Belum juga hilang rasa terkejutnya, Kika semakin terpukau saat Red membawanya ke dalam Labnya. Karena gadis itu baru pertama kali melihat Lab super canggih yang dimiliki Red, bahkan banyak robot-robot kecil di sana.
“Duduklah!“ perintah Red pada Kika, meminta gadis itu duduk di kursi yang ada di Lab tersebut.
Kika menurut, dia duduk dengan gugup dan sedikit meringis menahan lututnya yang terluka.
“Veronica, beri minum tamu kita!“ perintah Red lagi pada teknologi kecerdasan buatan yang dia miliki. Veronica teknologi turun temurun dari sang daddy, bahkan Veronica bisa dianggap bagian dari keluarga walaupun tidak ada wujud fisik melainkan hanya program.
Sebuah robot kecil membuka kulkas dan mengambil sebuah minuman soda lalu robot itu mendekati Kika dan memberikan minuman soda tersebut.
“Terimakasih!“ ucap Kika kikuk. Seumur hidupnya baru kali ini dia berterimakasih pada robot.
Red masih sibuk di depan layar komputernya dan meminta Veronica menyiapkan nano teknologi yang dia buat untuk menyembuhkan luka.
“Sudah siap, Bos!“ lapor Veronica.
“Mari kita coba!“ ucap Red beranjak dari tempatnya dan mendatangi Kika yang tampak asyik meminum soda.
Red membawa alatnya dan meminta Kika untuk menselonjorkan kakinya.
“Tahan, ini tidak akan sakit! Jaringan dan selmu akan dibentuk baru lagi dalam waktu yang singkat jadi lukamu akan cepat mengering bahkan seperti sedia kala!“ jelas Red.
Dan alat itu mulai mengeluarkan sinar merah seperti laser dan mulai bergerak di luka Kika. Sebenarnya rasanya panas dan sakit tapi Kika masih bisa menahannya.
Beberapa menit kemudian, luka itu sembuh bahkan lukanya tidak tampak lagi karena membentuk jaringan baru.
“Woah, ini sangat keren!“ ucap Kika kagum.
Red juga tersenyum puas melihat hasil kerja kerasnya itu.
“Veronica, buat presentasi alat ini. Kita harus memperkenalkan pada dunia dan aku akan tambah kaya!“ ucap Red percaya diri.
Lalu dia menatap Kika di sana. “Kau boleh pulang sekarang! Kakimu sudah sembuh, bukan?“
*****
Dua minggu berlalu semenjak pertemuannya dengan Red. Hari-hari yang dijalani Kika sama seperti sebelumnya. Karena Kika libur setelah ujian jadi waktunya dia gunakan membantu orangtuanya untuk memulung sampah.
Saat ini Kika sedang memilah plastik daur ulang yang akan dijual. Kika tinggal bersama dengan kedua orangtuanya di rumah sewaan kecil yang rata-rata penyewanya memang pekerjaannya memulung sampah. Jadi semua yang tinggal di komplek itu memaklumi jika di depan rumah mereka ada tumpukan-tumpukan kardus atau limbah plastik.
“Kika!“
Merasa ada yang memanggil namanya, Kika mencari sumber suara. Ternyata ketua RT yang memanggil Kika, gadis itu langsung berdiri dari tempat dia duduk.
“Iya, Pak!“ jawab Kika.
“Ada paket buatmu!“ ucap pak RT dengan memberikan sebuah amplop.
Amplop berwarna putih dan mata Kika berbinar melihat tulisan yang ada di sampul amplop itu.
Zero International School
Itu adalah sekolah paling bergengsi di kota, yang bersekolah di sana adalah anak-anak populer dan kaya.
Sewaktu mulung sebulan lalu tidak sengaja Kika menemukan sebuah formulir beasiswa di sekolah tersebut. Kika iseng mengisinya dan mengirimnya, tak disangka dia mendapat beasiswa di sana.
“Terimakasih, Pak!“ ucap Kika kesenangan.
Kika masuk ke dalam rumahnya dan membuka kasur busa tipis yang selama ini dia buat untuk tidur. Di bawah kasur itu ada segepok uang yang diberikan Red kala itu, Kika masih menyimpan dan enggan memakainya karena takut itu adalah uang dari pesugihan tuyul. Dia masih tidak menyangka bisa bertemu orang kaya malam itu.
