Laura, dan Mario benar-benar menghabiskan waktu bersama. Tanpa adanya gangguan dari Dania, sebenarnya Mario beralasan pada Dania bahwa dirinya akan keluar kota selama beberapa minggu. Tapi ada hal yang Mario lewati yaitu Jimi, sahabatnya tersebut selalu membela Dania.
Dania yang merasa kesepian tanpa adanya Mario, memutuskan untuk menanyakan pada Jimi kapan Mario pulang dari luar kota. Dania memutuskan untuk mendatangi Jimi di kantor sang suami.
Setelah tiba di kantor, karyawan yang kenal dengan Dania hanya menunduk hormat pada istri bos mereka. Dania sudah di depan Jimi tanpa Jimi sadari.
"Nyonya, kapan kau sampai?" tanya Jimi terkejut.
"Barusan, kapan Mario kembali?"
Jimi mengusap tengkuknya, Jimi bingung akan menjawab apa pada Dania. Nyatanya dia tidak tau di mana Mario, Mario hanya datang pagi siang dan pergi lagi.
"Saya tidak tahu, nyonya." Jawab Jimi, apa adanya.
Dania tidak membalas perkataan Jimi, dia pergi begitu saja membuat Jimi melongo.
"Huh! Sabar, sabar. Nasib bawahan," gumam Jimi.
****
Dania sangat kesal, sebab Mario berani berbohong padanya. Hari ini dia akan menuju apartemen Laura apakah Mario ada di sana atau tidak.
Dania melajukan mobilnya menuju apartemen Laura, dia diam di dalam mobil sampai dia melihat mobil Mario, tak lama di susul Laura dengan wajah sumringah nya.
"Kamu membohongiku Mario, beraninya." Geram Dania.
"Lihat saja, kamu akan menyesal sudah membohongiku." Tatapan sinis terus Dania berikan pada Laura, yang sedang merangkul tangan kekar sang suami. Dan melupakan fakta, jika Dania lebih di prioritaskan oleh Mario selama ini.
Malam pun tiba, Mario yang mendapatkan telpon mendadak dari perusahaannya di sore hari membuat dia terpaksa meninggalkan Laura.
"Laura maafkan aku, ada urusan penting. Aku akan mengusahakan pulang cepat yah." Ucap Mario penuh sesal, Mario mengecup kening Laura.
"Hati-hati, kalo ada apa-apa langsung hubungi aku yah." Pinta Mario, dijawab anggukan oleh Laura.
"Hati-hati, sayang." Lirih Laura, dan Mario mengangguk kemudian keluar dengan tergesa.
Tak lama setelah Mario pergi, Laura kembali menonton acara yang menurutnya gak ada yang bagus. Suara bel apartemen mengagetkan Laura.
"Mario," gumam Laura tersenyum.
Setelah membuka pintu, Laura membelalakkan matanya tidak menyangka bahwa yang datang adalah Dania.
"Nyonya Dania," cicit Laura.
Dania masuk begitu saja, membuat Laura begitu gugup. Pasalnya baru kali ini dia melihat tatapan dingin Dania.
"Sudah berapa bulan sekarang?" tanya Dania.
"Delapan bulan lebih, nyonya." balas Laura, dengan begitu gugup. Perasaannya mengatakan tidak enak.
"Laura berjanjilah padaku," mohon Dania, pada Laura.
"Janji apa?" tanya Laura bingung.
"Setelah melahirkan, kamu harus pergi dari kehidupan kami. Dan kamu juga tidak boleh menemui anak yang kamu kandung, ingat Laura kamu jangan pernah menaruh rasa pada suamiku. Aku bisa saja melakukan apapun yang ku mau, padamu dan anak yang ada dalam asuhanku nantinya." Jelas Dania, Dania selalu menatap tangan Laura yang mengelus perutnya dengan sayang.
Reflek Dania mengusap perut ratanya. "Dulu, kamu pernah hadir di dalam sini nak. Di dalam rahim mami, karena kecerobohan mami. Kamu jadi pergi meninggalkan mami dan papi." Batin Laura lirih.
"Kalau aku tidak mau bagaimana, nyonya?" tutur Laura, membuat Dania membelalakkan matanya
"Tidak bisa, kamu harus ingat akan perjanjian itu Laura." Tanpa sadar intonasi Dania, meningkat membuat Laura terkejut.
"Laura, dengarkan aku… Aku mohon dengarkan aku, kamu bisa hamil lagi Laura. Kamu bisa mencari pria yang lain Laura, yang mau menerimamu apa adanya." Tutur Dania, kini dia telah bersimpuh di hadapan Laura. Membuat Laura kelabakan tidak enak, tapi Laura membiarkannya saja.
