Khawatir

“Si Sasa kebanyakan gaul sama Kara jadi ketularan cerewet.” Gerutu Dirga setelah menutup pintu dengan kasar. Dia mengabaikan adiknya yang masih terus menggedor pintu di luar sana.

Dirga melemparkan tas dan kantong kresek berisi minuman obat untuk Kara ke ranjang kemudian disusul oleh tubuh tingginya yang ikut ia rebahkan setelah melepas sepatu. Dasi longgar yang masih terpasang dilehernya langsung ia lepas dalam satu tarikan dan membuangnya asal. Entahlah, mengingat Kara yang menolak ajakan yang ia tawarkan dan memilih untuk pulang bersama orang lain membuatnya kesal.

“Dasar Lengkara, adik nggak tau diri, nggak bisa dibilangin, nggak bisa diatur. Ngeselin! Pasti dia sengaja biar gue dimarahin mommy!”

Dirga mengambil kantong kresek berisi minuman rutin Kara saat datang bulan.

“Ngapain juga gue beliin kalo dianya aja ngeyel susah diatur Ck!” Dirga kembali meletakan kantong kresek itu asal kemudian meletakan kedua tangannya di belakang kepala sebagai bantalan. Padahal tadi dia sudah mati-matian menahan malu saat semua pengunjung minimarket memandangnya mengambil 2 botol minuman pereda sakit datang bulan.

“Tapi itu bocah udah minum obat belum yah?”

“Ah paling juga udah beli tadi di jalan.”

“Tapi tadi dia masih megan gin perut pas masuk rumah. Berarti belum minum obat.”

“Bodo amat lah udah di rumah ini, ada maminya.”

“Tapi...”

“Ah si al Santen sachetan bikin gue kepikiran!” setelah cukup lama bermonolog sendiri Dirga beranjak dari tidurnya dan mengambil ponsel dari tas.

Ck! Dia berdecak pelan begitu membuka ponselnya, tak ada satu pun chat masuk dari Kara.

“Tumben banget. Biasanya udah kayak kang nagih utang ngechat terus non stop.”

“Kemana nih bocah? Jangan-jangan beneran tumbang dia.”

Dirga berjalan menuju balkon di depan kamarnya. Sebelum keluar ia terlebih dulu mengintip dari balik pintu kaca.

“Tumben banget nggak ada.” Gumamnya setelah mendapati balkon kamar tetangganya tanpa penghuni, padahal biasanya Kara sering sekali berdiri disana dan menatap ke kamarnya dari kejauhan. Kadang dia sampai teriak memanggil Dirga saat mendapati Dirga berdiri di balkon.

“Aman lah.” Dirga berjalan ke luar dan berdiri tepat diujung pagar, mengamati kamar Kara yang terlihat sepi.

“Tidur apa yah itu bocah? Pantesan nggak ada ngechat.” Gumamnya sambil kembali membuka WA.

“Tapi online nih bocah.” Lanjutnya seraya menatap kontak yang ia beri nama Neighbor.

“Tumben nggak chat?”

“Tapi bentar lagi pasti muncul nih chat nya!”

Cukup lama Dirga memandangi kontak Kara hingga akhirnya ia kesal sendiri dan kembali masuk ke dalam kamar kemudian melemparkan ponselnya asal ke ranjang.

“Lo online sama siapa sih, Ra!”

Dor... dor... dor...

Suara gedoran dari balik pintu membuat Dirga kian memijit kening.

“Kakak ditunggu mommy di bawah, kita makan siang bareng.”

“Emang kagak bisa banget dah hidup gue tenang dikit.” Gerutunya sambil mengambil baju ganti dari dalam lemari.

“Kakak denger nggak? Apa mau pintunya aku dobrak nih.” Suara cempreng adiknya kembali terdengar dari luar sana.

“Kak...aduhhh!” Sasa jadi terhuyung ke dalam kamar dan hampir jatuh saat Dirga membuka pintu.

“Bilang-bilang kek kalo mau buka pintu. Kalo aku jatuh terus geger otak gimana coba kak?” protes Sasa.

“Ya tinggal dibawa ke dokter aja. Ribet!” jawab Dirga yang keluar dengan kantong kresek putih di tangan kanannya.

“Sekalian ngebenerin otak kamu juga, biar nggak bikin kesel terus.” Lanjutnya mencibir.

