Red yang berada di atap sekolah merasa gusar karena Kika yang tidak datang menemuinya bahkan dia menunggu sampai jam istirahat selesai.
“Ternyata dia tidak tahu terima kasih!“ gerutu Red yang sebelumnya merasa jadi penolong Kika.
Karena bell sekolah sudah berbunyi, Red kembali ke kelasnya. Pemuda itu melewati perpustakaan di mana Kika dan Ed baru keluar dari sana.
“Red!“ panggil Kika mendekati pacarnya karena ingin berterima kasih yang tertunda sebelumnya.
Red memicingkan matanya melihat Kika mendekat. “Jadi kau bersama Ed selama jam istirahat?“
“Iya, aku__“
Belum sempat Kika menyelesaikan kalimatnya, Red langsung mendekati Ed dan mencengkram kerah baju seragam sepupunya itu.
“Kika pacarku Ed, jangan berani dekati dia!“ ucap Red penuh emosi, entahlah dia tidak suka jika Kika dekat dengan cowok lain.
Ed malah terkekeh geli mendapat perlakuan seperti itu. “Kau sendiri yang bilang padaku kalau Kika pacar pura-puramu, Red!“
Melihat perseteruan tidak terduga itu, Kika berusaha melerai karena takut paparazi sekolah akan melihat kejadian itu.
“Red, ayo kita masuk ke kelas!“ ajak Kika dengan menarik tangan pacarnya supaya melepas cengkramannya pada Ed. “Ed, kami ke kelas dulu!“
Ed mengangguk, dia juga segera pergi ke kelasnya.
Sebelum masuk kelas, Red mendorong Kika ke dinding kelasnya. Beruntung anak-anak sudah masuk kelas semua dan guru mata pelajaran belum datang.
“Dengar Kika! Kau satu-satunya pacarku yang berani bertingkah! Kau begitu berani mengabaikan aku dan selingkuh dengan Ed!“ geram Red dengan nafas naik turun.
“Jadi kau menganggap aku pacar sungguhan?“ tanya Kika yang bingung akan sikap Red padanya. Pemuda itu seolah cemburu melihat kedekatan dirinya dengan Ed.
“Sungguhan atau pura-pura, kau tidak boleh dekat dengan siapapun, Kika!“ sahut Red yang terasa ambigu bagi Kika.
Guru mata pelajaran yang melihat Red dan Kika malah bermesraan di luar kelas, berusaha menegur keduanya.
“Di area sekolah dilarang pacaran!“ ucapnya tegas.
*****
Ed yang menginap di mansion oma opanya, sepulang sekolah langsung mencari keduanya.
“Oma!“ panggil Ed saat masuk mansion.
Saat itu Bianca sedang membuat kue di dapur bersama pelayan.
“Oh, Choco sudah pulang!“ tegur Bianca yang tidak memakai kacamatanya.
“Aku Ed bukan Choco, Oma!“ protes Ed karena Bianca selalu saja salah memanggil cucu-cucunya. “Dimana, Opa?“
“Opa sedang memancing di belakang!“
Ed segera mendatangi Opa bajak lautnya yang sedang sibuk memancing.
“Kapten!“ panggil Ed saat melihat Arse yang begitu konsentrasi memegang alat pancingnya di kolam ikan buatannya sendiri.
Sedetik kemudian umpannya dimakan ikan membuat Arse berdiri dan meminta bantuan cucunya.
“Red, bantu Opa!“ teriaknya.
“Aku Ed, Opa! Wajahku hanya satu!“ keluh Ed mendekati Arse dan mencoba memegang alat pancing yang ditarik ikan.
“Cepat putar yang kuat!“ ucap Arse meminta Ed memutar tali pancingan.
Sampai akhirnya ikan kakap besar terangkat membuat Arse kesenangan.
“Bee, oh my Bee__ nanti malam kita makan ikan kakap!“ teriak Arse memanggil istrinya.
Ed memutar bola matanya karena ukuran kolam itu tidak terlalu besar dan sebenarnya bisa menangkap ikan di sana dengan memakai jaring tanpa alat pancing.
“Kenapa Opa mempersulit diri, ukuran kolam ikan ini 5 meter kali 5 meter kalau kita menebar benih__“
“Stop, Ed!“ Arse menyela karena tahu jika Ed akan mengeluarkan jurus simetrisnya. “Opa memancing karena ingin melatih kesabaran!“
“Sebenarnya pikiranku agak kacau hari ini, Opa. Ada seorang anak perempuan yang membuatku berdebar-debar sampai aku lupa berhitung!“ keluh Ed mengingat wajah Kika yang semerah tomat saat bertatapan dengannya.
Bianca ikut bergabung dengan keduanya sambil membawa kue yang baru jadi.
“Kenapa?“ tanya Bianca penasaran.
“Ed jatuh cinta!“ jawab Arse dengan terkekeh.
“Benarkah?“ tanya Bianca lagi tidak percaya.
Ed syok dengan pernyataan opanya. Jadi dia sedang mengalami gejala jatuh cinta?
“Wah, gawat!“ gumamnya.
“Kenapa gawat?“ tanya Arse dan Bianca kompak.
“Anak perempuan itu adalah pacar Red!“ jawab Ed.
Arse dan Bianca langsung saling pandang dengan ekspresi wajah sulit diartikan.
“Bee, ini kenapa aku tidak setuju dengan ide om cabul itu memberi nama Pandawa pada anak-anak kita! Lihatlah, sekarang cucu-cucu kita akan perang saudara!“ ucap Arse pada istrinya.
*****
Bagi yang gak tahu om cabul itu siapa, itu adalah daddy Abbas, bapaknya Arse. Itu julukan sayangnya Arse sama daddy-nya.
Arse emang anak durjana, jangan ditiru😅
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
HNF G
🤣🤣🤣🤣
2023-03-17
0
Alexandra Juliana
Btw orangtua Arse dan mertuanya disini msh ada gaa..atau sdh meninggal?
2023-03-09
0
Alexandra Juliana
Wow punya kolam ikan laut..mancingnya dapat ikan kakap..
2023-03-09
0