Tapi hari ini dia akan memakainya untuk membeli kebutuhan dia sekolah, setidaknya Kika tidak boleh kelihatan kampungan. Dia akan bertahan setahun di sekolah itu untuk pura-pura kaya supaya dirinya tidak di bully dan dikucilkan.
Setelah lulus pasti banyak pekerjaan yang menanti saat dia memakai ijazah sekolah bergengsi itu. Kika optimis bisa mengangkat derajat keluarganya.
*****
Tahun ajaran baru di mulai, Kika bersiap sekolah dengan barang-barang serba baru yang dia beli dari uang Red yang diberikan padanya. Sebelumnya pak RT ada datang lagi dan memberikan paket berupa seragam sekolah. Sekarang penampilan Kika nampak seperti orang kaya.
“Cantiknya anak ibu,“ tegur Simi, ibu dari Kika.
“Doakan semuanya lancar ya, Bu,“ ucap Kika dengan mencium pipi ibunya.
“Doa ibu selalu menyertaimu! Sekarang pamitan sama bapak!“
Kika segera mencari bapaknya yang tampak mencuci sepeda ontel tua miliknya.
“Pak!“ panggil Kika.
Herman sang bapak langsung tersenyum bangga melihat putrinya yang cantik memakai seragam sekolah mahal.
“Ayo bapak antar!“ tawarnya.
“Bapak mau mengantar aku memakai sepeda ontel?“ tanya Kika memastikan.
“Terus pakai apa? Cuma ini yang bapak punya, sepeda ontel ini dari jaman bapak pacaran sama ibu!“ sahut Herman bangga.
Kika tersenyum kikuk, dia harus bisa menolak dengan halus. Kika tidak mau identitas aslinya sebagai anak pemulung diketahui di sekolah barunya.
“Tidak usah Pak, nanti Bapak capek. Biar aku naik angkot aja, aku masih punya uang kok!“ tolak Kika halus.
Kika langsung berlari keluar komplek ke jalanan besar tapi bukannya naik angkot, Kika malah naik taksi. Gadis itu sudah biasa dirundung di sekolah lamanya karena statusnya sebagai anak pemulung. Oleh karena itu, dia tidak mempunyai teman. Jadi, dia tidak mau hal itu terulang di sekolah barunya.
Sesampai di sekolah, Kika membuka mulutnya lebar melihat gedung sekolah yang mewah. Mata Kika menelisik semua siswa siswi yang tampak memakai barang serba branded.
Bahkan parkiran diisi dengan mobil-mobil mewah. Kika hanya bisa menelan ludahnya kasar, dia harus kuat mental dan tidak boleh norak.
Dengan bantuan satpam sekolah, Kika diantar ke ruang kepala sekolah. Kika memberikan surat pengantar dan kepala sekolah segera meminta Kika bertemu dengan wali kelasnya.
“Kika Anjasmara, masuk di kelas XII IPA-1. Selamat datang di Zero International School, tunjukkan prestasi dengan ambisi. Itu motto sekolah kita!“
“Terimakasih, Pak Kepsek!“ ucap Kika dengan menerima kartu pelajarnya.
Kika segera menemui wali kelasnya, kemudian dengan mengekori wali kelasnya, Kika menuju kelasnya berada.
“Perhatian anak-anak. Di kelas kita ada murid baru!“ ucap wali kelas itu.
Lalu wali kelas meminta Kika memperkenalkan diri.
“Hallo teman-teman, namaku Kika. Aku gadis baik hati dan tidak sombong dan pintar menabung!“ ucap Kika dengan senyum cantiknya.
“Salam kenal, Kika!“
Semua siswa yang ada di kelas XII IPA-1 itu menyambut Kika dengan baik.
Kika tersenyum bahagia sampai senyumnya pudar melihat satu siswa yang duduk paling pojok. Siswa itu diam menatap Kika dengan nyalang yang membuat gadis itu merasa terancam. Kika takut identitasnya terbongkar karena siswa itu tahu siapa dirinya.
“Kenapa pemuda tampan, sombong dan kaya itu bisa sekelas denganku!“ jerit Kika dalam hati menyadari siswa itu adalah Red.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 96 Episodes
Comments
HNF G
OMG....... alamat gak aman nih nasip🙁
2023-03-17
0
Ayuna
lanjut
2022-07-18
0
karomah arifin
ketemu red, malahan 1 kelas 😁
2022-07-09
0