang berhasil nyetak 3 poin duluan dia yang menang.” Balas Tama yang mulai mengincar bola dari tangan Dirga.

Suasana lapang basket itu kian memanas saat ketua OSIS most wanted kaum hawa bertanding dengan siswa baru.

“Sumpah demi apa gue bisa liat dua pangeran main basket. Ini gila sih...” ucap seorang siswi.

“Lo pilih mana, Pratama Arhan apa kak Dirgantara?”

“Nggak tau gue, dua-duanya cakep. Gue pilih yang menang aja.”

“Ah oleng lo. Katanya fans garis keras Kak Dirga.”

“Kak Dirgantara number one tapi Pratama Arhan juga oke.”

Kara hanya menggeleng mendengar ocehan-ocehan siswi yang terus mengomentari dua pemain di lapang sana. Mereka hanya menggunakan 1 ring basket saja untuk by one. Dirga tampak menguasai bola tapi setiap tembakan bolanya selalu berhasil ditepis oleh Tama.

“Kak Tama aku padamu!” teriakan beberapa siswa kompak saat Tama berhasil mencetak angka lebih dulu.

Tama balas tersenyum dan melambaikan tangan pada mereka, dia juga melayangkan kiss bye pada Kara yang hanya tersenyum sekenanya.

“Kayaknya Lengkara bakal bener-bener balik sama gue!” ucapnya pada Dirga.

“Baru 1 poin, belum apa-apa.” Jawab Dirga.

Ck! Dirga berdecak kesal melihat sikap Tama pada Kara, lagi-lagi udara terasa susah untuk dihirup menyisakan sesak di dadanya. Dirga menarik dasi yang ia kenakan dan melemparkannya asal, dia juga membuka dua kancing teratas bajunya, membuat siswi-siswi mendapatkan pemandangan menyejukkan mata siang itu.

“Kak Dirga kalo berantakan kayak gitu makin keren.” Puji salah satu siswi.

“Coba itu kancing di buka satu lagi dah auto ngiler gue.” Timpal siswi lainnya.

“Apa-apaan coba pake pamer buka-buka kancing segala!” Berbeda dengan siswi-siswi yang heboh memuji Dirga, Kara justru merutuki tindakan Dirga. Melihat lelaki itu menguasai bola pun jadi tak lagi menyenangkan. Bahkan saat Dirga berhasil mencetak 1 poin pun Kara tak bersorak seperti teman-temannya yang lain.

“Tama semangat!” teriak Kara.

“Go semangat Tama Go!!” teriaknya lagi yang langsung dihadiahi sikutan oleh Dila.

“Kok malah dukung Tama sih? Katanya calon istri Dirga.”

“Kesel gue.”

“Lah kenapa? Dirga keren banget. Gue baru tau kalo Dirga ternyata jago basket juga. Perasaan dari dulu dia biasa aja kalo pelajaran olahraga.” Ucap Dila.

“Eh gila dia nyetak poin lagi.”

“Dirgantara i love you...” teriak Dila.

“Calon suami gue ih!!” ucap Kara.

“Tama ayo semangat, lo pasti bisa menang!” teriak Kara.

“Lo aneh, Ra!” cibir Dila.

“Ngaku calon istri Dirga tapi malah dukung lawan.”

“Dibilang gue lagi kesel. Gue nggak suka yah orang-orang tau My Dirgantara jago basket, ntar makin banyak fans dia.” Ucap Kara.

“Terus itu apa-apaan coba dia pake buka-buka kancing baju, gue nggak suka orang-orang liat dada calon suami gue.”

Mendengar Kara yang terus menyemangati Tama membuat Dirga kian kesal.

“Gue end sekarang. Lo jangan deket-deket sama adek gue!” ucapnya yang langsung mengambil alih bola kemudian memasukannya dengan mudah.

“Oh jadi cuma adek? Gue kira lo cowoknya.” Ucap Tama, dia hanya tersenyum menerima kekalahannya.

Tama sedikit termenung mendengar kata adik, berdasarkan info dari tantenya Lengkara itu hanya mempunyai adik laki-laki bukan kakak. Apa mungkin Lengkara itu punya kembaran dan orang itu adalah Dirga? Kembar laki-laki dan perempuan kan banyak yang seperti itu, mengingat bagaimana kesalnya Dirga hanya karena ia menyentuh Kara sedikit. Atau mungkin lelaki dihadapannya ini saudara sepupunya Lengkara? batin Tama.

“Ya udah Bang, sorry karena tadi udah pegang-pegang adek lo. Gue bakal memantaskan diri buat jadi cowoknya Lengkara. Tolong jangan dipersulit yah bang, kasih gue restu aja. Beneran deh gue bakal jagain adek lo.” Lanjutnya.

"Adek gue dilarang pacaran!" ketus Dirga yang langsung berjalan ke pinggir lapang menghampiri Kara.

"An jir calon kakak ipar galak amat." batin Tama.

"Si tante ngasih info nggak lengkap nih. Kalo aja gue tau dari awal dia kakaknya Lengkara, nggak bakal gue lawan deh."

