Pagi pun tiba Laura sudah siap dengan dua tas besar miliknya dan juga milik Yumna, hari ini dia akan kembali ke kediaman sang ibu. Sebelum berpamitan, Laura akan menemui Mario dan menyerahkan Yusra dan meminta Mario menceraikannya.
Nyonya Antiah datang, dan mengelus pundak Laura yang sedang menatap foto pernikahan mereka. "Kamu sudah siap, nak? Ibu akan mengantarmu."
"Aku sudah siap." Jawab Laura mantap, walau hatinya sakit.
Nyonya Antiah dan Laura keluar dari apartemen tersebut, dibantu oleh Jakie yang membawakan barang-barang Laura, dan putri kembarnya.
Mobil pun melaju membelah jalanan ibu kota, yang selalu ramai. Tak butuh waktu lama mereka sudah sampai di depan rumah mewah tersebut.
"Kamu yakin, akan baik-baik saja?" tanya nyonya Antiah, dan Laura pun mengangguk.
Laura turun dari mobil, setelah Jakie membukakan pintu. Laura menggendong Yusra sedangkan Jakie dia membantu Laura membawa barang-barang Yusra.
Laura menghembuskan napasnya, dia berusaha untuk setenang mungkin. Jakie menekan bel beberapa kali. Kemudian pintu terbuka, Mala membulatkan matanya seolah-olah akan keluar.
"No-nona Laura, anda sudah melahirkan?" Mala bertanya dengan gugup, dan Laura hanya tersenyum.
"Ayo masuk nona, saya akan memanggilkan tuan." Ajak Mala, Laura dan Jakie mengekor Mala.
Setelah Mala melapor pada Mario tentang kedatangannya, Mala menyajikan air minum untuk Laura, dan Jakie.
****
Betapa terkejutnya Mario, saat dia melihat Laura tengah menggendong bayi. Yang dia tahu bayi tersebut perempuan, dengan tergesa Mario melangkah menuruni tangga dengan cepat.
"Laura kamu..." Mario tidak melanjutkan kata-katanya, dia terlalu terkejut mengetahui Laura sudah melahirkan.
"Kapan kamu, melahirkan Laura?" tanya Mario dengan lirih. "kenapa tidak, memberitahuku?"
"Kemarin, tak lama kamu pergi meninggalkanku. Aku tidak ingin mengganggu kamu dengan nyonya Dania, makanya aku gak beritahu." Jawab Laura, dengan senyum di wajahnya. Padahal hatinya terasa sesak.
"Perjanjian kita sudah selesai Mario, kamu harus segera menceraikan aku. Dan aku akan memberikan putri mu ini." Tutur Laura, dengan air mata menggenang di sudut matanya.
Mario terdiam dia tidak bisa berpikir, mendadak otak cerdasnya jadi bodoh.
"Tidak Laura, aku tidak bisa melepaskan mu begitu saja. Bagaimana aku tanpamu, apakah hatiku akan baik-baik saja?" batin Mario, tapi kenyataannya Mario masih berat pada Dania dibanding Laura yang sudah memberinya anak.
Mario memejamkan matanya, dan menghembuskan napasnya dengan perlahan.
"Baiklah, Laura Anjani saya Mario Wiriadinata membebaskan mu dari pernikahan ini aku menalakmu, dan kamu haram bagiku." Mario berucap dengan lantang, tanpa sadar menyakiti hati keduanya.
Laura yang mendengar ucapan Mario hanya bisa menatap putrinya dengan sendu, Laura mencium Yusra dengan sayang.
"Mamah pergi dulu, jadilah putri yang sholehah, nurut pada mami dan papi mu yah nak. Mamah menyayangimu." Bisik Laura, dengan air mata di pipinya, Laura mencium Yusra sayang. Kemudian bangkit dari duduknya dan memberikan Yusra pada Mario. Mario menerima bayi cantik tersebut.
"Aku sudah memberikannya nama, Mario. Apa kau tidak mempermasalahkannya?" tanya Laura, menatap kedua netra Mario yang terlihat kesedihan yang mendalam.
"Aku tidak mempermasalahkannya Laura, siapa nama bayi cantik kita, ini?" tanya Mario, menahan rasa sesak di dada.
"Yusra Almira Wiriadinata." Jawab Laura.
"Apa artinya?"
"Aku tidak tau," kekeh Laura.
"Aku hanya menyukai nama itu." Lanjutnya lagi, dan Mario hanya menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu, aku pergi Mario permisi." Ucap Laura, tanpa menunggu jawaban Mario, dia sudah melenggang pergi dari hadapan Mario. Dapat Laura mendengar suara tangis sang anak, sebelum dia keluar dari rumah tersebut.
Tanpa sadar dari lantai dua, Dania memperhatikan adegan dramatis di bawah. Dengan senyum sinis penuh kemenangannya dia berhasil menyingkirkan satu penghalang lagi dari kehidupannya dan Mario.
"Aku tidak mempermasalahkan bayi itu, tapi aku akan membuatnya menderita bersamaku." Jelas Dania dengan nada sinis.
****
Setelah keluar dari rumah Mario, Laura masuk ke dalam mobil. Dan seketika tangisnya pecah nyonya Antiah dengan sebelah tangannya merangkul Laura, satu tangannya lagi digunakan untuk menggendong sang cucu.
"Menangislah Laura, jika itu membuatmu lebih baik." Ucap nyonya Antiah menenangkan.
Setelah puas menangis dalam pelukan sang ibu. Laura merasa lebih tenang, nyonya Antiah tidak ingin menjadi mantan ibu mertua dia tetap ingin menjadi ibu untuk Laura.
"Anggaplah, aku juga ibu kandungmu Laura." Pinta nyonya Antiah pada saat itu.
"Baiklah, bu." balas Laura, lalu Laura memeluk nyonya Antiah.
Mobil meninggalkan pekarangan rumah Mario, seakan tau keadaan sang ibu. Yumna begitu terlelap dalam tidurnya.
Bersambung…
Maaf typo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Praised93
terima kasih......
2024-05-25
0
Arin
wah dania gtauny mlh lampir...semoga aja Mario tau scptny
2023-09-17
0
Nyai yani
kasian
2023-03-06
0