Abang Adek

Perihal Dirga yang akan memenangkan pertandingan sudah bisa ditebak sedari awal Kara. Meksipun di sekolah Dirga tak pernah menonjolkan prestasinya di bidang olahraga tapi lelaki dengan tinggi 183 Cm itu cukup pandai memainkan bola basket, hampir setiap hari minggu pagi calon suami masa depannya itu selalu bermain basket dengan suami kakak sepupunya. Namanya Adrian, suaminya Karet. Ups Kak Retha maksudnya, anak dari kakaknya daddy Ardi. Dia yang merupakan pebisnis sekaligus guru PJOK di sekolah tempat si micin dan Ririd belajar. Kisah mereka lucu, berawal dari siswi dan guru yang saling membenci malah berakhir jadi suami istri.

Sejauh ini Dirga memang dikenal pandai di bidang akademik, tapi untuk bidang olahraga dia cukup malas. Apalagi untuk menunjukkan kemampuannya di depan umum seperti saat ini sungguh tak masuk akal bagi Kara.

“Katanya nggak suka olahraga males, eh malah pamer tanding basket. Pake buka kancing baju segala. So keren!” gerutunya.

Kara hanya menatap kesal saat Dirga menghampirinya. Bukan apa-apa, dia masih tak ikhlas jika puluhan pasang mata cewek-cewek ikut menikmati dada bidang calon suaminya.

“Kenapa? Nggak suka gue yang menang?” tanya Dirga begitu tiba di hadapan Kara.

Kara memalingkan pandangannya ke arah lain “nggak, bukan gitu. Gue udah tau kok lo bakalan menang.”

“Terus kenapa wajah lo cemberut gitu? Kecewa karena dia kalah?”

“Kecewa karena nggak bisa balik sama dia hm?” Dirga menyentuh dagu Kara supaya melihat padanya.

Kara menepis tangan Dirga dengan kesal, “jangan pegang-pegang!” ketusnya, meskipun jauh di dalam hatinya auto pengen dipegang terus sama Dirga, kalo perlu di elus-elus sampai dia tidur pun tak apa-apa.

“Lo cuma gue pegang dikit ngambek, Ra? Tadi gue liat dia nyentuh lo aja lo nya cuma diem!”

“Udah belajar kecentilan lo yah sekarang!”

“Ikut gue. Kita pulang sekarang!” Dirga menarik paksa Kara.

Bagi siswa-siswi yang ada di sekitar lapang sudah tak aneh lagi melihat sikap Dirga pada Kara, keduanya memang sering ribut dan kembali akur. Lain halnya dengan Tama yang baru melihat hal ini untuk pertama kalinya. Dia yang sedang dikerumuni perempuan langsung menghampiri Kara yang sedang ditarik paksa oleh Dirga.

“Bang jangan ditarik-tarik gitu dong calon pacar gue, sakit ntar tangannya.” Tama berusaha melepaskan cekraman tangan Dirga dari pergelangan tangan Kara.

“Calon pacar?” bukannya melepaskan cengkramannya, Dirga justru makin mengeratkannya dan menatap Kara serta Tama bergantian.

Tatapan itu baru kali ini Kara melihatnya, Dirga begitu menakutkan. Kara memilih tersenyum tanpa dosa dan mengedipkan matanya perlahan kemudian melihat ke arah lain, menghindari tatapan future husband yang membuat nyalinya ciut seketika.

Sementara Tama, jangan ditanya lelaki itu terlihat biasa saja dan justru tersenyum ramah menanggapi sikap Dirga.

“Bang jangan galak-galak kayak gitu lah!” ucapnya.

“Ra, sorry yah gue kalah. Kita jadi nggak bisa pulan bareng.“ lanjutnya pada Kara.

“Lo pulang bareng abang lo aja. Besok gue jemput deh, lo tinggal chat aja ok?”

“Bang, titip calon pacar gue yah.”

CK!! Dirga tak menanggapinya. Dia hanya mendengus kesal dan berlalu meninggalkan lapang basket tanpa melepaskan tangan Kara.

“Calon pacar? Berani dia ngedeketin adek gue. Si a lan!!” batinnya.

“Sakit, Ga...” ucap Kara lirih.

Dirga mengendurkan pegangannya, “makanya jadi cewek jangan kecentilan!”

“Tunggu di sini bentar. Gue mau ambil tas doang. Jangan kemana-mana!”