"Aku akan memberikan bayimu, nyonya. Tapi apakah bisa anda memberikan suami anda padaku?" pinta Laura, tanpa di duga Dania menampar pipi Laura dengan keras. Laura memegang pipinya yang terasa panas.
"Dasar pelakor, perempuan gak tau diri. Dan lain lain." Dania terus saja mengumpat Laura, dengan kata-kata tajam.
Laura berdiri membukakan pintu untuk Dania, dengan menatapnya tajam.
"Kamu keluar sendiri, atau aku seret." Ancam Laura marah, dengan terpaksa Dania keluar dari apartemen Laura, dan sekali lagi menatapnya dengan sinis
Tubuh Laura melorot di depan pintu, setelah menutup pintu. Laura menekan dadanya merasa sesak, dan perutnya terasa mulas.
"Maafkan mamah yah, sayang kamu harus mendengar kata-kata jelek dari mamimu." Ucap Laura sambil mengusap perutnya, yang terasa tegang.
***
Tepat pukul tujuh malam, Mario sampai di apartemen Laura dengan membawa martabak telur, dan mix berry pesanan Laura. Laura menyambut Mario dengan antusias, dan menerima pesanannya tanpa mengatakan apapun yang terjadi padanya dengan Dania.
"Makasih." Ucap Laura, Mario mengusap puncak kepala Laura dengan sayang.
"Aku ingin menikmati, momen terakhir kita bersama mu. Aku ingin menemanimu melahirkan anak-anak kita." Batin Mario, sambil menatap Laura yang melahap makanannya dengan wajah berseri.
Suara batuk Laura membuyarkan lamunan Mario.
"Ya Tuhan, Laura." Mario panik karena Laura tersedak, dengan sigap Mario memberikan air minum kepada Laura.
"Sudah baikan?" tanya Mario, dan di jawab anggukan oleh Laura.
"Kalo makan, pelan-pelan sayang. Gak akan ada yang minta ko." Goda Mario, membuat Laura cemberut.
"Kamu tau mas, anak kita begitu aktif saat aku memakan makanan ini." Kekeh Laura, Laura mengganti panggilan Mario menjadi mas.
Mario mengusap perut Laura, dan mengajak anak-anaknya bicara.
"Kamu senang, nak? Nanti papimu ini akan memberikannya lagi." Ucapnya, kemudian Mario mengecup perut buncit Laura.
"Ou yah, Laura kenapa perutmu besar sekali? Seperti sedang hamil anak kembar." Tanya Mario, membuat Laura gugup.
"Itu..mmm, mas kan tau kalo aku mengandung anak perempuan. Kata orang-orang kalo hamil anak perempuan ya emang besar begini." Kilah Laura.
"Mudah-mudahan, kamu tidak curiga." Batin Laura.
"Ou gitu yah, aku baru tau." Kekeh Mario, membuat Laura bisa bernapas lega.
Sementara itu di kediaman Mario, dan Dania. Dania mengamuk melempar semua barang-barang yang ada di kamarnya.
"Berani sekali dia, ingin memiliki suamiku." Marah Laura, para pelayan yang mendengar suara dari kamar sang nyonya sangat ketakutan. Mereka sangat tahu bagaimana nyonyanya itu mengamuk.
"Bagaimana ini, mbok? Apa kita hubungi tuan saja?" tanya Mala, kepada mbok Sari pelayan yang sudah lama bekerja dengan Mario.
"Jangan kita tidak tau kan, tuan sedang apa sekarang? Kalo dia sedang sibuk gimana?" tutur mbok Sari.
Sedangkan dua pelayan lain, hanya sembunyi di kamar mereka. Takut akan jadi sasaran nyonyanya.
"Sudah kita biarkan saja, ayo kita kerja lagi." Ajak mbok Sari pada Mala, dan di jawab anggukan oleh Mala.
Suara pecahan, dan teriakan dari kamar Dania, terus saja terdengar membuat siapa saja takut. Mereka tidak berani menenangkan Dania.
Sementara di kamar Dania, dia terus berusaha menghubungi Mario tapi hasilnya tidak bisa. Untuk pertama kalinya Mario menolak panggilan dari Dania.
"Aaaarrgghh...kamu jahat Mario, kamu jahat." Pekik Dania.
"Awas saja, aku akan memisahkan kalian." Ancam Dania.
Kemudian Dania kembali mengacak-acak isi kamarnya, dan sekarang kamarnya sudah mirip kapal pecah. Tidak peduli berapa harga dari barang-barang tersebut, Dania bisa membelinya lagi begitu pikirnya.
Bersambung…
Maaf typo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Praised93
terima kasih.......
2024-05-25
0
nur
ibu Mario sudah tahu sifat Dania kayak apa
2022-09-29
2
Wardah Juri
munkin karna sipat nya kaya gitu ya maka ibu mario gak suka sama dania
2022-09-08
0