“Brosurnya sudah jadi?“ tanya Ed pada anggota osis yang lain.
“Iya sudah jadi ketua, tapi kita kekurangan panitia penyelenggara!“
Ed menerima brosur pensi tahunan dan sepertinya dia menemukan kandidat penitia.
“Aku yang akan mengurusnya!“ ucap Ed berlalu keluar dari ruangan osis karena tujuannya saat ini mencari Kika atau lebih tepatnya dia menunggu gadis itu di perpustakaan karena sebelumnya dia menerima pesan dari Kika.
Saat Ed masuk perpustakaan ternyata Kika sudah ada di sana, gadis itu tampak duduk dengan menutupi wajahnya dengan buku. Sebelumnya, Kika menghindari Red yang selalu mengejarnya bahkan saat di kantin tanpa malu pemuda itu merangkulnya yang membuat seisi kantin menatap mereka.
“Kika!“ panggil Ed.
“Ed, apa ada tempat aman selain di perpus?“ tanya Kika menurunkan buku yang menutupi wajahnya.
Ed tersenyum tipis, dia berpikir Kika ingin berduaan dengannya. Oleh karena itu, Ed membawa gadis itu ke tangga darurat yang ada di perpustakaan. Memang letak perpustakaan berada di lantai atas, jika ke sana para siswa lebih memilih menggunakan lift.
“Setidaknya aku terbebas dari Red,“ gumam Kika berdiri dengan bersender pada dinding.
“Kau tidak nyaman berpacaran dengan Red?“ tanya Ed, penasaran.
Ed ikut duduk berselonjor di samping Kika.
“Bukan begitu tapi Red bersikap berlebihan, aku tidak mau ada Jessie-Jessie lain yang merundungku!“ jelas Kika dengan mengambil kotak yang dia bawa sedari tadi. “Kau sudah makan? Aku tidak melihatmu di kantin!“
Kika membawa bekal potongan sandwich yang dia buat sendiri, karena ternyata anak-anak orang kaya itu makannya sedikit. Kika mengamati cara makan Nada, Pink dan Green, hal itu membuatnya mau tidak mau mengikuti cara makan mereka. Walaupun badannya kecil tapi selera makannya tinggi, Kika merasa tidak kenyang dan harus membawa bekal tambahan.
“Kau yang membuatnya sendiri?“ tanya Ed salah sangka, dia mengira Kika membuat sandwich khusus untuknya.
“Iya aku yang membuatnya sendiri.“ Kika ingin mengambil satu potongan sandwich tapi Ed langsung menutup kotak itu. “Tidak boleh!“
“Kau kan membuatnya untukku jadi sekarang sandwich-sandwich ini milikku!“ ucap Ed percaya diri.
Kika mendengus karena pasti akan kalah berdebat dengan pemuda itu. “Yah, kau boleh memakan semuanya! Ayo kita mulai kelas privatenya!“
“Aku kesulitan mengerjakan soal ini.“ Tunjuk Kika pada soal yang dia maksud dengan membuka buku fisika.
Ed mengamati soal tersebut dan langsung mengangguk paham. Disobeknya satu kertas lalu dia gumpal membentuk bola, kebetulan di depannya ada tempat sampah yang berjarak tak jauh darinya. Sambil melempar gumpalan itu, sambil Ed berkata. “Kita lempar ini dengan gerakan parabola dengan rumus jarak maksimum dan dengan sudut 45 derajat, lemparan berjarak 0,75 meter!“
Pluk!
Gumpalan kertas itu masuk tepat di tempat sampah plastik di sana.
“Kecepatan 2,71 m/s dengan sudut lempar 45 derajat, jarak maksimum 0,75 meter! Apa kau paham?“ tanya Ed, kemudian.
Kika menggeleng kuat karena tidak paham tapi Ed dengan sabar mengajari gadis itu lagi, sampai bell masuk berbunyi membuat keduanya segera keluar perpus untuk masuk ke kelas mereka masing-masing.
