Calon Suami Cadangan

“Dirga!!” teriak Kara.

“Papi, aku ditinggalin lagi.” Kara melepas sepatu kirinya dan melemparkannya sekuat tenaga, tapi seperti biasa tak mengenai Dirga karena lelaki itu sudah melesat jauh bahkan kini sudah tak lagi terlihat padahal baru hitungan detik.

“Ngeselin banget. Awas aja nanti gue bales!” gerutu Kara.

“Papi....” teriaknya yang hendak kembali masuk.

“Ah nggak jadi, ntar dimarahin mami.” Kara mengurungkan niatnya dan memilih berjalan mengambil sepatu yang terlempar cukup jauh. Dia tak mau kena semprot mami Jesi yang pasti akan menceramahinya panjang lebar karena masih suka melempar sepatu. Huh padahal kan dia seperti ini juga gara-gara turunan dari kebiasaan si mami.

“Huh lumayan juga lemparan gue. Bakat kayaknya gue kalo jadi atlet lempar cakram nih.” Kara memuji dirinya sendiri. Ia mengambil sepatunya kemudian mengenakannya kembali.

“Berangkat sekolah nebeng Selvia aja ah. Mudah-mudahan tuh anak belum lewat sini.” Kara melepas tas gendongnya dan mengeluarkan ponsel. Dia langsung menekan kontak Selvia dan meletakan benda pipih itu di telinga.

“Ya ampun gue lupa kalo pake helm.” Kara meletakan ponselnya di saku dan melepaskan helm dari kepalanya.

“Pantesan aja berasa gerah banget gue.” Gumamnya.

“Ini kemana sih si Selpot lama bener ngangkat telpon doang.”

Sambil menunggu telponnya diangkat Kara terus berjalan pelan ke depan. Berharap Selvia belum melewati komplek perumahannya sehingga dia bisa nebeng. Diantara sahabatnya Selvia satu-satunya yang satu arah dengan dirinya dan bisa sedikit diandalkan soal antar mengantar, ya meskipun SIM nya hasil nembak dan kadang membuatnya rugi bandar karena harus ganti rugi korban yang kesenggol mobil Selvia. Terakhir sih tukang pecel, semoga kedepannya nggak ada korban lagi deh.

“Halo...halo Sel, lo dimana? Udah lewat komplek rumah gue belum? Nebeng dong! Gue ditinggalin lagi nih.” Cerocosnya begitu panggilannya di terima.

“Halo Sel... lo ngomong apa sih? grubug grubug nggak jelas. Di sekitar lo lagi ada angin ribut apa gimana?”

“Halo... halo... heu dasar Selpot malah dimatiin.” Gerutu Kara.

Tak lama muncul pesan masuk dari Selvia yang mengatakan jika dirinya tak bisa menjemput Kara karena dia pun berangkat diantar seseorang.

“Hish... apes banget dah.” Kara menggaruk rambutnya yang tak gatal dan berakhir mengacak rambutnya sendiri karena kesal.

“Huh!! Udah ngebayangin bakal uwuw-uwuwan malah berakhir zonk. Mana ini harus bawa helm sama jaket juga. Lama-lama gue buang dah.”

“Pesen ojol aja kali yah biar cepet? Kalo naik angkot bisa telat, ngetemnya suka lama.” Kara mulai membuka aplikasi ojeg online yang baju sama helm abang-abangnya warna ijo.

Tin!! Tin!!

Kara yang masih sibuk dengan ponselnya dikagetkan oleh mobil hitam yang baru saja berhenti di dekatnya. Tak mau ribet Kara mengabaikan mobil itu hingga klakson yang dibunyikan berulang kali membuatnya terganggu dan menatap kesal ke mobil yang ternyata sudah menurunkan kaca sampingnya.

“Lo?” Kara yang hampir nyerocos pada pemilik mobil langsung bungkam dan tersenyum canggung saat mendapati orang dibalik kemudi. Lelaki berseragam putih abu dengan senyum ramah menatapnya.

“Wah ternyata beneran Lengkara.” Ucapnya sambil membuka pintu dari dalam.

“Sendirian? Mau berangkat bareng? Naik.” Lanjutnya.

Tama mengambil tas yang ia simpan di kursi penumpang dan memindahkannya ke belakang.

“Hello, Lengkara Ayudia. Masih inget gue kan? Murid baru yang kemaren.”

Kara mengangguk “Iya-iya, gue inget kok.”

“Ya udah naik yuk, berangkat bareng.” Ajaknya.

“Apa lo lagi nunggu seseorang gitu?” lanjutnya demi melihat penampilan kolaborasi rok plus celana olahraga ditambah dengan helm dan jaket di kedua tangannya.

“Nggak kok. Gue lagi nunggu ojol aja.”

“Ya udah bareng gue aja.” Tama turun dari mobilnya dan menghampiri Kara yang hanya diam saja.

“Sini biar gue bantu.” Diambilnya helm dan jaket di tangan Kara kemudian meletakkannya di kursi belakang.

“Eh...” Kara hanya pasrah saja karena Tama mengambil paksa barang-barang yang ia bawa.