Kara hanya mengangguk dan berdiri di samping motor Dirga seorang diri. Keadaan parkiran siang ini mulai ramai oleh siswa siswa yang akan pulang. Tak lama Dirga kembali dengan menggendong tasnya dan menjinjing tas warna pink di tangan kanannya. Ternyata tak hanya mengambil tas miliknya dia juga membawakan tas Kara.

“Tas lo.” Masih dengan ketusnya Dirga memberikan tas Kara.

Kara menerimanya dan segera mengendong tasnya di punggung, “makasih, Ga.”

Dirga tak menghiraukan ucapan Kara, ia justru memakai helm dan memundurkan motornya.

“Naik!” ucapnya pada Kara.

Kara hanya diam, dia sama sekali sudah tak berharap bisa pulang bersama Dirga mengingat kebiasaan Dirga yang selalu memberinya harapan palsu. Katanya mau bareng tapi ujung-ujungnya ditinggal.

“Kara, lo mau naik apa nggak?” Dirga meninggikan suaranya.

“Hah apa?” bahkan rasanya tak percaya melihat Dirga masih ada di depannya.

“Hah heh hoh aja terus!”

“Mau naik nggak? Jangan bilang kalo lo mau pulang sama dia!”

“Jangan bentak-bentak dong, Ga. Sama anak-anak lain aja lo ramah banget senyum-senyum, kalo sama gue galak banget.” Gerutu Kara seraya menaiki motor Dirga.

“Lo susah diatur! Kalo lo nurut gue nggak bakal marah-marah.” Balas Dirga.

Keduanya membelah jalankan di tengah teriknya matahari siang hari. Sumpah demi apa pun Kara merasa tak nyaman sama sekali. Bukan karena teriknya matahari yang membakar kulitnya tapi lebih karena kedua kakinya yang terpampang nyata, roknya yang di atas lutut makin naik ke atas saat ia duduk. Dia bahkan melepaskan tasnya dan menggunakannya untuk menutup kaki supaya tak sedekah paha mulus.

“Kok berhenti, Ga? Kan masih jauh.” Tanya Kara saat Dirga memarkirkan motornya di depan Mall yang mereka lewati.

“Turun!”

“Atuh lah please biarin gue nebeng sampe rumah, Ga.” Pinta Kara yang sudah berfikir Dirga akan kembali meninggalkannya.

“Tau gini gue balik sama Tama aja dah.” Gumamnya lirih.

“Lo bilang apa barusan, Ra?” sentak Dirga yang baru saja melepas helm dan turun dari motornya.

“Nggak. Gue nggak ngomong apa-apa kok. Lo salah denger kali.” Elaknya.

“Awas aja kalo lo berani nyebut nama dia di depan gue, Ra.”

Kara mengangguk setuju, dia tersenyum melihat Dirga yang baru saja turun dan merapikan rambutnya.

“Gue kira bakal ditinggal di sini. Hm gantengnya My Dirgantara.” Batin Kara.

“Kenapa lo senyam senyum nggak jelas?”

“Nggak apa-apa. Seneng aja kita bisa jalan bareng. Kita mau ngapain kesini, Ga?” tanya Kara yang mengikuti Dirga masuk ke dalam Mall.

“Mau nonton terus kiss kiss muah muah dikegelapan yah, Ga?” Lanjutnya.

“So sweet.” Mata Kara sampai berbinar-binar membayangkannya.

“Nggak usah mikir macem-macem!” balas Dirga irit.

“Eh kok malah masuk toko baju sih?” gerutu Kara namun tetap mengikuti Dirga.

“Mau beliin baju buat Micin kah?” tebaknya.

“Tapi ulang tahun Sasa kan masih lama.” Kara mengikuti kemana pun Dirga melangkah.

Keduanya berhenti dibagian celana jeans. Dirga mengambil salah satu celana dan menempelkannya di depan Kara.

“Kayaknya ini pas. Pake!”

“Buat gue?”

“Iya. Buruan pake! Atau lo emang mau sedekah paha sepanjang jalan?” Dirga melepaskan price tag dan membayarnya ke kasir sementara Kara mengganti rok nya. Dia juga menambahkan sweater berwarna pink kesukaan kara ke dalam daftar pembayarannya.

Dirga kembali ke depan ruang ganti Kara dan segera melemparkan sweater yang baru ia beli saat Kara keluar. “pake itu juga. Diluar panas.”

“Makasih My Dirgantara. Perhatian banget sih.” Kara segera memakai sweaternya.

“Kita mau kemana sekarang, Ga?” Kara memegang erat lengan kiri Dirga.

“Pulang lah.”

