Dan malam itu Laura kembali tidur di balkon, dengan sejuta rasa kesedihan, dan kecewanya pada Mario. Mungkin efek kehamilannya, dia berubah menjadi lebih melow dan pagi menjelang Laura mengalami mual dan muntah.
Laura memijit pelipisnya yang terasa pusing, tidak adanya orang yang menemani Laura membuat netranya berkaca-kaca, sampai-sampai dia terduduk di sudut kamar mandi menyandarkan kepalanya pada dinding saking pusingnya.
"Seandainya ada ibu," lirih Laura, kembali tertidur di sudut kamar mandi.
Sementara itu di kediaman Mario, dan Dania. Mereka baru selesai sarapan bersama. Mario langsung pergi ke kantor setelah berpamitan pada Dania. Tapi dia teringat akan Laura membelokan mobilnya menuju apartemen Laura.
Saat tiba keadaan apartemen sunyi dan gelap, bahkan Laura lupa menghidupkan lampu ruang tengah.
"Dimana Laura?" tanyanya pada diri sendiri.
Mario berjalan menuju kamar yang ditempati Laura, tapi tidak menemukannya di kamar tersebut. Lalu Mario mengecek kamar mandi, dan betapa terkejutnya dia mendapati Laura di kamar mandi.
"Astaga Laura," pekik Mario, dia tidak tahu apakah Laura pingsan atau tidur.
Mario mengangkat Laura, dan dibaringkannya di ranjang. Mario menepuk-nepuk pipi Laura. Laura mengerjapkan matanya, tapi kembali menutupnya karena pusing itu masih ada. Laura memunggungi Mario tanpa bicara.
"Laura." Panggil Mario lembut.
"Pergilah, aku tidak ingin melihatmu." Lirih Laura, dengan suara lemahnya.
"Tidak aku akan menemanimu."
"Tidak perlu, aku tidak butuh kamu. Pergi aku mohon pergi." Pinta Laura, dengan isak tangis. Mario bingung dengan sikap Laura.
"Laura maafkan aku." Ucap Mario.
Laura yang geram mendengar permintaan maaf dari Mario, langsung bangun dari tidurnya yang membuat dunianya seperti berputar.
"Aku tidak butuh maafmu, aku benci kamu. Pergi sana jangan pernah temui aku, pergi pada istri sah mu juga. Aku akan memberikan anak ini saat dia lahir, tapi aku tidak mau bertemu denganmu." Bentak Laura marah, dengan nafas memburu. Mario yang melihat kemarahan Laura tidak bisa berkata-kata.
"Laura aku..."
Belum selesai Mario berbicara, Laura sudah memotong perkataan Mario.
"Apa mau minta maaf lagi, aku sadar Mario aku hanya istri kedua, dan istri siri mu hanya untuk memberikanmu anak. Tapi aku juga punya perasaan dan hati, aku ingin di perhatikan, dan di sayang olehmu." Lirih Laura, di antar isak tangisnya.
Tiba-tiba Laura mengaduh, dia memegang perutnya yang merasakan kram.
"Aduh...perutku sakit." Ucap Laura pelan, Mario panik melihat Laura kesakitan.
"Laura ayo, kita ke dokter." Tanpa menunggu jawaban Laura, Mario membawanya ke luar dari kamar menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Mario membawa Laura ke IGD. Kemudian dokter menangani Laura.
Setelah memeriksa keadaan Laura, dokter memberitahu Mario bahwa Laura terlalu banyak pikiran, dan tertekan sehingga menyebabkan kram pada perutnya. Dokter juga menyarankan Mario, untuk selalu memperhatikan ibu yang sedang hamil karena moodnya mudah berubah-ubah.
Setelah mendengar penjelasan dokter, Mario menuju ruang perawatan Laura dia melihat Laura sedang terlelap wajahnya pucat.
****
"Nyonya Dania, tuan Mario tidak datang ke kantor." Lapor Jimi pada Dania.
"Baiklah terima kasih Jim." Ucap Dania.
"Kemana Mario? Apa dia ada di apartemen Laura? Sebaiknya aku hubungi dia." Gumam Dania.
Dania memutuskan menghubungi Mario, pada dering pertama dia tidak mengangkatnya. Dan pada dering ke empat baru Mario mengangkatnya.
Lewat panggilan telepon, Mario menceritakan Laura yang masuk rumah sakit karena sakit pada perutnya. Mario juga memberi tahu bahwa Laura tengah hamil empat minggu, membuat Dania yang mendengar itu pun merasa bahagia.
"Baiklah Mario, aku akan menyusul mu ke rumah sakit." Putus Dania.
