Dinginnya malam tak menyurutkan langkah Laura, menyusuri lorong rumah sakit, takut? Tentu saja tidak, tidak akan ada setan yang membunuh manusia dan berakhir kini dia berada di taman rumah sakit. Laura menghela nafas pelan, dan memejamkan matanya berharap ini bukan mimpi.
Saat membuka mata, Laura menatap bulan purnama dan bintang-bintang di langit. Dia selalu ingat kenangan masa kecil bersama sang adik yang sudah lebih dulu menghadap sang pencipta. Begitupun sang ayah yang telah pergi meninggalkan dirinya, dan juga sang ibu.
"Apa kalian bahagia di sana?" gumamnya lirih, tanpa tahu malunya air mata Laura meluncur bebas. Dan lama-lama menjadi sebuah isak tangis.
"Aku gak bisa, aku gak kuat. Ayah bawa aku... Bawa aku." Lirih Laura.
Tanpa sepengetahuan Laura dari jauh Mario memperhatikan Laura, dengan ekspresi yang sulit diartikan. Seperti terhipnotis dengan sendirinya, Mario melangkahkan kakinya untuk dekat dengan Laura.
"Kenapa menangis?" tanya Mario, membuat Laura terlonjak kaget.
"Bukan urusanmu." Ketus Laura.
"Kepo banget nih, orang," batin Laura, melirik dengan tajam.
Hening kemudian suasana yang tercipta, mereka saling diam menatap lurus ke depan dengan pikiran masing-masing.
Laura menoleh kepada Mario, dan memandangnya dari bawah ke atas.
"Pasti kaya, apa aku pinjam saja kepadanya?" batin Laura.
"Kenapa melihatku seperti itu?" Mario mengangkat sebelah alisnya, Laura sangat malu karena ketahuan telah mencuri pandang pada Mario.
Kemudian Laura memalingkan wajahnya. Langkah kaki seseorang membuat Laura menoleh ke belakang dan datanglah seorang perawat laki-laki dengan tergesa.
"Maaf nona, ibu anda..."
Sebelum melanjutkan ucap perawat tersebut, Laura sudah beranjak dari duduknya dan berlari ke ruang perawatan sang ibu. Sesampainya di sana Laura melihat ibunya kejang-kejang dan merintih, tim medis sedang menangani ibunya.
Laura pun menunggu di luar, bersama Mario. Entah kenapa Mario malah mengikuti langkah Laura. Beberapa menit kemudian Dokter pun keluar. "Nona, ibu anda harus segera di operasi jika tidak itu akan membahayakan nyawanya." Jelas Dokter.
"Jika sudah melakukan pembayaran, malam ini kami akan melakukan operasi pengangkatan kista yang sudah menyebar." Terang dokter lagi.
Laura menghela nafasnya secara kasar. "Lakukanlah, Dok." Lirih Laura.
Dokter mengangguk, dan pergi dari hadapan Laura. Laura menoleh kepada Mario dan Mario mengangkat sebelah alisnya.
"Apa?" tanya Mario.
"Bolehkah saya meminjam, uang anda tuan." Cicit Laura.
Mario menautkan kedua alisnya, kemudian munculah sebuah ide.
"Baiklah, aku akan meminjamkan mu. Tapi ada syaratnya." Ucap Mario datar.
"Syarat." Gumam Laura, dan Mario mengangguk.
"Besok kita akan membicarakannya, dan malam ini aku akan melunasi biaya pengobatan ibumu sampai dia sembuh." Tutur Mario.
Tanpa pikir panjang, Laura menyanggupi permintaan Mario. Tanpa tau apa syaratnya yang penting sang ibu sembuh. Laura mengikuti langkah Mario menuju loket administrasi, dan membayar lunas semua biaya ibunya Laura.
"Ini sudah lunas, ibumu bisa segera dioperasi sekarang." Mario menyodorkan bukti transaksi, yang nominalnya tidak sedikit.
"Terima kasih tuan," ucap Laura tulus.
"Kalo begitu saya permisi, besok bertemu lagi di sini."
Laura hanya mengangguk sebagai jawaban, kemudian Mario pergi melenggang meninggalkan Laura kembali ke ruangan sang istri
Beberapa menit kemudian, ibu Laura sudah masuk ke dalam ruangan operasi. Dan Laura dengan setia menunggu sang ibu di depan ruang operasi.
***
Ruang perawatan Dania
Mario membuka pintu ruang rawat sang istri, dia melihat Dania yang sedang melamun menatap langit-langit, tanpa menoleh kepada Mario.
"Kenapa belum tidur?" tanya Mario, sambil mengelus rambut panjang Dania. Yang selalu Mario sukai.
"Aku gak bisa tidur, tidur membuatku pusing dan selalu memimpikan anak kita." Lirih Dania.
