“Malah ketawa. Gue serius, Ra!” Tama menengok sebentar pada Kara kemudian kembali fokus pada jalan di depan sana. Gadis berambut panjang yang duduk di sampingnya hanya terkekeh mendengar tawarannya menjadi calon suami cadangan.
“Kara!” panggilnya karena gadis itu masih tak memberi respon.
“Lo denger gue ngomong nggak sih?” lanjutnya seraya berhenti karena traffic light merah menyala.
“Iya iya gue denger kok.” Jawab Kara masih dengan tawanya yang ditahan.
“Terus gimana?”
“Gimana apanya, Tama?”
“Ya barusan tawaran gue lah.” Ucap Tama.
Kara kembali terkekeh, “Lo kira hidup ini pertandingan sepak bola apa? Pake ada cadangan segala. Calon suami pula.”
“Ya kan kadang segala sesuatu nggak berjalan sesuai dengan yang kita harapkan, Ra. So, kita harus mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik.”
“ya ya lah terserah lo aja, Tamarin!”
“Tamarin?”
“Ya, lo Tama. Tamarin! Manis-manis asem gitu.” Kelakar Kara.
“Dasar! Kirain manis-manis bikin jantung lo jedag jedug gitu.” Balas Tama.
“Jantung gue kan emang jedag jedug terus, kalo nggak jedag jedug mati dong.” Jawab Kara.
“Eh udah ijo, buruan jalan.” Lanjutnya.
Tama hanya menggeleng pelan karena gadis di sampingnya tak memahami makna jedag jedug yang ia maksud. Entahlah benar-benar tak paham atau hanya sekedar pura-pura. Tama kembali melajukan mobilnya.
“Tama, lo fokus ke depan yah. Jangan liat kesini!” ucap Kara.
“Kenapa emang?” disuruh untuk tak melihat padanya, Tama justru langsung menengok pada Kara.
“Heleh di suruh jangan liat, malah liat!” gerutu Kara.
“Gue mau buka ini celana olahraga. Bentar lagi nyampe sekolah, malu lah turun dari mobil masa pake celana olahraga sama rok. Ntar gue di kira nggak waras.”
“Jangan liat jangan liat!” teriaknya.
Kara menutup kakinya dengan jaket Dirga kemudian dengan perlahan menarik celana olahraganya hingga terlepas.
“Udah.” Ucapnya seraya melipat celana olahraga.
“Udah boleh nengok?”
“Hm iya boleh.” Jawab Kara.
“Lagian ngapain sih pake celana olahraga segala, Ra? Terus tadi bawa helm juga. Emang tiap hari lo kayak gitu?”
“Kalo mau naik ojeg kan uda disediain helm sama kang ojeg nya.”
“Iya ini juga helm punya kang ojeg spesial gue. Cuma baru sampe dipakein helm sama ngasih jaket langsung ditinggal kabur.” Ucap Kara.
“Emang nggak ada akhlak tuh tukang ojeg!” lanjutnya.
“Kok bisa? Besok-besok lo nggak usah naik ojeg lagi. Berangkat bareng gue aja, Ra. Lagian kita searah. Lo tinggal chat aja kalo mau dijemput.”
“Chat?”
“Iya.” Jawab Tama.
“Nomor gue yang semalem.” Lanjutnya.
“Yang mana?” Kara mulai mengingat chat yang masuk ke ponselnya, seingatnya ia tak bertukar pesan dengan siapapun sejak kemarin. Kecuali Dirga yang malam tadi mengingatkan supaya tak telat, ya meskipun berakhir ditinggalkan juga.
“Yang GA?” tebaknya kemudian.
“Yups.” Balas Tama.
“Kok bisa tau nomor gue?”
“Tau lah. Kemarin pas gue tinggal ambil mobil ke parkiran lo udah ngilang, gue sampe nyari balik ke UKS buat mastiin lo masih ada di sana apa nggak. Eh hasilnya nihil, untung ketemu bu Dini."
“Dapat nomor gue dari bu Dini?”
“Nggak.”
“Terus?”
“Dari grup kelas. Makanya punya grup tuh di baca!” cibir Tama.
“Jadi kita satu kelas?” tanya Kara seraya melihat ke arah jajaran guru BK dan anggota OSIS yang berdiri di dekat gerbang.
“Cih so banget si sabun batangan.” Gumamnya yang kesal melihat Deva begitu dekat dengan My Dirgantara nya.
“Kenapa manyun-manyun gitu?” tanya Tama.
“Nggak apa-apa. Makasih yah buat tumpangannya.” Kara membuka sabuk pengamannya sementara Tama dengan cepat keluar dan berlari mengitari mobil untuk membukakan pintu.
“Padahal gue bisa buka sendiri.” Ucap Kara saat lelaki tinggi itu sudah membukakan pintu untuknya.
“Kan gue mesti memastikan Lengkara terlindungi.” Balas Tama dengan senyum ramahnya.
“Cih! Gombal banget sih.”
“Tapi suka kan digombalin?” Tama mengikuti Kara.
“Nggak.”
“Tapi cewek-cewek di sekolah lama gue suka lo digombalin. Katanya romantis.” Ledek Tama.
“Tapi gue nggak suka tuh.” Jawab Kara.
“Makanya gue gombalin terus lah biar lo jadi suka. Kali aja kita berjodoh gitu.” Jawab Tama seraya melambaikan tangan dan tersenyum ramah pada beberapa gadis yang tersenyum padanya.
“Tepe tepe lo!” cibir Kara.
