Satu bulan sudah Mario tidak mengunjungi Laura, entah kemana dia. Laura sudah menghubunginya, tapi tetap saja Mario mengabaikan panggilan darinya.
Laura terus memandang ponselnya dengan tatapan sendu, Laura menghapus air matanya secara kasar. Hari ini dia berencana akan pergi keluar, lama di rumah membuatnya jenuh dan suntuk Laura butuh hiburan.
Tak membutuhkan waktu lama Laura sampai di sebuah mall ternama di Indonesia, Laura melangkah menuju lantai di mana toko yang menjual perlengkapan bayi.
Saat sampai di toko yang menjual perlengkapan bayi, Laura asik memilih milih barang yang dia butuhkan untuk putri kembarnya. Ya Laura mengandung bayi kembar dan berjenis kelamin perempuan, Mario tidak mengetahui bahwa Laura mengandung bayi kembar. Hanya dirinya dan Antiah lah yang mengetahui semuanya.
Setelah selesai memilih dan membeli yang dia suka dan membayarnya, Laura melangkah kembali dia mencium aroma yang membuat air liurnya menetes. Chicken steak, dan aroma roti yang baru keluar dari panggangan yang membuatnya ingin meneteskan air liur.
Laura melangkah ke toko roti, dan membelinya setelah membayar Laura memasuki cafe yang menjual chicken steak tersebut. Laura menyebutkan pesanannya dua chicken steak, dan jus mix berry. Semenjak hamil Laura sangat menyukai mix berry.
Saat sedang menunggu Laura melihat Mario, dan Laura seperti dejavu kejadian waktu itu di restoran terulang kembali. Laura menarik napas, dan membuangnya secara perlahan mulai hari ini dia tidak akan peduli pada Mario, dia akan membentengi dirinya agar tak jatuh dalam pesona pada Mario.
"Terima kasih." Ucap Laura, saat pesanannya sudah tiba, Laura kemudian melahap makanannya dengan sangat lahap.
****
Sementara itu Jakie yang selalu memantau Laura, melaporkan pada nyonya Antiah bahwa sudah satu bulan Mario tidak mengunjungi Laura, dan sekarang dia sedang mengikuti Laura kemanapun dia pergi.
Seperti saat ini, Jakie menghalangi pandangan Mario dari Laura. Setelah selesai makan, dan membayar makanannya, Laura buru-buru pergi dia tidak ingin bertemu dengan Mario.
Di dalam taxi Laura melamun, sambil mengelus perutnya yang sudah membuncit.
"Maafkan mamah nak," lirih Laura dengan mata berkaca-kaca, hingga sebuah gerakan yang mengenai tangannya membuat hati Laura senang. Pasalnya selama ini bayinya tidak mau melakukan gerakan di dalam perutnya.
"Kamu merespon ku?" tanya Laura, bayi yang ada dalam kandungan Laura pun merespon kembali dengan sebuah gerakan yang halus, dan bayi-bayi itu selalu bergerak. Mungkin tahu jika ibunya tengah bersedih.
Aktivitas Laura terhenti saat supir taxi memberi tahu bahwa telah sampai di tempat tujuan, setelah membayarnya Laura mengucapkan terima kasih.
Dengan membawa barang yang lumayan banyak, membuat Laura kesusahan. Tapi tiba-tiba barang tersebut di rebut oleh Mario yang menatapnya tajam. Laura mengacuhkan tatapan tajam tersebut, dia melenggang menuju lift saat lift terbuka Laura buru-buru masuk dan di ikuti oleh Mario.
Mario masih menatap Laura dengan lekat, membuatnya jadi risih.
"Kenapa menatapku seperti itu?" tanya Laura ketus.
"Kenapa tidak meminta bantuan orang lain, belanjaan kamu banyak." Jawab Mario dingin
Laura memalingkan wajahnya, dan tidak menjawab pertanyaan Mario. Tak lama lift pun terbuka, dan Laura tetap keluar dengan buru-buru.
Sesampainya di apartemen, Mario tidak melihat Mala pelayan yang ditugaskan untuk menemani Laura.
"Kemana Mala?" tanya Mario.
"Aku suruh dia pulang, aku gak mau ada orang lain di sini." Jawab Laura santai.
"Kamu..." Mario menghentikan kata-katanya, dia ingin marah pada Laura tapi mengingat kondisinya yang sedang hamil, urung dia lakukan.
"Kamu pulang aja, aku terbiasa sendiri di sini kok." Jelas Laura.
"Kamu mengusirku?" bentak Mario, membuat Laura terkejut dan menatap Mario dengan tak percaya.
"Kamu tau, semua ini milik saya. Saya bisa saja mengusir mu jika tidak ingat kamu sedang mengandung anak saya, saya sudah usir kamu." desis Mario tajam, Laura yang mendengar perkataan Mario langsung berkaca-kaca.
"Aku akan pergi, satu bulan lagi." Marah Laura, sambil melangkah ke kamarnya, dan menutup pintu dengan kasar. Mario memejamkan matanya untuk menahan emosi pada Laura.