Mario naik ke tempat tidur Dania, setelah Dania menggeser badannya untuk Mario naik. Mario menarik Dania kedalam pelukannya.
"Sudah jangan dipikirkan, nanti kita akan mendapat gantinya."
Dania mendelik pada Mario. " Ganti dari mana? Sedangkan aku tidak bisa hamil lagi, rahimku sudah tidak ada." Bentak Dania.
"Ssttt...tenanglah sayang," Mario berusaha menenangkan Dania. "sekarang kamu tidur, sudah larut." Perintah Mario, dan Mario pun mengusap punggung Dania membuat Dania terlelap di dalam dekapan Mario.
"Kamu jangan khawatir, sayang kita bisa mendapatkan anak," batin Mario, kemudian Mario pun ikut terlelap.
***
Keesokan paginya Laura terbangun, di samping sang ibu. Setelah melakukan operasi beberapa jam dan dia baru bisa tidur pada waktu dini hari dan sekarang waktu menunjukan pukul enam pagi. Laura memijit pelipisnya yang terasa pusing karena tidur sebentar. Dia melihat ibunya yang belum juga sadar akibat pengaruh obat bius.
Penyakit kista yang sudah parah, karena dibiarkan membuatnya mengalami komplikasi kista ovarium. Karena terkendalanya biaya nyonya Anjani membiarkan penyakitnya, dan bekerja untuk membantu sang anak yang hasil nya tidak seberapa, nyonya Anjani sering menyembunyikan jika dia sedang kesakitan.
Laura tersenyum dan mengusap pucuk kepala sang ibu. "Ibu pasti sembuh." Gumamnya.
"Ibu, Laura pergi kerja dulu yah." Pamitnya, dan mencium kening nyonya Anjani, dan mencium punggung tangannya.
Laura keluar dari ruangan, dan menemui perawat dia akan menitipkan ibunya kepada perawat yang jaga. Dan harus segera menelpon jika ibunya sadar.
Pada saat akan menuju lobby, Laura melihat Mario sedang berbicara dengan seseorang dan kebetulan Mario melihatnya, Mario menunjuk Laura. Membuat Laura mengerutkan keningnya.
Setelah itu dia melihat Mario, masuk kedalam mobil dan berlalu begitu saja. Laki-laki yang bersama Mario menghampirinya.
"Selamat pagi, nona saya asisten pribadi tuan Mario. Saya ditugaskan untuk memberikan syarat yang tuan Mario ajukan." Jelasnya panjang lebar.
"Perkenalkan nama saya Jimi."
Laura menyambut uluran tangan, Jimi. "Laura."
"Mari ikut saya, kita akan membicarakan ini di kantin rumah sakit."
Jimi melangkah terlebih dulu, dan Laura mengekor di belakangnya.
"Ini adalah syarat yang tuan Mario ajukan," Jimi memberikan sebuah map berwarna biru, dan Laura membaca isi surat itu.
Laura membulatkan matanya, tidak percaya. "Menyewakan rahimnya, untuk mengandung." Gumamnya.
"Apa, tidak ada syarat lain?" cicit Laura.
"Jika tidak bersedia, anda harus mengganti semua biaya yang tuan Mario keluarkan." Jelas Jimi datar.
Laura menghembuskan nafasnya secara kasar, tidak ada pilihan lain dia harus menerima syarat ini. Dari pada harus membayarnya, memang uang dari mana dia?
"Baiklah saya menerimanya," jawabnya pasrah.
Jimi mengangguk sebagai jawaban.
"Besok saya akan menjemput anda, di sini. Kalo begitu saya permisi." Ucap Jimi, dan pergi meninggalkan Laura.
Laura memijat keningnya, yang semakin pusing apakah dia bisa melakukannya.
"Aku pasti bisa, hanya selama sembilan bulan ini." Semangatnya pada diri sendiri.
Saat sedang melamun, Laura di kejutkan dengan ponselnya yang berdering Mimi teman kerjanya yang menelpon.
"Halo, Mimi." Laura mendengarkan ucapan Mimi.
"Iya aku akan masuk, sebentar lagi mungkin." Jawabnya dengan ragu, setelah berpamitan Mimi memutuskan sambungannya lebih dulu.
Laura beranjak dari, duduk nya dia akan pulang dan bekerja kemarin dia sudah meminta izin hanya sehari. Bos nya begitu pelit dalam urusan memberi izin libur, Laura berdecak kesal.
Bersambung...
Maaf typo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Praised93
eh ada yang nello ternyata mimi
2024-05-25
0
Bzaa
semangat 💪💪💪
2022-12-10
0
Zhaafbrynn
semangaaat!!!
mampir yuk ke karya Sahabat se-Syurga
jangan lupa tinggalkan jejak ~
thankyouuuu~~
2022-09-07
1