Terpopuler

Comments

Tika Rotika

Tika Rotika

apa tama anak ai zidan zidun ya thor🤔

2023-06-25

0

Ita rahmawati

Ita rahmawati

calon kakak ipar 🤦‍♀️🤦‍♀️🤦‍♀️😅😅

2023-03-17

0

Raflesia

Raflesia

cie..cie....santen sachetan jadi rebutan😍😍😍😍

2022-12-16

0

lihat semua
Episodes
1 Pipipip Calon Mantu
2 Telat
3 Murid baru
4 Dianggap apa?
5 Pulang
6 Sakit perut apa sakit hati?
7 Guardian Angel
8 Khawatir
9 Berkunjung
10 Halu
11 Auto Sembuh
12 Gagal uwuw
13 Calon Suami Cadangan
14 Tebengan gratis, why not?
15 AC rusak
16 Bucinnya kumat
17 Ter Arhan Arhan
18 Calon kakak ipar
19 Abang Adek
20 Jalan
21 Boneka
22 Halaman rumah
23 Seblak
24 Tama
25 Balas Jasa
26 Cek Laptop
27 Servas Service
28 Master chef
29 Enak banget
30 Kopi Susu
31 CCTV
32 Jemputan
33 Berangkat sekolah
34 Ide cerdas
35 Ketos telat
36 Sinting
37 Halalin
38 Ngambek
39 VC
40 Makan siang
41 1 jam 47 menit
42 Tanpa Ijin
43 Menolak sadar
44 Kenapa?
45 Galfok
46 Diluar harapan
47 Menyerah
48 Mode Singa
49 Dekat tapi jauh
50 Move On
51 Pengakuan
52 Mantan
53 Penawaran
54 Maling
55 Gas, halalin!
56 Solutif
57 Gagal
58 Ayang
59 From the past until now
60 Surat Panggilan
61 Estetik
62 Apes
63 831, yes or no?
64 Rapat wali murid
65 Pagi di sekolah
66 Prestasi
67 Teror mami
68 Black card
69 Undangan
70 TamaCard
71 Di belakang aja
72 Calon Mantu
73 Reuni
74 First kiss
75 Nikah atau pindah?
76 Pindah
77 Menerima
78 morning kiss
79 Gift
80 Jangan mati dulu!
81 Asik, besok nikah.
82 Latihan
83 Pengantin Pengganti
84 Helm
85 Kara Karak
86 Mohon Nikahkan
87 Yang penting sah!
88 Pisah
89 Mogok makan
90 Anytime Anywhere sayang
91 Pengen
92 PR
93 Micin galau
94 Tantangan
95 Insecure
96 Top Five
97 Seperti mau mu
98 Ujian
99 Ultra Mi Mi
100 Boleh yah?
101 Pelan-pelan
102 Reka Ulang
103 Yes, aman.
104 Suami Idaman
105 Jadwal Merah
106 Pingsan
107 Lupa
108 Gara-gara Tama
109 Surat panggilan
110 Terbongkar
111 Mabok
112 Taruhan
113 Hal aneh
114 Double bonus
115 Ngidam dong!
116 Semua buat Kara
117 Nengokin si dede
118 be go tapi sadar
119 Klaim
120 Anak hilang
121 Feeling
122 Razia
123 Kesayangan
124 Tuan Muda and Me
125 Be My Wife
126 Lovely Boss
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Pipipip Calon Mantu
2
Telat
3
Murid baru
4
Dianggap apa?
5
Pulang
6
Sakit perut apa sakit hati?
7
Guardian Angel
8
Khawatir
9
Berkunjung
10
Halu
11
Auto Sembuh
12
Gagal uwuw
13
Calon Suami Cadangan
14
Tebengan gratis, why not?
15
AC rusak
16
Bucinnya kumat
17
Ter Arhan Arhan
18
Calon kakak ipar
19
Abang Adek
20
Jalan
21
Boneka
22
Halaman rumah
23
Seblak
24
Tama
25
Balas Jasa
26
Cek Laptop
27
Servas Service
28
Master chef
29
Enak banget
30
Kopi Susu
31
CCTV
32
Jemputan
33
Berangkat sekolah
34
Ide cerdas
35
Ketos telat
36
Sinting
37
Halalin
38
Ngambek
39
VC
40
Makan siang
41
1 jam 47 menit
42
Tanpa Ijin
43
Menolak sadar
44
Kenapa?
45
Galfok
46
Diluar harapan
47
Menyerah
48
Mode Singa
49
Dekat tapi jauh
50
Move On
51
Pengakuan
52
Mantan
53
Penawaran
54
Maling
55
Gas, halalin!
56
Solutif
57
Gagal
58
Ayang
59
From the past until now
60
Surat Panggilan
61
Estetik
62
Apes
63
831, yes or no?
64
Rapat wali murid
65
Pagi di sekolah
66
Prestasi
67
Teror mami
68
Black card
69
Undangan
70
TamaCard
71
Di belakang aja
72
Calon Mantu
73
Reuni
74
First kiss
75
Nikah atau pindah?
76
Pindah
77
Menerima
78
morning kiss
79
Gift
80
Jangan mati dulu!
81
Asik, besok nikah.
82
Latihan
83
Pengantin Pengganti
84
Helm
85
Kara Karak
86
Mohon Nikahkan
87
Yang penting sah!
88
Pisah
89
Mogok makan
90
Anytime Anywhere sayang
91
Pengen
92
PR
93
Micin galau
94
Tantangan
95
Insecure
96
Top Five
97
Seperti mau mu
98
Ujian
99
Ultra Mi Mi
100
Boleh yah?
101
Pelan-pelan
102
Reka Ulang
103
Yes, aman.
104
Suami Idaman
105
Jadwal Merah
106
Pingsan
107
Lupa
108
Gara-gara Tama
109
Surat panggilan
110
Terbongkar
111
Mabok
112
Taruhan
113
Hal aneh
114
Double bonus
115
Ngidam dong!
116
Semua buat Kara
117
Nengokin si dede
118
be go tapi sadar
119
Klaim
120
Anak hilang
121
Feeling
122
Razia
123
Kesayangan
124
Tuan Muda and Me
125
Be My Wife
126
Lovely Boss

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!