"Kenapa dia marah? Harusnya aku yang marah padanya, dia telah mengabaikanku, tak pernah peduli padaku." Lirih Laura di antara isak tangisnya.
Laura mengusap perutnya yang menegang.
"Maafkan mamah, nak." Ucap Laura pada bayinya.
"Aku tidak rela, jika harus memberikan kedua putriku padanya. Aku yang mengandungnya selama 9 bulan, tapi dengan gampangnya mereka akan membawanya. Nak kalo boleh memilih aku ingin memiliki kalian berdua." Batin Laura lirih, merasa sudah menyayangi kedua bayi yang dia kandung.
****
Sementara itu Mario, ingat pesan Dania bahwa dia harus sering bersama Laura apalagi di bulannya kehamilannya yang sewaktu-waktu bisa melahirkan. Dania tidak tahu saja jika dia bersama Laura terus menerus, dia takut rasa cinta yang mulai tumbuh akan berkembang. Sementara itu Dania juga selalu meminta Mario menemani dirinya ini dan itu, membuat Mario pusing dan tak pernah ada waktu untuk Laura.
"Laura Maafkan aku, sayang buka pintunya." Bujuk Mario, di balik pintu.
"Lebih baik kamu, pulang saja aku gak butuh kamu." Teriak Laura dari dalam.
"Laura aku janji, aku akan menemanimu sampai anak kita lahir. Dania sedang pergi keluar kota, jadi aku bisa menemanimu disana." Jelas Mario, tak lama terdengar suara kunci, dan terbukalah pintu yang tadi di kunci.
Laura memeluk Mario. "Aku rindu," lirih Laura di antara isak tangisnya.
Mario mengeratkan pelukannya pada Laura. "Aku tau, maafkan aku."
Laura menggeleng. "Tidak, aku yang egois mengharapkan kamu selalu ada di samping ku."
"Sudah sayang, jangan bicara terus." Ucap Mario, kemudian Mario melerai pelukan mereka, dan berjongkok di hadapan perut Laura. Kemudian mengusapnya dengan sayang, dan menciumnya.
Laura yang melihat itu pun, tersenyum haru akhirnya Mario mengelus lembut perutnya.
"Lihat kan nak, ayahmu sangat menyayangimu." Batin Laura, dia melihat Mario berbisik di depan perutnya, dan menciumnya berulang kali. Membuat Laura terkekeh merasa lucu.
"Apa yang kamu, bicarakan?" tanya Laura.
"Rahasia." Jawab Mario, mengedipkan sebelah matanya. "kapan kamu melahirkan?"
"Masih lama 1 bulan lagi, kata dokter juga bisa maju atau mundur." Terang Laura.
"Maafkan aku, jika aku tidak pernah menemanimu memeriksakan kandunganmu." Ucap Mario sedih, mengusap pipi sang istri yang terlihat lebih chubby.
"Tidak apa-apa, aku mengerti kesibukanmu. Memiliki dua wanita." Kekeh Laura.
"Apa kamu sudah makan?" Mario mengalihkan topik pembicaraan, dia tau walau Laura tersenyum tapi di matanya menyimpan kesedihan.
"Sudah, pas belanja tadi aku langsung makan." Jawab Laura tersenyum lebar.
Mario memeluk Laura, Mario sudah duduk di sofa sementara Laura duduk di pangkuan Mario. "Aku merindukanmu, sayang." Ucap Mario, dengan suara seraknya.
Mario terus mengecupi leher Laura, dan mengusap-usap perut Laura. "Apakah anak papi, ingin papi jenguk."
Laura terkekeh mendengar ucapan Mario. "Kamu ada-ada aja deh."
"Aku serius Laura, aku ingin menengok anak kita. Supaya kamu bisa melahirkan normal." Jelas Mario, Laura tidak mengerti perkataan Mario.
"Maksudnya?"
Mario mengusap tengkuknya gugup. "Mmm...kata orang gitu, kalo mau melahirkan normal kita harus banyak berhubungan." Kata Mario.
"Masa sih." Kekeh Laura tak percaya.
"Makannya, ayo." Mario sudah diliputi gairah, tangan Mario sudah berada di inti Laura mengusapnya sensual, membuat Laura merinding. Dia sudah lama tidak mendapat sentuhan dari Mario.
"Kamu tidak perlu jawaban lagi dariku, karena aku hanya milikmu." Setelah mengatakan itu, Laura menempelkan bibirnya pada bibir Mario.
Dan terjadilah pergulatan panas menuju puncak, dan melepas rindu Laura terhadap Mario. Setelah melakukan pendakian yang panjang selama berpuluh menit akhirnya Laura tertidur dengan memeluk Mario sangat erat. Seolah-olah dia tidak ingin kehilangan momen bersama suami sementaranya ini.
bersambung…
Maaf typo
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 116 Episodes
Comments
Daniela Whu
astaga hamil sdh 8 bulan msih bisa main 2 jam ap gk remuk tuh pinggang terus ap anakx gk nendang" 🤔🤭
2022-09-09
1