Beberapa jam kemudian Dania telah sampai di rumah sakit tempat Laura di rawat, Dania menyusuri lorong rumah sakit dengan semangat.
Saat membuka pintu Laura sudah sadar, dan sedang melamun.
"Laura." Panggil Dania lembut, Laura menoleh dan menatap Dania kemudian dia menangis.
"Laura kenapa kamu menangis?" tanya Dania.
"Kemana Mario? Ada yang sakit?" tanyanya lagi, Laura menggeleng dia hanya ingin dipeluk saja.
"Mario pergi keluar, cari makan." Jawab Laura lirih.
"Lalu kenapa kamu menangis?" Dania menatap Laura.
"Mmm...itu aku, mmm aku ingin di peluk." Cicit Laura, dengan malu-malu membuat Dania terkekeh, kemudian Dania mengusap perut Laura.
"Apa baby, minta di peluk mami nak?" tanya Dania, saat Dania akan memeluk Laura. Laura menahan tubuh Dania membuat Dania heran.
"Kenapa? Tadi mau di peluk?" tanyanya.
"Aku mau dipeluk kamu, sama Mario." Ucap Laura, membuat Dania lagi-lagi terkekeh.
"Baiklah, kita tunggu Mario kembali." Putus Dania, karena dia tahu mungkin ini adalah permintaan bayi yang didalam perut Laura.
Berpuluh menit kemudian, Mario kembali dengan kantong makanan di kiri, dan kanan tangannya. Mario meletakan bawaannya kemudian menghampiri Dania.
"Sudah lama?" tanya Mario, mencium kening Dania membuat Laura memalingkan wajahnya.
"Gak terlalu lama." Jawab Dania.
"Ou yah sayang, Laura ingin kita memeluknya mungkin itu keinginan calon bayi kita." Ucap Dania, membuat Mario mengernyitkan dahi.
"Permintaan yang aneh." Gumam Mario, tak ayal dia menuruti keinginan istri keduanya tersebut.
Dania dan Mario memeluk Laura, Laura yang mendapatkan perlakuan tersebut langsung senang di buatnya.
"Terima kasih." Ucap Laura dengan senang.
"Sama-sama Laura, lain kali jangan banyak yang kamu pikirkan yah. Nanti aku akan mengirim salah satu pelayan di rumah buat nemenin kamu ok." Ujar Dania, dan Laura pun mengangguk sebagai jawaban. "sekarang kamu makan Laura, kasihan bayi butuh nutrisi."
Kemudian Dania, Laura, dan Mario makan bersama, dengan pikiran masing-masing.
****
Malam pun tiba, Dania sudah pulang pukul lima sore diantar oleh Jimi. Sedangkan Mario menemani Laura dengan izin dari Dania.
"Dokter bilang besok kamu sudah boleh pulang." beritahu Mario.
Laura tidak menjawab ucapan Mario, dia terus menatap layar datar yang sedang menayangkan acara musik di salah satu stasiun televisi swasta.
"Laura, apa kamu mendengarkan aku?" tanya Mario.
"Aku mendengarkan mu." Jawab Laura datar.
"Laura jangan seperti ini, maafkan aku." Mario merasa frustasi atas sikap Laura, yang berubah-ubah. Mungkin hormon ibu hamil pikirnya.
"Laura aku berjanji akan selalu menemanimu, aku akan menginap di apartemen. Dania akan mengerti." Jelas Mario, dia berusaha membujuk Laura agar Laura tidak marah lagi. Dengan cepat Laura menoleh menatap sang suami, dia menatap mata Mario mencari kebohongan di dalamnya. Tapi, hanya ada kejujuran dan keseriusan.
"Iya kah? Kamu akan menemaniku?" tanya Laura antusias, Mario menganggukkan kepalanya.
"Sini." Panggil Laura, sambil menepuk sisi ranjang yang kosong.
"Temani aku tidur, aku ingin dipeluk olehmu." Ucap Laura, dengan malu-malu.
Mario melangkah mendekati Laura, dan merebahkan diri di samping Laura setelah mematikan ponsel, dan televisi. Mario memeluk Laura dengan kasih sayang, dan menikmati waktunya dengan Laura.
"Biarkan aku larut dalam hangatnya dekapanmu, mengarungi indahnya mimpi bersama walau hanya dalam mimpi sekalipun, dan menikmati setiap momen kebersamaan denganmu. Sebelum aku pergi dari hidupmu." Batin Laura, mulai terlelap ke alam mimpi dalam dekapan Mario.
bersambung….
Maaf typo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Praised93
terima kasih
2024-05-25
0
Dianatino
sedihnya Laura🥺
2022-11-11
0
Noly Yathi
suka banget to cerita nya.lanjut.
2022-11-08
0