“Apaan tepe tepe?” tanya Tama yang mensejajarkan jalannya dengan Kara.
"Tebar pesona!"
“Oh... ini bukan tepe tepe tau Ra, tapi menghargai orang lain. Mereka senyum ya gue senyumin lah. Kenapa lo nggak suka gue ramah sama cewek lain?” ledeknya.
Kara memutar bola matanya jengah, kenapa lelaki di sampingnya itu begitu percaya diri? Udah dicuekin tetep aja mengikutinya.
“Suka-suka lo lah, Tamarin. Gue nggak peduli.”
“Tapi gue peduli. Gimana dong?” ledek Tama.
“Eh mau kemana?” Tama menarik tas gendong Kara hingga gadis itu berhenti.
“Kelas kita bukannya di sebelah sana?” Tama menunjuk arah yang berlawan dengan Kara.
“Lewat sana aja lebih cepet.” Lanjutnya memberi saran.
Kara berbalik menatap Tama, “jangan main tarik dong! Rambut panjang gue jadi ikutan ke tarik nih. Sakit tau!” Gerutu Kara.
“Sorry... sorry... sini gue bantu rapiin.” Tama tanpa permisi langsung mengusap kepala Kara dan merapikan rambut panjang gadis itu dengan jari.
“Udah-udahlah biar gue aja.” Kara menepis tangan Tama.
Lokasi parkiran yang berada di sebelah kanan pintu masuk memiliki dua pintu keluar, dimana yang satu kembali ke dekat gerbang sedang yang satu lagi mengarah langsung ke jajaran kelas. Tak jauh dari jarak Kara dan Tama yang sedang ribut soal rambut, seorang lelaki yang berdiri di dekat gerbang masuk menatap keduanya dengan tajam.
“Gue mau nyamperin bu Irma dulu. Bu Irma pasti bangga nih gue nggak telat. Lo kalo mau ke kelas duluan aja sana.” Ucap Kara kemudian berjalan menuju gerbang tempat bu Irma dan beberapa anggota OSIS berdiri.
“Gue temenin deh.” Balas Tama yang kemudian mengikuti Kara.
“Pagi bu Irma... “ sapa Kara seraya menyalami guru BP yang selalu menugaskannya menyapu daun mangga.
“Pagi juga. Wah tumben Lengkara nggak telat yah. Kesambet apa kamu bisa berangkat pagi?” ledek bu Irma.
“Tapi bagus, ibu bangga. Akhirnya kamu benar-benar tobat.”
“Ibu tenang aja, saya pastikan mulai sekarang Lengkara tidak akan telat lagi. Saya jemput tiap pagi.” Sambung Tama.
Bu Irma menatap Tama, “ibu baru lihat kamu sekarang, murid baru?”
“Iya, bu. Pindahan.” Jawab Tama sopan.
“Oh pantesan.” Ucap bu Irma.
“Ibu seneng Lengkara punya temen baru yang bisa jemput dia tiap pagi, jadi beban ibu berkurang. Ibu sampe bosen hampir tiap hari ngehukum dia.” Lanjutnya.
“Ibu tenang aja. Mulai sekarang Lengkara nggak akan telat lagi. Ya kan, Ra?” ucap Tama seraya merangkul bahu Kara dengan akrab.
Dirga yang sejak tadi berdiri di samping bu Irma menatap kesal pada Kara yang tak menghindar saat Tama meletakan tangannya di bahu, bahkan gadis itu terus tersenyum seraya menanggapi setiap ucapan bu Irma. Sejak melihat Kara si adik kesayangannya itu keluar dari parkiran dengan Tama saja sudah membuatnya kesal, kini harus melihat bahu Kara di sentuh oleh lelaki itu tepat di depan matanya. Oh sungguh ini tak bisa dibiarkan!
“Bu Irma, saya permisi sebentar.” Pamit Dirga.
“Ra, lo ikut gue!” ucapnya tak terbantahkan sambil menarik tangan Kara dan membawanya pergi dari sana.
"Apaan sih main tarik-tarik, Ga? Sakit tau!" protes Kara.
"Lo berangkat bareng dia?" Dirga menunjuk Tama yang masih mengobrol dengan bu Irma.
"Tama?"
"Gue nggak nanya namanya!"
"Ya gue ngasih tau aja, nama dia Tama." jawab Kara enteng.
"Gue nggak peduli!" sentak Dirga.
"Kok lo ngegas sih, Ga?"
"Gue kan udah ngelarang lo berangkat sama cowok lain. Susah bener dibilangin!"
"Buktinya gue nggak apa-apa. Lagian gue ditinggalin mulu! ada tebengan gratis why not?" jawab Kara kemudian berlalu meninggalkan Dirga.
"Kara, gue belum selesai ngomong!" teriak Dirga tapi gadis berambut panjang itu hanya melambaikan tangannya tanpa berbalik.
.
.
.
Seperti biasa ritualnya jangan sampe kelewat.
TAMPOL LIKE, KOMEN SAMA LOPE NYA!!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 126 Episodes
Comments
Tika Rotika
bagus kara kasih pelajaran si Dirga biar tau rasa 👍👏
2023-06-25
0
Qaisaa Nazarudin
Nah gitu dong Kara,Di cuekin baru dia ngejar kamu,, dgn teganya dia ninggalin kamu,eh saat ada yg ngasih tumpangan dianya marah 🙄🙄
2023-05-25
0
Ita rahmawati
si tama aneh bgt ,,nyebelin 😏😏🙄🙄
2023-03-17
0