“Thanks, Ed. Aku mulai paham!“ ucap Kika sebelum pergi.
Ed mengguyar rambutnya. “Jika ada soal yang tidak kau mengerti, tanyakan saja!“
“Of course, kau tutor terbaik dan__“ Kika mengulum senyumnya. “Tampan!“
“Oh iya?“ Ed rasanya mau berteriak karena kesenangan dipuji cewek yang dia taksir. “Apa kau mau jadi panitia pensi, Kika?“
Ed berharap Kika menerima tawarannya supaya dia bisa lebih dekat dengan Kika.
“Panitia pensi?“ tanya Kika memastikan.
“Iya, kami kekurangan anggota!“
Kika tampak berpikir sejenak, sepertinya tidak ada salahnya mencoba. Selain mendapat pengalaman pasti juga akan menambah relasi pertemanannya.
“Baiklah!“ ucap Kika.
Sepasang mata menatap tidak suka interaksi antara pacar dan sepupunya. Red yang mencari Kika sedari tadi langsung menarik tangan Kika sampai badan pacarnya terhuyung ke arahnya.
“Beib, aku mencarimu ternyata kau lagi-lagi selingkuh dengan Ed, ya?“ Red berkata dengan nada mencibir yang kental.
“Aku hanya menanyakan soal yang tidak aku mengerti!“ sahut Kika waspada, tidak ingin terjadi perselisihan diantara dua cowok populer itu Kika memilih segera pergi ke kelasnya. “Ayo, masuk kelas!“
Sebelum Kika dan Red berbalik, Ed tampak memprovokasi. “Thanks, sandwichnya Kika!“
“Kau membuatkan Ed sandwich?“ tanya Red memandang Kika dengan memicingkan matanya.
“Um, itu__“ Kika bingung harus menjawab apa.
Red yang tidak terima berusaha merebut kotak yang ada ditangan sepupunya.
“Yang lebih berhak atas sandwich ini adalah aku, karena aku pacar Kika!“ ucap Red mencoba mengambil kotak dari tangan Ed tapi langsung ditepis oleh pemuda itu. “Kika memberikannya padaku!“
“Itu punyaku, Ed!“
“No! It's mine!“ Ed terus menjauhkan kotak dari jangkauan Red dengan memundurkan badannya.
Sampai tanpa sadar Ed membentur dinding pembatas dan refleks kotak itu terlepas turun ke bawah dari lantai atas.
Bersamaan dengan itu, Black berjalan kembali ke kelasnya setelah dari ruangan musik berada. Pemuda itu melewatkan makan siangnya membuat dia kelaparan.
“Langit, bisa kah engkau turunkan makanan, aku lapar mau makan!“ gumamnya.
Pluk!
Tiba-tiba kotak terjatuh dari atas mengenai kepalanya. “Woah, sandwich!“
Black senang bukan main mendapat makanan gratis, yang entah asalnya dari mana.
“Terima kasih, langit!“ serunya sambil memakan sandwich itu.
“BLACK!!!“
Di detik Black menggigit sandwich di detik itu juga, suara teriakan itu terdengar dari atas. Black mengadah ternyata suara itu berasal dari Red dan Ed yang berada di lantai atas sana.
“Enak, Kak!“ ucap Black dengan polosnya.
“Akan aku sebarkan foto lemarimu yang penuh dengan semvak hello kitty itu!“ ancam Red yang kesal.
Black menggeleng. “Mommy__“
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
Chifuyu Matsuno
😂😂😂😂😂ajir aku ketawa sampe lemes thor😂😂😂😂
2023-06-27
0
mama galaau
🤣🤣🤣🤣🤣
2023-05-15
0
Ajusani Dei Yanti
bhahahahah semvak helo kitty dasar black 🤣🤣🤣🤣🤣
2023-04-06
0