Bayangan Red dan Ed berputar-putar di kepala Kika, membuat gadis itu tidak konsentrasi saat belajar. Sedari tadi Kika belajar tapi tidak ada yang masuk ke kepalanya.
“Kalau begini kapan pintarnya!“ gerutu Kika dalam hatinya.
Kika tidak menyangka kebohongannya bisa membuat dia sekarang dekat dengan dua cowok populer di sekolah.
“Apa Ibu mengganggu?“ tanya Simi yang masuk ke kamar putrinya.
“Tidak, Bu,“ jawab Kika.
Simi yang membawa camilan untuk putrinya ikut duduk di atas kasur Kika karena memang Kika tidak mempunyai meja belajar.
“Belajar sambil nyemil biar tambah semangat,“ ucapnya. Lalu Simi mengeluarkan beberapa lembar uang dari kantong bajunya untuk dia berikan pada Kika. “Ini uang jajanmu!“
“Gak usah, Bu. Ada Red yang antar jemput sekolah, di sekolah juga ada makan siang gratis!“ tolak Kika karena gadis itu tahu bagaimana susah payah orangtuanya mencari uang.
“Tapi 'kan kau juga harus punya pegangan. Ditabung buat beli buku atau keperluan lainnya!“ Simi memaksa dengan menaruh uang itu ke dalam kantong baju Kika.
Sebenarnya beberapa kali Nada mengajaknya jalan tapi Kika menolaknya karena tidak punya uang.
“Maaf ya, Bu. Aku sekarang gak bisa bantu Ibu sama bapak lagi!“ ucap Kika yang semenjak bersekolah di sekolah barunya tidak pernah mulung lagi.
“Tugasmu 'kan memang belajar, biar bapak sama ibu yang cari uang!“ sahut Simi dengan mengecup kening putrinya penuh kasih sayang. “Lanjutkan belajarnya!“
Simi keluar dari kamar itu dan menemui Herman yang menunggunya sedari tadi.
“Bu, ayo makan!“ ajak Herman.
Mereka makan nasi dengan lauk ikan asin demi menghemat uang untuk bisa memberi Kika uang jajan.
Dan Kika mengintip kedua orangtuanya dari celah pintu kamarnya yang sedikit terbuka.
“Aku pasti bisa membanggakan kalian suatu hari nanti,“ gumam Kika penuh tekad.
Sampai ponsel Kika berdering di mana Red melakukan panggilan video.
“Hallo,“ jawab Kika saat menerima panggilan itu. Di sana Kika melihat Red yang tengah berada di Labnya.
“Aku sudah mencari tahu semuanya!“ ucap Red dengan gusar.
“Mencari tahu apa?“ tanya Kika dengan wajah bingungnya.
Dan wajah itu terlihat jelas di layar ponsel Red membuat pemuda itu merasa semakin gelisah.
“Aku meminta Veronica memindaiku dan mencari tahu apakah aku mempunyai tumor kepala atau semacamnya tapi ternyata aku sehat. Tapi kenapa aku selalu memikirkanmu, itu sangat membuang waktuku, Kika!“ ucap Red dengan nada tinggi sampai membuat Kika ingin melempar ponselnya.
“Sepertinya kau yang membuang waktuku, Red!“ kesal Kika karena dia yang tidak mengerti dengan apa yang pemuda tampan itu maksudkan.
“Aku sudah mencari tahu dan hanya satu yang bisa aku simpulkan, kau saat ini sedang melakukan pelet, 'kan?“ tuduh Red yang bingung atas apa yang dia rasakan.
Mata Kika membulat tidak percaya dengan indera pendengarannya. “Pelet apaan? Anak jenius sepertimu percaya hal begituan?“
“Itu yang paling masuk akal!“ jawab Red, yakin.
Kika mengatur nafasnya menahan emosi. “Dengarkan aku baik-baik Red Atmadja yang terhormat, aku tidak akan melakukan hal seperti itu walaupun aku miskin! Lagian ke dukut pelet itu butuh uang banyak, sementara aku buat makan aja susah!“
“Begitu, ya?“
Red masih tidak terima akhirnya dia berkata lagi. “Kau harus bertemu, Paul! Karena Paul yang bisa menilai seseorang, pastikan kau tidak mempunyai panu!“
“Paul? Panu?“ gumam Kika sambil mengingat kata-kata Pink dan Green kalau Paul itu adalah seekor harimau.
“Mati aku! Mas Cha Eun Woo, tolong calon istrimu!!“ jerit Kika pada idolanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
HNF G
red mirip cha eun woo ya🥰🥰🥰🥰😍😍😍😍
2023-03-17
0
Alexandra Juliana
Semangat Kika...kamu hrs belajar di Cicil, datang dr desa terpencil, dengan kedua org tua yg hanya buruh tani krn sawah yg dipunyai dijual demi ambisi Cicil mengejar idolanya ( Juna ). Krn ketekunannya dia berhasil menjadi pengusaha kacang atom yg otomatis memperbaiki taraf hidup kedua orangtuanya..
2023-03-09
0
Nisa Zeqir
ini sebenar'a yg lucu thor 🤭😁😁😁
2022-09-20
0