“Ish kok pulang sih!” Kara mematung di tempatnya, membuat Dirga juga ikut berhenti karena gadis itu tak melepaskan tangannya.

“Terus lo maunya apa?”

“Ya jalan lah, Ga. Cuci mata aja liat-liat, gue nggak akan minta apa-apa kok. Lagian kalo mau beli apa-apa gue bawa uang kok.” Kara membuka tasnya dan mengambil dompet. Mengeluarkan 4 lembar uang pecahan 50 ribu dari dalam sana. Mami Jesi memang tak memberinya banyak uang, jatah jajannya saja hanya 100 ribu perhari.

“Uang jajan gue masih ada kok. Nih liat.” Kara mengipas-ngipaskan uangnya.

Dirga merampas semua uang Kara dan melipatnya asal kemudian memasukannya di saku sweater yang dikenakan Kara. “duit 200 ribu aja pamer. Duit gue ada, kalo cuma buat jajan sama beli-beli barang unfaedah yang biasa dibeli sama lo dan Sasa masih cukup.”

“Ya udah kalo gitu kuy lah kita jalan!” Kara menarik tangan Dirga.

“Ayo!!” rengeknya saat Dirga hanya diam di tempat.

“Males gue jalan sama adek yang nggak bisa diatur!” ucap Dirga.

“Adek... adek... adek mulu. Calon Istri ih!” protes Kara.

“Lo ngasih dia minum, gue nggak!”

“Lo ngasih dia semangat, gue nggak!”

Kara tersenyum mendengarnya, “jadi ceritanya My Dirgantara cemburu?”

“Iya kan iya kan?” Kara menggoyangkan kedua tangan Dirga dengan riang.

“Nggak! Mana ada kakak cemburu sama adeknya.” Ucap Dirga.

“Gue cuma nggak mau lo kenapa-kenapa, Ra!”

“Dia murid baru yang belum jelas asal-usulnya. Jangan deket sama sembarangan orang.”

“Tapi kan dia siswa sekolah kita, jadi temen kita juga dong.” Balas Kara.

“Udah lah My Dirgantara kalo cemburu ngaku aja! Gue seneng kok di cemburuin. Seneng pake banget malahan.” Imbuhnya.

“Lengkara!! Lo tuh sama kayak adek gue, Sasa. Gue nggak mau lo kenapa-kenapa. Susah banget dibilangin. Awas aja kalo besok masih deket-deket sama dia. Gue sebagai kakak nggak ngasih izin!”

Kara hanya menganggukkan kepalanya berulang, “iya iya oke bang Dirga, adek nggak akan deket-deket sama Tama lagi.”

“Jangan sebut namanya di depan gue!”

“Iya iya, adek nggak bakal deket-deket dia lagi soalnya nggak dapet izin dari abang kan?” ucap Kara.

“Adek cuma diizinin deket sama abang Dirga doang kan?” ledeknya kemudian.

Terpopuler

Comments

aisyah

aisyah

pasangan yg menikah karena jalur karma aku udah baca dua kali😁😁😄

2024-02-29

0

Ita rahmawati

Ita rahmawati

kara² 🤣🤣🤣🤣

2023-03-17

0

lestari saja💕

lestari saja💕

si abang blm nyadari perasaannya atau murni abang beneran sih????