“Yuk masuk, nanti kita telat.” Tama sedikit merangkul Kara supaya gadis itu cepat masuk ke dalam mobilnya.

“Hati-hati kepalanya.” Tama bahkan sampai menutupi kepala Kara yang hendak masuk mobil supaya tak terbentur.

“Sip. Gue tutup yah.” Ucap Tama setelah Kara sudah duduk di kursi penumpang.

Ya ampun berlebihan banget ini orang, batin Kara.

Kara melihat Tama yang sedikit berlari mengitari mobil kemudian duduk di sampingnya, lagi-lagi lelaki yang menurut Kara masuk dalam deretan cogan itu tersenyum padanya.

“Eh gila senyumnya boleh juga.” Ucap Kara dalam hati, tanpa sadar ia ikut balas tersenyum.

“Tapi tetep aja Dirga paling ganteng. Eh tapi Dirga lagi ngeselin. Gantengnya gue kurangin 0,5% lah.” Lanjutnya membantin hingga bibirnya menjadi manyun kesal mengingat insiden ditinggal calon suami yang sudah berulang kali terjadi.

Kening Tama mengernyit heran dengan ekspresi lucu Kara. Belum lama tersenyum namun dengan cepat bisa berubah jadi manyun sambil komat kamit tak bersuara.

“Ya ampun dia bener-bener seperti yang diceritakan oleh tante. Sedikit aneh dan menggemaskan, tapi tetep cantik.” Batin Tama.

“Ehm! Ra. Biar gue pakein sabuk pengamannya.” Tama langsung meraih sabuk pengaman di samping Kara, menariknya dan memasangkannya dengan benar.

“Padahal gue pasang sendiri juga bisa kok.”

“Nggak apa-apa, kan gue harus memastikan lo terlindungi dengan baik.” Balas Tama.

“Kita berangkat sekarang yah.” Tama memasang sabuk pengamannya sendiri kemudian menginjak pedal gas hingga mereka mulai membelah jalanan yang mulai ramai.

“Elah bahasa lo, Tama. Udah kayak komnas perlindungan anak aja yang mesti memastikan gue terlindungi dengan baik.” Ucap Kara.

“Gue bukan komnas perlindungan anak sih, lebih ke pelindung khusus Lengkara aja.” Jawab Tama tanpa mengalihkan perhatiannya dari jalanan.

“Bisa aja kang gombal.” Cibir Kara.

“Cewek lo pasti banyak yah? Pinter banget ngegombal.” Lanjutnya.

“Kenapa nanyain cewek gue? Mau daftar?” ledek Tama.

“Cih pedenya!” Kara mendengus kesal.

“Gue cuma nanya kali.” Lanjutnya.

“Mau sekalian daftar juga boleh. Gue kosong kok, bisa di keep.” Ucap Tama.

“Ya kali kayak beli barang di online shop bisa di keep dulu. Ada-ada aja sih!”

“Tapi beneran loh, Ra. Gue lagi kosong.” Jawab Tama.

“Mohon maaf aja yah, Tama. Lo kosong tapi gue nya yang nggak kosong. Lengkara Ayudia udah punya calon suami sejak bayi!” ucap Kara.

“Eh Kata mami malah calon suami sejak dalam kandungan.” Ralatnya cepat.

Tama hanya tersenyum mendengar jawaban Kara. Ngaku-ngaku udah punya calon suami tapi pagi-pagi lontang lantung di pinggir jalan.

“Masih calon kan, belum jadi suami?” tanya Tama.

“Kalo gitu gue aja yang keep lo dari sekarang. Lumayan kan lo jadi punya calon suami cadangan.”

“Kasih tau gue kalo calon suami utama mau mundur, gue udah ready pake banget buat jadi pengganti.”

.

.

.

Tenang aja Tama, kalo calon suami utama nggak mundur, author siap keep kamu dari sekarang 🤭🤭

reader nggak boleh ikutan nge keep! apalagi reader ghaib yang abis baca nggak like sama komen. udah dah auto bukan jodoh pratama arhan😛😛

Terpopuler

Comments

Maria Kibtiyah

Maria Kibtiyah

baca ke 3 kalinya

2024-10-27

0

Maria Kibtiyah

Maria Kibtiyah

tama anaknya raya sama zidan

2024-05-06

0

Qaisaa Nazarudin

Qaisaa Nazarudin

Beneran Dirga ninggalin Kara?? Astaga..