“Kak Dirga ih kalo ngomong pedes banget dah sama adik sendiri juga.” Sasa mengikuti Dirga dari belakang.

“Eh jangan-jangan dulu mommy pas hamil kakak ngidamnya bon cabe kali yah? Makanya sikap sama kata-kata kakak tuh jleb banget ke hati, sakit.” Cerocosnya penuh dramatisir sambil menyusul Dirga hingga mereka berjalan beriringan. Lelaki yang usianya berbeda 2 tahun dari dirinya itu hanya mengusak rambut Sasa hingga berantakan.

“Ih kebiasaan banget deh. Berantakan nih kak!” gerutu Sasa.

“Nyerocos terus lo tuh kayak Kara tau nggak!”

“Ya kan Sasa calon adik iparnya Kaleng.” Jawab Sasa.

“Eh btw ini kakak bawa apa? Snack yah buat Sasa?” dia hendak meraih kantong kresek di tangan Dirga.

“Bukan buat lo. Udah sana lo makan aja jangan ngintilin gue terus!” Dirga menjauhkan kantong kresek bawaannya dari Sasa.

“Buat siapa emang? Sini liat coba, Sasa cuma mau liat isinya apaan?”

“Anak kecil dilarang kepo. Udah sana makan, kakak mau pergi dulu.” Jawab Dirga sambil mendorong adiknya supaya masuk ke ruang makan.

“Siapa yang mau pergi? Makan dulu baru pergi!” suara mommy Miya membuat kedua anaknya yang sedang ribut seketika diam.

“Tuh kakak yang mau pergi, mom. Kalo Sasa sih mau makan sama mommy.” Gadis kelas 10 itu langsung memeluk mommy Miya dengan manja.

“Aku makannya nanti aja mom, belum lapar.” Ucap Dirga.

“Mau ke depan dulu sebentar, nganterin ini.” Dirga memperlihatkan kantong kresek di tangan kanannya.

“Ke rumah Lengkara?” tebak mommy Miya.

“Hm iya.” Jawab Dirga lirih.

.

.

.

Jangan lupa like, komen dan favoritkan.

jangan pelit-pelit karena like dan komen itu gratis!!

Terpopuler

Comments

linanda eneste

linanda eneste

berasa ada yg ilang ya bang

2024-10-05

0

Ita rahmawati

Ita rahmawati

idih tah,,nja iya it khawatir segala 🙄🙄

2023-03-16

0

мєσωzα

мєσωzα

si guardian angel itu tama jangan".. & dia sebenarnya dah kenal kara sebelumnya? 🤔
soalnya kalau dilihat dari bab ini, gak mungkin dirga.. 🤔