2022-10-11

0

lihat semua
Episodes
1 Pipipip Calon Mantu
2 Telat
3 Murid baru
4 Dianggap apa?
5 Pulang
6 Sakit perut apa sakit hati?
7 Guardian Angel
8 Khawatir
9 Berkunjung
10 Halu
11 Auto Sembuh
12 Gagal uwuw
13 Calon Suami Cadangan
14 Tebengan gratis, why not?
15 AC rusak
16 Bucinnya kumat
17 Ter Arhan Arhan
18 Calon kakak ipar
19 Abang Adek
20 Jalan
21 Boneka
22 Halaman rumah
23 Seblak
24 Tama
25 Balas Jasa
26 Cek Laptop
27 Servas Service
28 Master chef
29 Enak banget
30 Kopi Susu
31 CCTV
32 Jemputan
33 Berangkat sekolah
34 Ide cerdas
35 Ketos telat
36 Sinting
37 Halalin
38 Ngambek
39 VC
40 Makan siang
41 1 jam 47 menit
42 Tanpa Ijin
43 Menolak sadar
44 Kenapa?
45 Galfok
46 Diluar harapan
47 Menyerah
48 Mode Singa
49 Dekat tapi jauh
50 Move On
51 Pengakuan
52 Mantan
53 Penawaran
54 Maling
55 Gas, halalin!
56 Solutif
57 Gagal
58 Ayang
59 From the past until now
60 Surat Panggilan
61 Estetik
62 Apes
63 831, yes or no?
64 Rapat wali murid
65 Pagi di sekolah
66 Prestasi
67 Teror mami
68 Black card
69 Undangan
70 TamaCard
71 Di belakang aja
72 Calon Mantu
73 Reuni
74 First kiss
75 Nikah atau pindah?
76 Pindah
77 Menerima
78 morning kiss
79 Gift
80 Jangan mati dulu!
81 Asik, besok nikah.
82 Latihan
83 Pengantin Pengganti
84 Helm
85 Kara Karak
86 Mohon Nikahkan
87 Yang penting sah!
88 Pisah
89 Mogok makan
90 Anytime Anywhere sayang
91 Pengen
92 PR
93 Micin galau
94 Tantangan
95 Insecure
96 Top Five
97 Seperti mau mu
98 Ujian
99 Ultra Mi Mi
100 Boleh yah?
101 Pelan-pelan
102 Reka Ulang
103 Yes, aman.
104 Suami Idaman
105 Jadwal Merah
106 Pingsan
107 Lupa
108 Gara-gara Tama
109 Surat panggilan
110 Terbongkar
111 Mabok
112 Taruhan
113 Hal aneh
114 Double bonus
115 Ngidam dong!
116 Semua buat Kara
117 Nengokin si dede
118 be go tapi sadar
119 Klaim
120 Anak hilang
121 Feeling
122 Razia
123 Kesayangan
124 Tuan Muda and Me
125 Be My Wife
126 Lovely Boss
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Pipipip Calon Mantu
2
Telat
3
Murid baru
4
Dianggap apa?
5
Pulang
6
Sakit perut apa sakit hati?
7
Guardian Angel
8
Khawatir
9
Berkunjung
10
Halu
11
Auto Sembuh
12
Gagal uwuw
13
Calon Suami Cadangan
14
Tebengan gratis, why not?
15
AC rusak
16
Bucinnya kumat
17
Ter Arhan Arhan
18
Calon kakak ipar
19
Abang Adek
20
Jalan
21
Boneka
22
Halaman rumah
23
Seblak
24
Tama
25
Balas Jasa
26
Cek Laptop
27
Servas Service
28
Master chef
29
Enak banget
30
Kopi Susu
31
CCTV
32
Jemputan
33
Berangkat sekolah
34
Ide cerdas
35
Ketos telat
36
Sinting
37
Halalin
38
Ngambek
39
VC
40
Makan siang
41
1 jam 47 menit
42
Tanpa Ijin
43
Menolak sadar
44
Kenapa?
45
Galfok
46
Diluar harapan
47
Menyerah
48
Mode Singa
49
Dekat tapi jauh
50
Move On
51
Pengakuan
52
Mantan
53
Penawaran
54
Maling
55
Gas, halalin!
56
Solutif
57
Gagal
58
Ayang
59
From the past until now
60
Surat Panggilan
61
Estetik
62
Apes
63
831, yes or no?
64
Rapat wali murid
65
Pagi di sekolah
66
Prestasi
67
Teror mami
68
Black card
69
Undangan
70
TamaCard
71
Di belakang aja
72
Calon Mantu
73
Reuni
74
First kiss
75
Nikah atau pindah?
76
Pindah
77
Menerima
78
morning kiss
79
Gift
80
Jangan mati dulu!
81
Asik, besok nikah.
82
Latihan
83
Pengantin Pengganti
84
Helm
85
Kara Karak
86
Mohon Nikahkan
87
Yang penting sah!
88
Pisah
89
Mogok makan
90
Anytime Anywhere sayang
91
Pengen
92
PR
93
Micin galau
94
Tantangan
95
Insecure
96
Top Five
97
Seperti mau mu
98
Ujian
99
Ultra Mi Mi
100
Boleh yah?
101
Pelan-pelan
102
Reka Ulang
103
Yes, aman.
104
Suami Idaman
105
Jadwal Merah
106
Pingsan
107
Lupa
108
Gara-gara Tama
109
Surat panggilan
110
Terbongkar
111
Mabok
112
Taruhan
113
Hal aneh
114
Double bonus
115
Ngidam dong!
116
Semua buat Kara
117
Nengokin si dede
118
be go tapi sadar
119
Klaim
120
Anak hilang
121
Feeling
122
Razia
123
Kesayangan
124
Tuan Muda and Me
125
Be My Wife
126
Lovely Boss

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!