2023-05-25

0

lihat semua
Episodes
1 Pipipip Calon Mantu
2 Telat
3 Murid baru
4 Dianggap apa?
5 Pulang
6 Sakit perut apa sakit hati?
7 Guardian Angel
8 Khawatir
9 Berkunjung
10 Halu
11 Auto Sembuh
12 Gagal uwuw
13 Calon Suami Cadangan
14 Tebengan gratis, why not?
15 AC rusak
16 Bucinnya kumat
17 Ter Arhan Arhan
18 Calon kakak ipar
19 Abang Adek
20 Jalan
21 Boneka
22 Halaman rumah
23 Seblak
24 Tama
25 Balas Jasa
26 Cek Laptop
27 Servas Service
28 Master chef
29 Enak banget
30 Kopi Susu
31 CCTV
32 Jemputan
33 Berangkat sekolah
34 Ide cerdas
35 Ketos telat
36 Sinting
37 Halalin
38 Ngambek
39 VC
40 Makan siang
41 1 jam 47 menit
42 Tanpa Ijin
43 Menolak sadar
44 Kenapa?
45 Galfok
46 Diluar harapan
47 Menyerah
48 Mode Singa
49 Dekat tapi jauh
50 Move On
51 Pengakuan
52 Mantan
53 Penawaran
54 Maling
55 Gas, halalin!
56 Solutif
57 Gagal
58 Ayang
59 From the past until now
60 Surat Panggilan
61 Estetik
62 Apes
63 831, yes or no?
64 Rapat wali murid
65 Pagi di sekolah
66 Prestasi
67 Teror mami
68 Black card
69 Undangan
70 TamaCard
71 Di belakang aja
72 Calon Mantu
73 Reuni
74 First kiss
75 Nikah atau pindah?
76 Pindah
77 Menerima
78 morning kiss
79 Gift
80 Jangan mati dulu!
81 Asik, besok nikah.
82 Latihan
83 Pengantin Pengganti
84 Helm
85 Kara Karak
86 Mohon Nikahkan
87 Yang penting sah!
88 Pisah
89 Mogok makan
90 Anytime Anywhere sayang
91 Pengen
92 PR
93 Micin galau
94 Tantangan
95 Insecure
96 Top Five
97 Seperti mau mu
98 Ujian
99 Ultra Mi Mi
100 Boleh yah?
101 Pelan-pelan
102 Reka Ulang
103 Yes, aman.
104 Suami Idaman
105 Jadwal Merah
106 Pingsan
107 Lupa
108 Gara-gara Tama
109 Surat panggilan
110 Terbongkar
111 Mabok
112 Taruhan
113 Hal aneh
114 Double bonus
115 Ngidam dong!
116 Semua buat Kara
117 Nengokin si dede
118 be go tapi sadar
119 Klaim
120 Anak hilang
121 Feeling
122 Razia
123 Kesayangan
124 Tuan Muda and Me
125 Be My Wife
126 Lovely Boss
Episodes

Updated 126 Episodes

1
Pipipip Calon Mantu
2
Telat
3
Murid baru
4
Dianggap apa?
5
Pulang
6
Sakit perut apa sakit hati?
7
Guardian Angel
8
Khawatir
9
Berkunjung
10
Halu
11
Auto Sembuh
12
Gagal uwuw
13
Calon Suami Cadangan
14
Tebengan gratis, why not?
15
AC rusak
16
Bucinnya kumat
17
Ter Arhan Arhan
18
Calon kakak ipar
19
Abang Adek
20
Jalan
21
Boneka
22
Halaman rumah
23
Seblak
24
Tama
25
Balas Jasa
26
Cek Laptop
27
Servas Service
28
Master chef
29
Enak banget
30
Kopi Susu
31
CCTV
32
Jemputan
33
Berangkat sekolah
34
Ide cerdas
35
Ketos telat
36
Sinting
37
Halalin
38
Ngambek
39
VC
40
Makan siang
41
1 jam 47 menit
42
Tanpa Ijin
43
Menolak sadar
44
Kenapa?
45
Galfok
46
Diluar harapan
47
Menyerah
48
Mode Singa
49
Dekat tapi jauh
50
Move On
51
Pengakuan
52
Mantan
53
Penawaran
54
Maling
55
Gas, halalin!
56
Solutif
57
Gagal
58
Ayang
59
From the past until now
60
Surat Panggilan
61
Estetik
62
Apes
63
831, yes or no?
64
Rapat wali murid
65
Pagi di sekolah
66
Prestasi
67
Teror mami
68
Black card
69
Undangan
70
TamaCard
71
Di belakang aja
72
Calon Mantu
73
Reuni
74
First kiss
75
Nikah atau pindah?
76
Pindah
77
Menerima
78
morning kiss
79
Gift
80
Jangan mati dulu!
81
Asik, besok nikah.
82
Latihan
83
Pengantin Pengganti
84
Helm
85
Kara Karak
86
Mohon Nikahkan
87
Yang penting sah!
88
Pisah
89
Mogok makan
90
Anytime Anywhere sayang
91
Pengen
92
PR
93
Micin galau
94
Tantangan
95
Insecure
96
Top Five
97
Seperti mau mu
98
Ujian
99
Ultra Mi Mi
100
Boleh yah?
101
Pelan-pelan
102
Reka Ulang
103
Yes, aman.
104
Suami Idaman
105
Jadwal Merah
106
Pingsan
107
Lupa
108
Gara-gara Tama
109
Surat panggilan
110
Terbongkar
111
Mabok
112
Taruhan
113
Hal aneh
114
Double bonus
115
Ngidam dong!
116
Semua buat Kara
117
Nengokin si dede
118
be go tapi sadar
119
Klaim
120
Anak hilang
121
Feeling
122
Razia
123
Kesayangan
124
Tuan Muda and Me
125
Be My Wife
126
Lovely Boss

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!