2022-11-27

0

lihat semua
Episodes
1 Pipipip Calon Mantu
2 Telat
3 Murid baru
4 Dianggap apa?
5 Pulang
6 Sakit perut apa sakit hati?
7 Guardian Angel
8 Khawatir
9 Berkunjung
10 Halu
11 Auto Sembuh
12 Gagal uwuw
13 Calon Suami Cadangan
14 Tebengan gratis, why not?
15 AC rusak
16 Bucinnya kumat
17 Ter Arhan Arhan
18 Calon kakak ipar
19 Abang Adek
20 Jalan
21 Boneka
22 Halaman rumah
23 Seblak
24 Tama
25 Balas Jasa
26 Cek Laptop
27 Servas Service
28 Master chef
29 Enak banget
30 Kopi Susu
31 CCTV
32 Jemputan
33 Berangkat sekolah
34 Ide cerdas
35 Ketos telat
36 Sinting
37 Halalin
38 Ngambek
39 VC
40 Makan siang
41 1 jam 47 menit
42 Tanpa Ijin
43 Menolak sadar
44 Kenapa?
45 Galfok
46 Diluar harapan
47 Menyerah
48 Mode Singa
49 Dekat tapi jauh
50 Move On
51 Pengakuan
52 Mantan
53 Penawaran
54 Maling
55 Gas, halalin!
56 Solutif
57 Gagal
58 Ayang
59 From the past until now
60 Surat Panggilan
61 Estetik
62 Apes
63 831, yes or no?
64 Rapat wali murid
65 Pagi di sekolah
66 Prestasi
67 Teror mami
68 Black card
69 Undangan
70 TamaCard
71 Di belakang aja
72 Calon Mantu
73 Reuni
74 First kiss
75 Nikah atau pindah?
76 Pindah
77 Menerima
78 morning kiss
79 Gift
80 Jangan mati dulu!
81 Asik, besok nikah.
82 Latihan
83 Pengantin Pengganti
84 Helm
85 Kara Karak
86 Mohon Nikahkan
87 Yang penting sah!
88 Pisah
89 Mogok makan
90 Anytime Anywhere sayang
91 Pengen
92 PR
93 Micin galau
94 Tantangan
95 Insecure
96 Top Five
97 Seperti mau mu
98 Ujian
99 Ultra Mi Mi
100 Boleh yah?
101 Pelan-pelan
102 Reka Ulang
103 Yes, aman.
104 Suami Idaman
105 Jadwal Merah
106 Pingsan
107 Lupa
108 Gara-gara Tama
109 Surat panggilan
110 Terbongkar
111 Mabok
112 Taruhan
113 Hal aneh
114 Double bonus
115 Ngidam dong!
116 Semua buat Kara
117 Nengokin si dede
118 be go tapi sadar
119 Klaim
120 Anak hilang
121 Feeling
122 Razia
123 Kesayangan
124 Tuan Muda and Me
125 Be My Wife
126 Lovely Boss
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Pipipip Calon Mantu
2
Telat
3
Murid baru
4
Dianggap apa?
5
Pulang
6
Sakit perut apa sakit hati?
7
Guardian Angel
8
Khawatir
9
Berkunjung
10
Halu
11
Auto Sembuh
12
Gagal uwuw
13
Calon Suami Cadangan
14
Tebengan gratis, why not?
15
AC rusak
16
Bucinnya kumat
17
Ter Arhan Arhan
18
Calon kakak ipar
19
Abang Adek
20
Jalan
21
Boneka
22
Halaman rumah
23
Seblak
24
Tama
25
Balas Jasa
26
Cek Laptop
27
Servas Service
28
Master chef
29
Enak banget
30
Kopi Susu
31
CCTV
32
Jemputan
33
Berangkat sekolah
34
Ide cerdas
35
Ketos telat
36
Sinting
37
Halalin
38
Ngambek
39
VC
40
Makan siang
41
1 jam 47 menit
42
Tanpa Ijin
43
Menolak sadar
44
Kenapa?
45
Galfok
46
Diluar harapan
47
Menyerah
48
Mode Singa
49
Dekat tapi jauh
50
Move On
51
Pengakuan
52
Mantan
53
Penawaran
54
Maling
55
Gas, halalin!
56
Solutif
57
Gagal
58
Ayang
59
From the past until now
60
Surat Panggilan
61
Estetik
62
Apes
63
831, yes or no?
64
Rapat wali murid
65
Pagi di sekolah
66
Prestasi
67
Teror mami
68
Black card
69
Undangan
70
TamaCard
71
Di belakang aja
72
Calon Mantu
73
Reuni
74
First kiss
75
Nikah atau pindah?
76
Pindah
77
Menerima
78
morning kiss
79
Gift
80
Jangan mati dulu!
81
Asik, besok nikah.
82
Latihan
83
Pengantin Pengganti
84
Helm
85
Kara Karak
86
Mohon Nikahkan
87
Yang penting sah!
88
Pisah
89
Mogok makan
90
Anytime Anywhere sayang
91
Pengen
92
PR
93
Micin galau
94
Tantangan
95
Insecure
96
Top Five
97
Seperti mau mu
98
Ujian
99
Ultra Mi Mi
100
Boleh yah?
101
Pelan-pelan
102
Reka Ulang
103
Yes, aman.
104
Suami Idaman
105
Jadwal Merah
106
Pingsan
107
Lupa
108
Gara-gara Tama
109
Surat panggilan
110
Terbongkar
111
Mabok
112
Taruhan
113
Hal aneh
114
Double bonus
115
Ngidam dong!
116
Semua buat Kara
117
Nengokin si dede
118
be go tapi sadar
119
Klaim
120
Anak hilang
121
Feeling
122
Razia
123
Kesayangan
124
Tuan Muda and Me
125
Be My Wife
126
Lovely Boss

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!